Si Dia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Si Dia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:08 Rating: 4,5

Si Dia

BAU pedas dan lezat menusuk-nusuk. Bahkan hangatnya serasa sampai di hidung. Patut mendapatkan pujian karena memang bukan makanan sehari-hari. Memasaknya pun butuh ekstra waktu lama.

Sengaja disiapkannya awal. Setengah delapan makanan sudah tersaji di meja makan sebagai alasan utama ia dapat lebih lama bercengkerama dengan orang yang sampai saat ini masih selalu menjadi pusat perhatiaannya. Hari ini adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang mereka miliki berduaan lebih lama sebelum berangkat bekerja. Hari lain entah suaminya yang lebih dulu pergi atau sebaliknya. Bukan berarti hari libur mereka disibukkan dengan pekerjaan lembur, namun terbiasa bangun siang sehingga bermalas-malasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk memasak.

“Rendang? Benarkah kamu yang memasak sendiri?” puji suaminya seolah tak percaya. Mana ada restoran yang buka sepagi ini. Ia pun menanggapi dengan senyum-senyum bangga. Pujian yang dinanti.

“Iya dong, hari spesial, masakan spesial,” tanggapnya tak kalah menggoda.

Tanpa menunggu waktu lama mereka berdua melahapi masakan kesukaan yang pada hari-hari lain hanya bisa dinikmati melalui restoran yang khusus menjualnya. Nabila sesekali melirik, tangannya terus melahapi, tak melewatkan sedetik pun berhenti. Begitu yang suaminya suka jika menikmati makanan tanpa kuah. Terasa punya kenikmatan tersendiri. Rebusan daun singkong yang dimatangkan begitu saja sebagai lalap bersama mentimun segar menjadi kesempurnaan tiada tara.

Selesai makan termasuk membersihkan tangan dari air wijikan, lalu mengeringkannya dengan serbet, ia segera beranjak. Musnah kesempatan bercengkerama lebih lama, bahkan sekejap belum ternikmati. Nabila tak urung memrotes.

“Yang, bukankah jam sembilan lebih lima belas menit nanti kamu baru mengajar? Sekarang masih jam setengah delapan lebih,” Nabila tak mengerti.

“Aku … ah, ada administrasi yang harus aku selesaikan. Belum lagi mengoreksi pekerjaan anak-anak.” Alasannya terdengar dibuat-buat bagi telinga Nabila.

“Biasa kamu menyelesaikan pekerjaan sekolah di sela-sela jam kosong mengajar? Sekarang waktu kita di rumah,” tandasnya dengan suara agak meninggi, kecurigaan mulai tercium.

Sekali lagi hanya berpamitan, tanpa menghiraukan perasaannya dia berlalu. Kecupan pipi kiri kanan dikiranya sanggup mengganti kesempatan berdua. Dadanya terasa ditusuk-tusuk. Perih, pedih, menindih. Air matanya mengaliri dua pipinya yang tertutup bedak dan blush on. Hal yang tak biasa dilakukan dan kali itu untuk suaminya semata. Nada sesenggukan nyaris tak terdengar seiring sepeda motor yang sengaja memekakkan telinga demi cepat sampai di tempat tujuan.

Nabila tahu persis ke mana suaminya pergi. Ini kejadian untuk kesekian kali. Kalau saja ruangan itu bisa berbicara, ia akan bercerita banyak. Termasuk memberinya nasihat agar ia tak meninggalkan kewajibannya bersama istrinya yang butuh perhatian. Lab bahasa sebagai sarana mengajar sekaligus kedok demi menutup keberduaan. Bahkan ia yakin tidak hanya pada jam-jam kosong. Sebagaimana dia jika sedang sibuk menyelesaikan kisah dalam bacaan novel kegemarannya. Ia akan lakukan kapan pun walau di tempat kerja setiap ada kesempatan. Sepanjang tidak ketahuan atasan. Bahkan teman sejawat bisa dibisiki supaya pelanggaran itu tidak menimbulkan masalah. Bukankah mereka juga mencuri-curi kesempatan jika sedang ada urusan pribadi?

Terlebih membaca novel. Rasanya semakin seru mengikuti konflik demi konflik hingga memuncak. Sedih, senang, haru, bercampur menjadi satu. Terasa ikut berperan langsung dalam cerita itu. Saking terlibat begitu dalam seringkali ingin menciptakan ending sendiri setiap penyelesaian cerita tidak seperti yang dikehendaki. 

