Periuk Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Periuk Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:45 Rating: 4,5

Periuk Api

MATAKU terbeliak menyaksikan seekor anjing berak di depan pintu. Dua gundukan kecil kecokelatan bergeming tepat sejemba dari ujung sepatuku. Kata-kata makian hampir saja membanjiri baju dan emper rumah pagi ini, sebelum suara istriku memanggil dari dalam. Kotak bekal makan siangnya tertinggal di meja makan. Tiara keluar dengan kantung kain kembang-kembang ungu berisi dua kotak makan ñnasi, tumis sayuran, potongan ayam kecap, dan beberapa potong buah. Perutnya membundar besar. ”Jangan sampai kamu kelelahan,” kataku. Sweater hitam membungkus tubuhku yang kini mulai tak terawat seperti dahulu. Lemak mulai tertimbun di sana-sini. Seolah Tiara benar-benar sukses membuatku menjadi lelaki yang tak lagi menumbuhkan minat bagi para perempuan.

Aku tersenyum menemukan keliaran dalam pikiranku. Mungkin demikianlah jurus membentengi kesetiaan suami. Buatlah mereka menjadi gemuk dan tak rajin merawat diri, hingga hanya cinta istri pada suami yang terus memblendug-besar seperti perut suami. Tapi selalu kutegaskan dalam hati, Tiara terlalu sempurna untuk kukhianati. Jadi selalu saja kuhabiskan semua makanan dari Tiara, mengiyakan caranya untuk membuatku gemuk dan tidak disukai oleh perempuan lain. ”Mau dibawakan apa nanti?” aku bertanya. Dadaku terus saja mengembang. ”Nggak usah, Mas. Malam ini, Tiara mau masak peria dan ikan asin,” Tiara membalas. Aku mengiyakan.

Kukecup dahi Tiara, pamit. ”Kita tak pernah memelihara anjing. Tapi kenapa tiap pagi selalu ada gundukan tahi di sini? Kurang ajar betul ini hewan berkaki empat. Kenapa kalau giliran boker, selalu ke halaman kita.” ”Hush! Tidak usah terlalu seru,” Tiara memastikan sweater Manik tak kusut. ”Tidak enak kalau sampai Bu Kalis mendengarnya. Masak gara-gara tahi anjing pertetanggaan pecah.” Aku mengangguk meski sebenarnya aku jatuh iba kepadanya. Karena gara-gara anjing Bu Kalis yang sepertinya tak pernah diajar untuk berak di kakus itu, Tiara harus membersihkannya. Setidaknya Bu Kalis bisalah mengajari anjing itu untuk membawa sekalian kantung kresek dan air penyira kalau hendak boker di halamanku.

Atau justru sebenarnya Bu Kalis hanya memberi isyarat kepada si anjing untuk boker di rumahku ini. Yang benar-benar kukhawatirkan justru Tiara. Kegiatan sekecil apa pun dengan kehamilan yang sudah masuk bulan ke tujuh seperti itu, pastilah membuatnya penat. Tapi, Tiara jelas perempuan dengan segala kelembutan. Bukan sekadar suara, tetapi juga bila marah Tiara lebih memilih diam. Aku masih terus ingat katanya dan berkat kalimat itu, tiap kali pitam ingin melonjak, gegas aku telan kembali. Tiara berkeyakinan rumah dibutuhkan sebuah dinding tebal nan kokoh tidak lain agar semua yang ada di dalam rumah tak mudah merembes ke luar. Yang di luar tidak pernah mafhum apa yang terjadi di dalam. Pun sebaliknya. Saat ada air rembesan keluar, orang akan menerkanerka. Air dari kamar mandi? Air keran? Air bekas cucian piring? Atau air mata? Tiara mengantarkanku hingga tak lagi kusaksikan wajah ayu bak sekuntum melati itu. Sederhana tapi selalu wangi.

