Milad - Sembah - Haus Sukma - Kelir - Wiru Sinjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Milad - Sembah - Haus Sukma - Kelir - Wiru Sinjang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:05 Rating: 4,5

Milad - Sembah - Haus Sukma - Kelir - Wiru Sinjang

Milad

Telah lesat atas waktu
telah punah atas lelah
menyeberangi ayat-ayat yang teduh
berhenti aku di bawah atap rambu itu

ìini hari aku meyakinkan seribu langkah kaki
pada rakaat yang kuulang-ulang ì
seluruh kebaikan di sepanjang jaman
aku rindu, aku ulang-ulang rinduku
saat hatiku terlahir kembali

salam, ya rasul
(2016)

Sembah

Ngungunku padaMU
galauKU padaMU
adalah riwayat kusam
tentang lelaki garang
yang tubuhnya aking
dihinggapi osteophorosis akut

Ia bisa apa
lalu ia mau apa
jika tak melarungkan
sebijih luka ke laut, ia akan sekarat
selama-lamanya
Akankah aku seperti dia
o, sembahKU padamu Gusti
(2016)

Haus Sukma

Jika tenteram adalah surga pertama
aku akan memeluk tubuh dipan
yang telah membawaku pesiar berabad silam
menanam mimpi dan membuang
residu pembantaian roh-roh yang lelap

Haus sukma, mana oase ?
kerongkonganku kering kerontang
betapa air pucuk gunung sewindu itu membalas
cerita dari ujung terjauh
menalikan benang kenangan
dari jejak kisah ke goa-goa sejarah
yang tertikam pisau-pisau waktu
(2016) 

Kelir

subuh sudah,
cinta ini kumasukkan ke kotak
satu-satu alat pemuas, alat perasa
alat peraba, yang menuntaskan kisah
luruh sorak penonton yang resah semalam

purna sudah
soal kisah sukrasana yang tak kunjung larung
mewartakan kebajikan
di saat nagari .abai
melindungi orang-orang yang mencintai kebenaran

di tumpukan kotak itu sudah
aku tiduri bidadari
yang semalam memanah hatiku
hingga perih luka itu tak juga purna

aku menuntaskan kerinduan
pada ladang subur cinta
pada sawah hijau asmara
(2016)

Wiru Sinjang

Seperti ular, menyambung pinggang-pinggang kapang
ìadik tak boleh meniru ya ì,
ini atraksi berbahaya, memutar leher
menarikan liukan nasib dan peruntungan

wiru kemben itu adalah gender yang tak terbaca
oleh peta wilayah sukma yang memutus tali
hikayat perempuan jawa, mandah yang luka
berbalur dekapan fosil-fosil purba

dan tanda di wiru itu adalah
visual atas noktah yang menyembul
di batang dadamu, yang keluar dari frame diafragma

lembaran wiru bawahmu,
mengarsir di vena ,menyudut di empat puluh lima derajat
menuruni lembah grafitasi , mengalirkan darah
berkumul di betis padi, kuning langsat merona
larut dalam harapan yang kupendam-pendam
(2016)

Budhi Wiryawan, lahir di Bantul. Menulis puisi, cerpen, esai, cerkak dan geguritan. Buku puisi tunggalnya ’Sripah’ terbit 2009. Saat ini berkhidmat di Jaring Budaya Yogyakarta. ❑-k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Desember 2016


0 Response to "Milad - Sembah - Haus Sukma - Kelir - Wiru Sinjang"