Sakura di Pundak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sakura di Pundak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:54 Rating: 4,5

Sakura di Pundak

AKHIR Maret, cuaca mulai hangat di Tokyo. Aku masih melanjutkan lukisanku tanpa hirau sekeliling. Pandangan hanya kutumpahkan pada kanvas. Ketika angin menerpa, aku merasa ada bunga sakura menyentuh pundakku. Tapi kubiarkan. Aku masih asyik melukis. Satu lagi bunga sakura mencolek di tempat yang sama. Perasaanku, seperti tidak gugur dari pohon.

”Hai Son! Asyik sekali kamu melukis. Tak tahu ya aku melempar bunga sakura di pundakmu?” Suara seorang perempuan tiba-tiba memecah konsentrasiku. Aku menoleh.

”Oh, Ibu Ning. Kok ada di sini Bu?” tanyaku kaget.

Bu Ning istri pejabat di kantor kedutaan. Siapa tidak senang disapa ibu pejabat berparas cantik dan ramah. Dalam hati aku memujanya. Tidak hanya cantik, pengetahuannya tentang lukisan membuatku kagum. Hanya karena Bu Ning perempuan bersuami, aku menahan diri. 

”Son, kamu bagus jika melukis dengan objek Bali. Aku suka!“

”Iya Bu, saya memang selalu tertarik dengan Bali. Di sini orang lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia.“

Bu Ning. Kenapa rajin mengunjungi aku melukis? Mengapa pula aku senang bila dikunjungi beliau. Hanya ada rasa lain dari biasa, ketika kali ini BU Ning melempar bunga sakura di pundakku. Nampaknya Bu Ning juga tahu, bagi orang Jepang sakura merupakan simbol mengekspresikan ikatan antarmanusia. Keberanian, kesedihan, dan kegembiraan selalu beriringan menguasai hati manusia. Dan sakur menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal.

”Son, besok kuundang makan malam di rumahku ya. Aku masak masakan Indonesia spesial buat kamu.“

”Wah, baik Bu. Saya akan datang. Terima kasih Bu, sudah mengundang saya.“

”Santai saja Son bicara denganku. Jangan formal kayak gitu. Kita ini teman. Panggil aku Ning. Oke!“

Aku hanya tersenyum dan mengangguk hormat. Bu Ning membalikkan badang dan pulang. Aku masih menatap punggungnya sampai hilang dari pandangan. Bu Ning mengundang aku makan malam, karena aku akan kembali ke Indonesia lusa. Hari ini lukisan harus sudah kusetor ke panitia untuk pameran. Beruntung aku sudah diakui masuk dalam jajaran pelukis internasional di Tokyo. Karena aku berkali-kali menjuarai lomba bergengsi untuk seni lukis di Tokyo.

***
BU Ning dan suaminya menyambut ramah kehadiranku. Makan malam berlangsung akrab. Dan kurasai mata Bu Ning selalu mencuri menatapku penuh arti. Aku suka tatapannya. Teduh, sejuk, aku tak mungkin bisa melupakan.

”Selamat jalan untuk besok, Son. Semoga selamat sampai ke tanah air. Kamu jadi kembali ke Magelang?” tanya suami Bu Ning.

“Iya Pak, saya akan tetap kembali ke kampung saya di Magelang. Saya ingin membuat rumah saya di Magelang. Saya ingin membuat rumah seni di sekitar perkampungan di dekat Candi Borobudur. Itu cita-cita saya, Pak.”

***
MELUKIS dan melukis. Waktuku terisi dengan melukis dengan melukis di studio berukuran 4 x 6 meter persegi yang kubangun di sebelah selatan rumah. Ini bulan kesembilan aku kembali akrab dengan tanah kelahiranku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin melukis penari Bali dengan latar belakang warna dominan merah. Wajah sang penari, terutama pada dagu dan matanya agak mirip Bu Ning. Setiap melukis penari lain dengan gaya taian lain selalu dagu dan mata Bu Ning yang muncul dalam lukisanku. Tiga lukisan aku jejerka menyamping. Tak bisa kupingkir, aku rindu Bun Ning.

Melamun dan membiarkan suara mobil berhenti di depan rumah. Ah paling adik sepupuku yang rajin berkunjung. Tapi....

