Terlalu Indah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Terlalu Indah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:10 Rating: 4,5

Terlalu Indah

BULAN mempercepat langkahnya. Seperempat jam lagi sudah pukul dua. Dia takut terlambat masuk ke kelas. Tidak enak ditunggui murid. Tak lama kemudian ia sampai di jalan raya Haji Juanda. Dia baru akan membelok ke Grand Bandung Centre, ketika tiba-tiba namanya dipanggil seseorang dari belakang.

Bulan menoleh sambil berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tak sedang bermimpi. Suara itu amat dikenalnya. Bulan menoleh dan yakin dia tidak bermimpi. Lelaki itu segera menyusulnya.

“Kau pasti Bulan. Aku yakin. Dari belakang pun kau dapat kukenali,” ujar lelaki itu yang lalu mengulurkan tangannya.

“Yuda ...” hanya itu yang dapat dikatakan Bulan. Dadanya mulai berdegup kencang. Sekuat-kuatnya, diredamnya lonjakan emosi. Dia takut sekali ketahuan bahwa dia tak sekadar terkejut.

Ternyata aku belum dapat menguasai diriku, keluhnya sambil menatap Yuda dengan pandangan tak percaya. 

“Ah, kau pasti bingung ketemu aku di sini. Aku ....”

“Kudengar kau ke Sumatera,” sela Bulan cepat-cepat. Dia tak ingin mengesankan bahwa dia sangat mengharapkan pertemuan itu.

“Mari kita ngobrol sambil jalan. Eh, sebenarnya, mau ke mana kau ini?”

“Sekadar jalan-jalan,” ujar Bulan berbohong. O, dia tak ingin kehilangan kesempatan. Biarlah, urusan mengajar ditunda dulu.

Bulan tak pernah berpikir bahwa dia mampu melakukan dua hal itu sebelumnya, membohongi Yuda dan bolos mengajar. Tetapi, ini begitu penting, katanya menguatkan hati.

“Kalau begitu, kita bisa sama-sama. Kau mencari sesuatu di sini?” Yuda bertanya lagi.

“Sebenarnya tidak. Aku, ng ....” Duh, sulitnya merangkai kebohongan!

“Kau keberatan kita bersama-sama?”

“O, tidak. Bukan itu maksudku. Ng, apakah kau sudah makan siang?”

“O, jadi itu. Kau belum makan? Ha ha, Bulan, itu akan lebih baik. Aku juga kebetulan belum makan siang untuk kedua kali. Di mana kau ingin makan?”

“Di pojok sana ada sebuah tempat makan yang bersih. Kau suka masakan Sunda? Bisa pesan es cendol dan combro atau emping kalau memang sudah makan. Ng, tempat itu enak untuk ngobrol.”

Uh, Bulan tak menyangka ia bisa lancar mengaturnya. Ngobrol, tentu saja bukan sekadar bertukar kabar formal. Bulan ingin tahu lebih banyak tentang Yuda sekarang.

“Aku orang Sunda tulen, tak pernah menolak menu leluhur. Ayolah. Jangan khawatir. Perutku masih kuat menampung sebungkus nasi timbel .... Kayaknya kau perlu tahu dari sekarang. Aku banyak makan.”

Bulan tersenyum. Di dahinya meleleh keringat. Karena habis berjalan dan karena jantungnya berpacu lebih keras. Lagi pula ia agak tegang oleh perasaan bersalah ketika selintas membayangkan kekecewaan murid-muridnya. Hari itu ia berjanji akan mengembalikan hasil tes mereka.

Sulit bagi Bulan memulai kembali percakapan. Mereka berjalan beriringan dalam diam. Bulan bukan perempuan yang amat pemalu atau terlalu pendiam. Tetapi, sejak dulu pesona Yuda membungkamnya.

“Kau kurusan,” komentar Yuda begitu mereka tiba di depan restoran kecil yang dimaksudkan Bulan.

“Tampaknya kau juga,” sahut Bulan sambil memberanikan diri mencari mata Yuda. Mata yang jenaka. Selalu memancarkan kehangatan, tetapi amat sulit diterka.

“Di pojok sana, ya?” usul Yuda begitu melihat meja kosong di pojok paling belakang, dekat sebuah akuarium.

Bulan mengangguk. “Kau duduk duluan. Aku akan menelepon sebentar.”

Dan di telepon koin yang disediakan pemilik restoran, Bulan menelepon tempatnya mengajar kursus.

