Pelari Lintas Alam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelari Lintas Alam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:38 Rating: 4,5

Pelari Lintas Alam

SUDAH sepuluh jam, tapi jarak antara kami tak juga berubah. Aku mulai bertanya-tanya, apakah hasil perlombaan lalu-lalu akan terulang lagi kali itu? Saking seringnya ia membuatku hanya menjadi yang kedua, aku jadi lebih kenal rupa punggungnya ketimbang wajahnya.

PUNGGUNG itu tinggi dan langsing, selalu berbaju tanpa lengan dengan nomor 12--nomor yang entah apa maknanya--berwarna merah menyala, membuat kulit legamnya ikut menyala.

Seiring kian seringnya kulihat ia di depanku, punggung berbaju merah itu seakan menjelma kian merah matador di hadapan seekor banteng.

Kenapa ia tak lebih kencang lagi, agar jarak kami semakin tanggung sekalian?--supaya punggung menyalanya makin kecil dan segera hilang dari pandanganku? Itu lebih baik daripada ia seolah mengejekku, dengan menunjukkan terus-terusan kehebatannya di depanku. 

Tak mengapa aku jadi nomor dua lagi, toh hadiahnya sudah sangat besar; cukup untuk membawa keluargaku, sampai anggota yang paling muda, mengunjungi tanahg suci seratus kali.

Ya, tak mengapa, asalkan aku bisa terlepas dari bayang-bayang punggung sialan itu. Apalagi, urutan kedua saja sudah membuat bangga penduduk negeri yang selama ini mendukungku. Tidak sembarang orang bisa berada tepat di belakang manusia yang dijuluki makhluk tercepat dan terkuat di dunia itu--makhluk yang di mataku juga punya julukan lain dalam hal cepat-cepatan: makhluk dengan punggung paling cepan membikin gusar.

Sebagai penduduk negeri yang masuk kategori negeri terpencil dan tertinggal (karena posisinya di globe dan di statistik hampir semua bidang), para pendukungku setidaknya bisa berkata dengan nada bangga di hadapan penduduk negeri lain: kami punya makhluk tercepat kedua di muka bumi. Dengan begitu, untuk sesaat mereka bisa melupakan keterbatasan negeri, dan merasa sepantaran dengan negeri yang lebih maju, yang kaya, yang salah satu simbol kemajuannya saat ini ada di depanku, meski hanya berupa punggung legam menyala-nyala.

Ya, punggung itu berasal dari negeri yang telah dinobatkan sebagai negeri terkaya di muka bumi versi lembaga bonafid skala dunia. Saking kayanya, negeri itu bahkan bisa membeli penduduk negeri lain. Bahkan lagi, saking kayanya juga, orang-orang rela berbondong-bondong ke sana meskipun tak dibeli, semata agar bisa mencicip kenyamanan dan kemajuan negeri itu.

Dan sebenarnya, setelah kubaca profilnya di media masa, si Punggung termasuk salah satu dari golongan tersebut terakhir. Orangtuanya berasal dari negeri lain, yang sial pangkat delapan, ternyata tak lain dan tak bukan adalah negeriku. Hanya ia beruntung karena lahir di negeri kaya itu, dibiayai oleh penduduknya, dan kini menjadi perwakilan unjuk-kemajuan negerinya.

**
PANDANGANKU tersentak. Di depan sana, kulihat si Punggung jatuh terbanting.

Tiga sosok bertopeng berdiri menghadangnya. Saat punggung kecil itu mencoba bangkit, mereka mengerubunginya, menginjak-injak lalu meninggalkannya. 

Saat aku lewat di tempat sepi itu, kulihat punggung itu terbaring seperti mati.

Jalanan lapang di depanku. Aku ingin berhenti, tapi sejurus kemudian, kupikir toh akan ada petugas medis yang akan menemukan si Punggung. Aku harus memanfaatkan keadaan. Aku bebas, merdeka menuju tempat terbaik dalam adu terdepan itu.

Namun, sebentar kemudian, di tengah aku berlari, samar-samar kudengar langkah-langkah mendekat, dan napas terengah-engah di belakangku, seperti dubuk kelaparan. Aku menoleh, kulihat sesosok wajah bersimbah darah mengejarku. Andai saja tak kulihat bajunya yanng merah, dan kulit legamnya yang menyala-nyala, mungkin tak kukenali orang itu adalah si Punggung. Di dadanya tertulis angka 12. Tak salah lagi.

