Malam Pengantin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam Pengantin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:55 Rating: 4,5

Malam Pengantin

AKU terjaga tiba-tiba. Ah, gila! Masih dalam gaun pengantin di suite hotel yang mewah. Aku memang lelah sekali. Bayangkan, betapa repotnya calon pengantin dengan segala urusannya. Sudah begitu, ruang ballroom sebesar itu, aku sendiri yang in charge meriasnya. Dibantu karyawanku yang tetap dan “musiman”, malam kemarin aku sibuk sekali, memberi instruksi ke sana-sini. Untunglah hasilnya cukup sepadan. Ketika aku melangkah di atas karpet merah mengenakan gaun indah karya desainer dan menggandeng lengan pengantin priaku, kulihat rancanganku 90% menjadi kenyataan. Ballroom telah berubah jadi taman bunga yang luar biasa indah. Cukup representatif untuk peristiwa seumur hidup sekali. Termasuk, bisa menjadi show case usahaku.

Tapi, Adri ke mana? Nyentrik juga orang itu. Malam pertama, kok, pengantin wanita dibiarkan sampai tertidur? Tidak dikeloni, dimesrai, dicumbu dengan kata-kata mesra …. Srrr, tiba-tiba wajahku memanas, dan aku jengah sendiri. Aku memang bergaun putih, tapi bukan gadis murni lagi. Bahkan, dalam rahimku, sudah ada makhluk kecil yang memaksaku mencarikan ayah baginya, berhubung ayahnya sendiri berada entah di mana.

Tapi, kenapa Adri harus menjauh? Bukankah ia menikahiku dengan sukarela, tanpa aku membohonginya? Bukankah orang tuanya dan orang tuaku telah sepakat untuk menikahkan kami berdua, dan konon tidak ada protes sedikit pun dari pihak dia? 

Aku sendiri, more than willing menjadi pasangannya. Tidak hamil pun, tidak terpaksa pun, aku mau menikah denganya. Adri keren, baru balik dari luar negeri, memiliki kedudukan direktur (mendadak) di perusahaan garmen milik ayahnya. Dan yang tak kalah penting, dulu semasa remajaku dialah cinta monyetku. Ah, ‘monyet’ yang ganteng dengan rambut keriting dipotong pendek, yang sering memujiku cantik, tapi …. “Tapi, masih ingusan dan aku nggak naksir,” ledeknya lalu mengejar abangku, Leo, yang sudah lebih dahulu men-dribble bola basket menuju halaman belakang.

Lalu dia melanjutkan kuliah S1 di Jerman mengambil jurusan bisnis. Diam-diam kuliahnya itu disambi belajar di sebuah institute of fashion. Belajar pecah pola, desain, merancang busana ready-to-wear. Dan entah apa lagi. Konon, ceritanya, ia begitu asyik dalam dunia mode sampai kuliah resminya nyaris keteteran. Bagusnya ia masih bisa diingatkan, dan akhirnya berhasil lulus juga. Lalu dia mendalami lagi cara memasarkan busana ready-to-wear. Dan tiba-tiba semuanya jadi sangat klop dengan pengembangan usaha perusahaan milik keluarganya. Dan, akhirnya dia berhasil dipaksa pulang untuk mengelola anak perusahaan itu. 

Tentu saja abangku Leo senang sekali dengan kembalinya sang sahabat. Dan, ah, si oportunis itu malah tidak bisa menyembunyikan harapannya yang terpendam, “Siapa tahu aku mendapat kedudukan penting di salah satu kantor ayahnya.”

Apa pun rencana di balik pertemuan kedua keluarga, yang penting adalah, kedua pihak bertemu dalam acara makan malam yang sambung-menyambung. Pertama di rumah kami, disusul undangan keluarga mereka di sebuah hotel berbintang. Persahabatan lama dua keluarga jadi tersambung kembali. Apalagi Mama dan ibu Adri menemukan kesamaan dalam hobi melukis di atas sutra. 

Pada saat awal pertemuan-pertemuan itu, hubunganku dengan si sialan Tony sedang gonjang-ganjing. Ia terlalu pengecut untuk menindaklanjuti perbuatannya dengan menikahi aku. Padahal, jelas-jelas dari home-test yang kulakukan, yang disusul pemeriksaan lab agar lebih yakin, aku hamil. Dan jelas-jelas pula, tidak ada lelaki lain di sisiku. Tes DNA pun nantinya, aku berani. 

