Mempelai Disembunyikan Waktu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mempelai Disembunyikan Waktu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:14 Rating: 4,5

Mempelai Disembunyikan Waktu

AKU pernah bermimpi, menghabiskan masa tua bersama seorang lelaki yang kucintai. Seorang lelaki yang mampu membuat dadaku berdebar tanpa henti, hanya pelukannyalah yang bisa membuatku redup dan tertidur di dalam keheningan yang kudus. Begitulah, mimpi itu menciptakan jejaknya di dalam pikiran yang disergap waktu, hingga bumi dan langit pun menangis, menyerukan doa yang sama agar Tuhan mewujudkan semuanya, untuk menjadi nyata.

Aku mengetahui bahwa cinta bukanlah apa yang aku minta. Saat hasrat mengelabui akal dan pikiran, segala perwujudan akan menjauh tanpa terduga. Maka mengetahui apa yang akan terjadi  seperti mengenali diri sendiri. Tetapi siapa yang sanggup menanggung sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa menggenggamnya? Saat apa yang disembunyikan terbuka, tak ada yang tidak terlihat oleh mata.

Suamiku, bukanlah laki-laki yang mempersembahkan hatinya untuk Tuhan. Tidak juga menghunikan aku di dalamnya. Begitu banyak kamar-kamar rahasia yang dihuni oleh nafsu dan keserakahannya, sehingga dia terbakar di dalam pergolakan hasrat duniawi yang memenuhinya dengan kepongahan, yang tidak bisa dia kendalikan sendiri. Dia bercinta bukan hanya dengan istrinya saja, tetapi juga dengan siapapun yang mau dengannya. Tanpa pandang bulu, tua muda, jelek dan biasa, semua dilahap dan dia nikmati sebagai cara bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiinya banyak kebaikan yang tidak diberikan kepada orang selainnya. Rahasia itu dibukakan kepadaku, saat seorang lelaki mengancam suamiku, karena telah mengajak bermesuman istrinya melalui berbagai cara. Hingga aku harus membereskan semua urusannya dan menutupnya dengan keikhlasan yang tidak dapat dibantah.

Aku masih membaca seluruh kegaiban, saat apa yang terlihat kemudian membuatku nyaris terkapar. Panah cahaya melesat ke jantungku, hingga aku tak kuat menyangga diriku. Jantungku lemah, beribu detakan, tak membuatku sadar, aku mengerang dalam tangis yang menghunus langit. Hingga awan berjatuhan. Bumi menadah setiap kenangan tanpa pernah menumbuhkannya lagi. Mimpi itu hancur, menjadi debu, ketika panah itu menancap di kalbuku.

"Cinta hanya pantas diberikan kepada yang mencinta" suara lirih itu berbisik di telingaku.

"Menagpa?" aku menatapnya dengan mata yang dipenuhi dendam, amarah, dan duka.

"Siapa yang memberimu hidup? Siapa yang merawatmu? Siapa yang memeliharamu?"

"Iya."

"Lalu mengapa kamu menangis karena kehilangan mimpimu?"

"Apakah aku tak boleh merasakan luka?" tanyaku sambil menunduk.

"Bersujudlah," lalu suara itu menjauh, hingga tubuhku menggigil. Aku meratap, meraung dan menjerit. Aku gemetar di dalam sajadah. Di dalam doa-doa yang aku kumandangkan dengan nyanyian yang dipenuhi luka. Aku tak ingin seseorang tahu dan mendengarnya. Aku takut, ia akan terbunuh bila melihatku. Bagiku, kepedihan dan luka bukan dihadirkan untuk membuat kekacauan, tetapi untuk merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Namun bukan usaha yang mudah, melewati dan menaklukkannya.

Aku percaya setiap orang ditakdirkan untuk hidup berpasangan. Bila aku terlihat sendirian,  maka sesungguhnya aku menyimpan kekasih di dalam hidupku. Kekasih yang tersembunyi yang di tempat yang tidak bisa dicari, yang sengaja tidak ditampakkan agar orang lain tidak tahu, apa yang aku miliki. Kekasih itulah yang menjadi mempelaiku siang dan malam di dalam segala kegaduhan dan keheningan. Aku sengaja menyembunyikannya agar orang-orang tak perlu nyinyir mengucapkan kata-kata yang tak mereka pahami dan mengerti. Perempuan seperti aku, ditakdirkan hidup dengan merasakan bagaimana berteman dengan orang yang baik sebagai kemurahan Tuhan. Meskipun aku sudah melakukan upaya-upaya kebaikan untuk jalan peribadatan, belum tentu yang aku temui adalah oranng-orang yang baik, yang mengimani nilai yang sama denganku. Meskipun mereka semua selalu beranggapan sebagai orang baik. Tetapi perbuatan yang ditampakkan, kebalikan 180 derajat dari angapannya sendiri. Namun bila dikatakan apa yang mereka lakukan dengan jujur, mereka pun akan marah dan membalas seburuk-buruknya ucapan dan tindakan. Begitulah, maka bila temanku sekarang hanya bisa dihitung dengan jari tangan, aku tidak merasa kehilangan. Berteman dengan orang-orang yang baik meskipun sedikit adalah kekayaan dan anugerah yang hebat. Aku kembali terdiam, memandang laki-laki yang sebentar lagi tidak akan menjadi mempelaiku. Aku tahu tangannya gemetar, matanya dipenuhi kegundahan. Buatku sederhana, siapa yang menanam dosa, ia akan mendapatkan hasilnya.

