Perempuan di Loteng Rumah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan di Loteng Rumah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:32 Rating: 4,5

Perempuan di Loteng Rumah

PEREMPUAN itu mencium tangan suaminya yang hendak berangkat bekerja, kemudian menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Tak lama setelah itu ia akan muncul di loteng rumahnya, menyulut sebatang rokok, dan melamun. Aku tidak tahu ia sedang memikirkan apa, yang pasti tatapannya tampak begitu kosong. Begitulah pemandangan yang selalu kulihat setiap pagi

Saat pertama kali melihat perempuan itu merokok, aku tidak ambil pusing. Di zaman sekarang, melihat perempuan merokok bukanlah perkara yang istimewa. Jika seseorang risih menyaksikan perempuan merokok, apa boleh buat, sepertinya ia hidup di zaman yang salah. Sekarang rokok bukan cuma milik laki-laki. Lagi pula, istriku pun seorang perokok. Perokok berat malah. Sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus. Dan, aku tidak keberatan akan hal itu. Sebab, sekali lagi, sekarang rokok bukan cuma milik laki-laki.

Namun, inilah yang membuat aku jadi penasaran, mengapa tatapan mata perempuan itu tampak begitu kosong? Kadang ia sampai berlama-lama duduk melamun di loteng rumahnya. Kebetulan aku seorang pengangguran, jadi setiap pagi aku memperhatikan perempuan itu.
Pernah aku bercerita kepada istriku tentang perempuan itu.

“Stres kali, Mas,” ujar istriku.

“Stres? Apakah kamu merokok juga karena stres?”

“Bukan merokoknya, tapi melamunnya itu lho. Biasanya, alasan perempuan melamun itu ada dua. Pertama karena jatuh cinta, kedua karena stres.”

“Stres kenapa?”

“Mana aku tahu? Mungkin karena utang. Mungkin karena tidak punya anak. Atau mungkin juga karena suaminya.”

“Memang suaminya kenapa?”

“Lho, jangan tanya aku dong, Mas. Sudah ah, aku mau berangkat kerja dulu. Nanti jangan lupa cuci piring, ya.”

“Iya, niatnya hari ini aku juga mau sekalian cuci sprei. Tapi, kira-kira kamu pernah stres tidak hidup sama aku?”

“Sering!”

Aku segera menelan ludah.

***
Sambil mencuci piring, aku kembali memikirkan perempuan yang selalu merokok di loteng rumahnya itu. Rumahnya berlantai dua, berhadapan dengan rumahku. Setahuku ia jarang sekali keluar rumah.

Suaminya juga begitu. Tidak pernah berkumpul dengan warga sekitar. Setiap pulang kerja langsung masuk ke rumahnya dan tak pernah keluar lagi. Belum ada dua bulan mereka mengontrak di rumah itu, para tetangga mulai kasak-kusuk. Ada yang bilang mereka adalah sepasang suami-istri yang sombong, angkuh, tak mau bersosialisasi, dan semacamnya.

Jam berdentang tujuh kali. Pekerjaanku sudah selesai. Piring dan gelas sudah kesat bersih seperti tak pernah digunakan. Aku segera berjalan ke ruang tamu, membuka gorden jendela, dan memulai aktivitasku di pagi hari: mengintip.

Seperti inilah pemandangan yang kulihat: perempuan itu mencium tangan suaminya yang hendak berangkat bekerja, kemudian menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Tak lama setelah itu ia muncul di loteng rumahnya, menyulut sebatang rokok, dan melamun. Seperti biasa, tatapannya masih saja kosong.

Aku masih terus memperhatikan perempuan itu. Asap rokok meluncur dari hidung dan bibirnya yang terbuka. Ahli betul kelihatannya. Apakah suaminya tahu kalau ia seorang perokok? Atau ia merokok selalu sembunyi-sembunyi? Rambutnya yang sebahu sesekali bergoyang karena tertiup angin. Kalau diperhatikan, ternyata wajahnya cantik juga. Beruntung betul suaminya. Dan hei, aku perhatikan mulutnya seperti sedang mengucapkan sesuatu. Ia seperti sedang berbicara. Dengan siapa? Selain dirinya, aku tidak menemukan siapa-siapa di loteng rumah itu.

