Sofa Hijau Toska | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sofa Hijau Toska Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:57 Rating: 4,5

Sofa Hijau Toska

TUMBEN, ruanganku tampak begitu lengang di hari Senin pagi. Biasanya, belum juga mulai jam kantor, hiruk-pikuk dan caci-maki penghuni ruangan sudah menandai kesibukan masing-masing. Ditto si Creative Director yang selalu on time menempati bangkunya, belum lagi tampak hidungnya. Padahal, jangankan hari Senin, hari Jumat pun kalau pukul setengah sembilan begini, aku, Ari, Nungki, Wiwit, dan Andra belum lengkap berkumpul, siap-siaplah untuk menerima segala makiannya dengan berlapang hati. 

Banyak orang heran, kenapa aku—yang tampak luar lemah-lembut—bisa bertahan lebih dua tahun menjadi anak buah Ditto, si ‘mulut ember’ itu. Tapi, cobalah tanya pada Ari, Nungki, Wiwit atau pun Andra, yang sudah lebih lima tahun menjadi anak buah Ditto, pasti mereka juga setuju dengan pendapatku. Mulut Ditto memang seperti itu, tapi begitu menjadi anak buahnya, kita semua tahu, kalau hati Ditto sekualitas platinum.

Hingga pukul sembilan, aku cuma melihat Wiwit yang sibuk di depan komputernya. Tanpa harus menghampirinya pun aku tahu, bahwa dia sedang sibuk menulis artikel pesanan untuk sebuah tabloid wanita. Inilah asyiknya menjadi penulis di Advertising Agency. Bisa punya penghasilan tambahan yang legal, plus kepuasan batin tersendiri.

Kalau sampai jam makan siang suasana kantor masih begini, berarti cita-citaku melihat pameran mebel bisa tercapai. Jadi segeralah berdoa, agar hari ini tidak ada satu klien pun yang mendadak ingin merevisi kopi iklan, dengan catatan merah berbunyi Urgent yang diikuti tanda seru lima buah banyaknya.

Ya, sejak menempati rumah baru tiga bulan lalu, aku jadi punya kegemaran baru pula, berburu pameran mebel dan interior. Maklum, cuma menjabat sebagai copywriter dan bersuami nonkonglomerat, mengisi perabot rumah sesuai cita-cita harus sabar dan pandai-pandai mencari tempat dengan harga terjangkau. Dan tadi pagi, aku baca iklan di koran ada pameran mebel di Mall dekat kantorku.

Berjalan keliling Mall tanpa beban harus segera kembali ke kantor, ternyata sangat mengasyikkan. Sayangnya, cuma mebel bermodel klasik yang aku temukan, padahal aku sudah telanjur membuat konsep interior rumah bergaya art deco, agar cocok dengan rumah mungilku yang serba putih itu.

Hampir merasa sia-sia lontang-lantung di Mall yang selalu ramai ini, aku teringat harus membeli kado untuk sahabatku yang baru melahirkan. Pilihanku, toko di lantai tiga yang khusus menjual perlengkapan bayi dan ibu hamil. Meski aku tahu di toko ini harganya lumayan mahal, tapi aku pikir pantaslah buat hadiah sahabatku sejak masih SMP dulu.

Begitu sampai di lantai tiga, woow … tampak olehku sekelompok mebel bergaya art deco. Seketika, lupalah aku akan tujuan utama menuju ke lantai ini. Setelah tengok sana, pegang sini, aku terpikat berat pada sebuah sofa berwarna hijau toska dengan kaki dan sandaran tangan merah terang. Pas betul untuk diletakkan di ruang TV-ku. Apalagi setelah aku tanyakan harganya, cuma setengah dari harga sofa setipe, yang asli buatan Italia.

Sampai di rumah, bayangan sofa itu terus melekat di pelupuk mata. Tapi aku terus bertahan untuk tidak menceritakan pada suamiku, ceritanya aku ingin membuat kejutan. Habis makan malam, aku pilih menghitung uang simpananku daripada menonton LA Law, film favoritku. Ternyata, kalau tak ada hal di luar budget rutin setiap bulan, aku bisa memindahkan sofa itu ke ruang TV rumahku.

