Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:24 Rating: 4,5

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue

A Ma masih di kelenteng – melakukan sembahyang untuk leluhur ketika Lilian sibuk mengeluselus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengikuti langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.

Ini hari terakhir sebelum Tahun Baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut kedatangan sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut.

‘’Kau tahu, kue keranjang tidak selamanya manis?’’

Lilian meraba potongan kue keranjang yang ada dalam genggamannya. Ia berusaha memercayai setiap ucapan yang keluar dari bibir A Ma, meskipun terkadang sulit.

‘’Ada kesedihan yang terperangkap dalam sepotong kue keranjang, sehingga rasanya jauh dari manis. Rasanya justru seperti rasa air mata.’’

Seperti apa rasanya air mata itu? Harusnya Lilian tak perlu lagi bertanya. Lilian kerap merasakannya ketika ia menangis. Butiran air mata itu akan mengalir dalam mulutnya yang setengah terbuka. Mula-mula air mata itu rasanya tawar. Namun semakin lama akan semakin terasa asin seiring dengan semakin pekatnya kesedihan yang dirasakannya.

Lilian selalu menghabiskan kue keranjang terkecil sampai potongan terakhir. Dan rasanya tetap saja manis. Sangat berbeda dengan air mata dan ingusnya yang terasa asin di lidah. Kata A Ma, Lilian hanya bisa merasakan asinnya kesedihan di dalam kue keranjang, jika ia telah berhasil membuang rasa sedih yang terperangkap dalam jiwanya. Bagaimana mungkin? Seperti rasa kesepian, kesedihan selalu menguntitnya sepanjang tahun, sampai datangnya tahun yang baru.

‘’A Ma bilang juga apa? Habiskan kesedihanmu sebelum Tahun Baru tiba! Karena jika saat sinchia tiba kau masih bersedih, kesedihanmu akan awet sepanjang tahun!’’ Begitu selalu pesan A Ma di hari terakhir sebelum sinchia tiba.

Lilian mengangguk meskipun tahu ia tak akan bisa. Perasaan kosong yang dialaminya tak pernah bisa dihilangkannya semudah ia menyantap potongan-potongan kue keranjang. Perasaannya semakin senyap setiap kali A Ma menjawab ketus pertanyaannya, tentang mamanya.

‘’Mama kau telah menjadi hantu. Dan orang yang telah jadi hantu tak perlu disebut-sebut lagi namanya di rumah ini, apalagi disembahyangkan! Mengerti tidak?’’

Lilian berkerut mendengar jawaban A Ma yang selalu sama itu. Sudah lama sekali, Lilian belum pernah bertemu lagi dengan mamanya. Mungkin sejak ia masih belum sekolah. Lilian samar-samar teringat, hari terakhir ia bersama Mama. Waktu itu menjelang Tahun Baru Imlek seperti saat ini. Tangannya yang mungil digandeng Mama menuju Kelenteng. Sepulang dari Kelenteng, Mama menangis dan masih saja menangis saat mengemasi pakaian dalam sebuah koper. A Ma marah, namun Lilian kecil tidak tahu alasan kemarahan A Ma. Yang ia tahu, sejak saat itu mamanya tidak pernah kembali ke rumah.

A Ma bilang, Mama sudah mati. Tapi di mana kuburnya? Tidak pernah ada penjelasan pasti dari A Ma. Bahkan, secuil potretnya pun tak pernah dijumpai Lilian. Ia telah mencarinya di setiap sudut rumah. Di bawah kasur, di bawah meja sembahyang, di balik pigura-pigura foto yang terpasang di dinding, semuanya nihil. Kata A Ma, mamanya telah menjadi hantu. Dan hantu, tak perlu dipasang potretnya di dalam rumah. Bisa membawa sial. Begitu rapatnya A Ma menyimpan rahasia tentang Mama, di sudut paling gelap dalam hatinya, sehingga Lilian tak pernah bisa untuk menyentuhnya.

Seseorang pernah mengatakan bahwa mamanya cantik seperti dirinya. Bermata sipit, rambut lurus dan kulit putih serupa pualam. Seseorang yang mengatakan bahwa ia harus menjadi seorang ibu, jika ingin mengenal sosok mamanya. Namun cerita itu tak sanggup menutupi kekosongan dalam jiwanya.

‘’Bagaimana cara membuat kue keranjang dengan rasa air mata?’’ tanya Lilian suatu ketika.

‘’Kau tuang cairan tepung beras ketan ke dalam cairan santan dan gula yang telah mendidih dalam wajan, sambil terus diaduk! Teteskan sedikit demi sedikit kesedihanmu dalam adonan!’’

Kalau semua kesedihan sudah tertuang dalam kue keranjang, maka Lilian tidak akan merasa sedih lagi. Kebahagiaan akan menyertainya sepanjang tahun hingga tiba waktunya menyambut tahun baru berikutnya. Begitulah pendapat A Ma.

Lilian telah memutuskan untuk mencoba membuat kue keranjang dengan rasa yang berbeda. Ia telah membeli dua kilogram tepung beras ketan, satu setengah kilogram gula merah, satu setengah kilogram gula pasir, santan, dan bahan-bahan yang lainnya.

Ia hanya tinggal mengumpulkan kesedihan demi kesedihan yang puluhan tahun telah bersemayam dalam jiwanya. Menuangkannya sedikit demi sedikit dalam adonan kue keranjang yang akan dibuatnya. Lilian tak mau A Ma mendapat malu, karena air matanya yang terus menetes saat hari sinchia tiba.

