Puisi Yang Kubakar - Malam - Bisikan Dalam Demam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Puisi Yang Kubakar - Malam - Bisikan Dalam Demam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:37 Rating: 4,5

Puisi Yang Kubakar - Malam - Bisikan Dalam Demam

Puisi Yang Kubakar

buku yang terbakar
asap membumbung ke alam tiada
dan kata-kata pelengkap derita
kembali ke alam semula

"berapa jiwa terbunuh kalimat
beracun yang kau tulis?"

aku melangkah mundur
sebaris aforisme sepi
membuntuti, bagai pisau
menghujam ulu hati 

betapa, penyair
tak memiliki kuasa, tak mampu
mencipta takdir
bahkan atas puisinya
di wajahnya hanya cemas dan bara
keresahan menjadi pena
nyala bintang di kealpaan menjadi
titik di atas huruf i
dan pusi, ia memilih jalannya sendiri
rindu keabadian dirinya
dengan energi kata dan muatan
yang terus memberi tenaga

aku melangkah mundur
tertidur, bermimpi dan meracau
tentang cinta sebagai objek wisata
kata kata
hilang arah, hilang kendali, dari 
kertas kertas kosong dan sepi

"berapa jiwa terbunuh kalimat
beracun yang kau tulis?"

Malam

malam merebah di pintu gerbang
angin laut dna jangkrik menelussup
di rerumputan halaman depan
musim dingin berlalu, tapi bulan
basah telah mengantarkan bayangmu
sebagai entitas masa lalu, jurang jurang
yang menganga di tubuh waktu

bintang bintang bernyanyi
pengantar hening--sunyi

di beranda, kopi dingin membeku
menyaksikan waktu, kursi kursi kosong
ruang tamu, kita selalu akrab ketika begini
dan kota sebagai panggung musik
--kacau dan berisik--telah pulang
ke kerajaan sunyi
jutaan sketsa ajaib turun dari langit
memasuki kamar kamar menjelma
mimpi, bunga tidur sebagai isyarat dan tafsir

malam merebah di pintu gerbnang.
biarlah, biarkan terus begini
dalam senyap biarkan aku terjaga
mengeja peristiwa peristiwa di luar
rumusan dan prakira manusia.
biarlah, biarkan aku selalu menyambut
dan merangkulmu hingga pagi tiba

Bisikan Dalam Demam

menjelang senja, duduk di beranda
dan kaan lama
puisi turut hadir, agak terpaksa
badan sedikit demam
sudah lima hari belum sirna
angin alangkah halus berhembus
dari gunung nun menjulang, pelan tapi
pasti menghisap darahku

o, racun yang berkubang, sirnalah!

kawan masih asik dengan kreteknya
asapnya membumbung padu - satu
warna senja kemarau pemalu ini

udara kotor, sungai kotor
laut biru, bersihkan segala kekotoran!

menjelang maghrib, masih juga
terpaksa
percakapan belum usai

kopi turut serta. nafas bertahanlah!
aku hanya ingin

rebah sementara
sampai racun dan segala bisa
enyah. hidup akan kumulai lagi
mengikuti 
kehendak alam -- semesta diri


Kim Al Ghozali AM, lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini bermukim di Denpasar. Aktif sebagai salah satu penggerak komunitas Jatisagat Kampung Puisi, Bali. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Ensiklopedi Pejalan Sunyi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kim Al Ghozali AM
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 18 Desember 2016



0 Response to "Puisi Yang Kubakar - Malam - Bisikan Dalam Demam"