Menunggu pukul sepuluh rasanya begitu lama. Aku ingin segera menghubungi toko pembuat sofa, yang kemarin telah aku dapatkan kartu namanya. “Akhirnya, bisa juga aku membuat surprise untuk suami tercinta,” gumamku dalam hati.

“Nin, telepon di line satu,” kata Siska, sekretaris creative department yang manis dan selalu sabar menghadapi tingkah teman satu ruanganku, yang punya kelakuan beda 100% dari konsep hidupnya itu. 

“Nina? Ini Mami, kamu sibuk, Nin?” suara Mami, mertuaku, seperti biasanya menggebu-gebu.

“Nggak terlalu, Mi. Tumben masih pagi sudah telepon, Mi. Ada apa sih?” Aku tahu pasti, kalau Mami berbuat di luar kebiasaan, pasti ada urusan serius. 

“Bisa enggak Nin, pulang kantor ajak Yongki mampir ke rumah Mami?”

“Mm, boleh saja Mi. Nanti Nina telepon Yongki deh, biar dia tidak terlalu malam pulangnya,” jawabku santun, tanpa berani tanya ini-itu, meski sebetulnya aku merasa penasaran.

“Oke, Mami tunggu lho, Nin.”

“Iya, Mi. Sampai nanti, ya. Bye, Mami.”

Entah kenapa, sehabis menutup telepon dari Mami, keinginan yang menggebu untuk menelepon toko sofa langsung surut. Aku malah asyik menebak-nebak maksud Mam, memanggil aku dan Yongki suamiku, nanti malam.

“Nin, mana script TV commercial sabun mandi yang kemarin,” tanya Ditto membuyarkan acara tebak-menebak di benakku.

Tepat pukul enam sore, Yongki sudah berdiri di depan resepsionis kantorku. “Tumben, bisa juga dia tepat waktu untuk memenuhi keperluan Maminya,” pikirku dalam hati. Maklum, Yongki si putra tunggal ini, tampaknya selalu cuek untuk hal-hal kecil urusan keluarganya. “Capek ah, ngurusin tiga perempuan reseh,” komentarnya, setiap kali aku tanyakan kenapa dia jarang sekali mengajak ke rumahnya, waktu kami masih pacaran.

Walaupun Yongki sangat jarang mengajak aku ke rumahnya, entah kenapa aku tetap saja bisa dekat dengan Mami serta Shinta dan Mira, kedua adik perempuan Yongki.

Melihat semangat Mami, aku sering terkagum-kagum. Bayangkan, Mami begitu tegar membesarkan tiga anaknya, tanpa didampingi suami, yang meninggal ketika Yongki berumur 8 tahun. Padahal, Mami menikah ketika umurnya belum lagi genap 20 tahun. Artinya Mami masih sangat muda ketika harus menjanda dengan menanggung 3 anak kecil. Seumur itu, aku bahkan belum berani mengambil keputusan untuk menikah, meski sudah tiga tahun pacaran serius dengan Yongki.

“Kalau sekarang Mami lihat anak-anak sudah bisa mandiri, bahkan Shinta dan Mira sudah memberi Mami cucu, rasanya Mami suka tidak percaya,” kata Mami, menjelang saat melamarku.

“Bayangkan Nin, Mami cuma punya rumah ini dan sedikit tabungan, yang kalau diambil buat makan kami berempat, paling cuma cukup sampai setahun. Itu pun tanpa harus membiayai sekolah mereka, lho,” lanjut Mami tanpa ekspresi ingin dikagumi.

“Maklum, Papi almarhum ‘kan masih muda. Kariernya baru merambat. Mana Mami tidak boleh kerja sama Papi, takut anak-anak telantar. Jadi, punya rumah dan sedikit tabungan saja sudah bagus. Untung Mami bisa menjahit, meskipun tidak ahli. Mulai deh Mami tawarkan jasa ke tetangga-tetangga, buat menjahitkan baju mereka dan anak-anaknya. Makin lama, Mami makin kewalahan, sampai akhirnya Mami mencari asisten. Alhamdulillah Nin, Mami tidak menyangka tempat jahit ini bisa sebesar sekarang. Dari sini juga Yongki, Shinta, dan Mira bisa jadi sarjana,” cerita Mami mengenang.