Malahan dia ingin aku menggugurkan kehamilanku. Katanya, dia belum siap untuk menikah. Katanya, dengan kedudukannya di kantor yang baru, management trainee, dia belum bisa menawarkan kehidupan yang mapan bagiku. Entah kalau dua-tiga tahun lagi. Gila! Dua-tiga tahun? Anakku keburu masuk pre-school! Karena aku tidak bakal, tidak bakal melakukan kesalahan kedua dengan menggugurkan kandunganku.

Apa pun yang kukatakan (bahwa aku bersedia hidup pas-pasan di sisinya, bahwa aku tetap akan bekerja sekalipun hamil dan punya anak), dia tetap pada pendiriannya. Aku terpaksa memutuskan: putus. Dan si pengecut itu bukan melakukan bargaining, eh, malah benar-benar angkat kaki. Tinggal aku, bingung dan resah. Apa yang harus aku lakukan? Apa kata mamaku, papaku, abangku, omaku, opaku, oom dan tanteku?

Mungkin keresahan itu yang terbaca oleh ibu Adri. Katanya, pada pertemuan pertama di rumah kami di kawasan Kemang, “Lala kelihatan bingung, ada masalah di kantor?”

Tentu saja aku menjawab,” Tidak.” Di kantorku, di mana aku berkiprah sebagai florist rekanan sebuah party organizer, aku yang jadi bos. Dan saat itu pesanan datang rata-rata seminggu satu, sehingga uang masuk namun pekerjaan tidak terlalu heboh. Lagi pula, tak masuk uang pun tak terlalu masalah, sebab aku masih mendapat uang saku dari Papa. Jadi kujawab saja pertanyaan tante yang ramah itu, “Mungkin PMS, Tante.”

Geli juga kalau dipikir. Kok, PMS, padahal aku sudah sekian lama justru merindukan datangnya menstruasi.

Sepulang mereka dari rumah, mamaku yang biasanya cuek mulai bertanya-tanya. Rupanya gengsi juga keduluan ibu lain, untuk mengenali kemelut anak sendiri.

Diinterogasi sedemikian rupa, akhirnya aku mengaku. Maka gegerlah seluruh rumahku (minus pembantu, sebab berita itu sengaja disebarkan dalam kalangan terbatas dalam bahasa Inggris). Papaku langsung menugasi Leo untuk mengejar dan menangkap Tony, dan memaksanya bertanggung jawab. Mamaku mengomel panjang lebar betapa ia memang sejak awal sudah tidak suka pada “anak itu”.
Sebelum Leo sempat mengeluarkan mobilnya dari garasi, aku keburu berteriak dengan volume yang paling keras, “No, no, no! I don’t want to marry him. Fullstop!”

Mereka tercengang-cengang menatapku. Di mata mereka cuma terbayang aib. Sementara di mataku terbayang gengsi yang terinjak-injak dan kesengsaraan menikah dengan lelaki yang telah nyata-nyata menolak diriku dan calon bayiku.

“Lalu bagaimana?” ibuku bertanya dengan nada pasrah.

“Aku lebih suka jadi single mother.

Apa yang kemudian terjadi, perundingan-perundingan apa yang dilaksanakan, aku tak mendapat info secuil pun. Tahu-tahu Mama menghampiriku dengan tawaran emas: “Mama ada jalan keluar. Adri bersedia menikah dengan kamu.”

Sebelum aku menjawab atau bertanya, Mama melanjutkan, “Dia sudah tahu keadaanmu, jadi kamu tenang-tenang saja.”

Sudah kukatakan, aku masih menyimpan cinta monyetku. Teringat betapa berdesir hatiku selaku bocah SMP, ketika Adri meletakkan tangannya di bahuku pada suatu hari, dan betapa riangnya lengkingku ketika ia dengan jail menarik salah satu kuncir rambutku. Aku bersedia menikah dengannya bukan semata untuk menutupi aib kehamilanku, tapi karena aku merasa beruntung mendapatkan Adri. Entah kenapa aku merasa, dia memang jodohku yang dikembalikan Tuhan kepadaku, setelah melanglang dunia hampir sepuluh tahun!

