Pintu Hijau 20 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 20 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:32 Rating: 4,5

Pintu Hijau 20

KAMI sampai rumah kakek ketika tiba-tiba kakek menyodorkan surat berlembar-lembar yang semuanya bungkus sabun Bunga Pemata pada ibu. Ini malam ketujuh.

”Surat terakhir dari Malina,” katanya.

Ibu menerima surat itu dan membacanya.

Bang Rusydi, bayimu sudah bisa menendang-nendang dan aku sangat senang. Mungkin dua bulan lagi aku akan segera melahirkan. Bagaimana keadaanmu, Bang? Apa kamu baik-baik saja? Tak henti-hentinya aku memikirkanmu dan anak kita.

Aku melewatkan hari-hariku dengan berat, Bang. Dalam keadaan mengandung aku masih dipaksa melayani pengunjung. Aku tak bisa menolak ini. Mudinar mengancam akan mencelakai kandunganku kalau aku menolak, Bang.

Bang, Suliman akhirnya mengetahui kalau aku tengah mengandung. Aku telah mencoba berbagai cara agar kandunganku tidak diketahui. Mulany aaku memakai pakaian yang longgar, baju kurung. Beberapa waktu, itu bisa menyembunyikan kandunganku. Aku juga berusaha untuk menolak pengunjung dengan mengatakan aku sedang sakit. Pernah aku mengatakan aku terkena penyakit kelamin pada beberapa pengunjung dan mereka urung menggunakanku. Itu cukup berhasil. Meski tak sepenuhnya berhasil.

Aku tak kehabisan cara untuk menolak pengunjung. Aku tidak mencabut bulu ketiakku sampai panjang dan itu membuat jijik para pengunjung. Aku tidak berdandan dan aku tidak mandi untuk waktu yang lama. Oleh apa yang kuperbuat itu, yang akhirnya diketahui oleh Mudinar, lagi-lagi aku dipukuli olehnya dan perutku ditendang cukup keras. Aku mengerang-ngerang kesakitan. Perutku sangat sakit dan aku takut kandunganku gugur.

Itu lembar pertama. Mata ibu mulai berkaca-kaca. Lalu melanjutkan ke lembar kedua.

Pada saat ditendang itulah Mudinar tahu aku tengah hamil, Bang. Mudinar melaporkan ke Suliman. Aku dipanggil ke tempat biasa kami dikumpulkan. Aku ditanyai kenapa aku sampai mengandung. Saat itu, Bang, aku bilang tak sempat datang ke Mbok untuk pijitan. Saat aku ditanyai, Mudinar menjambak rambutku dan aku tak kuasa menahan tangis. Perutku juga ditendangi dan aku menghindar sebisaku. Suliman memintaku untuk menggugurkannya. Tapi aku tidak mau. aku bilang padanya kalau aku menggugurkannya aku akan ikut mati sebab kandunganku telah besar. Suliman tetap tak peduli, ia memaksaku menggugurkannya.

Suliman meminta Mudinar untuk terus menendangi perutku dan aku tetap menghindar sampai akhirnya aku tak bisa lagi menghindar. Untunglah akhirnya Imah dan tang ia memelukku. Aku menangis di pelukan Imah. Mudinar melarang Imah melindungi tendangannya, tapi Imah tetap menghadang sampai kemudian Imah membentak Mudinar dan Suliman sekaligus.

”Cacing saja punya belas kasihan!“ kata Imah. ”Biarlah Malina mengandung anaknya dan setelah melahirkan dia akan kembali seperti biasa.“

Suliman menanggapi perkataan Iman.

”Malina tak akan laku lagi kalau sudah melahirkan, Malina akan kendor dan tidak padat.“
Imah membantah.

”Aku yang menjamin Malina akan tetap laku. Kalian laki-laki tidak tahu apa-apa tentang itu. Phuuhh!” kata Imah.

Itu lembar kedua. Ibu menggigit bibir bawahnya sebentar. Napas ibu berhembus cepat. Ibu melanjutkan ke lembar ketiga.

Aku  masih menangis terisak-isak saat Imah berperang mulut dengan Suliman itu, Bang. Aku takut mereka benar-benar akan memaksaku menggugurkan kandunganku. Mereka benar-benar tidak punya hati! Semestinya mereka tahu keadaanku. Padahal mereka punya ibu, yang juga permepuan sepertiku, dan aku heran kenapa mereka bisa menjadi begitu buta.

Imah bilang pada Suliman, ”Tidakkah kamu tahu bahwa Ibumu juga pernah mengandungmu, Suliman! Mudah-mudahan kamu segera mati dan membusuk di neraka!“

Untuk pertama kalinya sejak aku di Pintu Hijau, Bang, aku melihat Suliman berbuat kasar pada Imah. Sulimah menarik lengan Imah dan melemparkannya ke pojokan. Suliman melontarkan kata-kata Imah, Bang: Tutup mulutmu, sundal! Tahu apa kamu tentang Ibu!“ kata Suliman.

Imah membantah saat itu.

”Kamu yang tutup mulut, setan!“ 

Suliman tidak menanggapi umpatan Imah. Dia memanggil Mudinar dan memintanya menyeret Imah keluar. Imah memberobntak tak mau. Muinar kelimpungan dan segera dua orang lainnya datang membantu. Imah masih meronta-ronta dan berteriak “Lepaskan!” ketika diseret Mudinar dan dua orang lainnya. Imah dibawah keluar dan ditahan diluar.

Itu lembar ketiga. Aku lihat wajah ibu saat beliu membuka lembar keempat. Wajahnya memerah dan air mukanya sendu. Lembar keempat dibaca. (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 Desember 2016

0 Response to "Pintu Hijau 20"