Mengapa ia tak menyerah? Keras betul kepalanya. Dengan tubuh remuk, dan tenaga yang kuyakini berkurang drastis, ia   masih berusaha merebut posisi terdepan. Lajuku memelan. Dari sini, kelihatan wajahnya, bukan lagi punggung semata. Wajah itu mengingatkanku pada orang-orang di negeriku. Bila aku berhenti sekarang, tidakkah mereka akan mengutukku?

Bagaimana perasaan mereka, yang selalu mendukungku, kalau mengetahui aku menyerahkan kesempatan ini kepada sainganku?

Rupanya, pikiran itu tak mampu menghalangi kakiku berhenti, berdiri diam seperti tonggak. Dan si Punggung pun memapasiku--ia lemparkan senyuman terima kasih dan terus berlari, menyisakan di mataku, lagi-lagi, hanya punggung yang menyala-nyala. Setelah ia menjauh, aku kembali berlari.

**
SI Punggung mengangkat piala tinggi-tinggi dengan bangga, dielu-elukan para pendukungnya. Aku mendongak, sambil mengangkat piala juawa dua dengan ragu-ragu. Meskipun pendukungku tak kalah hebohnya, aku tak berani memandang mereka. Tidakkah aku telah berkhianat?

Pikiran itu menyiksaku. Membuatku gelisah dan sulit tidur. Untuk mengalihkan perhatian, pagi, siang, sore, bahkan malam, aku keluar untuk berlari.

Sering kali aku bertemu orang-orang yang melemparkan pujian kepadaku, tetapi aku tak peduli dan terus berlari.

Suatu malam, di tengah aku berlari, tiba-tiba kudengar ledakan yang teramat keras. Aku sempat menoleh, dan kulihat potongan-potongan tubuhku beterbangan, bergelimpangan, bergelimang darah segar. Syok dan ketakutan, kupacu lariku tanpa berbalik-balik lagi.

Belakangan kutahu, dari hasil menguping pembicaraan mereka, para penentang negeri si Punggung yang juga telah menghalanginya pada perlombaan kami yang terakhir, mengalihkan sasaran kepadaku. Geram mengetahui aku memberikan posisiku kepada si Punggung, malam itu mereka memasukkan bom ke dalam tas tempat air minum yang selalu kubawa berlari.

Sejak ledakan yang merenggut hidupku, aku pun berlari ke alam lain. Di alam ini aku masih berlari. Dan aku masih bisa berlari bersama orang-orang hidup, yang tak menyadari kehadiranku. Ketika kudengar perlombaan akan diadakan lagi, aku tak sabar menanti kesempatanku berlari bersama si Punggung. Bila tak bisa mengalahkannya dalam kehidupan, aku akan mengalahkannya dari balik kematian.

Tapi ketika hari perlombaan tiba, aku tak melihatnya. Kucari-cari dia, dan kudapati ia duduk termenung di rumah mewahnya di tepi laut. Di luar, para penentang mencoba masuk. Aku ingin mencegah, tapi tak bisa. Si Punggung yang sepanjang hidupnya selalu berlari, terlontar ke alamku begitu saja, tak berlari sepertiku. Melihatku, matanya berbinar gembira.

"Ayo berlari!" kalimat pertamanya membuatku terperangah.

"Tahukah kau, aku berlari kencang karena tak sudi kau mendahuluiku?" katanya. "Kau adalah pelari terhebat, karena dari keberadaanmu yang selalu membayangikulah, semangatku tumbuh."

Semenjak kau pergi, aku tak lagi bisa berlari. Sekarang kita bersua kembali, ayo berlari!"

Kami pun berlari. Tak bosan-bosannya berlari. Sekarang pula berlari. Sampai titian terakhir yang akan membuktikan apakah kami berdua menang, atau hanya salah satu yang menang, ataukah dua-duanya kalah?

Entahlah. Tapi sekarang kami masih berlari. Bila suatu waktu seembus angin melesat-cepat di sampingmu, bisa jadi itu kami.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muliadi GF.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 18 Desember 2016.

0 Response to "Pelari Lintas Alam"