“Heh, melamun, capek ya?” tanya Yongki sambil menepuk tanganku.

Seketika, buyarlah lamunanku tentang Mami, apalagi bersamaan dengan itu, tiba-tiba Yongki menginjak rem, karena mobil di depan berhenti mendadak.

“Berengsek,” umpat Yongki kesal.

“Makanya, lagi nyetir jangan membuat kaget penumpang,” kataku tertawa menang.

“Habis, dari tadi ngelamun terus sih,” kata Yongki kesal.

“Aku cuma penasaran Yong, ada apa ya Mami memanggil kita? Kalau tidak ada hal penting dan mendesak, tidak pernah ‘kan Mami memanggil anaknya,” katanya ingin berbagi penasaran.

“Mami kesepian lalu ingin kawin lagi, barangkali. Makanya kita dipanggil mau ditanya pendapatnya,” canda Yongki.

“Kamu dari dulu memang edan, nggak pernah serius dan kurang ajar kalau sama Mami,” protesku, meski merasa geli juga.

Rumah Mami yang mungil di tengah halaman luas yang tertata apik, tampak sepi. Begitu memasuki halaman dan melangkah menuju teras, sayup-sayup terdengar suara penyiar berita Seputar Indonesia. “Oh, pasti Mami belum sempat menyuruh Mbok Rasni, pembantu Mami yang setia itu, untuk menutup jendela ruang TV,” gumamku dalam hati.

Begitu menginjakkan kaki di depan pintu ruang tamu, Mami telah siap menyambut kami.

“Hallo Mi,” sapaku sambil mencium kedua pipinya. Yongki mengikuti caraku menyapa Mami.

“Mami kira kalian tidak bisa datang. Sudah jam setengah tujuh lebih ‘kan,” sambut Mami.

“Ini lumayan Mi, biasanya Yongki baru sampai di kantor Nina ‘kan pukul tujuh. Makanya Nina sering pulang duluan nebeng Tasya,” jawabku.

“Itu lho Mi, anaknya Tante Dibyo ‘kan teman sekantor Nina. Kebetulan juga tinggalnya tidak jauh dari rumah kami, jadi Nina sering nebeng dia,” kata Yongki menimpali.

“Kok sepi, Mi? Nina kira Shinta dan Mira datang juga,” tanyaku.

“Mami cuma perlu sama kalian berdua,” jawab Mami kalem.

“Sebetulnya ada apa sih, Mi,” tanya Yongki tidak sabar.

“Duduklah dulu, Mami sudah siapkan air jeruk dingin. Kalian makan malam di sini ‘kan? Sebentar lagi Mbok Rasni juga selesai menggoreng ikan gurame kesukaanmu, Yong,” kata Mami sambil berjalan menuju ruang TV.

Aku segera menikmati segelas besar air jeruk dingin buatan Mami. Rasanya, sejak belum menjadi istri Yongki, aku sudah kecanduan minuman dan masakan buatan Mami. Aku sendiri heran, apa rahasia Mami. Yang jelas, urusan penasaran Mami menelepon kami, biar Yongki saja yang mengorek jawabannya dari Mami.

“Rasanya Mami makin tambah tua, ya Nin,” kata Mami membuka pembicaraan di meja makan. Inilah kebiasaan Mami, selalu memilih saat makan malam untuk mengajak anak-anaknya membicarakan hal-hal yang serius.

“Semua orang juga pasti akan tua, Mi. Yang penting Mami sehat ‘kan,” jawabku sambil menyantap semangkuk sop ayam buatannya.

“Alhamdulillah, Nin. Itu sebabnya, Mami ingin menjalankan niat Mami untuk pergi Haji tahun ini. Mumpung Mami masih bisa jalan sendiri. Kalian setuju?” tanya Mami.

Sekilas Yongki memandangku. “Saya setuju saja Mi. Yang tahu persisnya Mami siap atau tidak untuk pergi haji, ‘kan Mami sendiri,” jawabku segera, sebelum ikut terpaku memandang suamiku.

