Malam Rindu - Pulang Rinduku yang penuh - Kapan Lagi - Pisau - Surat Untuk Ibu - Apakah Kebahagiaan Itu? - Calon Jenazah - Tanda Seru - Elegi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam Rindu - Pulang Rinduku yang penuh - Kapan Lagi - Pisau - Surat Untuk Ibu - Apakah Kebahagiaan Itu? - Calon Jenazah - Tanda Seru - Elegi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:08 Rating: 4,5

Malam Rindu - Pulang Rinduku yang penuh - Kapan Lagi - Pisau - Surat Untuk Ibu - Apakah Kebahagiaan Itu? - Calon Jenazah - Tanda Seru - Elegi

Malam Rindu

Malam Minggu. Hatiku ketar-ketir.
Ku tak tahu apakah demokrasi dapat mengantarku
ke pelukanmu dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebelum Ahad tiba, anarki bisa saja muncul
dari sebutir dengki atau sebongkah trauma,
mengusik undang-undang dasar cinta, merongrong
pencarindu di bibirku, dan aku gagal
mengobarkan Sumpah pemuda di bibirmu.

(Jokpin, 2016)

Pulang Rinduku yang penuh

pecah di atas jalanan macet
sebelum aku tiba di ambang ambungmu.

Kegembiraanku sudah mudik duluan,
aku menyusul kemudian.
Judul sajakku sudah pulang duluan,
baris-baris sajakku
masih berbenah di perjalanan.

Bau sambal dan ikan asin dari dapurmu
membuat jidat yanng capai,
dompet yang pilu, dan punggung 
yang dicengkeram linu, uwuwuwu....

Semoga lekas lerai.
Semoga lekas sampai.

Jika nanti air mataku terbit di matamu
dan air matamu terbenam di mataku,
maaf selesai dan cinta kembali mulai.

(Jokpin, 2016)

Kapan Lagi

Kapan lagi kau bisa duduk manis di bawah
pohon cemara, mendengarkan beberapa ekor puisi
berkicau di ranting-rantingnya, membiarkan
bulan mungil jatuh dan memantul-mantul
di atas kepalamu, meredakan gemuruh tubuhmu.

Hidup yang longgar ini kadang terasa sumpek juga.
Baju yang sebelumnya waras-waras saja
mendadak terasa sesak di bagian ketiak.
Celana yang sampai kemarin nyaman-nyaman saja
tiba-tiba terasa melintir di bagian paha.
Tadi malam kau pulang dari salon dengan gembira,
sekarang kau malu dengan potongan rambutmu.

Seharian kau gelisah melulu, ingin mengganti ini
mengganti itu, sementara daftar janji yang ingin
kau penuhi bertambah panjang saja. Janji mencabuti
rumput di makam nenek. Janji membelikan ayah
selembar sarung sutera. Janji minta maaf
kepada pohon mangga yang sering kau curi buahnya.
Janji tidak marah dan mengucapkan anjing
kepada pendengki yang memanggilmu asu.
Janji menolong teman yang sedang sedih dan lesu.
Janji berterima kaish kepada tukang sampahmu.

Duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak
akan jadi batu nisanmu. Duduklah sambil
membaca Pramoedya: "Hidup sungguh sangat
sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."

(2016)

Pisau

Ia membungkus pisau dengan namaMu
Ia ingin melukai Kau dengan melukaiku.

(Jokpin, 2016)

Surat Untuk Ibu

Akhir tahun ini saya tak bis apulang, Bu.
Saya lagi sibuk demo memperjuangkan nasib saya
yang keliru. Nantilah, jika pekerjaan demo
sudah kelar, saya sempatkan pulang sebentar.

Oh ya, Ibu masih ingat Bambang, 'kan?
Itu teman sekolah saya yang dulu sering numpang
makan dan tidur di rumah kita. Saya baru saja
bentrok dengannya gara-gara urusan politik
dan uang. Beginilah Jakarta, Bu, bisa mengubah   
kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan.

