Sebuah Rumah di Loteng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Rumah di Loteng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:11 Rating: 4,5

Sebuah Rumah di Loteng

SELALU ADA gerimis ketika malam melumuri jalan itu. Gerimis ritmis yang tak kunjung reda, tapi tak juga menjelma hujan lebat di jalan di belakang gedung-gedung bertingkat itu. 

Waktu malam cahaya adalah petak-petak yang mengacak di kaca-kaca gedung bertingkat. Cahaya adalah alur warna kuning yang berderet atau berkelebat, di bawah papan-papan reklame dan bulatan lampu jalan. Cahaya adalah rupa-rupa warna berlesatan di kaca-kaca mobil, atau berdiam di pohon-pohon sepanjang pembatas jalan, di bawah langit yang hitam itu. 
          
Tetapi di jalan itu, dalam satu minggu terakhir, selalu ada gerimis. Lalu cahaya dalam warna-warna kenes melekat di dinding, bidang kaca atau etalase, di jalan aspal, atau mengendap pada genangan air. Di tengah gerimis, cahaya itu seperti basah. Kadang angin bertiup keras dan gerimis sesekali mengaburkan cahaya. 
          
Jalan itu dipenuhi pub, salon, sebuah motel, beberapa toko dan restoran. Aku pernah melewati jalan itu pada siang hari, dan aku mendapati aspal jalan yang mulai rusak, dinding-dinding kusam, kaca-kaca berdebu seperti lama tak dibersihkan, dan papan-papan reklame berwarna pudar. Tetapi malam ini, di depan lampu-lampu berwarna kenes itu, aku melihat seorang laki-laki memeluk dan mencium seorang perempuan. Lalu perempuan itu masuk ke taksi yang menunggu. Aku melihat dua laki-laki keluar dari pintu salah satu pub. Mulut mereka menceracau. Di sudut pub yang lain, ada sosok bayangan menuruni tangga besi lingkar. Suara kakinya berdetar-detar di tangga. Dia muncul di samping etalase yang buram karena siraman gerimis. 
          
Di dalam salah satu pub, aku melihat seorang perempuan menampar seorang laki-laki, lalu menyiram mukanya dengan segelas bir. 


KALAU INGATAN ITU pernah hilang, aku tahu apa yang lantas tertinggal di dalam diriku. Aku kembali ke pub ini malam ini, malam kelima dalam satu minggu, dan ingatan itu muncul. Perempuan itu duduk di sofa berbentuk huruf L di sudut, dengan dua perempuan lain dan tiga laki-laki. Dia mengisap sebatang rokok. Dia menempelkan rokok ke bibirnya, menyedot pelan-pelan dengan raut muka nyaris datar, lalu mengembuskan sedikit asap tipis. Lalu sambil menjepit rokok di antara dua jari, dia mengangkat gelas bir dengan tangan yang lain. Dia mendekatkan gelas ke bibirnya dan meneguk pelan-pelan. Gelas itu berkilat karena lampu sorot di langit-langit dan pendar-pendar lampu dari arah panggung. Lalu dia melepaskan bibirnya dari gelas. Matanya menunduk, seperti memandangi cairan kuning keruh dengan buih menggumpal di mulut gelas. Saat itulah perempuan itu tersenyum. 
          
Tetapi ingatan itu membuatku bungkam. Sejenak aku terseret dan berendam dalam ingatan itu, dan seperti malam-malam sebelumnya, aku tak melakukan apa-apa. Aku duduk di kursi tinggi di depan meja bar, dengan segelas bir. Pub ini bercahaya redup. Lampu-lampu sorot di langit-langit membentuk cahaya yang tidak rata. Penerangan paling jelas mungkin datang dari meja bar, lewat lampu-lampu yang menyorot ke rak besar berisi botol dan gelas. Meja bar ini seperti pusat ruang di pub. Letaknya di sisi kanan panggung, menghadap ke deretan sofa, dan aku duduk menghadap ke sudut itu. 
          
