Mawar yang Berakhir di Nisan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mawar yang Berakhir di Nisan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:23 Rating: 4,5

Mawar yang Berakhir di Nisan

HARI itu aku menghubungi kekasihku. Aku ingin bertemu tetapi ia bersikeras untuk tidak ditemui. Aku mengiakan saja lalu diam-diam akan menemuinya. Aku akan memberinya kejutan. Sebelum menemuinya di tempat kerja, aku ingin ke taman kota dulu. Aku rindu dengan taman kota itu.

DI sanalah bermula pertemuan kami. Matanya lentik, hidungnya bangir, bibirnya tipis, giginya putih rapi, rambutnya panjang sedikit berombak. Saat berjalan, mata lelaki hidung belang tidak akan luput memandangi kekasihku.

Seperti aku yang suka memandangi  senyumnya. Bibir tipisnya yang merah merekah selalu membuatku tercekat. Aku tak mampu merasakan tulang-tulangku dan melemas seketika..

Entah apa yang dilihatnya dariku? Aku hanya pria biasa bertubuh gempal lagi pendek. Aku melukis tetapi aku bukan seorang seniman yang terkenal. Karyaku juga tidak banyak.

Ketika kutanya alasan mengapa ia sampai menyukaiku. Ia hanya menjawab bahwa ia senang ketika berada di dekatku. Sebelum menemuinya aku juga mampir di toko bunga langgananku, membelikannya bunga mawar. Menghadiahinya setangkai mawar sering aku lakukan jika akan menemuinya.

Tidak seperti biasanya, hari itu, aku sengaja membeli delapan tangkai bunga mawar. Seperti kataku tadi, aku akan memberinya kejutan. Jadi delapan bunga mawar yang aku beli itu sebuah kejutan juga. Sebab hari itu usia hubungan kami genap delapan bulan lamanya.

Begitu semringah aku melalui taman kota. Aku melangkah hati-hati membawa bunga mawarnya, takut kelopak-kelopaknya gugur. Di taman, tepat di tempat kali pertama kami bertemu lalu.

Aku melihat dan mengenal punggung itu. Ada tangan melingkar di situ. Saat aku memanggil nama kekasihku, Rindu. Pemilik punggung itu pun segera menoleh. Mataku seketika nyalang menatap seorang pria gagah, tinggi, lagi putih sedang memeluknya erat. Sedangkan Rindu sikapnya biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu. Hatiku seketika remuk, luka, dan hancur seperti sepotong agar-agar yang jatuh ke lantai.

Rindu melangkah ke arahku dengan tenang lalu mendaratkan tangannya di pipiku, memelototiku sejenak lalu beranjak pergi berdua. Mungkin aku terlalu dibutakan cinta. Meski ditampar aku tidak marah sedikitpun atau mencoba membalas apa yang dilakukannya. Keduanya menghilang di kerumunan kendaraan yang mengular oanjang karena macet. Aku lebih memilih melangkah ke arah sebaliknya.

Entahlah, aku hanya harus berjalan? Aku bingung. Pikiranku kacau. Aku hanya ingin berjalan dan menghabiskan delapan tangkai mawar yang aku pegang. Di ujung taman, aku melihat sepasang kekasih. Keduanya lagi bersantai di kursi taman. Aku mencabut satu tangkai mawar lalu aku berikan padanya. Keduanya tersenyum dan menatapku aneh. Dengan wajah datar aku meninggalkannya begitu saja.

Lalu aku mengambil jalan ke gang pemukiman padat. Aku melihat ada tiga orang duduk di dipan bambu, sedang asyik bergosip di bawah pohon nangka yang sebentar lagi buahnya masak. Semuanya ibu-ibu paruh baya. Aku pun menghampirinya di balik pagar yang membatasi kami lalu menyerahkan tiga tangkai mawarku. Saat melangkah pergi, aku sempat melirik salah seorang ibu memberikan bunga itu pada putrinya yang baru saja keluar dari rumah. Putrinya melompat kegirangan, itu pertama kalinya ia diberikan dan memegang setangkai mawar.