Aku mencoba menangkap sesuatu yang ia ucapkan, tapi gagal. Aku hanya bisa melihat mulutnya bergerak-gerak, terbuka dan tertutup, seperti sedang bercakap sendiri. Mungkin ia sedang bercakap dengan dirinya sendiri. Aku semakin penasaran, apa sih yang sedang ia ucapkan? Gorden aku sibak semakin lebar, kepalaku semakin menempel di kaca jendela, mencoba membaca gerak-gerik bibirnya.

Perempuan itu menoleh ke arahku.

Mampus!

Gorden jendela kututup. Jantungku berdegup. Saatnya mencuci sprei.

***
Setelah peristiwa kepergok itu, aku tidak berani mengintip perempuan itu lagi. Aku takut dianggap mata keranjang, padahal sumpah mati aku tidak ada maksud seperti itu. Pada saat kepergok itu tubuhku gemetar bukan main. Aku khawatir perempuan itu akan melapor ke Pak RT dan mengatakan yang tidak-tidak tentang diriku. Kemudian pergunjingan tentang diriku akan semakin menjadi. Suami tidak tahu diri, sudah punya istri tapi masih melirik perempuan lain. Sudah pengangguran, mata keranjang pula. Begitulah. Biasanya pergunjingan memang lebih bombastis dari apa yang sebenarnya terjadi.

Seharian itu aku cemas. Aku menyesal karena telah mengintip perempuan itu. Kenapa sih aku begitu penasaran? Seharusnya aku tidak usah ambil pusing. Biarkan saja perempuan itu merokok di loteng rumahnya, biarkan saja tatapan matanya kosong, biarkan saja ia bercakap-cakap sendiri, biarkan saja semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Apa peduliku? Ya, apa peduliku?

Namun rupanya kekhawatiranku terlalu berlebihan. Pak RT tidak mendatangi rumahku, tetangga tak ada yang menggunjingku, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Aku bernapas lega dan bertekad untuk tidak mengintip perempuan itu lagi.

***
Seminggu kemudian perempuan yang selalu merokok di loteng rumahnya itu pindah rumah. Aku mengetahuinya dari istriku. Kebetulan saat itu aku sedang menginap di rumah orangtuaku, jadi aku tidak tahu tentang kepindahannya itu. Pindahnya malam hari, kata istriku, dan tak ada satu warga pun yang membantu. Hmm. Sebentar betul mereka mengontrak di rumah itu.

“Sehari sebelum pindah,” ujar istriku melanjutkan ceritanya, “mereka bertengkar hebat.”

“Bertengkar hebat bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Iya. Istrinya teriak-teriak seperti orang kesurupan. Suaminya membentak-bentak seperti orang kesetanan.”

“Mereka bertengkar kenapa?”

“Entahlah. Tapi kayaknya gara-gara istrinya mandul dan suaminya ketahuan selingkuh!”

***
Waktu terus berlalu. Rumah kontrakan yang berada di depan rumahku sudah diisi oleh sepasang suami-istri yang memiliki banyak anak.

Sekarang, setiap pagi aku tidak pernah lagi menyaksikan seorang perempuan yang mencium tangan suaminya yang hendak berangkat bekerja, yang kemudian menutup pintu rumahnya dengan perlahan, yang tidak lama setelah itu akan muncul di loteng rumahnya, menyulut sebatang rokok, dan melamun. Hmm. Apa yang sedang dilakukan oleh perempuan itu sekarang? Apakah masih suka melamun dan merokok di loteng rumahnya?

Aku masih sama seperti yang sudah-sudah: menganggur. Tidak ada yang berubah. Namun aku merasa ada yang berubah dengan istriku. Ketika sedang menyapu, aku menyaksikan istriku sedang melamun dan merokok di halaman belakang rumah.

“Sedang melamun apa?” tanyaku kemudian.

“Tidak melamun apa-apa,” jawab istriku tanpa menoleh ke arahku. Segumpal asap meluncur dari sepasang bibirnya yang setengah terbuka.

Aku kembali teringat perkataan istriku: Biasanya, alasan perempuan melamun itu ada dua. Pertama karena jatuh cinta, kedua karena stres.

“Kamu lagi stres?” tanyaku lagi.

Istriku menggeleng beberapa kali, kemudian menatap wajahku. Ada yang tidak biasa dari tatapan matanya itu, seperti tatapan mata seseorang yang sedang jatuh cinta…


Noor H Dee, anggota Forum Lingkar Pena, Depok. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media. Buku cerpennya Sepanjang Mata untuk Cinta yang Buta 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Noor H Dee
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 11 Desember 2016 

0 Response to "Perempuan di Loteng Rumah"