Di depanku, bartender beberapa kali berjalan bolak-balik. Tak banyak orang duduk di sepanjang meja bar, dan bartender melirik gelas bir di tanganku yang hampir kosong. Pub ini juga tak terlalu penuh. Aku mendengar laki-laki di sampingku bernapas keras sekali. Bola matanya berkilat dalam pantulan-pantulan lampu dari depan panggung, tempat beberapa orang melantai. Pantulan cahaya merah, kuning, biru dan putih itu membuat pub ini seperti meliuk-liuk, dan embusan napas laki-laki di sampingku makin keras. 
          
Aku memandang perempuan itu. Sejak pertama berpapasan dengannya, aku selalu kembali ke pub ini. Malam ini, dan malam-malam sebelumnya. Sejak itu waktu yang lama terlewat seperti kembali pada diriku dan meletupkan ingatan itu. Ternyata ingatan itu masih utuh. Hanya saja, selama bertahun-tahun aku tak menyadarinya. Perempuan itu masih duduk sambil merokok di sudut itu. Dia merokok, seperti tak acuh pada dua perempuan lain dan tiga laki-laki yang berceloteh di sampingnya. Dia merokok, dan aku teringat, bukankah perempuan itu selalu merokok selama lima malam ini? 
          
Dari arah panggung, sejak tadi penyanyi itu mendesah-desah. Sesekali disela suara musik yang menyentak, dan cahaya di depan panggung kadang bergerak-gerak seperti kalap. 
          
Tapi aku tahu ingatan itu serupa ranjau. Untuk waktu yang lama, ranjau itu diam tapi tak berarti tidak ada. Tinggal menunggu suatu pemicu, dan ranjau itu meletup, seolah percik api lalu menyebar ke seluruh sistem tubuh dan menyeret kesadaran kembali pada ingatan itu. Aku teringat, suatu petang aku singgah lagi di gang itu. Laki-laki yang duduk di mulut gang menempelkan jarinya ke bibir, memintaku tidak berisik. Aku tahu laki-laki itu agak terganggu. Lalu aku memandang ke rumah di loteng, tangga, dan lorong di bawahnya yang memisahkan dengan rumah lain. Petang itu banyak orang berlalu-lalang. Ketika gelap turun, rumah-rumah mendadak bercahaya. Gang itu sedikit demi sedikit mulai berjubel oleh cahaya redup, orang lalu-lalang, derit pintu, udara yang gerah, dan semacam bau asam. Lalu aku tenggelam dalam arus tak berujung itu. 
          
Sebetulnya aku tinggal menaiki tangga ke rumah di loteng itu. Tapi tidak, aku hanya memandangi rumah dan gang itu. Orang berlalu-lalang, cahaya-cahaya redup, gelap langit. Aku dikerubuti kekosongan, yang meledak di dalam diriku dan akhirnya menyeretku pergi. 
          
Tetapi malam ini aku di pub ini. Dari meja bar menyeruak aroma alkohol yang tajam, di tengah celoteh-celoteh dan suara musik dari panggung. Aku merasa di pub ini waktu seakan berhenti, dan dunia selesai di sini. Tak ada jam. Tak ada yang terukur. Tinggal semacam kebisuan yang memabukkan, meski di sini orang-orang tertawa agak keras, bicara agak keras, dan melantai. Kukira orang-orang itu kesepian, dan kesepian membuat mereka seolah mati. Mereka datang ke pub ini karena di sini, begitu waktu seakan berhenti, mereka merasa hidup. 
          
Dari kursi tinggi di depan meja bar, dengan mata berpindah-pindah ke sudut itu, aku juga merasakan kebisuan itu. Di sekelilingku begitu banyak suara, tapi aku terjerat kebisuan itu. Meski hanya sejenak, tapi rasanya lama sekali. 
          
Lalu aku mendekati perempuan itu. Dua perempuan lain dan tiga laki-laki di sampingnya sudah tidak ada. 
          
“Astrid, kau merokok banyak sekali malam ini.” 
          
Perempuan itu menatapku. Matanya kelihatan bingung. Lalu dia tersenyum. 
          
“Kalau begitu, rokok ini untukmu.” Dia menyodorkan sebungkus rokok yang masih penuh dan korek gas. 
          
“Sudut ini berisik sekali,” kataku. 
          
“Kau mau kita pindah ke dalam?” 


