Saudara Imajiner - Kehilangan Buku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Saudara Imajiner - Kehilangan Buku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:35 Rating: 4,5

Saudara Imajiner - Kehilangan Buku

Saudara Imajiner

Waktu keckil, aku berharap punya kakak laki-laki. Kaka laki-laki tampan
dan suka mengusap -dan sedikit mengacak rambutku- yang mengundnag
pekikan tertahan teman-teman perempuan. Tentu iri hati mereka. Patah
harapanlah aku ketika sadar bahwa manusia tidak tumbuh dari dua ujung
jari yang dijeritkan.

Tak aada briket, sabut kelapa pun jadi. Mungkin akan sama menyenangkan
kalau punya adik saja. Main-main dengan ketiak bau basah di gunungan
pasir. Bersama-sama resah sebelum diomeli. Kalau kamu punya saudara,
akan seperti apa dia nanti? Kucingku selalu ingin tahu. Rahasia.

Kehilangan Buku

Sejak ia kehilangan buku-buku, pikirannya disandera uang.
Kucatat jalan opininya untuk dikirim melompati isu-isu terkini.
Melampaui data dan fakta yang ditunjuknya.
"Itu tercatat di bundel majalah. Rak paling atas. Kanan."
Dagu mendongak, wajah murung berbalut kabut

Kehilangan buku-buku tidak enteng dan butuh uang
Paling tidak, mengembalikan segala cinta dan rahasia yang terselip
di sela bau rayap, darah, dan air seni cecurut
"Kalau ujung kertas itu pahit, maka ia benda paling berbahaya."
Bibir getar tak berskala richter, terantuk--antuk kesepian.

Di atas pukul sembilan pagi, ia minta ditimang
Kubilang padanya, honor sudah sampai. Ia kencing sambil tertawa
"Idealisme itu penting, uang belakangan.:
Namun esok harinya, ia kembali cari gosip. Ditulis untuk media
berhonor di atas dua ratus ribu.
Sejak ia kehilangan buku-buku, tatapannya melulu mata uang.
Hidup susah dan merana tanpa banyak tahu.
"Uang untuk makan dan ngelmu, karena..."
Satu hal yang hanya dapat digawanginya adalah menulis.
Selalu kubantunya mengetik--tak apa. Supaya iba di hati sampai

Turut berduka untuk bapak,
sang juru tulis - yang di medan perang
kehilangan buku-buku jarinya.





Adhitya Kriesna, mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Gemar menulis blog dan bermain teater. Kini bergiat di kelompok sastra rantau Asa



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adhitya Kriesna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Sabtu 11 Desember 2016

0 Response to "Saudara Imajiner - Kehilangan Buku"