Belum juga aku berjalan jauh. Aku berpapasan dengan seorang pria. Dari wajahnya, bisa ditaksir umurnya sama denganku masih muda. Kemeja yang dikenakannya modis bermotif mawar. Aku pikir ia akan pergi kencan jadi aku memberinya setangkai mawar. Ia hanya tersenyum, ekspresi wajahnya jelas menyiratkan tanda terima kasih, lalu ia melesat pergi terburu-buru.

Aku pun memutuskan berjalan lagi menuju area persawahan. Sesampainya di sana, aku melihat seorang petani sedang mencangkul sawahnya. Aku menghampiri dan memberinya setangkai mawar. Petani itu terlihat bingung dan heran. Mungkin ia berpikir untuk apa setangkai mawar diberikan padanya?

Aku tidak sempat memikirkan itu, yang pasti, tangkai mawar yang aku pegang mesti habis. Aku lanjutkan lagi perjalananku hingga mencapai pantai. Pantainya begitu sunyi. Sesunyi hatiku hatiku saat ini. Ah, kenapa tidak ada seorang pun di sini? Jadi, aku persembahkan saja setangkai mawar pada pantai.

Aku ingin mawar itu hanyut jauh terseret ombak lalu tenggelam di dasar laut yang gelap dan lenyap. Berharap kisahku pun lenyap seperti itu. Di penghujung angkah dan lelahku, tubuhku ambruk. Aku tidak sanggup berjalan lagi. Aku juga telah sampai di ujung pantai. Aku tidak sadar telah rebah tepat di depan sebuah nisan. Batu nisan itu berpahatkan nama Rindu. Aku pun meletakkan bunga mawar terakhir di tanganku di atas nisan itu.

Tidak akan ada yang percaya jika melihat aku dan kekasihku. Bagaimana tidak, aku dengan kekasihku sudah tidak muda lagi. Sungguh! Kami sudah uzur. Rambut kami, semuanya telah memutih. Tapi jangan pernah tanya soal menikah.

Kami hanya sepasang kekasih yang saling setia hingga sekarang meskipun sebenarnya besar keinginan kami untuk menikah. Kami memang sudah tua, tetapi itu bukan penghalang bagi kami untuk saling bercumbu rayu seperti sepasang kekasih muda yang sedang dimabuk cinta.

Sabtu ini aku menemuinya di ujung taman kota. Ia menungguku di kusi panjang berukir bunga mawar di bawah pohon rindang di taman itu. Memakai gaun biru motif bunga-bunga mawar, ia menjulurkan tangannya yang gemetaran menerima bungkusan mawar berpita dari tanganku disertai senyuman manis. Begitulah kalau aku menemuinya. Aku membeli bunga mawar dahulu lalu di berika ke padanya.

Ya, toko bunga tempat aku membeli mawarnya. Etalasenya penuh berbagai macam bunga-bunga indah dan cantik persis seperti pemiliknya, seorang nona muda yang sangat cantik. Saat membeli bunga dan menyerahkan uangku padanya.

Aku selalu melihat wajah cantiknya bermuram durja dan memancarkan kesedihan yang mendalam. Raut mukanya beruba sesedih-sedihnya begitu melihatku pergi. Apa peduliku. Aku tidak tertarik padanya meskipun ia benar-benar pemilik wajah cantik. Aku juga tidak ingin berlama-lama menatap wajahnya. Menatapnya lama bisa saja wajah sedihnya berubah kian cantik. Aku lekas meninggalkannya karena ingin menemui kekasihku segera. Aku tidak ingin ia menungguku lama.

Setelah kekasihku menerima bunga mawar dariku. Tangan kami akan saling menggamit menyusuri jalan-jalan perkotaan. Kami berdua bukan  penyuka taman lalu duduk berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Kami lebih suka berjalan ke mana saja. Gerakan kami pun tidak kalah lincah dari yang muda.

