Kolam Penghabisan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kolam Penghabisan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:18 Rating: 4,5

Kolam Penghabisan

SUARA azan subuh berkumandang dari arah musala yang tak jauh dari rumahku. Aku bangun meski kedua mataku masih terasa berat karena mengantuk. Dengan langkah terhuyung, aku menuju kamar mandi, berwudu dan lalu salat sendirian saja. Sengaja tidak kubangunkan Pak Kasim dan Bi Asih, sepasang suami-istri yang sudah hampir tujuh belas tahun hidup bersama keluargaku. Meski pembantu, namun mereka sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri. Kepada mereka berdua aku selalu mengadukan segala keresahanku selama ini. 

Sejak tidak lagi bersama Mas Hari di rumah ini sekitar dua tahun yang lalu, aku selalu melaksanakan salat sendirian saja di rumah. Meski pun Bi Asih berkali-kali mengajakku salat di musala, namun aku selalu menolak ajakannya dengan berbagai alasan yang kubuat-buat. “Tidak Bi, aku belum siap bertemu siapa pun,” jawaban itu yang selalu kuulang-ulang pada Bi Asih setiap kali dia mengajakku ikut salat ke musala. 

Untaian biji-biji tasbih masih kugenggam erat. Biji-bijinya yang terbuat dari butir-butir mutiara tampak berkilauan, memantulkan cahaya-cahaya. Dan cahaya-cahaya itu seperti menerangi kembali kenangan masa silam saat untuk pertama kalinya aku dipertemukan dengan Mas Hari di rumah ketika aku sedang pulang liburan pondok. Kedatangan Mas Hari waktu itu tidak lain untuk melamarku. Dia pun memberiku seuntai tasbih dari biji-biji mutiara ini kepadaku. Katanya sebagai kenang-kenangan. Betapa senang hatiku menerima hadiah itu. Lebih-lebih aku akan menjadi istri Mas Hari. Lelaki muda dan juga tampan. 

Saat kembali ke pondok sehabis liburan, aku jadi lebih sering zikiran menggunakan untaian tasbih dari biji-biji mutiara pemberian Mas Hari. Sambil zikiran, kukenang-kenang wajahnya, senyumnya dan juga kata-katanya yang bersahaja. 

Tapi saat ini, hanya kesunyian yang terus mendampingiku. Hanya duka yang memayungi hari-hariku. 

Keindahan rumah tangga yang pernah kudambakan bisa terwujud dengan hadirnya Mas Hari dalam hidupku, sekarang sudah tidak ada lagi atau bahkan sudah tidak bisa kubangun kembali. Selain Fathimah, rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa aku harapkan. Gadis kecil itulah kini satu-satunya harapanku. Dialah yang aku harapkan dapat membangun kembali mimpi-mimpiku menjadi orang tua yang beruntung dunia-akhirat sebagaimana cita-cita itu sudah kutanamkan sejak masih nyantri di pondok dulu. Dan alasan itulah yang membuatku selalu memperkenalkan cerita-cerita penuh hikmah kepadanya. 

“Ibuuuu.....cepat ke sinii.!” 

Teriakan Fathimah membuyarkan lamunanku subuh itu. Aku segera melepas mukena dan menuju kamarnya. Tampak Fathimah sudah duduk bersila di atas tempat tidurnya. Kedua matanya serius menatap layar televisi. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, dia melambaikan tangannya dan memintaku untuk duduk di sampingnya. 

“Ibu, lihat itu. Bukankah orang yang di tivi itu ayah Fathimah?” tanyanya. 

Aku hanya bisa memejamkan mata sambil mendekap tubuh Fathimah ketika dia menunjukkan berita tentang Mas Hari. 

“Sepertinya bukan sayang. Mungkin dia hanya mirip ayah Fathimah saja. Ayah Fathimah kan sudah meninggal,” jawabku. 

Astaghfirullah! Tak terhitung sudah berapa kali aku membohongi Fathimah. Setiap kali dia bertanya tentang Mas Hari, aku memang selalu menjawabnya sudah meninggal saat dia masih kecil. Aku tidak ingin dia tahu perihal ayahnya yang sebenarnya. Aku terlalu takut perasaannya jadi terpukul kalau mengetahui ayahnya dipenjara karena korupsi. 

Aku sadar dengan kesalahan yang telah aku lakukan kepada anakku. Tapi menurutku, kesalahan itu tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukan Mas Hari kepadanya, juga padaku. Betapa lelaki itu telah menjejalkan bersuap-suap makanan haram ke dalam tubuhku dan tubuh anakku hingga menjelma bermiliar-miliar tetes darah yang mengalir setiap saat dalam diriku dan juga anakku. 

Air mataku kembali menitik. Kali ini bukan karena mengingat Mas Hari, melainkan karena teringat apa yang dikatakan Rasulullah saat aku mengaji hadits di pesantren dulu; sepotong daging yang tumbuh dari makanan haram, maka tidak ada yang lebih baik untuk mensucikannya kecuali jilatan api neraka. Hanya sepotong daging!? Tapi lihat kini, sekujur tubuhku, juga tubuh anakku, semuanya tumbuh dari makanan haram. Betapa semu kasih sayang dan perhatian yang diberikan Mas Hari kepadaku selama ini. 

