Pintu Hijau 19 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 19 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:51 Rating: 4,5

Pintu Hijau 19

"PAMAN Malina sebenarnya juga salah satu penjaga di Pintu Hijau. Tapi Paman Debing diberhentikan setelah dia membawa seorang perempuan yang tidak diharapkan di Pintu Hijau. Perempuan itu juga yang menyebabkan kaki kiri Paman Malina dipotong. Dari kabar yang kudengar, perempuan itu didapat oleh Paman Debing  dengan mengibuli orangtua istrinya dan mengajak adik istrinya dengan alasan sama: hendak dikuliahkan tanpa membayar. Namanya Yani. Dua bulanan ia di Pintu Hijau dan dia menjadi gila. Berteriak-teriak, merusak kamar dan sudah lupa pada semua orang. Yani benar-benar gila karena Pintu Hijau! Tak lama kemudian perempuan itu lenyap atau mungkin dilenyapkan. Dan, Paman Debing dipotong kaki kirinya karena itu."

Imah menarik mapasnya. Lalu melanjutkan.

"Setelah itu Paman Debing lama tak terlihat di Pintu Hijau. Mungkin sekitar satu tahun dia tak terlihat. Baru setelah itu Paman Debing datang lagi membawa Malina."

"Kata Malina dalam suratnya. Paman Debing juga telah dipotong kaki kanannya?"

"Sepertinya begitu."

"Itu karena Malina?" tanyaku.

Aku tahu kalau itu memang terjadi memang karena  Malina. Karena hubungannya denganku.

"Iya. Tapi biarlah Paman Debing tahu rasa! Itu belum setimpal dengan yang dilakukannya pada Malina dan yani. Aku juga berharap ada orang yang memotong kedua kaki Suliman. Kalau perlu lehernya, biar mampus. Suliman sepupu yang kurangajar!" Imah sangat emosional mengucapkan kalimatnya.

"Bagaimana kalau Malina dilenyapkan seperti Yani?" tanyaku dalam kekhawatiran dan ketakutan besar.

"Mudah-mudahan saja tidak, Bang," jawab Imah. "Kamu sudah pindah tempat?" tanya Imah selanjutnya.

"Iya."

"Tunjukkan di mana?"

"Di masjid balai kota."

"Kamu aman di situ?"

"Sementara aman. Mereka tak akan menyangka aku bersembunyi di masjid," kataku.


”Teruslah berhati-hati jangan sampai terendus," kata Imah. "Aku tak akan menemuimu lagi di sini. Aku khawatir diketahui aku menemuimu. Aku beralasan hendak mencari obat meriang. Malina tadi sebelum aku ke sini dia meriang badannya panas. Malina tak bisa tidur. Mudinar melarangku karena malam-malam begini tak ada toko yang buka. Tapi aku bersikeras. Aku bilang pada Mudinar ke Mbok karena dia biasanya menyimpan beberapa obat. Kukatakan pada Mudinar, 'andai Malina anakmu masihkah kamu akan berbuat kejam!' barulah dia membolehkan aku mencari obat."

"Malina meriang? Bagaimana keadaannya?"

"Jangan terlalu khawatir."

"Jangan menghiburku, Imah."

"Percayalah padaku," kata Imah. "Aku harus segera pergi."

"Kapan kamu akan menemuiku?"

"Tunggu saja. Aku akan datang ke masjid balai kota."

Imah berdiri dan beranjak hendak pergi. tapi aku mencegatnya dan menitipkan pesan padanya untuk Malina.

"Tolong katakan pada Malina, Imah. Aku sungguh-sungguh sangat mencintainya."

"Baik."

"Jagalah Malina, Imah."

"Aku akan melakukannya semampuku."

"Aku sangat mencintai Malina, Imah," kataku merengek pada Imah.

Aku sangat emosional mengucapkan kata-kataku saat itu. Aku mengucapkan kata-kata itu setengah sadar. Lebih karena tak tahu lagi yang harus kulakukan.

Imah kemudian pergi dan menghilang dari pasar. Untuk waktu yang cukup lama, aku seolah tak bisa bergerak. Aku diam mematung dengan perasaan tak percaya terhadap yang terjadi. Lalu aku menangis sejadi-jadinya dalam gelapnya pasar.

***
KAKEK menghentikan ceritanya. Beliau turun dari ranjang menuju lemari. Seperti sebelum-sebelumnya, ia mengambil kotak kayu. Kakek memilah-milah kertas sabun di dlaam kotak amal itu. Diambil satu dan diberikan pada ibu. Ibu bergegas membacanya.

Bang Rusydi, saat aku menulis surat ini aku dalam keadaan menggigil. Tapi aku tak ingin kamu khawatir akan keadaanku. Aku akan baik-baik saja. Kulihat perutku dan mulai sedikit tampak bahwa aku tengah mengandung. Aku sangat berbahagia sekali bila sedang melihat-lihat perutku dan membayangkan aku akan segera menjadi seorang ibu, Bang.

Oh, Bang. Andai saja kita suami istri dan aku tidak pernah mengalami nasib begini, tentu kamu akan selalu di dekatku dan kita akan selalu sama-sama melihat perutku yang akan etrus membesar pelan-pelan. Sampai lama aku membayangkan itu, Bang. Kadnag-kadang aku tersenyum sendiri. Kulihat wajahku di cermin saat aku tersenyum, dan aku terkejut menemukan wajahku di cermin sedang tersenyum.

Aku tak peduli bagaimana keadaanku, Bang. Yang penting aku akan segera punya anak. Anakmu, Bang. Malina.

Selesai ibu membaca, ia menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Kedua bola matanya berkaca-kaca.

Ibu meletakkan surat itu di ranjang kakek, dan ibu berdiri dari kursi lalu setengah berlari keluar dari kamar, masih dnegan menutupi mulut dengan tangan kanan. Aku terpaku menyaksikan ibu. Kakek dalam posisisnya yang terdiam. 

Sesaat kemudian kakek angkat bicara.

"Menginaplah besok malam di sini bersama Ibumu, Nak," katanya.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 18 Desember 2016

0 Response to "Pintu Hijau 19"