“Tolonglah, Susi,” pintanya pada seorang temannya, “isi kelasku. Sungguh, untuk kali ini saja. Aku ada keperluan yang amat mendadak.”

“Kau gila. Sepuluh menit lagi baru memberi tahu tidak bisa ngajar. Mentang-mentang tahu hari ini substitute teacher. Emang ada apa sih? Ada kabar apa dari kampung? Ibu melahirkan lagi? Kakekmu kejepit pintu? Atau ....”

“Nanti kujelaskan. Pokoknya aku tak bisa menghindarkannya. Kau ‘kan tahu, aku tak biasa begini.”

Setelah menutup telepon, Bulan segera menuju ke tempat Yuda. Lelaki itu sedang menekuni daftar menu.

“Kau punya banyak pilihan untuk makan siangmu,” ujarnya sembari menyerahkan daftar menu kepada Bulan.

“Aku sudah punya pilihan. Gado-gado tanpa lontong,” kata Bulan sambil menuliskannya. “Kau?”

“Cukup segitu untuk makan siang? Kau sedang berdiet?”

Aku sudah makan, aku Bulan di dalam hati.

“Sebelum pergi, aku sudah makan kue. Jadi tidak terlalu lapar sekarang,” jawab Bulan sambil menyesali ucapannya. Dia tak suka berbohong, apalagi pada Yuda.

“Aku malah sudah makan komplet. Tapi, perutku masih muat hanya untuk sepiring gado-gado sih.”

Dua piring gado-gado dipesan. Satu pedas, satu lagi tidak. Pasti lama, pikir Bulan. Sebab, si bibi akan mengulek dulu dan lebih lama lagi karena harus diulek satu per satu karena satu pedas, satu tidak. Akal bulus Bulan agar dapat kesempatan lebih lama mengorek informasi dari Yuda.

“Jadi, kau tak di Sumatera? Ketika pulang kampung sebulan yang lalu aku bertemu ibumu. Dia masih mengeluhkan bahwa kau mencari kerja jauh ke Sumatera.”

“Apa lagi yang Ibu ceritakan padamu tentang aku? Ah, kalau kau nanti pulang kampung lagi, ibuku pasti akan bercerita tentang calon istriku yang akan segera kulamar,” Yuda berkata. Matanya berkerlip jenaka. “Pasti dia belum bercerita soal itu padamu.”

“O, tidak,” sahutnya ditenang-tenangkan. “Ibumu tak bercerita apa-apa tentang itu.”

Seiris luka mulai menganga di hati Bulan. Betapa tidak. Siang malam dia impikan Yuda, pemuda tetangga yang sejak kecil dikaguminya. Bulan sampai tak ingat sejak kapan ia sudah menyukai Yuda. Mungkin ketika mereka masih di esde, ketika Bulan melihat Yuda cilik berpakaian sarung dan kopiah, mengikuti ayahnya pergi ke mesjid untuk salat Jumat. Atau ketika di es-em-pe, ketika Bulan menyaksikan Yuda disalami oleh Pak Camat waktu memenangkan musabaqoh tingkat kecamatan. Di SMA, bibit-bibit kekaguman itu mekar menjadi rasa cinta yang menjadikan Bulan amat pendiam, dipenuhi khayalan.

Tetapi, Yuda tampaknya tidak menghiraukan perasaan Bulan. Ah, bagaimana lelaki itu tahu bahwa Bulan diam-diam memujanya? Bulan selalu diam. Hanya tersenyum dan bicara dengan hati-hati kalau Yuda datang bertamu. Pun bertamunya Yuda bukan khusus pada Bulan, tetapi pada ayahnya, yang merupakan lawan Yuda paling tangguh dalam permainan catur. Sulit bagi Bulan untuk memastikan apakah Yuda datang ke rumahnya untuk melihatnya atau benar-benar ingin bermain catur dengan ayahnya. Tentang Yuda semua serba tak pasti. Yuda tak pernah memberikan kunci yang pasti.

Setelah sama-sama kuliah pun dulu Yuda masih suka datang bertamu kalau kebetulan pulang. Sekadar tegur sapa pasti didapat Bulan, tetapi ayahnyalah yang lebih banyak menyita waktu dan perhatian Yuda.

“Apa pun yang kita pinta, asal sungguh-sungguh, niscaya dikabulkan oleh Tuhan,” begitu salah satu nasihat guru agama di es-em-pe yang dijadikan pegangan oleh Bulan. Dan Bulan dengan sungguh-sungguh meminta di atas tikar sembahyang agar jodohnya kelak adalah Yuda. Itu sudah dilakukannya sejak es-em-pe.

