Kemerdekaan tanpa Pistol dan Perdebatan - Suara-suara Kemerdekaan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kemerdekaan tanpa Pistol dan Perdebatan - Suara-suara Kemerdekaan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:32 Rating: 4,5

Kemerdekaan tanpa Pistol dan Perdebatan - Suara-suara Kemerdekaan

Kemerdekaan tanpa Pistol dan Perdebatan

Apakah Tuhan berpesta ketika Yogyakarta tercipta
Cahaya menyala tenang di antara deret demi deret cafe dan resto
Seolah menguji kemimanan lidah dan lambung pelancong
Berapa ribu rasakah yang mesti dimusiumkan dalam dapur kecilnya
Satu saja cukup untuk merias diaroma kenangannya

Manis itulah yang menumpuk di gudeg dan perjalanannya
Membangun jalan-jalan sejarah yang penuh kerinduan
Mendirikan banyak kemerdekaan tanpa pistol dan perdebatan
Bukan teriakan-teriakan tuhan di dalam istana merdeka

Di sinilah kemerdekaan terseduh di atas segelas teh hangat; manis.

Suara-suara Kemerdekaan

Pada hitungan kesekian suara-suara tuhan membakar negeri
Menghanguskan mesjid, gereja, wihara, pura dan rumah-rumah suci
Sejak itulah museum kitab suci dibangun di atas lidah dan matanya
Ada kaca-kaca rumah retak tanpa batu dan tanpa ledakan bom
Jalan-jalan raya terasa kembali bertanah dan kembali berdarah

Betapa meriahnya pesta pora yang tergelar dengan nama kesucian
Apakah Tuhan merestui namanya yang dipajang di atas panggung
Terdengar lucu hutbah-hutbah yang datang dari podium negeri
Hanya sepi yang sebenarnya terbingkai di dinding-dindingnya
Di sudut-sudut kota, di tengah malam air mata berjatuhan

Doa-doa terpanjat hanya kepada bendera yang berkibar di dadanya
Nama-nama Tuhan akan kembali dilagukan di altar yang penuh kebusukan
Adegan-adegan palsu akan disajikan di tiap babak dramanya yang panjang
Musik-musik kesedihan mengalun sebelum pementasan dimulai
Sementara di bangku-bangku kemiskinan bongkahan darah muncrat tanpa suara 



Iman Akbar Sobari, pegiat sastra di Brebes. Puisinya masuk antologi puisi bersama "Empat Amanat Hujan" yang diselenggarakan di Dewan Kesenian Jakarta. Antologi puisi perdananya "Mengukir Lima Bunyi Hujan."



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iman Akbar Sobari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Sabtu 11 Desember 2016

0 Response to "Kemerdekaan tanpa Pistol dan Perdebatan - Suara-suara Kemerdekaan"