Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:25 Rating: 4,5

Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar

CERITA ini barangkali pernah kau dengar. Sebelum meninggal, seorang ayah mewariskan toko untuk masing-masing kedua anaknya, dan sebuah – tepatnya dua buah—pesan. Pesan tersebut adalah: ”Janganlah kalian menagih hutang“; dan ”Janganlah kalian terkena sinar matahari ektika berangkat ke dan pulang dari toko.“

Selang beberapa waktu kemudian, sang Ibu mereka mengunjungi masing-masing anaknya.

Di rumah si Sulung, sang Ibu melihat anaknya itu telah sukses: rumahnya mewah, beserta mobil pula. 

”Aku mematuhi pesan ayah,“ kata si Sulung. ”Aku tak menagih hutang, karena aku tak mau memberi hutang. Dan aku berangkat ke toko sebelum matahari terbit, dan pulang setelah matahari terbenam.“
Di rumah si Bungsu, sang Ibu mendapati kondiri yang berbeda. Tapi si Bungsu mengaku telah menaati nasehat sang Ayah. Katanya, ”Aku tak pernah menagih hutang, dan banyak yang tak mengembalikan. Dan aku berangkat ke toko setelah senja dan pulang sebelum fajar.“

Ya, hanya sampai di situ – tentu saja beberapa versi diceritakan secara lebih panjang, tapi intinya sependek itu. Tapi kau lekas menyimpulkan, seolah sedang membaca kisah Cinderella saja.

Cerita berikutnya sangat mungkin belum pernah kau dengar. Karena orang-orang yang menceritaimu itu selalu punya alasan untuk tidak mengabarkan kelanjutannya. Nanti kau akan tahu mengapa setelah menyikmak kelanjutan cerita yang disembunyikan ini.

Sang Ibu kemudian menyarankan si Bungsu meniru apa yang dilakukan kakaknya.

”Entahlah, Bu. Nanti saya pikirkan,“ sahut si Bungsu dengan enggan.

Segera setelah sang Ibu pergi, si Bungsu keluar rumah. Melangkah menelusuri jalan-jalan kota mereka yang lengang. Lampu-lampu yang temaram seperti berduka. Seperti kota yang mati saja, pikirnya.

Seorang lelaki tua di atas sadel sepedanya menyapanya. Dia adalah pedagang keliling yang kemalaman, dengan keranjang barang dagangannya yang tampak masih banyak bersisa. Si Bungsu tahu, orang itu masih punya hutang padanya. Tapi dia membalas sapaannya dengan hangat. 

Seorang wanita dengan bocah kecil di timangannya bertanya dia hendak ke mana. Wanita pengemis yang mencari derma di kota-kota tetangga. Wanita itu pula punya hutang padanya. ”Saya hendak menengok toko. Saya libur jualan malam ini,” sahut si Bungsu. ”Apa kau membutuhkan sesuatu?”

”Tidak, Nak. Hutang kemarin saja belum saya bayar,“ jawab ibu itu.

”Jangan terlalu dipikirkan,“ sahut si Bungsu, senyumnya masih mengembang.

Seorang tukang becak bersiap pulang. Dia menawari pemuda itu tumpangan. Tapi ditolaknya, meskipun dia tahu, tukang becak itu masih punya hutang.

”Saya jalan kaki saja.“

Lihatlah orang-orang itu. Akankah dia tega menagihnya? Tidak. Apakah dia tega menolak permintaan hutangnya? Tidak. Jadi, bagaimana dia bisa berlaku seperti kakaknya?

Si Bungsu menggelengkan kepala. Udara berhembus pelan, seperti membawa aroma hujan. Tapi bulan tersenyum ceria di langit. Dan bintang berkelip gemerlap.

Pemuda kurus itu sampai di depan tokonya. Ia memandang sekitar. Toko-toko yang tutup. Rumah-rumah yang sepi. Jalan yang hanya dilewati satu-dua kendaraan.

Seekor kelelawar mengepak dari ranting akasis di tepi trotoar. Binatang hitam yang mencari makan di saat kelam. Dan dia tahu, dirinya telah serupa kelelawar itu. Bagaimana mungkin meminta ia menjadi kutilang.

Si Bungsu pulang. Tapi benaknya masih melayang. Pada ingatan tentang gemerlap malam penuh bulan dan bintang yang pernah dilihatnya semasa kanak-kanak bersama sang Bapak.

Di kepalanya, muncul sesuatu. Kunang-kunang. Bagaimana mengundang mereka datang?


MALAM-MALAM lain ketika dia bertemu orang-orang yang berhutang, dia bercerita tentang impian. ”Maukah kau membantuku?“ dia bertanya di setiap kali perjumpaan. Yang tentu pula dibalas anggukan. Dan kesediaan bertanda tangan. Begitulah berulang-ulang.

Lalu, di suatu kesempatan dia mengutarakannya pada seorang jutawan di kota tetangga. ”Saya menawarkan kerja sama.“

Sang jutawan tahu apa harga sebuah impian. Bukan solah berapa. Tapi soal apa. Soal hal-hal di mana uang tak akan bisa berkata-kata.

Pemuda ini memilikinya. Pemuda ini tahu arti kehilangan segenggam beras untuk mendapatkan ayam sekandang. Dan sang jutawan tersenyum ketika menghisap cerutu seraya bertanda tangan pada selembar kesepakatan.