Acara ‘’Gelar Tuk Panjang, Sedepa jadi Sehasta’’ selalu bisa mengumpulkan keluarga A Ma, baik kerabat dekat maupun kerabat jauh. Mereka akan makan bersama di meja panjang dengan posisi saling berhadapan di tanggal satu bulan satu. Acara yang melambangkan persaudaraan dan kebersamaan ini, bisa menyatukan kerabat dekat maupun jauh. Tapi tak pernah ada Mama dalam acara itu. Itulah yang membuat Lilian tak bisa menanggalkan kesedihannya.

Setelah bahan-bahan yang akan diolah sudah siap semua di meja dapur, Lilian pun berdiam diri sambil memejamkan mata. Ia berharap Thian Ti (Kaisar Langit) akan mengirimkan Cuo Sen (Dewa Dapur) untuk membantunya mengumpulkan kesedihankesedihan dalam jiwanya. Lilian berharap agar semua kesedihan yang dirasakannya, akan terperangkap selamanya di dalam kue keranjang yang akan dibuatnya.

Dinyalakannya api, sambil mengingat- ingat wajah mamanya. Kegagalan membuat kesedihan itu datang dan mengeja wantah menjadi butiran-butiran air mata. Diaduknya air santan dan gula di dalam wajan, dengan air mata yang terus menderas dan jatuh satu demi satu ke dalam wajan. Lalu dimasukkannya tepung beras ketan yang sudah dicairkan, sedikit demi sedikit. Ia selalu cemburu kepada Ling, Han Han atau saudara-saudaranya yang memiliki orang tua utuh. Kecemburuan yang melahirkan kesedihan dan air mata. Adonan yang diaduknya semakin pekat.

Bayangan seorang lelaki berkelebat dalam pikirannya. Lelaki penjaga kelenteng yang selalu menghiburnya dan meyakinkan dirinya bahwa suatu saat ia pasti akan bertemu dengan mamanya. Lelaki itu kini tak pernah menjumpainya lagi, setelah pertemuannya yang terakhir tiga bulan lalu. Air matanya semakin membanjir dan adonan di depannya semakin beraroma asin.

‘’Kamu harus percaya kepadaku,’’ ucap lelaki itu. Lilian memutuskan untuk memercayai lelaki itu, seperti selama ini ia telah menaruh kepercayaan terhadap A Ma. Pun saat ia meminta sesuatu yang seharusnya dijaga oleh Lilian, dengan rela Lilian memberikannya. Lilian pasrah, bagai rembulan yang tertusuk ilalang.

‘’Kau akan menjadi seorang ibu, dan selanjutnya kau akan bertemu dengan sosok seorang ibu, yakni di dalam dirimu sendiri,’’ hibur lelaki itu. Lilian mengangguk. Ia masih terus berharap bahwa lelaki itu akan terus mendampinginya sampai saatnya ia menjadi seorang ibu. Namun seperti juga mamanya, lelaki itu tibatiba menghilang. Lilian panik. Apalagi melihat reaksi A Ma.

‘’Kau mengulang lagi kisah lama mamamu. Maaf jika A Ma harus mengatakan hal ini kepadamu! Karena mungkin sebentar lagi, AMa harus menganggapmu sebagai hantu.’’

Lilian terengah-engah, menuntaskan kesedihan terakhir yang diperas dan ditumpahkannya ke dalam adonan. Tubuhnya menjadi lunglai, bagai selembar kain lap pel yang terjelepak di sudut dapur. Sementara jiwanya melayang-layang. Jiwa yang tak diberatkan oleh kesedihan lagi. Kesedihan seluruhnya telah tertumpah di dalam kue keranjang yang baru saja matang dan dicetaknya dalam tiga cetakan bundar berukuran tak sama.

Suara A Ma yang memasuki rumah menyadarkan Lilian dari lamunan. Sepertinya A Ma pulang dari kelenteng bersama dengan seorang wanita. Perempuan itu berjalan dengan muka tertunduk di belakang A Ma. Lilian terkejut. Wajah itu mirip sekali dengan wajahnya, hanya saja lebih tua beberapa belas tahun. ‘’Jadi Lilian sudah….’’

‘’Dengan kerinduan ingin bertemu denganmu yang dibawanya sampai mati,’’ ucap AMa sambil mengangguk.

‘’Aku ibu yang jahat, Ma…. Aku telah menelantarkan anak itu!’’ tangis perempuan itu sambil menutup mukanya.

Jadi ternyata Mama bukan hantu, dan justru sekarang akulah yang hantu. Pikir Lilian sambil mengelus perutnya. Ia tersenyum dan bersyukur, karena tak harus menyianyiakan calon anaknya, seperti yang telah dilakukan mamanya selama ini. Jika nanti mamanya mencoba kue keranjang yang telah dibuatnya, Lilian tak tahu pasti. Manis atau asinkah yang akan dirasakan oleh lidah perempuan itu? (92)

Utami Panca Dewi, tinggal di Jl Taman Lembayung, Sendangguwo, Semarang. Sehari-hari ia berprofesi sebagai guru SMP. Karyanya tersebar di berbagai media massa. Di antaranya majalah Kartini, Femina, Esquire, dan Suara Merdeka, serta lainnya. Baru-baru ini ia juara II sayembara cerber Femina 2015/2016.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Utami Panca Dewi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue"