Seiris Prasangka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seiris Prasangka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:33 Rating: 4,5

Seiris Prasangka

YES! Ujian kahir semester dua benar-benar rampung juga akhirnya. Fyuuh. Rasanya seperti ada batu super duper besar yanng berhasil diangkat dari kepala ini. Haaa... lega seklai. Selesai ujian dan lulus. Apalagi, kado terindah bagi mahasiswa selain 'ujian selesai dan lulus?" Alhamdulillah, anggap saja ini sebagai berkah menjelang Ramadhan di negeri orang, batinku haru.

Seperti yang telah direncanakan jauh-jauh dulu, hari ini kami, aku, Alona, dan Shafy, akana belanja ke pasar langganan di kawasan Cankaya-Konak. Menghadiahi diri atas perjuangan panjang menempuh ujian; belanja ala wanita.

Walaupun aku sudah sangat capek sejujurnya. Sebab, sejak tiga hari terakhir aku dan beberapa kawan Indonesia lain kerap keluar asrama entah untuk membeli kebutuhan harian, rapat PPII Izmir ataupun sekadar iftar bersama. Tapi apa daya, aku sudah berjanji, terutama kepada Shafya untuk pergi berbelanja bersama-sama seusai ujian terakhirnya.

"Ayolah Fira. Ikut yuk! Temani. Aku bosan sekali di asrama. Aku stres dengan semua ujian ini. You know that my department is the sloowest among others. And it's getting even more stress," rajuknya, setengah mendesak. Aku tidak tahu sejak kapan Shafya punya ekspresi memelas yang begitu mengibakan.

"Ok. Insya Allah, beraber gideriz ya, Insya Allah kita oergi sama-sama."

Siang itu, kami susuri setiap inci toko di sepanjang jalan yang menghubungkan Cankaya dan Konak. Sesekali dengan pede kugantikan Alona memimpin jalan. Ceilah, gaya banget lo, Fir! Rasa-rasanya aku sudah hampir hafal setiap sudut gang di daerah sini. Saking seringnya.

Sampai di kawasan Kemeralti, Shafya masuk ke sebuah toko esarp yang cukup bergengsi. Di antara sekian toko yang berderet di sana setidaknya toko itulah yang memiliki etalase fashion paling wah. Barang-barangnya bagus. Tapi, harganya tentu jauh lebih bagus lagi. Alias dijual lebih mahal di sini. esarp yang kubeli seharga masing-masing 10 TL dengan kualitas yang sama, misalnya, di toko ini dijual seharga 15 sampai 20 TL. Padahal, sudah tertulis dengan diskon. Wew. Untung saja aku sudah membelinya di toko Tante Judes3, tadi. Lumayan rezeki anak salehah.

Alona yang mengamati harga-harga banderol sedari tadi tampak gelisah tak karuan. Tidak betah, ingin sekali keluar dari toko ini. Terlalu mahal, katanya. Kemudian menarik-narik tangan Shafya memaksa keluar toko. Beberapa penjaga perempuan tampak memerhatikan kelakuan kedua sahabatku, membuatku ikut merasa tidak nyaman. Mereka bahkan sempat berdebat beberapa saat. Aku hanya diam, memerhatikan. Toh, mereka memang selalu begitu. Tapi, harus kuakui bahwa kelakuan Alona kali ini sedikit keterlaluan.

Kunjungan Shafya ke toko itu berakhir dengan enam buah bros kecil berbentuk hati seharga  5 TL. Terlalu mahal untuk ukuran bros yang begitu sederhana memang.

"Alona, aku tidak suka dengan caramu di toko barusan. Aku tahu betul barang-barang di sana memang mahal. Tapi kau tidak seharusnya bersikap seperti  itu," sembur Shafya sesaat setelah kami keluar dari toko.

Alona yang merasa telah berjasa menyelamatkan Shafya dari toko mahal, kontan tersinggung dan tidak terima diperlakukan demikian.