”Hai, Bu Ning! Waduh apa kabar Bu? Wah sampai juga di gubuk saya ya.“

Bu Ning tidak menjawab. Ia tersenyum. Wajahnya memancarkan kegembiraan dan sekilas aku melihat matanya rindu kepadaku.

”Ibu ke sini dengan siapa?”

”Sendiri. Menyewa taksi. Cuma sebentar saja, yang penting sudah jumpa kamu. Aku udah bilang ke Bapak, mau beli lukisanmu satu atau dua lukisan.”

”Silakan, Bu. Pilih saja tidak usah beli. Hadiah dari saya untuk Ibu.“

Bu Ning mengamati satu-satu lukisan yang tertawa rapi di studioku. Ia berhenti di tiga lukisan yang tadi sempat kujejerkan. Ia tekun mengamati, sambil sesekali melirik ke arahku.

”Aku belum pernah belajar menari. Kamu melukis aku, Son? Bisa juga ya kamu mengkhayal aku bisa menari Bali. Tiga tarian lagi!“

”Bu Ning....“ Tak ada yang bisa aku katakan. Bingung akan bilang apa.

”Oke, Son. Aku ambil satu yang tengah. Yang satu aku ambil lukisan Bukit Menoreh itu.“

Kenapa aku jadi berdebar-debar. Lama aku tidak pernah jatuh cinta sejak Yuri Takeda, pacarku yang asli Jpeang menikah dengan lelaki Jepang. Orangtuanya tidak setuju denganku yang asli Indonesia. Ada Bu Ning di depanku, rasa yang pernah kualami muncul lagi.

”Ya, Bu. Silakan. Akan saya panggilkan Trimo pegawai saya untuk membungkus dua lukisan ini.“
”Berapa harga dua lukisanmu itu? Bapak tanya nih?“

”Hehe... tidak usah bayar Bu. Saya ingin berikan untuk Bapak dan Bu Ning. Sebagai kador Natal dan sekaligus kado pensiun untuk Bapak.“

”Benar nih Son? Baik. Terima ya kado natalnya. Aku pulang, langsung ke Bandara. Jam empat sore take off.“

”Bu Ning langsung ke Jakarta? Salam saya untuk Bapak. Jika ada waktu, saya akan mampir ke Jakarta.”

”Son, benarya, kalau ke Jakarta kamu harus mampir. Aku suka ada tiga wajahku muncul di lukisanmu. Oke, sampai jumpa Son!“ Bu Ning menjabat tanganku dan memelukku sekitar lima detik. Aku terkejut dan tidak berani membalas pelukannya.

Ketika masuk ke dalam taksi, Bu Ning tersenyum dan berkaca-kaca matanya. Ia melambaikan tangannya tanpa bersemangat. Aku juga ternyata melakukan hal sama.

***
TRIMO sudah membuatkan aku kopi panas, dan meletakkan koran pagi di sebelah cangkir. Berita utamanya kecelakaan di bandara. Sebuah pesawat yang hendak tinggal landas pukul 16.00 terbakar. Api menyala dari ekor pesawat, menjalar cepat membakar badan pesawat bagian belakang. Sebanyak 119 orang selamat, seorang awak kabin dan 20 penumpang meninggal dunia. Seorang awak kabin dan 11 penumpang luka berat. Sambil membaca perasaanku sangat galau, tidak enak!

Satu penumpang yang tewas dan sudah dikenali bernama Ningtyasih Arum!

“Bu Ning….” Langsung kusebut namanya.

Tanpa sadar koran yang kupegang kuremas-remas dan semakin erat kugenggam! Lukisanku mengiringi kepergiannya menghadap Tuhan. Ingat bunga sakura yang dilempar ke pundakku. Ingat pelukan lima detik. Ingat senyumnya. Ingat lambaian tangannya di balik kaca taksi. Aku ingat kamu, Bu Ning!

Telepon genggam berdering. Dari bapak, suami Bu Ning. Terbata-bata beliau mengabarkan kecelakaan yang menimpa istrinya. Pagi ini sudah di Yogyakarta menjemput jenasah istrinya.

”Ya, Pak! Saya akan segera ke sana. Saya akan menemani Bapak sampai Jakarta.” • (k)

Gang Mijil Manukan Concat, Desember 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maria Widy Aryani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 Desember 2016

0 Response to "Sakura di Pundak"