Memasak Sagu - Empat Seuntai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memasak Sagu - Empat Seuntai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:53 Rating: 4,5

Memasak Sagu - Empat Seuntai

Memasak Sagu

JInakkan dulu hatimu yang masuh kemaruk.
Lepaskan kutuk yang berujung amuk ke
dalam mangkuk. Pandanglah ke tiap penjuru
sudut. Bukankah tergantung itu kuali?

Bersihkan segera, cuci dan bilas dengan airmata
Angkat hati-hati seperti kau ingin berucap.
Lalu letakkan di kompor singgasana. Nyalakan api
matamu. Tahan debar laparmu. Ucap basmalah
ketika minyak dituang dalam wadah kearifan.

Sagumu selayang-pandang. Beruas-ruas ketika
Dibuka dari bungkus kekang. Bebaskan agar ketara
rasa membekas di lidah takdir. Kupaskan bawang,
cukup segantang bimbang. Taburkan garam, cukup
secebis kuku. Lemparkan penyedap rasa, seperti 
anganmu ketika menatap gerimis.

Adalah ungkap di mana sagu penghidup paling setia
Memasaknya dengan hati. Memakannya dengan perasaan.
IMbasnya pada tingkah santun. Akan kami
masak sematang-matangnya seperti mufakat yang telah terikat.

Sagu adalah lambang puak sejak dulu. Hati-hatilah terbidas
pedasnya ketika kita digempur sambal kenangan.
Lidahmu yang tajam bagai pedang akan terkikis olehnya.
Hati-hatilah akan asinnya, hatimu yang kikuk akan oleng
menyudahi snatapnya.

Nak idam masak kuah, minyaknya air mata
Nak idam masak kering, ladanya hati asing.

Janga risau, puak kami berarak dari ceruk paling
gelap ke tepi sungai jantan. Menebang batang sagu
di tanah sah meski tak bertuan. Menggolek dengan tenaga
yang hampir rapuh oleh kejam tajam matahari tuk
menuju ke tempat pengolahan.

Dan kau kini menyantap di meja perjamuan
dengan tawa penuh kepalsuan. Mata picingmu
semakin kecil tanpa celah, lidahmu semakin tajam
bagai silet, hatimu semakin aruk umpama lapar.
Padahal sagu di mulutmu berarti daging kehidupan.
Kuahnya menyedapkan pikiran. Lemaknya menerobos
mimpi. Dan gurihnya membuai imaji.

Dari ceruk bersampan ke sungai hulu
Dari ceruk bermuara ke haluan rancu

Lihatlah, kau menaburi garam kepedihan di tubuh puakmu
Menebang berbatang-batang kemurkaan di atas lahan buruk pikirmu.
Membidas dengan lidah dari umpat dan fitnah di wajan penggorengan itu.
Lalu mempurukkan segantang rasa yang telah ada disengat keasinan
yang dirasakan oleh puak sendiri.

Tersebab dangkal sungai tual sagu tak bergerak
Tersebab pasnag laut meluap segala kalut

Jinakkan dulu hatimu ketika mencicipi masakanku.
Wangi sagu yang telah dicampuri alur kehidupan
sungguh menggugah seleramu. Gurih adukan bumbu
adalah tegar pengharapan yang membantu semangat
hidupmu. Juga taburan bawang merupakan sikap
arif di mana aku tetap setia pada melayu.

Oi, jinakkan dulu nafsumu sebelum kau menyantap
Oi, jinakkan dulu lidahmu sebelum kau mengucap.

2016

Empat Seuntai

Empat seuntai adalah kata paling gema.
Di mana gigil badanmu lebih getar daripada tusuk hujan,


Menghindar adalah kata pertama.
Lewati celah lain ketika tak dapat arus menuju pulang.
Arungi seluruh mara bahaya kala tak pelak elak diraba.

EMpat seuntai adalah kata paling getir
Di mana pahit lidah lebih pejam daripada empedu

Merajuk adalah kedua
Urungkan niatmu, pergilah ke ceruk waktu.
Tumpahkan tangsimu. Tahan rasa pahit dan asin
kehidupan.

Empat seuntai adalah kata paling cadas.
Di mana tebas lebih lepas dari jenawi yang kau
sarungkan itu

Mengaruk adalah kata ketiga
Pegang jenawi itu. Eratkan dalam genggamanmu.
Tetap tajam wajah penakluk yang rela memijak
marwah. Getar genggammu adalah
debar singgasana.

Empat deuntai adalah kata paling terjang.
Di mana lepas kaki lebih lesat daripada kilat.

Mengamuk adalah kata keempat
Lepaskan jenawi dari sarungnya. Sebait pantun
cukuplah pengantar debar. Secebis sirih cukuplah
pembuka kata. Sekilas senyum cukuplah
tanda. Amuklah dengan hati paling setia
dari junjung resam yang dibela.

2016


Riki Utomi lahir di Pekanbaru, 19 Mei 1984. Buku fiksinya adalah Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Tinggal di Selatpanjang Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Utomi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "KOran Tempo" edisi 10-11 Desember 2016

0 Response to "Memasak Sagu - Empat Seuntai"