W 7088 UZ | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
W 7088 UZ Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:11 Rating: 4,5

W 7088 UZ

DI dalam bus malam W 7088 UZ, aku adalah pengembara kesunyian, yang tak beriman kepada jalan pulang, "Ayo Madiun, Solo, Jogja!" Pukul 00.10, bus hampir terisi penuh. Suasana begitu padat malam ini.

ORANG-ORANG berjejal di terminal Bungurasih, orang-orang miskin, orang-orang kaya, orang-orang hampir miskin, orang-orang hampir kaya, membawa beragam barang kardus mi, tempe bacem, tape, pepes ikan, sampai binatang peliharaan.

Bus-bus malam menjadi rebutan di semua jurusan, Bus Sugeng rahayu, Bus Eka, Bus Mila, Bus Mira, Bus Harapan Jaya, Bus Akas Asri, Bus Restu, Bus Pelita Indah, berbaris di antara manusia yang berjejal.

Tukang copet mendapat rezeki tambahan. Para calo sampai lupa ke belakang, para mandor menyeret-nyeret penumpang, "Ngendi Mbak? Jogja? Ayo langsung. Biasa. Tarif biasa."

Libur panjang memang membuat manusia rindu tentang muasal, tentang desa yang tak ditikam kemacetan, tentang jalan setapak persawahan, tentang keluarga peternak ayam, tentang langgar tempat mengaji alif ba ta, tentang gadis tetangga yang diperebutkan, tentang sekolah yang tidak pernah direnovasi meski terus berganti menteri pendidikan.

Pukul 00.20, W 7088 UZ keluar dari terminal, sang kernet masih sibuk  membuka-tutup pintu untuk penumpang. Sang sopir tampak tenang dengan topi kuningnya. Kemudian bus pun melaju setelah masuk di jalan utama.

Pada kaca depan, kulihat malam jatuh sepanjang jalan, bersama cahaya-cahaya yang hadir sekilas, dan sorot lampu mobil yang saling membalas. Di dalam bus kuserahkan hidupku pada perjalanan di atas aspal yang bergelombang, telah kutitipkan maut pada sopir yang tidak boleh mengantuk sedikit pun, telah kubiarkan nasib bergelantungan pada padatnya kendaraan musim libur panjang.

Malam telah begitu larut tapi kernet masih saja sigap melihat orang-orang yang berdiri di pinggir jalan yang hanya disinari kusam lampu trotoar, atau warung remang-remang. Sementara di dalam, kami melaju bersama suara video musik yang diputar oleh sopir.

Tentu saja konser dangdut, Sagita, ewer-ewer, koplo, remix, buka stik jos, wayang soro, kelangan, mung sewates angen, semua mengalun silih berganti. Kulihat di panggung itu ramai penonton bergoyang, pemain seruling berambut gondrong, suara MC yang berat, dan biduanita yang menimbulkan fantasi tertentu seakan mengalihkan dunia para penumpang, membuat rindu istri di rumah, membuat Bang Toyib bertobat, mengingatkan pada kekasih yang menikah dengan orang lain, atau mengaransemen melodrama patah hati.

Bus malam tiba-tiba menjelma parade kenangan atau ensiklopedi masa silam. Lagu berputar, suara seruling, suara melodi gitar yang dipetik, silih berganti, seperti penumpang yang turun di Krian, kemudian masuk penumpang baru di Mojokerto, bus menepi, pintu dibuka, "Ayo-ayo cepat, macet!" Kondektur menarik karcis, kembaliannya nanti, kurang seribu.

Kemudian aku tidak tahu lagi di mana ini. Bus melaju di jalan bergelombang. Aku sempat tertidur, terjaga, tertidur, lalu terjaga lagi. Memang tidak pernah nyaman tidur dalam bus, terantuk-antuk kaca dan besi pegangan, tidak enak kalau bersandar ke bahu penumpang. Seperti diombang-ambing antara mimpi dan kenyataan.

Bus menyalip kiri di Peterongan, bus ambil kanan setelah Bra'an, buka jalur di Saradan, lampu dim naik turun sepanjang kelok hutan, klakson bertukar kebisingan, masuk gigi maksimal, bus mengejar ambulan, menjelma jet darat, kernet merangkap navigator, "Kiri prei! Lanjut! Terus! Masuk! Bos! Jalan Bos!"

Bus bergoyang. Penumpang di kursi belakang mual-mual, persediaan kantong plastik habis.

"Alon-alon wae Pak Sopir!"

"Poin!"

Di dalam bus W 7088 UZ, aku hendak menuju Yogya. Kota yang konon dipenuhi orang kreatif. Kota budaya. Kota seni. Berhati nyaman dan Berhati Mantan. Adakah aku bisa bertemu jodoh? Atau bertemu mantan? Atau bertemu seorang gadis yang tak akan bisa kudapatkan?

