Pada Sebuah Telapak Kaki - Ciwidey Masa Kini (?) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Sebuah Telapak Kaki - Ciwidey Masa Kini (?) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:54 Rating: 4,5

Pada Sebuah Telapak Kaki - Ciwidey Masa Kini (?)

Pada Sebuah Telapak Kaki

Pada hening sebuah kuncup subuh
Aku ingin tidur di telapakmu, Ibu
Suaka bagi hati dalam segaa rupa
Tempat berpulang semua doa tak terkabulkan
Tempat sakit dan kecewa mencari obat luka

Telapak Ibu,
Tempatku ingin membangun sebuah rumah
Berwarna putih dengan banyak jendela
Seperti rumah kita dulu
Tak perlu ada lukisan atau taman
Aku hanya perlu tempat tidur

Dari rahimmu, ibu, aku menumpang lahir
Dengan darah dan dagingmu, Ibu, aku memulai hidup
Tapi telapakmu, Ibu, pagar yang telah jauh kulanggar
Garis batas yang telah lama kuhempas
Ketika kepala hanya tahu angkasa
Bermimpi terbang lalu meninggalkan rumah

Lelah, aku lelah, Ibu
Menggelandang di telapak dunia
Di sana tak ada jendela atau kamar tidur
Hanya ada jutaan lampu yang tak pernah padam
Nafsu yang tak pernah terpuaskan
Ada banyak ruang kerja dan tempat dansa

Tapi tak ada kasur
Aku lelah dan ingin tidur,
Pulang, ingin pulang

Kini, di sebuah kuncup subuh sebelum ia dibakar mentari
Aku mengetuk pada kerut dan keriput telapakmu itu, Ibu
Mencari tempat untuk memeluk kantuk

Izinkan aku tidur di telapakmu, Ibu
Sekadar menutup mata sebelum raga dilumat dosa

Ciwidey Masa Kini (?)

Ciwidey yang asri telah banyak dioperasi, dipoles beton dan aspal tebal.
Ditempeli perhiasan palsu nan murahan, restoran dan kolam renang; hutan hilang
Auratnya dibuka sana sini, diumbar, diobral, ditempeli label harga
Dijadikan dagangan yang digadnag-gadang pada para pendatang jlaang
yang tak tahu cara mencinta, cuma mencari pelepas penat belaka
yang bisa bebas dipakai lalu ditinggal, asal bisa bayar
Ciwedey dilacurkan dan dijadikan tempat pelacuran
Tempat para pasangan tanpa surat kawin mencicipi birahi satu sama lain
Tradisi dijadikan komoditi, bukan buat nasi, melainkan gengsi

Kerbau dan traktir sama-sama mati muda, dibunuh ambisi demi jadi kaya raya
Eskavator ganas menggilas tanah bertuah, menggusur harta leluhur
Ciwidey dijual oleh orang-orang yang dulu menyusu dari putingnya, makan dari dagingnya
Ciwidey hanya bisa menangis bersama gerimis dan menjerit parau saat kemarau
Ciwidey pasrah dijarah para khalifah serakah.



Yoga Palwaguna, seorang buruh yang menemukan kesenangan dalam membaca dan menulis. Aktif di Kawah Sastra Ciwidey. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yoga Palwaguna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Sabtu 18 Desember 2016

0 Response to "Pada Sebuah Telapak Kaki - Ciwidey Masa Kini (?)"