"Ben ne yaptim? Apa yang kulakukan? I just want to say that with the same quality you can buy cheaper thisng like Fira did there. That's it."

"I know. But your body language, Alona. I really didn't like it. People can see. Dan itu sangat tidka sopan sekali," Shafya menekankan kalimat terakhirnya.

"Aaah!" Alona menepiskan tangan ke udara. Berlalu tak peduli menuju Konak.

***
AKU duduk menyandarkan punggung ke dinding masjid, meregangkan kaki dan punggung yang terasa sangat lemas. Shafya juga melakukan hal yang tak jauh beda, kecuali tentang menyandarkan punggung. Berjalan seharian di pasar ternyata menguras banyak tenaga. Aku memegang mushaf Alquran berwarna merah jambu kesayanganku. Kau buka tutupnya, bersiap membaca sebelum Shafya menginterupsi.

"Fira, can I say something? I need your suggestion. Ah! I don't what to do. I'm.." wajahnya tampak sedih dan bingung. Seolah baru saja kalah dari peperangan. Kututup kembali mushaf. Mengangguk mengiyakan. Meski pertanyaan mengapa Shafya tidak bercerita kepada Alona dan malah memilihku, menyergap pikiranku saat itu.

"Fira, kau tahu kalau aku bekerja pada seseorang di daerah industri, kan?" tanyanya meneliti. Memastikan aku memahami posisinya saat itu. Ya, sejak dua bulan lalu ia bekerja sebagai akuntan di kawasan industri di Sanayi. Namanya kawasan industri tentu saja akan lebih banyak laki-laki yang bergelut di dalamnya. Bahkan, seharusnya perempuan dilarang masuk, apalagi bekerja di sana. Dilarang masuk. Jawabannya mengapa?

Lingkungan ini 'kurang baik' untuk perempuan. Terlebih di sini ini ada Izmir. Kota yang suka tidak suka, sekularitas masih melekat kental di mana-mana. Suasana yang bagi muslim seperti kami sangat tidak mudah untuk dihadapi. Kondisi yang memaksa Quina dan Shafya untuk 'membuka' sedikit hijabnya demi tetap bekerja di tempatnya saat ini.

"Sudah hampir dua pekan aku tidka masuk kerja lagi," lanjutnya.

"Lho, mengapa? Mereka memecatmu karena kau berjilbab?" tanyaku penasaran. Bahkan Shafya rela membuka sedikit hijabnya demi bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi yang mendesak (mengirim uang kepada keluarganya di Uganda). Mengapa sekarang tiba-tiba berhenti bekerja?

Wajahnya semakin muram mendengar pertanyaanku.

"Ah. Bukan. Ini adlaah keputusanku. Aku yang memilih berhenti bekerja dari sana."

"Eh? Bukannya kamu bilang kamu butuh uang? Mengapa tiba-tiba? Apa masalahnya?
Bosmu jahat?" Pertanyaanku membombardir Shafya tanpa ampun.

"Aah. Itulah mengapa aku ingin meminta pendapatmu, Fira. Let me tell you. Bosku adalah orang yang baik. Sangat baik malah. Tapi entah mengapa aku merasa kalau akhir-akhir ini dia berlaku genit padaku, sering menggodaku dengan cara yang terselubung. SMS lah, telepon lah, ini lah, itu lah. Seperti terkesan ingin menjalin hubungan denganku. Aku tidak suka.  Aku sangat tidak nyaman. Dan hal yang paling membuatku lebih tidak nyaman adalah dia seorang lelaki yang sudah berkeluarga."

Aku memandang Shafya tak percaya. Bagaimana bisa?

"Ya mungkin karena dia melihatku adalah Muslimah yang taat dan dia menyukainya. Selain itu, aku bekerja dengan baik dan cepat di kantor. Berbeda dengan pekerja Turki pada umumnya. Atau mungkin karena.. Ah entahlah Fira. Aku tidak tahu mengapa dia etrtarik padaku," tuturnya frustasi.

