Sabda Bizen Tua Rosanjin - Semesta Ken Mihara - Kitab Cawan Hakuji - Tiga Cawan Shimaoka - Tokkuri - Sabda Lempung Finnegan - Gelombang Rakena | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sabda Bizen Tua Rosanjin - Semesta Ken Mihara - Kitab Cawan Hakuji - Tiga Cawan Shimaoka - Tokkuri - Sabda Lempung Finnegan - Gelombang Rakena Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:27 Rating: 4,5

Sabda Bizen Tua Rosanjin - Semesta Ken Mihara - Kitab Cawan Hakuji - Tiga Cawan Shimaoka - Tokkuri - Sabda Lempung Finnegan - Gelombang Rakena

Sabda Bizen Tua Rosanjin

Serupa keheningan, hakikat bentuk
adalah tanpa bentuk, musim semi
merah dalam lanskap azalea, kilau
embun di rumpun mimosa, ode bagi

letupan-letupan kecil, sebelum satu
isyarat muskil kembali bangkit dari
lidah api, hingga praba setiap benda
membuat batinmu mulai menyadari

kesatuan indera, jalan itu, kehadiran
dari segenap perspektif, tanpa henti
gelombang sabda pada lanskap pagi
dan aku mulai berpikir keindahan ini

tak mesti segera berakhir, bila setiap
hari adalah hari baik, maka setiap puja
akan hadir pada satu set ingatan kita
tanpa metafora: elips, elegan, dan fana

seperti buah-buah plum tua yang jatuh
di hutan, hingga lingkaran itu berakhir
pada kondensasi air, dan cawan api ini
akan hadir sebagai kunci ke lain dimensi

Semesta Ken Mihara

Kau mencipta bejana
Sekeras batu dari lempung
Batinmu, menghidupkan
Puisi dari api dan abu,
Kautatap langit pagi
Dan kilau perak
Di permukaan telaga,
Sebelum kabut musim semi
Menyapu dinding perahu
Lempungmu, kau penyair
Yang tabah menangkap
Bisik-bisik kosmik
Pada tanah kelam itu,
Kau mencipta lanskap pagi
Dengan jemari tanganmu,
Kautulis ulang kitab
Kojiki dengan api dan abu:
Pakis pertama, semak
Mimosa, bakteri dan
Amuba, moluska pertama,
Juga besi dan tembaga—
Sebelum sepasang kekasih
Mendadak terjaga dari ilusi
Tidur panjangnya –sebelum
Gairah pertama bangkit
Dari kabut pagi, tepat saat
Api tungku itu padam
Dan senyum pertama terbit
Dalam warna korosi di dinding
Cawan purbamu, kau kehendak
Yang telah terjaga, di sana
Kau terus menyalakan hatimu,
Kau menghidupkan semesta
Dengan kedua telapak tanganmu.

Kitab Cawan Hakuji

(1)
Sepenuhnya putih
Tanpa dekor, kau tak bisa
Menyebut putih sebagai warna
Kecuali ekor terakhir dari cahaya.

(2)
Kau tak akan pergi
Ke mana-mana, kau akan selalu
Ada di sini, terserap dalam spora
Atau serbuk sari—juga siul putih ini.

(3)
Putih tak bisa berkarat
Dan maut tak datang
Terlambat, seperti sunyi
Dan sepasang bola mata—
Hanya permainan di luar bahasa.

(4)
Putih memang bukan
Euforia, hanya kilau silika
Dan spektrum seluruh bara
Dalam cawan orang biasa.

(5)
Bulan putih di pagi hari—
Seluruh misteri adalah ini.

Tiga Cawan Shimaoka

(1)
Alangkah sempurna
Menatap cawan Shimaoka
Menjelma bayangan cermin.
--Pagi ini, aku menduga
Masa lalu dalam sehembus angin.

(2)
Makna tanpa nama
Mengalir bersama sentuhan
Pada tangkai daun sakura.
--Begini saja, keheningan
Bangkit dari tetes hujan pertama.

(3)
Kata dalam kata
Semata desis terakhir cahaya
Terperangkap gelombang udara.
-- Di luar waktu, sebaris sabda
Merayap pada permukaan telaga.

Tokkuri

Bulat adalah
Doa, ketika simetri
Diputar pada kurva
Keramin itu, ketika
Sunyi makin identik
Dengan hijau panik
Bulat adalah
Doa, sebelum logika
Bulat adalah
Segitiga, bulat adalah
Trapesium, plus
Limas atau silinder
Plus kubus atau
Kerucut cahaya
Bulat adalah humus
Di luar tundra, bulat
Adalah lavender
Yang emekar
Menjelang purnama
Tetapi, di botol sake ini
Bulat adalah
Simetri, di luar geodesi

Sabda Lempung Finnegan

Sepuluh tahun pertama
Kau terus bertahan menunggu
Kelahiran sabda musim gugur
Hingga keheningan akan sehangat

Warna amber dan keajaiban
Coklat tua pada nyala glasir soda
Mulai mengalir di kedalaman hatimu

Sekarang kauhamparkan
Kilau pasir pada warna daun luruh
Dan burung-burung akan terbang
Dan hinggap dalam lanskap guci itu

Dan di sini kembali kurayakan
Kelahiran empat sabda lempungmu
Sendiri menyentuh langit warna amber


Gelombang Rakena

Semua ini hanyalah mimpi
Kecuali ombak pada api
Pada laguna pada angin
Pada bukit atau rasa sakit
Semua ini hanyalah mimpi
Sebelum amsal pun abadi
Seakan sepi dari akar pakis
Atau ular dalam taman tua
Semua ini hanyalah mimpi
Karena kita tak kunjung
Memahami kenapa maut
Bisa tenang menjemput
Seolah kita hanyalah lutut
Di ranjang atau selokan atau
Mulut jurang sebelum runtuh
Semua ini hanyalah mimpi
Seperti kilap setiap silika
Sebab kita bisa begitu naif
Tentang motif bunga atau
Kerut kayu di abu tembikar
Semua ini hanyalah mimpi
Kecuali selengkung sabda
Pada gelombang paling liar
Dalam pinggulmu yang fana


Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Buku-buku puisinya, Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 24-25 Desember 2016

0 Response to "Sabda Bizen Tua Rosanjin - Semesta Ken Mihara - Kitab Cawan Hakuji - Tiga Cawan Shimaoka - Tokkuri - Sabda Lempung Finnegan - Gelombang Rakena"