"Aku tidak bisa melepaskan kamu sebagai istriku. Tapi aku juga tidak mau mengubah hidupku. Jika kamu mencintaiku, kamu harus mau menerima semua kekuranganku," suaranya gemetar. Aku sendiri tersenyum sambil menahan tawaku. Bagaimana mungkin laki-laki seperti ini yang dijadikan Tuhan sebagai mempelaiku yang disembunyikan selama sepuluh tahun Bukankah pezina akan dipertemukan dengan pezina. Orang baik akan dipersatukan dengan orang baik. Jadi bila selama ini, aku bertasbih siang dan malam, menjadikan rumah sebagai masjid. Sajadah dan langit menjelma cawan yang penuh dengan anggur kemabukan cinta dan rindu Tuhan, belum bisa menjadikan aku bersama dengan orang yang seiman di dalam cahaya dan keberkatan Tuhan. Aku tertawa karena melihat seorang laki-laki yang pernah aku cintai, memintaku untuk membiarkan dia dengan semua kebiasaannya. Berzina dan menjalin asmara dengan perempuan mana saja. Bagi perempuan lain, lebih mudah membiarkan suaminya pacaran dengan siapapun, berzina dengan siapapun asal tidak menceraikannya. Bagiku tidak, aku bersedia menikahkan suamiku, berulangkali, seingin dia dan semau dia, bila diharuskan, tetapi aku tidak akan mengizinkan suamiku berzina dengan perempuan manapun di dunia, meskipun dosa menjadi tanggungan mereka yang berbuat, tetapi aku tidak akan mengizinkannya. Lebih baik, aku hidup sendiri, berteman dengan hewan dan tumbuhan, menyapa langit dan mendetakkan diriku dengan kegairahan hidup abadi, yaitu peribadatan dan percintaan suci seorang hamba kepada penciptanya.

"Aku tidak peduli. Aku berhenti menjadi istrimu!" Suaraku mengejutkan dia. Aku berdiri, mengambil handphone, melewati dia. Tanpa menungguku melanjutkan langkah, dia berdiri di depanku menghalangi. Aku bergerak ke kiri, dia mengikuti. Aku ke kanan, dia melakukan hal yang sama. Dia merentangkan tangannya mencoba memelukku. Aku menghindar. Apa yang terlihat di mataku bukanlah kemarahan lagi. Tapi ketakmampuan melihat seseorang yang begitu bodoh. Dibangunkan untuk diajak berada di jalan kebaikan tetapi memilih untuk tetap tertidur dengan dosa-dosa yang dianggapnya sebagai anugerah.

"Sampau kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!"

"Coba saja," tantangku padanya. Mungkin dia mengira, karena aku selalu mengutamakan ibadah, menjadi istri yang patuh padanya. Menuruti semua yang dia inginkan. Bahkan dia selalu membanggakan aku pada siapa saja, sebagai istri yang saleh, santri, aku tidak bisa menggugat sesuatu yang menjadi hakku? Memilih berada di dalam kebaikan. Boleh perempuan lain berkilah bahwa suami adalah ujian. Seburuk-buruk apapun suami, istri yang baik harus mau menerima, karena memandang harta, dan kerepotan hidup bila harus menjadi single tanpa tunjangan suami. Buatku tidak.

Aku adalah perempuan yang hidup dari belas kasih Tuhan. Sendirian adalah takdir yang sudah aku pilih untuk aku genggam di dalam kedamaian hidup yang penuh suka cita. Silakan menggodaku, aku tak pernah mau terperangkap pada nafsu hewani yang membuatku harus mati berulang kali. Bila ingin menjadi mempelaiku, berdirilah bersamaku. Menjadi cerminan diriku. Dan kamu akan selalu menjadi mempelai yang disembunyikan waktu.  -g

Imogiri 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Evi Idawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 18 Desember 2016

0 Response to "Mempelai Disembunyikan Waktu"