Kota Yogya tidak pernah menanyakan masa lalu, sebagaimana ia tak menjajikan masa depan. Cuma ada banyak khayalan dalam bus, melaju di saraf-saraf pikira.

Semakin lama, jalanan semakin lengang. Hanya satu dua mobil berkejaran, menyalip di antara truk-truk penuh muatan. Terkadang bus dihambat palang pelintasan kereta api, terkadang tidak berani menyalip di marka lurus karena ada polisi, sampai tidak peduli kapan harus berhenti.

"Mas, pertigaan Caruban apa sudah lewat?" tanya seorang penumpang perempuan. Sendirian.

"Lho. Sudah tadi Mbak. Kelewat jauh."

Di dalam bus malam, selalu ada yang tertidur, selalu ada yang terlewatkan.

Sungguh tidak nyaman ketika harus diturunkan di tengah malam, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi jika tak punya ongkos cadangan. Lebih baik melaju saja, melaju dalam lukanya kesepian.

Di dalam bus, semua orang menjadi sama. Yang seorang karyawan, yang seorang juragan ayam, yang seorang pengepul kenangan, pegawai ekspor-impor kesedihan, atau sekadar lengangguran. Kami menyerahkan riwayat dalam W 7088 UZ, kotak kaleng yang bisa balapan. Dalam bangku rapat kanan tiga kiri dua.

Terkadang di antara kami ada yang cepat tertidur, ada yang main ponsel, tapi terkadang ada pula percakapan, tentang pekerjaan, tentang keluarga, dan kenalan-kenalan.

"Wah, saya punya saudara jauh di Jombang."

"Anakku yang nomor sembilan kuliah di Kertosono."

"Saya sudah lama tidak pulang ke Nganjuk!"

Dulu mbahku asalnya dari Sidowayah."

"Ooh, itu dekat sama Pakdhe saya. Rumahnya yang dekat mesjid kecamatan."

Obrolan-obrolan ringan yang beradu dengan deru mesin, dengung AC, dan denting mimpi para pelamun. Dan akulah pelamun terbaik, yang serbapesimistis.

Kulamunkan seorang gadis duduk di sebelahku. Gadis kesepian yang terus saja melihat ke layar ponsel meski tak ada pesan. Apakah gadis itu berharap ada yang menghubunginya tengah malam begini? Sedang apa? Sudah sampai belum?

Selamat ulang tahun. Aku ingin kita balikan.... Tapi di sebelahku adalah seorang anak muda berambut gondrong, dengan kaus yang tulisannya sulit dibaca seperti gundukan kayu-kayu api unggun.

Di dalam bus, aku melakukan perjalanan yang tak ingin pulang. Biarkanlah duniaku hanya berupa kursi terdepan, tepat di belakang kernet. Kulihat dashboard sopir, speedometer yang mati, jarum merahnya pasrah pada keabadian, kabel-kabel melilit tak keruan, tombol-tombol tua berbaris rapi yang sepertinya tidak peduli manakah yang masih berfungsi, juga asap rokok yang membubung dari sopir meski bus menggunakan AC.

Di dalam bus W 7088 UZ..... Ah, sesungguhnya tak perlu sampai menyebut pelat nomornya. Ada ratusan bus dengan ribuan penumpang, dan mereka tidak pernah peduli plat nomor bus yang mereka tumpangi, Tapi 7088, hm. bagaimana jika aku bisa hidup sampai 7088 purnama? pastilah membosankan, aku menjadi tua dan kesepian, istri sudah lebih dulu dimakamkan, anak dan cucu menjadi komunitas paling asing dalam ingatan, cuma pulang kalau Lebaran.

Sementara aku terus dikoyak-koyak sepi, meski tak sampai mampus seperti di sajak Chairil Anwar, sebab sesaat adalah abadi dalam bus ini, kalau meminjam sejenak sajak Sapardi.

Maka begitulah, dari jendela bus, kulihat malam masih paripurna. Sudah lewat pukul tiga, bus melaju di hutan-hutan, terkadang melewati masjid yang masih padam, juga lampu merah yang dihiraukan.

Sudah sampai Madiun, sudah sampai Maospati, sudahkah kita sampai di ujung penderitaan ini? Dari Ngawi sampai Gendingan, dari Mantingan sampai Masaran. Aku ingin pasrah menuju masa depan yang semakin dipikirkan, semakin mencemaskan.

Di dalam bus W 7088 UZ, akhirnya aku tertidur lelap sebelum perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, perbatasan angan-angan dan kenyataan, perbatasan senyum dan kesedihan.

Dalam tidurku, aku bermimpi melakukan perjalanan ke kota-kota di luar ingatan, menjadi pengembara yang tak beriman kepada jalan pulang. ***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 11 Desember 2016

0 Response to "W 7088 UZ"