Pintu Hijau 18 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 18 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:16 Rating: 4,5

Pintu Hijau 18

ANDAI pandangan Imah saat itu bisa menjangkau mataku, dia akan menemukan mataku berkaca-kaca. Lagi-lagi aku menunduk.

”Malina menganggap sabun yang kamu berikan itu hadiah ulang tahu untuknya.“

”Begitukah Malinah, Imah?“ Aku bertanya sambil membelalakkan mataku setengah ragu.

Bersamaan dengan itu, aku menahan sesuatu yang berteriak dalam diriku: teriakan ingin menangis sekeras-kerasnya Namun aku masih kuat menahan diriku untuk menangis.

Dalam hati dan pikiranku saat itu, bercampur aduk kurasakan. Aku merasa menyesal telah mengenal Malina. Aku menyesal Malina menderita karenaku, karena sebuah sabun yang kuberikan padanya dengan sepele mengubah hidupnya. Di sisi lain, aku merasa ingin mendatangi Suliman dan ingin menghajar sampai mati. Lebih dari itu, aku ingin sekali membawa Malina lari dan mengakhiri semua.

”Hari-hari Malina sejak dia sampai di Pintu Hijau, hari-hari yang sama sekali tidak menyenangkan. Itu hal sama yang dirasakan kami semua di Pintu Hijau. Pernah suatu ketika Malina mengutuki dirinya. Malina, seperti yang selalu dia katakan padaku, selalu merasa dirinya sudah bukan lagi manusia. Di sana, selain kami, tak ada orang yang memedulikan perasaan kami. Suliman dan anak buahnya, sedikit pun tak mempertanyakan bagaimana perasaan kami. Betapa sakitnya kami diperlakukan seperti itu. Malinalah yang paling sakit.“ Suara Imah bergetar. Ia menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat.

Imah melanjutkan.

”Aku masih ingat saat Malina baru datang ke Pintu Hijau. Ia perempuan yang polos dan cantik. Kulitnya bersih kuning langsat. Payudaranya seperti baru saja mekar. Satu bulanan Malinan di PIntu Hijau, ia diperlakukan sangat baik. Ia bahkan diajak keliling kota untuk melihat kota ini. Awalnya, seperti kami juga, Malina menduga Pintu Hijau adalah asrama perempuan. Pintu Hijau kami kira semacam tempat sementara sebelum kami dikuliahkan.”

Imah terdiam beberapa saat dan aku menyimak yang diucapkannya sembari mengangguk-anggukan kepala.

“Di sana, Bang, setiap perekrutan wanita-wanita baru, yang aku yakin dilakukan dengan cara menipu seperti yang telah terjadi pada Malina dan aku, selalu dibuat seolah-olah Pintu Hijau memang semacam asrama. Para wanita yang telah diliburkan selama sebulan untuk mengelabui wanita penghuni baru agar menganggap Pintu Hijau adalah asrama dan bukan tempat pelacuran.”

Imah terdiam sesaat, kemudian melanjutkan bicaranya.

“Aku masih sangat mengingatnya, setelah satu bulan lebih Malina di Pintu Hijau, Malina menangis. Itu awal di mana Malina akan terus menderita di Pintu Hijau. Malina diperkosa tiga lelaki sekaligus ketika itu. Mereka, Mudinar dan dua orang lainnya yang biasa berjaga di Pintu Hijau, memerkosa Malina. Sepanjang hari Malina menangis saat itu setelah diperkosa. Terus dia terisak-isak sampai hari-hari selanjutnya dan tetap Malina dibiarkan begitu saja.”
Jantungku berdebar sangat cepat mendengar perkataan Imah. Aku berdiri dari tempat duduk dan mengepalkan tanganku. Mendengar yang dikatakan Imah, aku menjadi sangat membenci mereka yang memerlakukan Malina seperti itu. Dadaku seperti teriris-iris mengetahui itu semua. Tak kuasa aku membayangkan bagaimana kesakitan Malina. Keterlaluan sekali mereka. Dan Malina sungguh malang.

Imah terdiam lagi, sambil menghapus air matanya yang mulai merembes, memakai ujung penutup kepalanya. Aku menguat-nguatkan diri dan kembali ke tempat semula aku duduk

Aku duduk terdiam, tak mampu berkata-kata.

”Cinta Malina padamu sangat besar, Bang Rusydi. Ia berani melakukan sesuatu yang berisiko agar bisa selalu dekat denganmu. Kamu tahu sendiri, Malina sampai melukai lengannya sendiri untuk diambil darahnya supaya ia disangka datang bulan. Padahal tidak. Uang yang Malina gelapkan dari pengunjung Pintu Hijau, akhirnya ia berikan pada Mudinar supaya alasan Malina keluar menemuimu disangka menemui pengunjung di luar.“

Imah terdiam dan terisak-isak.

“Uang Malina cukup banyak dari hasil menggelapkan, dan itu Malina lakukan dengan berbagai cara. Malina merayu pengunjung supaya membayar mahal dan tentu saja Malina mengorbankan diri dengan merelakan diri diperlakukan seenaknya oleh pengunjung. Bahkan posisi-posisi yang membuat Malina akhirnya kesakitan dan menangis. Untuk waktu-waktu tertentu bahkan Malina menawarkan posisi-posisi itu. Malina juga kadang mencuri uang pengunjung. Diambil dari dompet pengunjung tanpa disadari mereka.”

Terdiam lagi sebentar, masih terisak-isak, dan melanjutkan.

”Malina bercerita padaku tentang hal itu dan kadang aku menertawainya. Kadang-kadang kami tertawa bersama: menertawakan kebodohan-kebodohan mereka. Baik itu pejabat pemerintah, pengusaha, bapak-bapak pensiunan tentara, dan sesekali polisi. Mereka semua sama saja. Bodoh dan dengan mudah dapat dirayu, dikelabui dan diambil uangnya. Dan kami idka pernah melakukannya pada buruh kereta api. Mereka terlalu miskin dan dompetnya terlalu tipis.“

Kulihat Imah sedikit tersenyum dalam remahan air matanya yang berjatuhan. Imah seperti larut oleh apa yang dikatakannya. Dalam remang-remang gelap, Imah tersenyum getir mengenang itu. kemudian Imah terdiam menunduk dan terisak-isak.

Beberapa waktu kemudian aku bertanya pada Imah.

”Apa yang membuat Pintu Hijau sampai sekarang bertahan, Imah?“

”Tak ada yang memedulikan Pintu Hijau sebagaimana juga tak ada yang peduli pada perempuan macam kami,“ kata Imah.

 ”Tempat seperti Pintu Hijau juga penghasilan daerah.“

”Bagaimana bisa Suliman begitu berkuasa di Pintu Hijau?“ aku bertanya.

”Suliman hanya menjalankan perintah dari pusat di ibukota,“ jawab Iman, isak-isaknya merekda.

”Dan Paman Malina?“    (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 11 Desember 2016

0 Response to "Pintu Hijau 18"