Kini suaminya sedang melakukan hal sama. Tak mungkin berhenti sebelum hasrat yang dicapai tuntas. Suaminya begitu larut bersama si Dia. Tak peduli lamunannya sampai ke rumah. Nabila tak dianggap. Sakit di dada. Berangkat kerja lebih awal, pulang pun sore hari, bahkan terkadang senja. Tak tenang keberadaannya di rumah. Makan, minum, bahkan di tempat tidur tak nyaman. Padahal sudah seharian ia meninggalkan rumah. Tak dihiraukan tubuh Nabila, walau dengan busana menggairahkan sekalipun. Bahkan kegiatan di tempat tidur pun senantiasa hanya melampiaskan kebutuhannya. Selesai itu dia tertidur pulas. Apa daya Nabila selain melayani kemudian menerima keadaan.

Atau sibuk melamun, meski Nabila terbaring di sampingnya. Tidur tak tenang. Miring ke kanan miring ke kiri. Kalau sudah begitu punggung bertemu punggung lebih sering terjadi. Kehadiran Nabila tak dianggap. Dan hal itu akan berlangsung sampai dia berhenti dengan teman kencannya.

Kejadian itu berulang dan terus berulang. Terakhir hingga kira-kira enam bulan dia dibiarkan. Perjanjian yang telah disepakati seperti menghadiri resepsi undangan teman mendadak dibatalkan. Sekalipun datang sekadar datang. Semata-mata hanya ingin memenuhi undangan, membahagiakan yang mengundang. Tidak berbincang dengan teman-teman lama sembari menikmati hidangan yang lain dari masakannya sehari-hari. Padahal bagi Nabila itulah seninya menghadiri suatu undangan. 

Bahkan kematian omnya ia bermaksud hanya datang pada hari penguburannya saja. Ia berencana tidak ingin menghadiri hajatan.Terang saja Nabila marah-marah. Apa kata saudara-saudaranya, menjadi istri tidak bisa memberi tahu. Kalau orang lain, dalam hal ini para tetangga dan kenalannya, menghadiri hajatan hingga tujuh malam semenjak hari kematiannya, masa keponakan sendiri malah menghindar. Bukankah dia juga lelaki, sebagaimana tamu-tamu yang hadir? Akan disembunyikan ke mana harga dirinya. Lebaran bakal menjadi trending topic saat berkumpul bersama keluarga besarnya. Maka dia pun harus semakin mempertebal telinganya. Karena kekurangannya selama ini belum terpenuhi, malah membiarkan suaminya tidak menghadiri hajatan dan justru berduaan dengan si Dia. 

Tapi langsung menyalahkan suaminya yang mulai kembali kepada si Dia, ia tak mampu. Ada rasa bersalah martabatnya sebagai seorang istri yang tak mampu memberikan kewajibannya memberikan buah hati. Barangkali faktor waktu yang belum berpihak. Sudah dicobanya ke dokter, namun untuk kesekian kali dokter mengatakan semua baik-baik saja. Dia dan suaminya sama-sama sehat dan siap menerima karunia itu. Bahkan berikhtiar pada beberapa orang pintar dilakukan, lagi-lagi belum membuahkan hasil. Semua memberi jawaban sama, sabar.

Yah karena hidup ini sesungguhnya tidak hanya bergantung pada yang terlihat mata. Manusia berkewajiban ikhtiar dan berdoa. Selebihnya yang tak nampak namun sangat memegang kunci hidup ini, apa lagi kalau bukan mengharap karunia dari Yang Maha Memberi Hidup. Manusia boleh berencana tetapi ketetapan ada pada-Nya.

Namun keadaan seringkali tidak berpihak. Nabila yakin jikalau keadaan sebagaimana yang diharap, barangkali suaminya tidak berpaling. Kehadiran seorang momongan tidak hanya memberikan kesibukan yang menyenangkan tetapi juga hiburan tersendiri. Apalagi bagi keluarga suaminya yang begitu berfilosofi bibit, bebet, dan bobot. Kualitas seseorang sangat ditentukan, termasuk dapat memberikan keturunan. Keberadaannya yang hingga kini belum bisa memberikan kesempurnaan sungguh memberinya peluang untuk terus menjadi gunjingan.

Suaminya juga pasti tidak banyak keluar rumah. Termasuk tidak pergi kerja awal dan pulang larut karena selalu ingin berdekatan dengan si kecil. Atau alasan keadaan. Karena tidak ada yang ngemong maka ia dengan suka rela mengasuh, meski tidak biasa bagi seorang lelaki mengurus anak. Namun demi keadaan apa pun dilakukan.

Suaminya nyata-nyata tidak menuntut. Si Dia lebih dulu merebut hatinya. Terbukti jika hasratnya sedang kambuh sangat mengganggu, siang, sore, malam, bahkan hingga malam di tempat tidur terus-menerus memikirkannya.