“ADA ANAK PEREMPUAN yang dulu tinggal di gang sempit. Rumah-rumah di sana kebanyakan berloteng, dengan tangga terpisah yang tak diterangi lampu. Tangga-tangga itu sengaja dibuat agar ruangan di loteng dapat ditempati sebagai rumah. Ada jendela kecil di loteng itu, jendela kayu lipat yang membuka ke kiri dan ke kanan. Di bawah tangga, ada lorong yang berbau aneh,” kataku. 
          
Bilik ini hanya sedikit lebih terang dari redup. Di bawah sorot beberapa lampu, aku tak tahu apa warna lantai ubin dan langit-langit itu. Mungkin abu-abu. Dinding-dinding juga berwarna abu-abu. Pada satu bidang, dinding itu menyekat ruang tidur dan toilet. 
          
Aku duduk di sofa, di samping sofa abu-abu panjang yang diduduki perempuan itu. Dia duduk menghadap ke televisi yang sejak tadi tak menyala. Bilik ini sangat dingin. 
          
“Waktu petang, orang-orang berjalan serabutan di gang itu. Kelihatan beberapa penjaja makanan dan anak-anak kecil berlarian dari pintu ke pintu. Di atas rumah-rumah dan beberapa batang pohon yang kurus, langit selalu terlihat murung. Sesekali kereta api lewat, panjang dan cepat. Di mulut gang, duduk seorang laki-laki yang suka menceracau.” 
          
Perempuan itu mengulum senyum tipis di bibirnya. Dia bungkam, tapi dari raut wajahnya, aku tahu dia menyerap kata-kataku. Begitu masuk ke salah satu bilik di belakang pub, aku memesan dua botol bir. Aku membiarkan perempuan itu meneguk bir, lalu dia lebih banyak diam meski aku tahu dia ingin cepat-cepat menyalakan televisi dan meraih mikrofon, sampai aku berkata, “Aku hanya ingin kau mendengar cerita ini.” 
          
“Lalu?” 
          
“Hanya itu.” 
          
“Tarifku tidak berubah.” 
          
“Aku tahu....” 
          
Aku melanjutkan bercerita.  
          
“Anak perempuan itu pernah satu SMU denganku. Dia baru masuk ke SMU ketika aku sudah kelas 12. Suatu petang dia lewat di depan kafe, tempat aku dan beberapa temanku kerap berkumpul seusai jam sekolah. Anak perempuan itu cantik. Aku masih ingat petang itu sampai hari ini. Rambutnya sepunggung. Kulitnya bersih. Wajahnya terlihat selalu murung, tapi tatapan matanya sangat lembut. Di mata seorang remaja SMU yang masih berpikiran kanak-kanak sepertiku, dia kelihatan cantik sekaligus rapuh.” 
          
Perempuan itu duduk dengan melipat kaki. Aku tak memandang ke arahnya. Aku bercerita tentang anak perempuan yang lewat di depan kafe, tapi di mataku aku melihat gang itu, petang itu, dan anak perempuan yang bergegas menaiki tangga ke rumah di loteng. 
          
“Tak berapa lama, dia sudah sangat populer di sekolah. Selama jam istirahat, dia kerap dikerubuti beberapa anak laki-laki, juga teman-temanku, dan aku tahu dia merasa tidak nyaman. Berbeda dengan teman-temanku, aku hanya memandangi dari jauh. Aku tak berusaha mendekat, tapi dari hari ke hari aku tahu aku jatuh cinta pada anak perempuan itu.” 
          
“Lantas?” 
          
“Lantas, begitulah. Aku tak melakukan apa-apa. Lantas suatu hari aku membuntuti anak perempuan itu sampai ke rumahnya.” 
          
Perempuan di depanku tersenyum. Di bilik ini tak ada cahaya yang memantul-mantul, tapi pendingin ruangan mengembuskan napas ke arahku dalam ritme yang panjang. Di bilik ini juga ada kebisuan yang memabukkan. Aku merasakan gejolak, dan ingatan itu memaksa muncul, tapi sulit sekali untuk bungkam di depan kebisuan itu. 
          
“Anak perempuan itu tinggal di salah satu rumah di loteng. Aku melihatnya bergegas menaiki tangga. Seharusnya aku ikut menaiki tangga ke rumah di loteng itu. Seharusnya begitu. Tapi tidak, aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya memandangi rumah di loteng dan gang sempit itu. Aku melihat jendela kecil yang semula tertutup dibuka dari dalam. Aku melihat langit pelan-pelan meredup dan gang itu dipenuhi orang. Lalu aku pergi.” 
          