Dan sejak itu, Bulan selalu memimpikan Yuda. Dia makin yakin saja bahwa jodohnya memang Yuda. Dalam mimpinya, ia selalu melihat Yuda dalam baju kampret putih, berkain sarung, dan berkopiah. Tersenyum. Amat tampan. Padahal, banyak orang bilang bahwa kakak Yuda yang bernama Yudi jauh lebih tampan. Di kampung mereka, Yuda terhitung bertampang biasa-biasa saja. Tubuhnya memang atletis dengan kulit yang hitam pekat. Tetapi secara keseluruhan, Yuda tidak tampan, kecuali di mata Bulan.

Tetapi, Bulan tak pernah tahu apakah Yuda juga punya perhatian padanya. Dalam obrolan mereka tentang masa lalu, Yuda sering mengenang Bulan sebagai anak perempuan kecil yang cengeng karena suka menangis kalau digoda, atau sebagai anak es-empe yang nakal karena sering memimpin kelasnya untuk jajan di luar pagar batas yang ditentukan sekolah.

Di es-em-a, mereka kembali satu sekolah. Bulan-lah yang lebih sering mencari alasan untuk bertemu. Karena Yuda satu kelas di atas Bulan, maka dia menjadikan pe-er kimia atau fisika sebagai alasan untuk bertemu. Ya, Yuda memang jago ilmu pasti dan ayah Bulan berpesan agar Yuda mengajari Bulan yang lebih suka belajar bahasa dan sejarah. Kalau kemudian Bulan masuk jurusan IPA, salah satu alasannya adalah agar terus mendapat pe-er kimia dan fisika. 

Bulan terus menggantungkan harapannya pada Yuda sampai ketika mereka berpisah. Yuda melanjutkan ke IPB dan Bulan kuliah di Bandung. Ketika lulus dari Fakultas Pertanian, Yuda berangkat mencari kerja ke Sumatera. Yuda pergi begitu saja. Tanpa pamit dan pesan padanya. Tetapi, mengapa pula Yuda harus pamit? Toh, dia bukan apa-apanya Yuda. Pedih hati Bulan kalau ingat betapa dia hanya sendirian memendam perasaan. Benarkah hanya dia yang merasakan gejolak itu?

Bukan tak ada pemuda lain yang naksir Bulan. Entah berapa puluh surat cinta dilayangkan padanya sejak es-em-a, hingga tamat kuliahnya. Tetapi Bulan tak tergerak mencoba menanggapi salah satunya. Yuda telah mengisi penuh-penuh hatinya. Tanpa kata cinta. Hanya rasa. 

Kini, Yuda mengaku punya calon istri. O, Bulan tak dapat menghentikan pikiran buruknya. Dia menyesal harus mendengarnya sendiri. Rasanya ingin berlari dari situ dan menelungkup di kasur, menumpahkan penyesalan pada nasib.

“Sudah, Bulan?” suara Yuda mengejutkannya.

“O, apa? Apa yang sudah?” tanyanya gelagapan. Tetapi dia tetap berusaha mengesankan tenang-tenang saja.

“Melamunnya. Kau mendiamkan aku dari tadi.”

“O, maaf. Aku memikirkan murid-muridku,” sahut Bulan pahit. Ya, ya, dia menyesal telah mengikuti kehendak hati. Nyatanya, hanya kepahitan yang didengarnya.

“Ibu guru yang baik,” komentar Yuda sambil tidak melepaskan pandangannya pada wajah Bulan yang memucat. “Betah jadi guru?”

Bulan kembali menelan kepahitannya. Dahulu, secara tak langsung Yuda-lah yang menganjurkan agar Bulan jadi guru saja.

“Idealnya, profesi ibu adalah guru,” kata Yuda dulu ketika mereka masih di SMA. “Biar bisa mengasuh dan lebih dekat dengan anak-anaknya.

Yuda tidak meminta, tetapi Bulan merasa harus mengikutinya dan dia mendaftar di IKIP. Uh, betapa jauh aku melibatkannya dalam keputusan penting hidupku, keluh Bulan. Sementara lelaki itu malah berniat tinggal jauh di pulau seberang. Dan kini terang-terangan menyatakan sudah punya calon istri. Tragis dan malang. 

“Aku sudah memilih profesi ini, Yuda,” sahutnya sambil menunduk.