“Kalau Mami pribadi sudah siap. Tapi, kalau Mami pergi Haji, rasanya Mami ingin sekali diantar Yongki. Anak laki-laki Mami ‘kan cuma Yongki,” katanya lagi.

“Mami tanya saja langsung sama Yongki. Kalau Nina tidak keberatan Yongki pergi mengantar Mami,” kataku jujur.

“Soal mengantar Mami pergi Haji, rasanya memang bagian dari tanggung jawab Yongki sebagai anak laki, Mi. Kalau soal kesiapan batin, Yongki siap, Mi. Tapi soal kesiapan lahir, kok Yongki tidak yakin. Mami hanya memberi waktu beberapa bulan begini buat Yongki nabung. Pergi Haji ‘kan biayanya tidak sedikit, Mi,” jawab suamiku gusar.

“Sebetulnya, biaya buat kamu juga sudah Mami siapkan, Yong. Tapi rasanya masih kurang sedikit. Mami juga tidak enak hati nih, membebani kalian berdua. Mami mengeti, kalian ‘kan baru juga merangkak mendirikan rumah tangga. Bahkan rumah saja belum semuanya beres, ya,” kata Mami berusaha tampak wajar.

“Kalau Nina boleh tahu Mi, berapa kekurangan biaya buat Yongki,” ucapku menengahi.

“Sekitar satu setengah juta lagi, Nin. Lumayan banyak, ya? Ini juga yang membuat Mami ragu mengutarakan niat Mami,” kata Mami sungkan.

“Kalau memang Yongki secara batin sudah siap mengantar Mami, Nina pikir ada baiknya juga kalau keberangkatan Mami tidak perlu ditunda. Soal kekurangan biaya buat Yongki, Nina ada sedikit tabungan yang bisa dipakai, Mi,” kataku tulus. Yongki menatapku tak berkedip.

“Ah, tapi Mami pikir lagi ….”

“Sudahlah Mi, percaya deh sama Nina. Ekonomi keluarga anak Mami tidak akan berantakan hanya karena tabungannya dipakai untuk menambah ongkos pergi Haji,” kataku sambil tertawa, berusaha menghapus keraguan Mami.

“Kalau Menteri Keuangan Rumah Tangga bilang beres, saya percaya Mi. Jadi, kapan kita mau mulai mengurusnya?” sambung Yongki, yang aku yakin, pasti terheran-heran dengan segala ucapan dan tindakanku.

Perjalanan pulang terasa begitu ringan tanpa beban. Ternyata, uang yang rencananya akan kugunakan untuk memindahkan sofa hijau toska ke ruang TV-ku sebagai surprise untuk suamiku tetap menjadi surprise pada Yongki sekaligus Mami.

“Hebat juga pengabdian istriku pada ibu mertuanya,” kata Yongki sambil menikung memasuki jalan rumah kami yang sepi.

Aku cuma tersenyum. “Keluar uang buat membantu orang melakukan ibadah, ‘kan besar pahalanya, Yong. Apalagi ini buat Mami. Tuhan juga pasti akan segera memberikan gantinya. Lagipula, bagus juga ‘kan, kalau kamu segera menyandang gelar Haji. Biar agak berkurang tuh, pecicilanmu,” kataku sambil tertawa lebar. Yongki cuma bergumam kesal tanpa makna.

Bersamaan dengan hilangnya tawa lepasku, bayangan sofa hijau toska pun ikut terbang entah ke mana. Anehnya, tidak sedikit pun rasa kecewa mengganjal di hatiku. Bahkan, aku masih merasa, uang seharga sofa idaman itu pun, masih belum cukup untuk membayar perjuangan seorang ibu, yang telah berjuang dalam kesendiriannya untuk membesarkan dan menjadikan anak-anaknya sebagai orang yang mandiri. Apalagi, salah seorang dari anaknya itu, adalah suamiku tercinta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asti N Prima
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 9/XXII 3 – 9 Maret 1994

0 Response to "Sofa Hijau Toska"