***
Jam makan siang, Seruni menghampiriku. Dia duduk di perigi kubikel. Dagunya disampirkan begitu saja menggantung. Seketika aroma segar menguasai sekotak meja kerja. Entah aku yang terlalu perasa atau memang Seruni tak pernah memedulikanku, dia terus saja menganggapku seperti setahun lalu. Lajang dan sahsah saja di ajak pergi berdua. ”Makan siang yuk, Mas?” nada bicaranya terlampau berayun-ayun. Aku bisa merasakan ada hal tersirat tiap kali, Seruni berbicara. Aku masih diam. Aku masih harus mengunggah beberapa berkas yang sayangnya cukup besar hingga proses berjalan tak secepat biasa. Lampu tetikus berganti-ganti warna. Seruni berdeham. Aku mendongak menunjukkan tas kain berisi bekal makanan yang dibawakan Tiara. ”Aku makan di meja saja, nungguin ini belum kelar,” aku sebenarnya mengadaada soal kewajiban menunggu tersebut.

Sebenarnya pekerjaan digital sekarang sudah begitu mandiri. Kutinggal pasti selesai sendiri. Tetapi lebih baik aku duduk menunggui daripada aku harus menanggu sesuatu yang tumbuh tanpa pernah bisa kuduga. Ya, ini soal Seruni. ”Temenin aku aja, Mas. Kan bisa makan di meja kantin. Lama kita tidak ngobrol,” Seruni menukas. Lama dalam ukuran Seruni bukanlah selama dalam ukuran kebanyakan. Meski meja kami tak bersebelahan – bisa dibayangkan kalau bersebelahan apa yang akan Seruni lakukan?- Seruni masih sering menyapa. Pagi saat masuk dan petang saat aku keluar kantor pulang. Ya, obrolan lebih panjang dengan Seruni sepertinya terjadi dua hari lalu saat aku harus meminjam mesin fax di mejanya karena jaringan sedang offline di ruangan devisiku.

Selama menunggu fax selesai mengirim, Seruni mengajakku ngobrol. Semuanya memang mungkin dari kesalahanku. Bibit kacang sekecil apa pun tak boleh sembarangan ditebar. Terlebih bila tanah subur dan kerap dirundung hujan. Siapalah yang kuasa menghentikan pertumbuhannya? Dan sekali lagi, bermuara pada sekotak makan siang. Karena kebiasaanku membawa bekal makan sianglah, Seruni mendadak lengket kepadaku. Suatu hari aku memotong sebutir mangga dan belimbing sebagai kudapan satu jam sebelum makan siang. Aku menuju pantri, di sana Seruni sedang mengaduk kopi. Dia basa-basi, karena kala itu aku belum mengenal dia lebih akrab. Kujawab bahwa aku hendak mengupas buah untuk camilan brunch

Entah basa-basi atau beneran terheran- heran, Seruni berkata kalau lelaki terampil memegang alat dapur, termasuk pisau, adalah memesona. Aku sungguh kikuk mendengar ucapan tersebut. Seperti ada lelehan gula cari di tangan sedangkan aku tak sedang tak ingin lengket-lengket akibat gula tersebut. Aku risih. Dan semenjak itulah Seruni selalu mencoba membuka percakapan panjang, seolah ada sesuatu yang wajib dibicarakan dan kurang afdol kalau tidak berduaan. Bahkan saat sekarang aku sudah beristri dan Seruni tahu itu. ”Kita ngobrol saja, Mas. Di meja kantin,” Seruni terus membujuk. ”Aku masih harus menyelesaikan ini,” jawabku. ”Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Mas. Ini serius,” Seruni berkata penuh ketakziman. ”Tapi,” aku hendak menyela. ”Pokoknya aku tunggu. Tak perlu lama-lama. Seruni hanya butuh lima belas menit. Mas Manik bisa menyelesaikan makanan di meja. Seruni tunggu di kantin, selesai makan siang Seruni pengen ngobrol. Serius. Penting,” dia terus membujuk.