Dan pagi itu, aku membayangkan seperti sudah terapung-apung bersama anakku di tengah lautan api neraka. Kami menjerit bersama karena tidak tahan dengan panasnya api. Sekilas kulihat wajah anakku yang cantik, yang seketika meleleh hingga tinggal kerangka. Jeritannya menghilang tertelan kemerisik api yang menghancurkan tubuhnya. Daging-daging pada tubuhku juga ikut meleleh. Tubuh kami pun hancur bersama. Tapi anehnya kami tidak bisa merasakan kematian yang kami harapkan dapat menghilangkan penderitaan ini; tsumma layamutu fÌhiwalayahya 

“Astaghfirullah....!!!!” pekikku sambil mendekap tubuh Fathimah. 

***
Delapan belas tahun pun berlalu. Fathimah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Hidungnya mirip Mas Hari dan kedua matanya mirip aku. Dia tumbuh menjadi gadis yang lincah dan ceria. Sampai suatu hari saat pulang dari sekolah, wajah Fathimah tiba-tiba terlihat murung. Dia lewat begitu saja di depanku dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapaku dan menyalamiku sebagaimana biasanya. Aku pikir, dia sedang menghadapi masalah di sekolahnya. Maka kubiarkan saja dia menenangkan diri sejenak di dalam kamarnya sampai kemudian dia kembali keluar dan duduk di sampingku. 

“Ibu, apakah Fathimah pernah berbohong pada ibu?” tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengar pertanyaannya. 

“Tidak.” 

“Tapi kenapa ibu berbohong pada Fathimah soal ayah? Ayah tidak mati kan. Ayah dipenjara karena korupsi. Seumur hidup. Kenapa ibu tidak jujur sama Fathimah?” 

Kutatap wajah Fathimah sebelum kujelaskan semua alasan-alasanku yang selalu menutupi kabar tentang ayahnya selama ini. Aku juga minta maaf kepadanya karena sejak Mas Hari ditetapkan sebagai tersangka korupsi, aku sama sekali tak mengizinkan Fathimah bertemu dengan ayahnya. Aku teramat marah pada Mas Hari saat mengetahui lelaki itu telah mengotori fitrah buah hatinya sendiri dengan harta yang tak halal. 

“Ibu, dulu ibu berkata kalau kita tidak boleh makan makanan haram karena membuat kita gampang berbuat dosa. Dan Fathimah tahu sekarang, mungkin makanan haramlah yang membuat seseorang sulit bertindak benar dan berkata jujur. Ibu salah satunya,” katanya tegas. 

Rumahku seketika terasa seperti dilanda gempa. Katakata Fathimah bagai melemparkan bola api ke dalam sukmaku. Aku menunduk, mengusap air mata dan tak bisa membantah kata-katanya. Kemarahanku pada Mas Hari pun kembali bergolak setelah mendengar ucapan Fathimah. 

“Tapi maafkan Fathimah, Ibu. Fathimah sepertinya tak mungkin menjadi wanita shalihah seperti yang seringkali ibu katakan.” 

“Tidak, Nak. Kau tidak boleh putus asa.” 

“Tapi segalanya sudah terlambat sekarang, Bu. Sudah terlambat,” katanya sambil menitikkan air mata. 

“Tak ada kata terlambat selagi kita masih hidup, Nak. Kau masih memiliki kesempatan untuk meneladani orangorang baik seperti yang sering ibu ceritakan.” 

“Maafkan aku, Ibu. Aku tak bisa meneladani mereka,” ucapnya sambil menyodorkan sepucuk surat kepadaku sebelum dia berlari ke dalam kamarnya sambil terus menangis. Tangan dan tubuhku bergetar saat hebat membaca surat itu. Jiwaku terasa hancur seketika, seperti ditelan lumpur api yang berkobar-kobar. Setengah tidak percaya, kubaca kembali surat yang diserahkan Fathimah kepadaku. 

Dan aku tak bisa lagi menahan jeritanku, tangisku dan kemarahanku saat dalam surat itu tertulis bahwa anakku, satu-satunya harapanku harus dikeluarkan dari sekolah dengan tidak terhormat karena positif hamil. 

“Bangsat kau, Mas Hariiiii....,” pekikku sambil meremas surat itu. “Akibat perbuatanmu, keluargamu akan mengalami penderitaan yang tak akan ada habis-habisnya.” 

Suara kemerisik kertas yang kuremas-remas itu seperti suara jilatan api yang melelehkan tubuhku, tubuh anakku. Aku seperti merasakan api makin berkobar dalam tubuhku, dalam hatiku, dalam otakku. Dan aku tak mampu lagi menahan gigitan panas yang demikian hebatnya. Aku butuh pendingin. Aku butuh air. Aku berlari keluar rumah, mendekati kolam renang, dan secepat mungkin melompat ke dalamnya sampai lama sekali, sampai orangorang datang mengangkat tubuhku sambil bergumam, innalillahi wa innailaihi roji’un. 

Yogyakarta, 2016

Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Desember 2016

0 Response to "Kolam Penghabisan"