Pelan, tenang, saat-saat itu kembali. Petang itu langit murung tak ada cahaya. Bau dari lorong di bawah tangga merambat ke udara. Orang berlalu-lalang. Lampu-lampu menyala, penjaja makanan merapat di pinggir gang, dan seorang anak menangis entah di mana. Aku teringat cahaya itu, suara itu, bau itu. 
          
“Lalu suatu hari teman-temanku mengatakan sesuatu tentang anak perempuan itu. Bukan kata-kata yang bagus. Kata mereka, dia menjajakan diri. Aku tak percaya, tapi kabar itu menyebar dengan cepat. Lalu suatu hari anak perempuan itu tidak masuk sekolah. Juga hari-hari berikutnya. Kabar lain menyebar. Kata teman-temanku, seorang guru memergokinya. Karena itu dia dikeluarkan dari sekolah. Aku tak percaya. Lalu suatu petang aku singgah lagi ke gang sempit itu. Rumah di loteng dengan tangga terpisah di samping itu sudah kosong. Seseorang memberi tahu, penghuninya, seorang anak perempuan dan ayahnya, sudah pindah.” 
          
Kali ini aku memandang perempuan itu. Kami bertatapan. 
          
“Kemudian, untuk waktu yang lama, aku masih mengingat anak perempuan itu. Aku merasakan kekosongan. Aku terus berpikir, kalau saja aku ikut menaiki tangga suatu hari dulu, atau aku mendekat pada anak perempuan itu suatu hari dulu, mungkin aku tak akan bercerita apa-apa padamu malam ini.” 
          
Perempuan itu masih duduk sambil melipat kaki. Raut wajahnya tak berubah, tapi dia mulai gerah atau merasa bosan. 
          
“Cerita yang menarik,” katanya. “Tapi kenapa kau menceritakannya padaku?” 
          
“Karena setelah delapan tahun, aku bertemu lagi dengan anak perempuan itu. Rambutnya masih sepunggung. Kulitnya bersih. Wajahnya masih terlihat murung, tapi tatapan matanya sangat lembut, meski sekarang dia terkesan agak angkuh. Entahlah, mungkin dulu aku tak merasakan cinta yang seimbang. Karena itu aku bungkam. Entahlah, mungkin di mataku dia masih anak perempuan yang cantik sekaligus rapuh. Ternyata selama delapan tahun aku tak beranjak ke mana-mana dan tak bisa lepas dari pikiran kanak-kanak itu.” 
          
Kami diam. Bilik ini hanya sedikit lebih terang dari redup. Tak ada suara lain kecuali dengung pendingin ruangan. Televisi sejak tadi tak menyala. Lalu aku berpikir, bukankah jauh lebih sederhana jika aku tetap bungkam dan tak melakukan apa-apa? Bukankah akan lebih mudah jika ingatan itu dibiarkan mengendap atau tetap samar-samar? Tiba-tiba aku merasa asing pada kesudahan semua ini. Ketika semua ini selesai, apakah aku lantas merasa lega? 
          
Aku mengeluarkan bungkus rokok dan korek gas dari saku. 
          
“Kau merokok banyak sekali.” 
          
“Benar....” 
          
Lalu perempuan itu diam. Apakah dia, tidak seperti diriku, sama sekali berjarak dari ingatan? Tapi apa yang membuatnya bertahan di bilik ini? 
          
“Ini rokokmu. Aku tidak merokok,” kataku. “Sebaiknya kau jangan merokok. Tapi habiskan rokok ini, malam ini. Setelah itu cobalah untuk tidak merokok, Astrid. “ 
DI PINTU PUB, aku menoleh. Perempuan itu menatapku. Kali ini aku melihat senyum yang tulus di bibirnya. 
          
“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. 
          
“Hei, aku belum pergi, tapi kau sudah bertanya apakah aku akan kembali.” 
          
“Apakah kau akan kembali?” 

TAPI NAMAKU bukan Astrid. *** 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wendoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 3-4 Desember 2016

0 Response to "Sebuah Rumah di Loteng"