“Kita harus bersabar, segala sesuatu ada waktunya. Gusti Alloh itu tidak sare,” jelasnya, sare dalam bahasa Jawa artinya tidur. “Beliau sedang menguji hamba-Nya, bersabar dan kuat, atau tidak. Siapa tahu hikmahnya aku harus diangkat dulu menjadi pegawai negeri. Ekonomi kita bertambah kuat,” terlintas kata-kata suaminya yang manis. Kalau sudah begitu ia hanya diam bersyukur bahwa suaminya tidak mempermasalahkan kekurangannya.

“Aku tidak menuntut kita segera punya anak. Biar Gusti Allah yang mengatur. Apalagi kamu tidak melulu di rumah. Kamu punya pekerjaan. Jadi kurasa, tidak ada yang kesepian.”

Tidak ada yang kesepian? Ingin sekali Nabila memrotes setiap kali kalimat itu terekam kembali, namun lagi-lagi hanya terhenti dalam benak. Kalau tidak ada yang kesepian dan semua baik-baik saja tanpa ada masalah berarti, mengapa sering pergi dari rumah? Maka tak perlu menjadikan si Dia sebagai pelarian. Dan tetap menghargai perasaannya.

Mungkin Nabila bisa menjadikan keadaan ini sama-sama menguntungkan. Suaminya yang tanpa tuntutan memanfaatkan kekurangannya dengan lebih banyak memberikan perhatian kepada si Dia. Maka Nabila tak perlu merasa bersalah dan berdosa dengan kekurangannya. Bukankah suaminya juga memiliki kekurangan? Kekurangan yang tak bisa menahan hawa nafsu sehingga harus mencari pelarian kepada yang lain.

Tapi sayang Nabila bukan seorang istri yang bisa mendiamkan kebatilan dengan berdalih fifti-fifti. Atau membiarkan dirinya tenggelam dalam kekurangan dan menebalkan telinganya setiap kali keluarga besarnya kumpul di hari Lebaran. Baginya seorang wanita harus melahirkan anak, entah dengan cara bagaimanapun. Begitupun seorang suami hanya boleh memberikan perhatian kepada istrinya seratus persen.

***
Suatu saat ia melihat suaminya pulang senyum-senyum. Matanya menyirat perhatian. Padahal ia sudah tidak mempedulikan. Tumben pulang sebagaimana selesai jam mengajar. Padahal ia baru akan membeli lauk nanti sore saatnya dia biasa pulang. Tidakkah pikirannya sedang tenggelam bersama si Dia? Sebungkus makanan dalam kantong plastik bening tampak dipamerkan. Ah, Nabila memang sudah lama tidak memasaknya. Jujur dalam hati ia juga ingin menikmati, apalagi kalau bukan rendang. Tadi pagi ia tidak masak. Seringkali tidak ada niatan memasak semenjak suaminya tergila-gila dengan si Dia. Untuk apa susah-susah memasak kalau sekadar mengisi perut tanpa menikmatinya.

“Aku membawa makanan kesukaan kita. Sudah lama kamu tidak memasaknya,” katanya setelah meletakkan bungkusan di meja makan, tanpa berpikir panjang menuju ke dapur.

“Jadi kamu masih mengharap masakanku?” tantangnya manyun. Sengaja membiarkan suaminya kerepotan dari dapur mengatur peralatan makan di meja makan.

“Jelas dong, Sayang, masakan istri gimana tidak ngangenin,” katanya sudah lama ia tidak mendengar rayuannya. “Kamu tahu tidak, hari ini aku sedang bahagia, dan aku ingin membaginya hanya denganmu. Aku tidak ijinkan kamu hari ini susah memasak. Sampai nanti malam aku yang traktir kita makan.”

Nabila mengangkat bahu, sengaja membuatnya penasaran. Ingin rasanya membalas ketidakpeduliannya selama waktu belakangan. Namun ia juga tidak bisa menampik, hatinya berbunga melihat suaminya kembali seperti dulu. Suaminya tak peduli sikap dinginnya. Ia terus berbicara sembari menikmati nasi-rendang.

“Novelku yang kukerjakan selama tiga bulan terakhir tanpa menemui kendala langsung diterima penerbit. Dan bakal dicetak. Aku baru saja ditelepon pagi tadi. Keberhasilan ini kupersembahkan buat kamu, istriku yang dengan rela sering kutinggalkan. Aku minta maaf, Sayang. Semua royalti nanti bisa kamu nikmati.”

“Jadi mulai hari ini aku sudah bisa menikmati waktu berdua lagi bersamamu,” katanya dongkol campur senang.

Apa mesti dikata dia sudah menceraikan hobi menulisnya. Walau ia tahu itu untuk sementara. Dan pada saatnya nanti ia pun akan banyak ditinggalkan ketika ide kembali muncul dan dia berhasrat menulis lagi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iis Soekandar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1414/XXVIII 30 Maret – 5 April 2015

0 Response to "Si Dia"