"Ini sangat tidak bagus Shafya. Kamu sudah kasih tahu bos kalau kamu  sudah tunangan dengan seseorang atau belum?" Aku bertanya optimistis kali ini. Berharap bahwa pertanyaan ini adalah solusi yang sempat terlupakan olehnya.

"I did, Fira. Tapi, kau tahu apa yang dia katakan? Uhh! Aku jijik sekali untuk mengatakan bertunangan. Kita tetap bisa melakukan hal yang.. Ah sudahlah Fir!"

"Hal lain yang..?" desakku, masih memandang Shafya dengan ekspresi yang sama.

"Hal lain seperti... ci.. ciuman." Akunya, tidak yakin apakah harus menyebutkan kata terakhir atau tidak, yang kusambut dengan pekikan kaget.

"Astagfirullah!" lirihku spontan. Menutupkan kedua tangan ke muka. Ya Allah, seperti ditampar rasanya mendengarcerita ini. Imajiku langsung  bergerak liar mendengar kata ciuman yang dituturkan Shafya. Ini Izmir, aku tahu betul, bagaimana gaya 'bercinta' mereka yang tidak begitu tidak tahu adab.

Di bus umum, metro, kereta, bahkan jalanan umum dan depan gerbang asrama sekalipun mereka tidka malu untuk bermesra ria. Yang lebih tidak habis pikir lagi, bagaimana mungkin gadis-gadis itu bersedia dibegini-begitukan sedemikian rupa oleh lelaki yang kerjanya bual semata.

Sudi berkali-kali membenahkan kemeja dan rambut yang kusut kacau tak karuan. Turun dari kendaraan dan berpisah dengan pujaan hati butanya seolah tidak hal aneh yang terjadi. Tidak peduli dengan nyuinyir-nyinyir keberatan orang sekitar.

Kuturunkan tangan perlahan. Dari sudut mata aku bisa melihat air muka Shafya yang begutu terpikul dan merasa bersalah. Tanganku yang tadi lemas tak berdaya  kini terasa mengepal keras luar biasa.

"Laki-laki gila! Kau mau minta saranku Shafya? Berhenti sekarang juga. Dan jangan pernah kembali lagi ke sana. Jangan," kataku, meluap-luap.

Sunggingan senyum tipis terukir di mulutnya, "Itu juga yang dikatakan Buyuk Baba. Kau tahu, dia adalah orang yang paling dihormati di kawasan industri. Dia yang sangat baik mengundangku untuk makan bersama di rumahnya waktu itu dan membawakanku begitu banyak buah-buahan. Ingat?" Aku mengangguk ragu. Aku tidak pernah bertemu dengan Buyuk Baba ini. Tapi mungkin aku mengenalnya dari ingatan akan sekantong besar buah kays? dan apel yang dibawa  Shafya tempo hari.

"Dia berbeda. Dia adalah orang yang sangat baik. Menunjukkanku letak masjid untuk shalat dan sebagainya. Dia menganggapku seperti anaknya sendiri. Dan karena dia punya dua orang anak  perempuan, maka dia pun marah saat aku bercerita tentang hal ini kepadanya. Dia bilang, kehilangan anak perempuan satu saja, tidak pulang sehari saja, rasanya sakit luar biasa. Dan dia tidak ingin aku mengalami hal-hal yang aneh yang tidak diinginkan."

"Uh.. Tentu saja Shafya. Aku pun tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang sebenarnya bisa dihindari, terjadi padamu."