Kami menyusuri jalan perikotaan hingga sampai di pasar. Kami berkeliling sebentar sebelum berhenti di penjual tas. Tangannya lihai memilih tas yang bertumpuk-tumpuk. Aku hanya berdiri di sampingnya. Aku biarkan ia memilih tas-tas itu sesukanya. Akhirnya, sebuah tas oranye diangkat tinggi di hadapanku. Aku mengangguk saja tanda setuju

Warna itu akan membuatnya tampak muda. Aku lalu mengeluarkan uang dari dompet. Ia tampak bahagia menyampirkan tas itu di bahunya. Wajah cantik keriputnya mengulum senyum manis dan aku pun ikut tersenyum senang.

Kami berlalu dari penjual tas itu. Lalu sepasang kekasih muda melengos begitu saja. Padahal kami begitu memerhatikannya. Lelaki itu meletakkan tangannya di pinggang jauh kekasihnya berjalan dengan mesranya. Kami pun mencoba  mengikuti gayanya tadi dan tidak kalah mesranya.  Kami melewati sebuah tempat. Monumen patung tepatnya. Patung-patung itu berdiri di tengah-tengah kolam berbentuk lingkaran. Patung-patung itu mengeluarkan air.

Ada yang airnya keluar dari mulut, ada yang dari tangan, dan ada yang keluar dari alat kelamin patung anak kecil. Aku yakin airnya terus memancur tanpa kenal lelah sepanjang tahun. Dan tanpa aku perintah, kekasihku langsung mengambil pose genit layaknya model di dekat kolam. Aku merogoh ponselku lalu memotretnya beberapa kali dengan pose yang berbeda.

Ramai orang menyaksikan tingkah kami. Itu membuat kami terkikik-kikik menahan malu. Kami lanjut menyusuri gang pemukiman yang agak sepi. Jalan gang itu kebetulan dilewati penjual es krim. Karena matahari begitu terik dan kami mulai kepanasan. Es krim tentu begitu menggoda. Kami tidak ingin melewatkannya. Kami memesannya lalu bertingkah layaknya anak kecil saling menyuapi dan lalu saling memberi tanda di wajah.

Suasana panas menyengat berganti perasaan sejuk, sesejuk es krim yang kami seruput. Sepotong siang hingga senja kami habiskan di pepustakaan. Meski sudah tua, hobi membaca buku kami tidak pernah surut. Kami juga bertukar pikiran, saling mendebat, dan saling memberi  ilmu setelah puas membaca. Itu akan menjaga kami dari penyakit pikiran. Menjelang petang, aku mengajak kekasihku ke sebuah cafe.

Diam-diam aku telah memesan meja untuk dinner romantis. Itu akan menjadi kejutan untuknya. Kejutan itu pun berhasil membuat aura cantiknya memancar dan ia begitu terharu mendapat seikat mawar lagi dariku. Waktu spesial seperti ini tidak akan aku lewatkan. Mengikuti pesta dansa. Dansa itu digelar di halaman terbuka sebuah gedung. Pesta dansanya digelar hampir setiap hari dan terbuka untuk umum. Kami menghabiskan malam berdansa hingga kembang api bermunculan bermekaran indah di langit. Aku pun mencoba menerka-nerka seberapa dalam cintanya untukku? Dari pendar-pendar matanyalah aku bisa menemukan jawaban pertanyaan itu.

Lalu. Alarm menyentakkan tubuh ringkihku terbangun. Ternyata, aku hanya bermimpi tadi. Aku menarik napas panjang sekali lalu menjernihkan ingatanku. Nyatanya, sudah sejak lama aku sendiri dan ditinggal pergi.

Aku mencoba menjangkau dapur menenangkan diri. Saat pagi mulai cerah. Aku berjalan ke toko bunga nona muda pemilik wajah cantik itu. Wajah sesedih-sedihnya selalu iba menatapku tiap hari. Wajahnya seakan memelas memohon, cukuplah!

Akhirilah ini tuan! Ini sudah bertahun-tahun! Namun, tak sehari pun aku  melewatkan untuk tidak membeli bunga mawarnya. Dan wajahnya itu tidak pernah cukup untuk menghentikan langkahku karena setiap pagi aku harus menuju sebuah nisan yang berpahatkan nama Rindu. Aku pun meletakkan tangkai mawar itu tepat di atas nisannya.***

Rappang, 16 November 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal Risadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 4 Desember 2016


0 Response to "Mawar yang Berakhir di Nisan"