“Tetapi, mengapa kau tampak murung, Bulan? Dan wajahmu pucat. Kau sakit? Kuantar pulang?”

Ide yang bagus, sahut Bulan dalam hati. Aku ingin segera bertemu kasur dan menangis di sana menumpahkan kepedihan ini.

“Aku tak apa-apa,” sahutnya sambil mengangkat kepala. Saat itu ia sadar betapa dari tadi Yuda menatap padanya, tatapan yang amat dikenalnya. Hangat, mungkin memuja. Tetapi tetap sukar diterka.

“Kapan kau pulang kampung lagi?” tanya Yuda sambil terus memandangnya.

“Minggu depan.”

“Kita bisa sama-sama?”

“Tak usah. Aku sudah janji dengan seorang teman.”

“Teman? Teman istimewa?”

Apa pedulimu, jerit Bulan dalam hati. Toh, kau sudah punya calon istri. Uh, sulit bagi Bulan untuk menyembunyikan kekecewaannya.

“Hei, Bulan, kau belum bercerita apa-apa padaku. Bagaimana kabarmu selama ini. Rasanya, hampir setengah tahun sudah sejak kita terakhir ngobrol. Dan, kalau aku boleh tahu, apakah selama ini kau sudah punya pacar?”

Bulan memberanikan mengangkat muka. Dia menggeleng dan menggeleng, tetapi tidak kuasa mengeluarkan jawaban.

“Gelenganmu itu berarti tidak punya pacar atau kau tidak mau mengatakannya padaku?”

Bulan kembali sadar. Dia tak berhak bersikap tak pantas pada lelaki di depannya itu. Yuda tak bersalah. Dialah yang terlalu berharap. Jika kini semua kandas hanya dengan begitu saja, bukan salah Yuda.

Ini musibah. Aku harus kuat. Aku harus mengembalikannya kepada Tuhan. Ya, nanti malam aku akan bersujud meminta petunjuk-Nya. Bulan menekur menguatkan hati.

“Aku tak punya pacar,” aku Bulan yang sudah mendapatkan kekuatannya kembali. “Aku mencintai seseorang. Cinta pertamaku. Konyol barangkali, tetapi aku sudah memujanya sejak kecil dan terus memujanya sampai kini. Tetapi, yah, mungkin benar kata orang bahwa cinta pertama jarang menjadi yang terakhir. Cinta pertama hanya untuk dikenang ….”

“Apa yang terjadi?” Yuda bertanya penuh perhatian. “Dia meninggalkanmu?”

“Sesungguhnya dia tidak benar-benar meninggalkan aku karena dia memang tidak mengikatkan diri padaku,” ujar Bulan tertawa pahit. “Aku benar-benar tolol, mengharapkannya sepenuh hati sementara dia tidak pernah berpikir sedikit pun tentang diriku. Heran aku, mengapa cintaku sedemikian besar padanya.”

“Aku kurang mengerti ceritamu, Bulan. Bagaimanapun lelaki itu adalah lelaki yang sangat beruntung. Mudah-mudahan kejadian itu sudah cukup lama hingga kau sudah berhasil mengusir luka. Tapi itu belum menjawab pertanyaanku. Bulan, masihkah kau menyisakan tempat untuk lelaki lain?”

Bulan menggeleng. “Entahlah, sampai saat ini belum kupikirkan. Aku terlalu menutup hati bagi dia.”

“Ah, Bulan. Kau mau mendengarkan ceritaku? Seperti dirimu, aku pun mengalami cinta pertama. Seorang gadis kecil yang baik hati begitu mempesona aku. Perasaan yang sama mengikutiku terus sampai aku dewasa. Aku mencoba mengelakkannya karena seperti katamu, orang bilang cinta pertama tak pernah bertemu dalam perkawinan, hanya untuk dikenang. Tetapi, aku jatuh cinta lagi dan jatuh cinta lagi berkali-kali pada orang yang sama. Sulit untuk kupercaya. Aku mengenal banyak perempuan, tetapi aku selalu membayangkan hanya dia yang akan jadi istriku. Aku selalu memimpikannya. Mungkin karena aku selalu memikirkannya. Dan aku selalu berdoa agar Tuhan memberikan dia sebagai istriku.

