Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang - Wirid Negeri Al-Kautsar - Rajah Langit - Langit - Cahaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang - Wirid Negeri Al-Kautsar - Rajah Langit - Langit - Cahaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:08 Rating: 4,5

Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang - Wirid Negeri Al-Kautsar - Rajah Langit - Langit - Cahaya

Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang 

Perempuan yang matanya ditumbuhi dendam dan kasih sayang
Menghitung jemari dengan tumpahan luka nyeri
Jerit dari bibirnya mengunci geraham yang menelan
seluruh kata-katanya
Ia adalah kegaiban yang dipelihara sebagai harapan
Pada kehendak yang didambakan

Perempuan yang matanya ditumbuhi dendam dan kasih sayang
Menampar langit berulang kali
Sambil menggerakkan kaki menarikan api
Yang membakar kepedihan dari masa silam
Di tangannya udara berputar menghidupkan kesedihan
Sayup angin mengusap pipinya yang tak berhenti
menampung air mata

Perempuan yang matanya ditumbuhi dendam dan
kasih sayang
Membuka hatinya untuk rumah bagi siapa saja
Tapi lihatlah, begitu banyak yang menjadi penghuninya
Hingga ia tak kuasa menenangkan semesta

Perempuan yang matanya ditumbuhi dendam dan
kasih sayang
Sendirian memelihara impian
Yang ia racik dari puisi
Untuk menjadi sihir bagi diri sendiri
 Jika ia mati, sudah ditinggalkannya cerita tentang
sakitnya bahagia

Jogjakarta 2016

Wirid Negeri Al-Kautsar

Aku membacamu setiap masa di dalam tarikan dan
nafas semesta
Sebuah surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai cinta
dari mantra yang menggema
KepadaMu Yang Agung dan Mulia, kubah-kubah mutiara
berdiri megah
Di sepanjang sungai yang mengalirkan doa-doa dari airmata
Aku menghamba, aku menghamba untuk Segala Cahaya

Engkau menabuh jantung yang berdetak tanpa henti
Dengan teriakan rindu yang memecahkan dinding hati
Tanpa luka jiwaku terbuka
Hingga lemparan suaranya memahat di dalam dada
Menggerus terus menerus sampai rongganya merapat erat
Aku terpenjara dalam negeri cinta
Yang Abadi, Yang Abadi, aku telah menari
Yang Kudus, Yang Kudus, aku telah terhunus
Di setiap jemari yang menandai
Menghitung gema yang memuja
Dalam hayat, dalam kematian hasrat, dalam genderang
duka perkasa

Kini pukullah aku dengan gemuruh rindu yang berulang
kali menderu
Hingga aku lupa diriku, hingga aku lupa diriku
Yang hidup di dalam wirid surgaMu

Jogjakarta 2016 

Rajah Langit

Aku memilih takdir dari suara takbir
Di telinga pada kelahiran pertama
Suara menyapa melepas kata
Dunia seteguk duka
Secercap airmata

Langit merajah bahagia
Pada tubuh yang fana
Berteduh di bawah khuldi
Engkau dan aku menjadi janji

Pandangan matamu, isyarat madu
Menungguku manis mengecap bibirmu
Gemulai lidahmu menjelma doa yang berpadu airmata
Tanganmu dan tanganku merapat
Saling menguat tanpa menggugat

Dosa menggambar luka
Di haribaanmu saat mengerjapkan mata
Mengawal rajah tanpa suara
Langit, langit, aku terduduk dan menunduk

Jogjakarta 2016 

Langit (1)

Saat laut terbelah, yang benar dan yang salah tak akan
pernah bisa saling asah. Maka bagi pejalan cinta, seluruh
doa-doa adalah sedekah. Bagi orang mulia segala
luka adalah doa.

 2015 

Langit (4)
Mendung menggantung di kelopak mata senja
Yang mengerdip berulang-ulang
Cahaya langit menggaris tipis di bawah aroma mistis
Yang tercium dari tetabuhan yang penuh duka lara

Gelegar halilintar menyambar lamunan
Yang diracik bagai kopi hitam dengan uap menggelegak
Aku menatap senyummu yang mengembang
lalu pecah menjadi serpihan

Apa yang terusik dari nikmatnya kesedihan
Adalah berdirinya pagar-pagar kokoh
Yang mengganti nestapa cinta
Dari kalbu yang terbuka oleh airmata

Maka teguhkanlah segala daya pada Yang Kuasa
Ia tak tertandingi dan perkasa
Sebuah pertanyaan belum tentu meminta jawaban
Sebuah keimanan harus selalu dikuatkan

Jogjakarta 2016 

Cahaya (1)

Rindu ini, Robbi, tak bisa digantikan oleh apa pun dan 
apa pun. Kecuali Engkau, yang terus-menerus menggenggam
dadaku dengan detakan yang tak lepas dari namaMu.

2015

Cahaya (2)

Seluruh hidup ini adalah tentang Engkau,
yang tak pernah berhenti membuatku menghamba,
hingga Arsy yang Kau miliki, yang megah dan agung dalam penglihatanku,
menjadi kerinduan yang menghiba dan terhiba di dada.

Jogjakarta 2015 

Evi Idawati lahir di Demak, 9 Desember 1973. Lebih dari 25 naskah dramanya pernah dipentaskan. Buku-bukunya antara lain (Moestika Wacana, 2002) (Gitanagari,2003), (Grasindo 2005) (Pilar Media 2005), (Adi Wacana, 2005), (IsacBook,2008), (IsacBook, 2009), (IsacBook, 2010), dan (IsacBook, 2010). Bukunya masuk 10 buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Evi Idawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 11 Desember 2016


0 Response to "Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang - Wirid Negeri Al-Kautsar - Rajah Langit - Langit - Cahaya"