Ya, Kata Cicak Tidak, Kata Laba-Laba - Asembagus - Di Pelabuhan Karangantu, Suatu Waktu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ya, Kata Cicak Tidak, Kata Laba-Laba - Asembagus - Di Pelabuhan Karangantu, Suatu Waktu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:36 Rating: 4,5

Ya, Kata Cicak Tidak, Kata Laba-Laba - Asembagus - Di Pelabuhan Karangantu, Suatu Waktu

Ya, Kata Cicak
Tidak, Kata Laba-Laba

Ya, kata cicak
Tidak, kata laba-laba

cicak berdecak nyaring gemanya
laba-laba bergerak
merentang jaring demi jaring
sarang bunyinya

orang-orang berkuda tertegun, terhentak
batu debu gurun. tak mau buang waktu
mereka kekang tali kuda
kembali masuk kota.

di dalam secelah pintu, cahaya yang mereka buru
sedang dilimpahi berkah waktu. tak ada yang terbuang
walau berada di batas kota, dan akan meninggalkan ko-
ta
nuju kota lain yang jauh, yang lebih menenggang, di ut-
ara,
dalam gelanggang kabut baru: hijrah, hijrah!

hening,
sepasang cahaya bernapas dalam udara gurun yang pan-
jang
menyebut nama tughan yang Esa, tuhannya Ibrahim,
Musa dan Isa. dan demi kesempurnaan itu semua
sejarah berpacu di sumbu semesta

ya, kata laba-laba
tidak, kata cicak

cicak-cicak tercekat di celah gua,
burung-burung merpati berdekur
bersarang tenang di liang masuk
bertelur banyak seketika

laba-laba tetap menjalin sarang sunyinya
cahaya dari luar membuat jaring-jaringnya berkilau
tapi cahaya dari dalam membuatnya gilang-gemilang
cahaya yang juga menyepuh telur-telur merpati
menjadi seputih Kristal, dan sayap-sayap
yang mengeraminya kemilau emas suasa

kemudian Asma’ datang
berulang setiap petang
membawa keranjang makan dan buah-buahan
diikatnya dengan sebelah tali pinggang
burung-burung merpati menyisih
memberi jalan. laba-laba merelakan jalinan sarangnya
dikuakkan tangan kasih yang lunak
seperti senyuman dan air mata.

sementara di jalanan berdebu
masih tergores jejak sarung pedang,
tombak, lembing, dan kaki-kaki kuda
para pengepung. tapi Asma’ tak takut 
hatinay bukan lempung yang dapat ditekuk
kehendak pedang, hanya ia bisa jinak
oleh cinta dan kasih sayang.

sebelum kembali pulang
menitik air mata Asma’ ke pangkuan sang ayah
dan mengembang di telapak tangan
menjadi huruf menjadi kalam
kekal di kandung badan.

di gua Tsur, sejarah baru dimulai...

tidak, kata cicak
ya, kata laba-laba

seperti jalinan sarang laba-laba
peta-peta baru dirajut dan terbentang
di sepanjang jazirah
telur-telur emas menetes bagai air mata Asma’
merpati-merpati kasih membumbung
ke udara, ke sudut-sudut benteng yang terkepung
seperti Tsur,

“menyerahlah atas nama-Nya,
sebab ke semua kota suci kami akan kembali…”
demikianlah, terbaca kalam kekal itu lagi.

dan atas itu semua, berabad-abad
cicak dan laba-laba bersilang kata
tanpa sahutan
di kasau rumah. sebab di antara nyaring suara
ada yang bergerak hening
menjalin sarang kata-kata.

/2016

Asembagus

: faishol hafidz

di jalan lurus, 
pohon-pohon asam tegak menjulang
seperti banser berbaris menjaga lintasan
semua orang. pasar ikan, rumah-rumah berjajar
ke pelabuhan. gema sholawat
tersimpan dalam diam lautan.

matahari yang membakar aspal dan bubungan
kini redup di tepi hutan
seakan kereta tebu sarat beban
sandar di gudang tua penggilingan
kami, si pelintas fana ini pun
berhasrat menjinakkan waktu walau sebentar
dengan kopi, ikan bakar dan ucapan salam
di sebuah pintu yang lama menunggu.

begitulah, di sebuah serambi yang teduh
setelah salam berjawab salam,
kuhirup kopiku, sepekat peci seorang santri
sambil kusaksikan pohon-pohon asam
masih seperti banser, hijau, tenang
menjaga lintasan, rumah ibadah
dan muktamar.

/2016

Di Pelabuhan Karangantu, Suatu Waktu

Banyak pelabuhan telah aku datangi
Tapi tak ada yang sesedih ini
Muar ayang sempit dan gemetar
Beting-beting karang, menara suar
Menggurat wajahku di air dangkal.

Aku tersedu di bawah langit biru, entah mengapa
Padahal aku tak hendak berpisah
dengan siapa dan apa pun
yang mencintaiku dan kucinta
Aku tersedu di tepi laut biru
Padahal aku juga tak mencari apa dan siapa
yang tak mengenalku dan tak kukenal.

Kapal-kapal kayu tua saling merapatkan badan
Enggan berpisah dengan daratan
karena usia. Tapi balok-balok es
yang berjatuhan dari truk dan becak-becak berkarat
di tepi dermaga, meminta semuanya pergi
melewati muara yang sempit dan gemetar, 
beting-beting karang dan air dangkal.

Aku berjalan di antara keranjang-keranjang besar
yang menganga ke langit pengharapan
menumpuk kosong di sisi gudang. Sekosong bayang-ba-
yangku
memanjang diitmpa matahari yang kini miring dari lautan.
Bayang-bayangku lalu memanjati dinding demi dinding,
atap gudang-gudang, rumah-rumah nelayan dan kan-
tor syahbandar

keropos, berlubang. Seamsal liang peluru
di sebuah pantai yang jauh. Membuatku terkenang
seekor keledai yang terguling
di jalanan, dekat rumah jagal. Dua buntalan di punggungnya
menjelma jadi seonggok jala tua, menggantungi pundak
sepiku
Sia-sia kulepas, susah-payah kutanggalkan.

Di bawah langit biru
Aku tersedu
Di hadapan laut biru
Aku tersedu.
Entah mengapa, aku tak tahu.

/2016

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Sekarang menetap di Jogjakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisi mutakhirnya, Api Bawah Tanah. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 25 Desember 2016

0 Response to "Ya, Kata Cicak Tidak, Kata Laba-Laba - Asembagus - Di Pelabuhan Karangantu, Suatu Waktu"