Maria Takut Dimangsa Anjing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Maria Takut Dimangsa Anjing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:54 Rating: 4,5

Maria Takut Dimangsa Anjing

MARIA bukan tidak suka ke sekolah. Ia sangat suka matematika dan rapornya tidak pernah dapat merah. Ia anak pintar dan punya 29 piala sejak tiga tahun masuk sekolah dasar. Piala itu didapat dari bermacam-macam prestasi dan lomba. Jadi, bagaimana mungkin Maria benci sekolah?

Masalah dimulai saat mamanya pindah rumah tiga hari lalu. Tentu saja sebagai anak, Maria juga ikut pindah. Pindah rumah sama dengan pindah sekolah. Dan inilah yang membuat anak manis ini malas ke sekolah.

”Ada apa sih?” tanya mama. ”Apa ada yang nakal mengganggumu? Atau, gurumu ada yang galak? Cerita sama Mama, Nak.”

Maria tidak bercerita. Menggeleng saja. Mama tidak tahu harus bersikap apa, kecuali membujuk anak itu dengan berbagai kalimat yang beliau sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin, tentang teman-teman nakal yang kelak akan berubah malaikat, kalau kita berbaik-baik pada mereka, juga guru yang perlahan menjadi penyabar jika saja ia mematuhi seluruh nasihat sang guru. 

Mama tidak tahu betapa bukan itu masalah Maria. Tidak sesederhana itu malah.

Maria diam dan membuat mama marah. Beliau mengancam menahan uang jajan Maria seminggu kalau tidak mau berangkat sekolah lagi pagi ini. Kemarin ia tidak masuk. Berhubung memang sakit, mama tidak curiga. Sekarang, usai demam kemarin reda, Maria tidak punay alasan. Mama mengira anaknya hanya malas saja.

Bagaimanapun, Maria berangkat pagi itu, dan mama belum tahu kenapa anak itu seperti enggan pergi ke sekolah.

Maria berpikir, jalan di dekat kuburan seharusnya lebih baik ketimbang jalan dekat kompleks perumahan tentara. Tak peduli segala cerita tentang jalan tersebut, yang jelas Maria lebih suka jalan itu. Jalan dekat kuburan itu, kata teman yang baru ia kenal dua hari lalu di sekolah, disebut ’jalan terlarang’. Sebenarnya orang bebas saja melewati, tetapi barang-siapa terlalu sering melewati jalanan itu – apalagi ditambah menghindari secara terang-terangan jalan dekat kompleks perumahan tentara—jangan harap punya teman.

”Memangnya kenapa?” tanya Maria penasaran.

”Pokoknya jalan dekat kuburan itu penuh orang jahat pada zaman dahulu kala, dan orangtua zaman dulu sudah mengutuk jalanan tersebut,” kata sang teman.

Lalu temannya bercerita tentang sejarah kampungnya yang begitu aneh di telinga Maria. Sejarah itu sungguh mendirikan bulu kuduk.

Tetapi Maria tidak peduli dan tetap menyukai jalan tersebut, walau jaraknya tentu lebih jauh. Harus memutar kalau melewati jalan tersebut dari rumah menuju ke sekolah. Ia memang belum melewati jalan tersebut dan Maria baru sekali pergi-pulang sekolah. Ia baru melewati jalanan yang aman menurut kebanyakan orang desa, yakni jalan yang di dekat kompleks perumahan tentara.

Sayangnya, jalan tersebut tidak seaman yang dikabarkan.

Maria tidak suka anjing. Di satu sisi jalan yang konon ’aman’ itu, ada seekor anjing hitam yang tidak dirantai dan dibiarkan berkeliaran di bawah pohon ketapang. Maria tidak tahu kenapa orang membiarkan seekor anjing galak keluyuran di jalanan begitu. Bagaimana kalau ada anak sekolah lewat? Bagaimana kalau anjing itu menggigit dan mencabik-cabik siapa pun yang melintas, sekali pun itu bukan anak kecil? Seseorang harus bertanggung jawab akan hal itu.

Maria tahu arti tanggung jawab, karena mama mendidiknya dengan benar. Anak itu disiapkan jadi generasi penerus yang cerdas sekaligus bermoral. Barangsiapa yang salah, ia harus dihukum. Demikian juga – menurut Maria—siapa pun pemilik anjing itu, bila terjadi kecelakaan mengerikan, tentunya juga harus bertanggung jawab. Kecelakaan apa lagi yang bisa disebabkan seekor anjing selain menggigit orang? Tapi, Maria tidak tahu siapa pemilik anjing tersebut.

Maria memang tidak yakin apakah anjing itu tega menggigit orang. Tapi ia tahu, bisa saja hal mengerikan itu terjadi. Ia amat takut dan semalaman tidak tidur gara-gara ingat kejadian pagi hari waktu pertama pergi ke sekolah. Ia dicegat anjing hitam besar tersebut, yang tiada henti menjulur-julurkan lidah.

Maria tidak pergi ke sekolah diantar. Ia biasa ke sekolah sendiri, sehingga anak itu diam saja di tempat di pagi pertama. Ia hanya belasan meter dari si anjing, sampai ada pengendara motor memberinya tumpangan. Maria lega ketika pulangnya seorang guru juga memberinya tumpangan, karena beliau kebetulan ada keperluan di rumah seorang tentara. Tetapi malam itu Maria tidak bisa tidur dan bermimpi dimangsa seekor anjing siluman.