Semoga Ibu selalu sehat bahagia bersama peyakit
yang menyayangi Ibu. Jangan khawatirkan
keadaan saya. Saya akan normal-normal saja.
Sudah beberapa kali saya mencoba meralat
nasib saya dan syukurlah saya masih dinaungi
kewarasan. Kalaupun saya dilanda sakit
atau bingung, saya tak akan memberi tahu Ibu.

Selamat Natal, Bu. Seoga hatimu yanng merdu
berdentang nyaring dan malam damaimu
diberkati hujan. Sungkem buat Bapak di kuburan.

(2016)

Apakah Kebahagiaan Itu?

Ia tidak suka ditanya'apakah kebahagiaan itu.
Kebahagiaan itu kancing yang rontok
dan jatuh berdenting di lantai
ketika malam dan hujan
menyusupkan demam ke balik bajunya
Ketika kalimat "Apakah kebahagiaan itu?"
menyentuh tombol bahaya
di dadanya, tubuhnya bergetar
dan berdering nyaring.
Ia akan bangun kesiangan
dan mencari kancing bajunya
di antara pecahan-pecahan mimpinya.

(Jokpin, 2016)

Calon Jenazah

Dalam pidato pelepasan jenazah
bapak tua yang awet muda itu berkata,
"Para calon jenazah yang mulia,
mari kita ikhlaskan kepergian saudara kita
yang kita banggakan ini. Ia telah bertempur
dengan hebat melawan sakitnya
yang berat. Saat ajal memeluknya,
saya sedang berada dalam sakitnya."

Tengah malam setelah pemakaman,
calon jenazah yang awet muda itu merasakan
dadanya panas dan ia ingin mandi.
Ia segera masuk ke dalam bak mandi.
Lampu padam, kemudian menyala kembali.
Ia mendongak mendengar suara:
"Calon jenazah yang mulia, selamat mandi.
Saat kau kungkum di bak mandi,
aku sedang berada dalam mandimu."

(Jokpin, 2016)

Tanda Seru

Seoranng penulis duduk termenung
di jendela, menunggu peristiwa kecil
yang bisa menghibur hatinya.
Matanya berbinar melihat seorang bocah
berjalan dan bersiul riang sambil sesekali
membetulkan celananya yang kedodoran.

Bocah itu menggendong tas sekolah
berisi cita-cita dan doa orang tuanya.
Sebatang hujan yang runcing
tiba-tiba menancap di atas kepalanya.
Ia berteriak aduh dan meringis kesakitan.

Penulis kita melompat dari jendela,
mencabut jarum hujan dari kepala
bocah kita. "Aku telah mendapatkan 
setangkai tanda seru."" Ia berpikir,
jangan-jangan tanda seru itu berasal
dari hujan kata-kata yang ia tumpahkan.

(Jokpin, 2016)

Elegi

Maukah kau menemaniku makan?
Makan dengan piring yang retak
dan sendok yang patah. Makan,
menghabiskan hatiku yang pecah.

Itulah makan malam terakhirnya
di surga kecilnya yang suram.
besok ia sudah terusir dan kalah
dan harus pergi menuju entah.

Lalu mereka berfoto bersama
sementara mobil patroli berjaga-jaga
di ujung sana. Lalu hujan datang
memadamkan api di matanya.

Ia akan merindukan rumahnya
dan akan sering menengoknya
lewat mesin pencari kenangan
sebelum malam menelan mimpinya.

(Jokpin, 2016)


Joko Pinurbo tinggal di Yogyakarta, berkhidmat di Forum Permenungan Tunggal. Puisi-puisinya terhimpun dalam buku Surat Kopi (2014), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), dan Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Pinurbo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 24 Desember 2016

0 Response to "Malam Rindu - Pulang Rinduku yang penuh - Kapan Lagi - Pisau - Surat Untuk Ibu - Apakah Kebahagiaan Itu? - Calon Jenazah - Tanda Seru - Elegi"