Beberapa bulan berselang, toko-toko sepi yang nyaris bangkrut di kanan-kiri toko si Bungsu itu berpindah tangan. Beberapa bulan berikutnya semua itu menjadi diskotik, penginapan, dan restoran. Dan toko si Bungsu dijadikan swalayan. Tentu saja ada kupu-kupu, ada dau, ada arak dan sabu-sabu dalam bilik-blik di balik diskotik, penginapan, dan restoran itu yang memikat kaum kunang-kunang. 
Satu per satu kunang-kunang terbang berkitaran. Cahayanya yang berpendar mengundang kunang-kunang lain. Begitu senantiasa sehingga kawasan itu menjadi gemerlap oleh ribuan kunang-kunang yang berpesta, berbelanja, makan, dan menginap.

Orang-orang di sekitar turut sebagai pelayan pesta. Membuka tenda. Membuka jasa. Untuk kepuasan naluri manusia maupun naluri binatang dalam diri kaum kunang-kunang.

Seolah sulap, kehidupan si Bungsu berubah dalam sekedip mata. Rumahnya menjelma menjadi istana. Motor bututnya menjadi kereta kencana.

Setiap kali ada yang bertanya tentang hidupnya, dia hanya berkata: ”Aku hanya mematuhi nasehat ayahku. Aku percaya dia berkata benar.“


KIAN hari, kota semakin ramai, semakin gemerlap, seiring semakin banyak si Bungsu mendirikan tempat-tempat maksiat. Hingga kemudian ada yang menghembuskan kata-kata yang menghasut. Mengumpulkan orang-orang yang tidak menginginkan ada bangunan-bangunan pemanggil kunang-kunang. Karena kunang-kunang menimbulkan kejahatan, kehancuran tata susila, dan pembodohan besar-besaran.

”Jika walikota tidak menutup tempat-tempat itu, kami akan berdemo dan menutup paksa di akhir bulan,“ ancamnya.

Walikota mengadakan siang. Mereka memanggil si Bungsu datang. Si Bungsu menghadap dengan berlembar-lembar kertas bertanda tangan. ”Warga sekitar tidak keberatan, bahkan mendukung dan menikmati kehadiran kunang-kunang,“ katanya. 

”Tapi sebagian warga tidak berkenan.“

”Sebagian yang mana? Yang hanya peduli pada penumpukan kekayaan sendiri?“

”Tempat-tempat usahamu meresahkan.”

”Tapi tempat-tempat itu memberi penghidupan bagi banyak orang dan membayar upeti.”

Walikota tidak bisa berkata apa. Akhirnya dia beritahukan ancaman demo dan tutup-paksa akhir bulan. Tapi si Bungsu mempersilahkan.


KUBERITAHU dirimu, si Bungsu bukan tak tahu siapa di balik ancaman penutupan itu. Tapi dia tidak hendak mempermasalahkan. Jika hutan saja tak boleh ditagih, permusuhan pun tak perlu diundang.

Kesibukannya setiap hari adalah menyangkut-sambungkan tali-tali. Menarik keluar orang-orang yang terperosok. Memapah kaki-kaki lemah. Maka, bagi banyak orang, dia serupa malaikat, meskipun mereka tahu bahwa semua yayasan yang memangku kaum papa dijalankan dari kas tempat-tempat maksiat.

Begitulah. Pada akhir bulan, warga datang berbondong-bondong ke tempat-tempat tersebut. Mereka membentuk barisan pagar. Mereka siap berhadap-hadapan.

“Kami akan melindungi tempat ini dari penutupan paksa.”

Kau tahu siapa yang menghasut? Kakaknya, si Sulung, yang bagi sang Ibu adalah anak yang baik, taat beribadah, dan tidak berfoya-foya. Apalagi menginjak dunia malam yang kelam, sebagaimana si Bungsu yang sesungguhnya bajingan.

Bajingan yang dermawan, tepatnya.

Hingga suatu ketika si Sulung datang ke rumahnya, bersama ibu yang telah menua. ”Tolonglah kakakmu,” pinta ibu mereka. ”Tokonya bangkrut.”

”Tentu saja, Bu,” sahut si Bungsu. Tanpa merasa menang. Tanpa hendak membuat kakaknya menjadi pecundang. Meskipun kakaknya telah berlaku kejam, tapi, seperti sudah kubilang, dia tak hendak mempermasalahkan.


MAKA, jika nanti kau diceritai sepotong cerita di awal kisah ini, janganlah lekas mengambil kesimpulan. Kau tidak sedang mendengar dongeng Cinderella. Kau sedang menyaksikan manusia, yang tidak melulu hitam, pula tidak melulu putih.

Aku tahu cerita itu, sebagaimana orang-orang di kota tak seberapa luas ini. Bukan saja karena nama si Bungsu ini telah setara dengan legenda. Namun karena akulah orangnya: si Bungsu yang kalian kecam dalam simpulan naif sepotong cerita dan menyembunyikan cerita selanjutnya.

Sekarang, kau sudah tahu kenapa orang-orang lebih suka bercerita sepotong dan tidak kelanjutannya? Ya, karena mereka hanya ingin kau rajin bekerja sebagaimana layaknya manusia, tapi menjadi pelit dan tega pada orang yang butuh berhutang. Mereka hanya ingin menjadikanmu seperti mereka: menjadi rakus pada harta.

Oh, ya. Pada pemilihan walikota kemudian, mereka menginginkanku naik tahta. Tapi aku hanya bersedia jika diperbolehkan mengganti jam kerja menjadi jam kerja kelelawar. Karena, ”Saya harus mematuhi pesan ayah.“

Bukankah seharusnya begitu?

Aveus Har tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Novel mutakhirnya adalah Sejujurnya Aku (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aveus Har
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 24-25 Desember 2016

0 Response to "Lanjutan Cerita yang Pernah Kau Dengar"