Matanya melemparkan sebentuk paksaan yang sekali lagi dipastikan bahwa itu tidak bisa digoyahkan. Dan aku hanya bisa mengiyakan. Di rumah ada Tiara dan calon anak pertama kami. Aku harus berhati-hati sebagai laki-laki, suami, dan bapak baik hati. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar Tiara adalah satu-satunya penguasa setiap jengkal hati dan kesetiaan. Seruni seperti kawanan pendatang yang dengan berbagai cara menumpang, kemudian menguasi dan mendominasi kawasan yang dimiliki Tiara. Mungkin ini masanya aku diuji dengan kedatangan wanita yang seolah tulus mencintai, justru ketika aku begitu setia terhadap istri. Cinta itu tumbuh bukan karena dipaksa. Meski sesekali dalam menyatakan cinta perlu paksaan dan kenekadan.

***
”Aku mencintaimu, Mas Minak,” Seruni seolah sedang melontarkan sekaleng lintah dan menyedit semu darah. Sejenak aku kehilangan kata-kata. Semua menguap bersama degup jantung berpacu yang tak kumau. Wajah Seruni memerah. Aku memandangnya seperti seorang anak kecil malu-malu mengakui bahwa uang jajannya dihabiskan membeli gula-gula. Takut sekaligus malu.

Aku mengembuskan napas sekaligus sedompol kegelisahan. ”Kamu benar-benar nekad, Seruni.” ”Aku tahu, Mas Minak. Dan siaplah aku menyesap ampas dari semua ini,” Seruni meraih beberapa lembar tisu di meja. Kukira akan dia gunakan mengeringkan mimpi yang basah, melainkan untuk mengeringkan meja yang menyisakan sisa-sisa minuman dan kuah sayur. ”Istriku hamil dan aku belum berpikir untuk tidak menjadi suami setia,” jawabku.

Kusetel suaraku sedemikian perlahan agar tak ada telinga yang diamdiam menampung pembicaraanku dengan Seruni. Aku tidak bisa memastikan kemana dan bagaimana rupa ucapanku ini bila sudah masuk banyak telinga. ”Seruni, aku terpaksa menolak semuanya.” ”Aku tahu pasti begini akan jadi akhirnya. Aku mencintaimu dan akan terus menunggumu, Mas Manik. Kamu sudah kuanggap sebagai imam yang berhak menerima semua cinta dan pengabdianku.” ”Seruni!” selaku. ”Aku tahu tahu saat jatuh cinta, aku harus siap menerima rasa sakitnya. Jatuh. Sekarang aku benar-benar jatuh.” ”Seruni, lebih baik kita tetap menjadi teman yang setia, daripada bersatu tapi saling menyakiti.” ”Maaf, Mas. Seruni telah membuatmu kurang nyaman.”

***
Jam pulang kantor aku sengaja bersegera tanpa memandang meja Seruni. Aku tak mau bermain api. Tangan, pakaian, semua hal bisa terbakar oleh api. Lampu beranda menyala. Lonceng angin sesekali berbunyi oleh terisik angin. Aku memanggil Tiara saat sampai di depan pintu. Sorot-sorot oranye menimpa lantai dan memantulkan sebentuk rasa manja. ”Mas, tumben jam segini sudah pulang,” Tiara menyapaku di pintu. ”Mas pengen cepat pulang saja.” ”Kebetulan sekali Mbak Seruni tadi mampir ke rumah.” Mataku terbeliak. Lidahku seperti tertimpa anak tekak. Tiara tak mengerti sebuah api yang diam-diam membakar tubuhku ini. (92)

Teguh Affandi, lahir 26 Juli 1990. Menulis cerpen, esai, dan ulasan buku di beberapa media massa. Mendapatkan penghargaan Pena Emas dari Rumah Kepemimpinan Nurul Fikri, Green Pen Award, dan Juara Sayembara Menulis Cerpen Femina. Sekarang berdomisili Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 18 Desember 2016

0 Response to "Periuk Api"