Shafya melanjutkan ceritanya, "Saat aku bilang kepada Baba bahwa satu-satunya alasan aku tetap bekerja di sana karena aku sangat butuh uang, Baba memberiku 400TL dengan syarat aku tidak akan bekerja di sana lagi. Dia bilang akan membantu mencarikanku pekerjaan lain di rumah sakit, karena dia tahu aku kuliah di bidang kesehatan. Tapi, sampai saat ini tidak ada kabar yang datang, Fir. Sementara bosku terus menelpon dan mengirim pesan memintaku untuk kembali bekerja. Aku butuh uang Fira, tapi aku telah berjanji pada Baba untuk tidak kembali ke sana," raungnya kemudian. Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kami terduduk dalam keheningan beberapa saat.

"Hmm.. mungkin kamu bisa mencoba cari pekerjaan lain Shafya?" tanyaku hati-hati. Tak ingin terdengar sok menasihati ataupun terkesan menyepelekan masalahnya. Shafya menghela napas panjang.

"Fira, kau tahu kalau mencari pekerjaan di sini sangat tidak gampang, kan? Apalagi untuk kita yang berjilbab. Tempat kerjaku yang lalu adalah termasuk yang paling baik di Izmir, karena masih mengizinkanku memakai jilbab meski harus membuka bagian leher. Itulah mengapa aku dilema saat ini. Sungguh, aku tidak ingin  kembali ke sana, Fir. Tapi... aku butuh uang.."

Hening lagi. Hanya suara helaan napas kami yang terdengar. Beberapa pikiran ringan masuk silih berganti ke kepala. Aku berusaha memutar otak dan mengulang rekam ingatan tentang kesempatan kerja di Izmir. Melamar menjadi pengajar bimbel, jilbab taruhannya. Bekerja di kawasan industri di antara para lelaki, ini jauh lebih buruk lagi risikonya. Jadi, loper koran, ini bukan Jerman yang mengizinkan semua orang bisa bekerja part time. Shafya butuh bekerja di tempat yang ramah, tanpa perlu membuka jilbab. Tapi kerja apa, di mana?

"Hey, Shafya!" pekikku tiba-tiba. Menyadarkan Shafya dari lamunan kelamnya.

"Kamu ingat toko pasmina yang kita masuki di pasar tadi, enggak? Yang menurut Alona sangat mahal sekali itu?" Shafya mengangguk mantap.

"Di depan etalase ada bacaan 'bizimle calismak istermisiniz?' Mau bekerja dengan kami? lihat enggak? Gimana kalau coba ngelamar ke sana?" tanyaku penuh antusias, tiba-tiba bersemangat seperti dapat pencerahan. Tapi, rupanya tanggapan Shafya di luar ekspektasiku.

"Yah.... Aku melihatnya. Itulah mengapa aku tetap masuk ke toko meski tahu barang di sana sangat mahal. Heh! Bahkan aku sempatkan membeli bros mereka, Fira," Shafya tersenyum getir.

"Tapi sayang sekali, mereka tidak menerima  orang asing sebagai pekerja, Fira. Dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana."

Itulah mengapa aku tetap masuk ke toko meski...

Punggungku terlunglai lebih lemas lagi sekarang. Di sana, malam itu, ada sensasi dingin yang menyergapku tiba-tiba. Bersamaan dengan ras asakit menyayat-nyayat yang begitu luar biasa di dada.

Apakah kau tahu tentang ini, Alona?

"Everyone has their own needs Alona. And you, you don't have any right to interrupt my needs.." ❑ 


Erna Eruna adalah alumnus Fakultas Peternakan IPB Bogor, kemudian melanjutkan studi S2 di Edge University, Izmir, Turki. Saat ini ia duduk di semester akhir dan tengah menyusun tesis.
Selain menulis, mojang Bandung yang satu ini juga sangat hobi traveling, memasak, dan mengajar anak-anak. Ia pun aktif menulis di blog, Twitetr, dan Facebook.
Cerpen "Seiris Prasangka" karyanya merupakan pemenang ketiga Bilik Sastra VOI Award 2016 yang diselenggarakan oleh RRI Siaran Luar Negeri.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Erna Eruna
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 18 Desember 2016

0 Response to "Seiris Prasangka"