Esoknya Maria tidak tahu harus melewati jalan mana: jalan dekat kuburan itu atau jalan dekat kompleks perumahan tentara? Ia tiadk yakin, mengingat satu-satunya teman yang memberi tahu dua jalan utama di desa itu adalah teman baik dan teman pertama yang ia kenal di sekolah. Mereka juga duduk sebangku. Bagaimana kalau cukup sekali Maria lewat jalan terlarang, ia selamanya dibenci dan tidak punya teman? Maka dari itu, hari kedua Maria demam dan tidak masuk sekolah.

Hari ini, pagi ketiga, mama mengancam akan menahan uang jajannya seminggu. Maria ynag suka jajan kembang gula dan beli mainan bongkar pasang, tidak ingin itu terjadi. Hidup tanpa uang jajan adalah hidup yang sangat menderita. Hidup tanpa uang jajan adalah hidupnya orang dewasa. Dan Maria tahu, ia masih anak-anak.

Memikirkan anjing besar itu, yang menjelma anjing siluman biadab dalam mimpi buruknya, membuat Maria berpikir ulang: daripada celaka digigit anjing, lebih baik aku dibenci saja.

Sayangnya, Maria mengigil ketakutan membayangkan semua teman di kelas, teman-teman baru yang harusnya jadi teman yang bisa diajak main apa saja, serempak membencinya. Mereka semua asli anak kampung, dan tentu saja soal jalan terlarang, mereka tahu. Maria tidak tahu berapa kalilah batas seseorang dibolehkan melalui jalan dekat kuburan tersebut untuk bisa disebut ’layak dibenci‘? Membayangkan itu, membuat Maria gelisah. 

Mama tidak tahu soal ini. Saat mendaftarkan Maria ke sekolah, mama membawa mobil. Jadi anjing itu tidak ada di kepala mama, atau malah tidak mama ingat, karena barangsiapa naik mobil akan selalu aman dan tidak berpikir risiko diserang sesuatu di luar sana.

Mama sendiri tidak melarang keinginan Maria belajar mandiri, seperti pergi sekolah sendiri. Dan itu terjadi sejak anaknya kelas satu SD, tepatnya dua tahun silam. Maka mama tidak tahu masalah besar yang kini menimpa anaknya.

Maria pun berangkat setelah memutuskan: ”Mungkin satu atau dua kali lewat jalan terlarang tidak masalah.“

Ia tidak sampai berpikir betapa menjadi anak sekolah tidak cuma dihitung dari satu atau dua hari saja, melainkan ratusan, bahkan ribuan hari. Ia tidak bisa berpikir jernih; di kepalanya cuma ada seekor anjing biadap yang siap menerkam dan mulai memangsa sedikit demi sedikit dagingnya seperti dalam mimpi buruk. Sungguh mengerikan.

Maria berpikir, jalan di dekat kuburan seharusnya lebih baik ketimbang jalan dekat kompleks perumahan tentara yang ada anjing galaknya, dan dibiarkan bebas keluyuran di sekitar pohon ketapang. Tidak peduli segala cerita tentang jalan terlarang, yang jelas Maria lebih suka tidak diintai anjing mana pun.

Demikianlah bagaimana akhirnya Maria lewat jalan yang memutar jauh itu dengan langkah kaki yang mula-mula penuh semangat, namun lama-lama lemas, karena tadi ia sarapan cuma sedikit. Sesampai di dekat pekuburan, Maria berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon mangga yang rindang. Ia meminum bekal air putihnya, mengumpulkan napas beberapa menit, lalu melanjutkan perjalanan.

Butuh kurang lebih dua jam bagi Maria melewati jalan terlarang, sehingga ia jelas terlambat. Bu Guru melotot dan bertanya, ”Kamu terlambat?”

Tidak ada nada ramah di ucapan itu. teman-teman memandang Maria penuh kesan benci. Ia tidak tahu, sama sekali tidak tahu, kenapa semua orang menatapnya dengan cara macam itu? Seakan-akan ia telah melakukan kejahatan tak termaafkan saja. 

”Saya lewat jalan memutar, Bu,” jawabnya. ”Karena jalan yang di dekat kompleks perumahan tentara itu dikuasai anjing hitam”

Bu guru tidak menyahut, tetapi diam dan menyuruh Maria duduk. Seharusnya, ia tidak dihukum dan Maria heran. Seharusnya, barangsiapa telat, disuruh berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pelajaran pertama selesai. Anehnya, ia dibiarkan saja duduk. Teman-teman di kelas berubah tenang, meski tidak ada satu pun yang mengajak Maria bicara atau bermain sepanjang waktu istirahat.

Setiba di rumah, Maria bercerita pada mama kenapa ia sampai pulang terlalu sore. Ia lewat jalan memutar yang tidak ada anjingnya. Mama tidak tahu maksud anak ini apa. Setelah Maria menjelaskan semuanya, mama paham.

Dulu, jauh sebelum anak ini lahir, mama mendengar kisah lama yang mengerikan. Terjadi pembantaian di sebuah desa, yang semua korbannya orang PKI. Begitulah yang kisah itu sebutkan. Orang-orang itu dikubur di dekat jalan terlarang. Sampai hari ini, barangsiapa suka lewat jalan dekat kuburan itu, di desa yang tak disebut namanya ini, tidak bakal punya teman. Akan ada saja masalah yang menimpa orang tersebut, karena warga kampung menganggapnya bagian dari kejahatan yang pernah terjadi di sebuah negeri.

Di suatu malam yang kelam, Maria bermimpi seisi desa dipenuhi orang buta. •

Gempol, 21 Maret 2016

Ken Hanggara: lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Alamat pos: Erlangga Setiawan, Pandean RT 01/RW 14, Desa Kejapanan Gempol Pasuruan Jawa Timur 67155

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 11 Desember 2016


0 Response to "Maria Takut Dimangsa Anjing"