“Kau yakin bahwa doa yang sungguh-sungguh akan dikabulkan Tuhan, bukan?” Bulan berkata sambil menyusut air matanya. Pengakuan Yuda amat menyentuh hatinya dan mengingatkannya pada cintanya yang sebentar lagi kandas. Ya, sebentar lagi dia harus menerima kenyataan bahwa Tuhan berkehendak lain meski ia sudah meminta dan meminta secara sungguh-sungguh. “Tetapi, Yuda, Tuhan bisa saja berkehendak lain,” ujarnya kemudian, menghibur dirinya sendiri.

“Aku pun percaya semua keputusan datang dari atas. Tetapi, mengapa kau menangis, Bulan?”

Bulan mencoba tersenyum. “Lalu, apakah dia yang kau sebutkan sebagai calon istrimu? Apakah kehendak Tuhan sama dengan kehendakmu?”

“Bergantung pada jawabanmu, Bulan. Apakah kau bersedia kulamar? Apakah kau masih menyisakan tempat di hatimu untuk lelaki lain? Lelaki seperti aku?”

Hati Bulan tergetar. Tetapi, ia belum bangkit dari kenyataan pahit yang barusan menghantamnya. “Jangan mempermainkan aku, Yuda. Kau barusan menyebut calon istri yang ….” Bulan tak sanggup meneruskan ucapannya.

“Jangan salah paham. Baiklah, akan kuceritakan. Aku pulang kampung dan bertamu ke rumahmu. Seperti biasa, aku dan ayahmu main catur. Aku kalah terus berset-set. Akhirnya, aku berterus terang pada ayahmu. Aku tidak konsentrasi main karena aku sedang memikirkan dan ingin menyampaikan sesuatu.

“Sepulang dari Sumatera aku telah memutuskan akan berwiraswasta saja. Kebun dan sawah Ayah yang luas akan kugarap sendiri, dengan tanganku. Aku cinta kampung kita, Bulan. Dan terlebih lagi, aku menyimpan banyak kenangan manis di sana. Rasanya aku akan betah tinggal di kampung.

“Soal lain. Sudah sejak lama aku ingin menyampaikan perasaanku padamu, tetapi saatnya belum tepat. Aku belum tahu pilihan hidupku. Aku tak berani mengajak anak orang lain menderita. Lagi pula, aku sangat mengenal keluargamu. Aku tak berani sembarangan. Mereka tentu tidak akan melepaskan putri tunggalnya ke tangan seorang penganggur yang belum menentu nasibnya. Aku kenal betul ayahmu, Bulan. Dia tak rela melepas satu buah caturnya pun untuk dijadikan korban permainan.

“Ya, Bulan, aku tahu ayahmu tidak akan melepaskan begitu saja padaku hanya karena cinta. Aku akan ditolak bila datang hanya membawa pengakuan cinta. Ketika aku sudah memutuskan pilihan hidupku, aku merasa sudah memilih tanggung jawab. Dan kupikir sudah saatnya, aku melamar calon istriku. Aku minta maaf. Karena kau tak ada, aku lebih dulu mengutarakan keinginanku untuk melamarmu pada ayah dan ibumu. Mereka menyerahkan keputusan padamu, Bulan. Untuk itulah aku kemari. Ibumu yang mengatakan kau mengajar di sini. Aku ke tempat kosmu tadi. Kau sudah berangkat. Aku tak sabar dan menyusul kemari.”

Tubuh Bulan bergetar. Ia merasa dipermainkan oleh kenyataan. Mula-mula ia merasa terhempas, lalu bangkit, dan diajak naik perlahan ke langit biru. Dia tak tahu bagaimana mengungkapkan suka cita dan kelegaannya atas pengakuan Yuda. Semuanya terlalu tiba-tiba dan terlalu indah sebagai sebuah kenyataan. Impiannya, cita-citanya, dan kekasihnya terwujud di hadapannya pada saat yang bersamaan. Yang paling ingin dilakukannya adalah bersujud syukur dengan khidmat. Kurnia yang disyukuri akan bertambah nikmatnya. Bulan yakin akan hal itu.

“Yuda,” katanya akhirnya dengan mata basah dan bibir bergetar. “Ada ungkapan bahasa Inggris yang mengatakan, ‘It’s too good to be true.’ Itulah yang kurasakan. Aku begitu putus asa ketika kau menyebut calon istri. Sekarang, baiklah aku berani mengaku bahwa aku punya pacar, yang kupuja sejak kecil, cinta pertamaku dan terakhir. Yuda Wibawa, namanya.” [f]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rani Rachmani Musthafa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 1/XX 2 - 8 Januari 1992

0 Response to "Terlalu Indah"