Repotlah kedua keluarga kami mencari tempat untuk perhelatan yang berlangsung ekspres, hanya dua minggu setelah lamaran. Beruntung ada pembatalan pemesanan di sebuah hotel pada suatu Jumat malam. Sebenarnya aku lebih suka hari Sabtu, tapi tak apalah. Jumat pun sudah weekend.

Dan tadi, resepsi berlangsung penuh tawa ria. Teman-temanku, famili, relasi kedua orang tua, meramaikan pesta yang berlangsung tak kurang dari empat jam.

Lalu … ke mana perginya Adri, cintaku? Betapa inginya aku bergelung di pelukannya, menyatakan cinta yang selama hari-hari sibuk itu belum sempat kunyatakan. Betapa inginnya aku mendengar bisikannya di telinga, bahwa sangat mencintai aku, bahwa aku pengantin yang sempurna. 

Ya, tubuhku memang masih bagus, dalam kehamilan yang jalan empat bulan ini. Justru semakin indah, karena payudaraku membesar duluan ketimbang perutku. Si ceking Lala malah kelihatan seksi dalam gaun pengantin off shoulder. Hanya saja pinggangku (atau perutku?) terasa agak sesak dibalut long torso di balik gaun putih bertabur kristal Swarovski.

Ih, gila, aku harus segera berganti baju dan menghapus riasan pengantin yang water proof yang tidak luntur sekalipun aku dan Mama bertangis-tangisan di gereja tadi, ketika aku bersimpuh di depannya. Ya, aku harus membersihkan diri, agar sekembali Adri, entah dari mana (pasti merokok di lobi karena aku anti asap rokok), kami tinggal bermesraan berdua. Suasana kamar sungguh mendukung dengan lilin aromaterapi yang entah kapan dan oleh siapa dinyalakan.

Aku membuka sanggulku, gaunku (ah, seharusnya dia ada di sini membantuku). Dengan keterampilan tangannya pasti tak sulit baginya untuk membuka retsleting yang ditutupi bunga-bunga satin), menghapus riasanku, lalu berendam di bath tub membersihkan diri. Sambil menikmati air hangat meresap di tubuhku, tersirat sekilas di kepalaku satu pertanyaan. Mengapa, ya, Adri begitu berbesar hati mau menerimaku?

Seusai semua rutinitas itu, belum juga dia kembali. Kuganti baju tidurku dengan pakaian santai, berniat menyusulnya ke coffee shop. Tak kupedulikan petugas hotel yang menatapku heran, melihat si ‘Ratu Sehari’ berkeliaran di lobi hotel.

Apa yang kulihat di pojok coffee shop membuatku kaget dan bertanya-tanya dalam hati. Sedang apa Adri bersama pria itu? Mengapa kepala keduanya begitu dekat, mengapa mereka kelihatan berbisik-bisik mesra bagaikan sepasang kekasih? Jangan-jangan ….

Segala sesuatu tersibak menjelang pagi. Itu terjadi setelah aku diam-diam menyelinap kembali ke kamar dan melanjutkan malam tanpa dapat memicingkan mata sedikit pun. Bukan, yang terjadi di saat itu bukan perang yang membahana. Hanya pernyataan jujur yang menancap sampai ke ulu hati. 

“Kukira kamu mengetahui deal antara orang tua kita. Kamu perlu seorang suami, aku butuh seorang istri. Dengan pernikahan ini aku menjadi pria normal yang menikah dan punya anak, pantas dengan kedudukanku di kantor. Sementara kamu mempunyai anak setelah resmi menikah. Aku sayang kepadamu sejak dulu, aku mau melakukan apa saja untuk membantumu, tapi aku ….”

“Lantas pria itu?”

“Dia Wolfgang, pacarku, dia baru saja tiba dari Jerman.”

Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku terjatuh lunglai di kamar pengantin kami, di saat yang seharusnya sangat indah bagi pengantin-pengantin lain. (f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anggraini
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" No. 7/XXXI 13 – 19 Februari 2003

0 Response to "Malam Pengantin"