Aku Sudah Bukan Penyair - Kereta Cepat - Tak Ada Lagi Orang yang Mengerti Puisiku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Aku Sudah Bukan Penyair - Kereta Cepat - Tak Ada Lagi Orang yang Mengerti Puisiku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:32 Rating: 4,5

Aku Sudah Bukan Penyair - Kereta Cepat - Tak Ada Lagi Orang yang Mengerti Puisiku

Aku Sudah Bukan Penyair

Aku sudah bukan penyair sejak kau menjadi senja
dan memilih hidup di antara lalu lalang bahasa
yang tak merasakan keberadaan waktu di dalam dada.
Begitu juga aku yang disibukkan absensi kerja
harus menghitung silsilah uang agar tak hutang
sebab negara telanjur kering kerontang
seusai dunia kehilangan muka untuk harga.

Hari-hariku adalah kerja, kerja, kerja
dengan jiwa yang senantiasa tertunduk sujud
merasakan betapa bulan begitu cepat berlalu.
Sementara beban tak kunjung berkurang
dari kalender usang.
Belum lagi iklim yang melelahkan
bersama jalanan yang senantiasa padat
membuat rumah hanya berisi malam gelap
yang tak menyisakan sedikit pun mimpi ataupun teh pagi.

Kadang ketika hujan berjatuhan di jendela
ingin lagi kutemukan wajahmu yang dulu,
ketika aku melepas bintang-bintang dari gunung.
Ketika itu kata-katamu begitu manis
hingga membuatku bisa menulis puisi sangat lepas.

Aku sudah bukan penyair sejak rumahku dipenuhi kemarahan
dan aku lebih memilih berlari ke dalam gelap
sementara pakaian yang kupakai
tak lebih dari lampu-lampu yang menyala sesaat.
Sesaat saat dunia berbicara dan membicarakan
dan akan meredup saat tak ada lagi kata-kata.
Betapa aku telah kehilangan bahasa untuk mengepal
hingga tak ada lagi baris-baris yang kutulis,
bahkan hanya untuk memuji-Mu saja
aku mulai tak fasih mengucapkannya.
Aku telah menjadi daun ilalang
yang runcing tapi begitu mudah melengkung.
Aku juga tak bisa memecahkan dunia yang telanjur sesak.
2016 


Kereta Cepat

Manakah yang lebih dulu antara kedatangan atau kepergian
sebab kita memiliki jarak yang sama di stasiun ini.
Aku memeriksa waktu yang tersimpan di dalam saku baju.
Waktu juga memandangku dengan sedikit senyuman
seperti seorang perempuan yang baru pertama kukenal.

Aku melihatmu duduk di kursi menunggu hujan
dan malam serasa tak datang.
Orang-orang bergerbong-gerbong
telah melewati waktu yang kutunggu.
Waktu menatapku dari dinding seakan menyapa
tapi tak berani hingga seolah tak ada yang datang padaku.

Antara kedatangan dan kepergian
selalu sulit untuk dilepaskan.
Namun kita harus pergi melewati batas mimpi.
Kita berjalan pada rel yang sama
namun, kita akan terus berbeda melihat kenyataan
yang berada di luar jendela:
yang kita lihat dan kita dengar
akan berlalu dan tertinggal bersama rumput.
Dan kita memiliki ingatan yang tak pernah sama.

Di stasiun ini, sebagian kenanganku tak berubah
walau petugas kebersihan selalu mengepel
dan menjaga udara dari debu.
Masih kulihat jejak kolonial yang berkarat
dalam setiap pembangunan-pembangunan.
Di abad ini, dunia terasa selebar daun kelor
semua impian dapat tersentuh dari jari yang lembut.
Tapi mengapa kita masih membutuhkan perjalanan
bila waktu dapat kita singkat.
Aku menunggu waktu lagi dengan duduk
menghayati batapa kedatangan dan kepergian itu menyiksa.
Kulihat waktu meneteskan airmata dari luar jendela
dan melambai seperti pohon kelapa.
2016 

Tak Ada Lagi Orang yang Mengerti Puisiku

Oktober telah mati.
Tak ada lagi orang yang mengerti puisiku.
Aku juga telah menguburnya di dunia maya,
mungkin ruhnya bergentayangan
mencari jejakku di antara bunga-bunga kuning.

Sekolah-sekolah juga tak lagi membaca puisi.
Mereka sibuk membaca dirinya sendiri
dalam kurikulum yang terus berubah
dipermainkan ilmu yang menguasai pengetahuan.
Dunia tak berpihak kepada penyair kecil sepertiku,
yang hanya mengerti perihal hujan dan laut
sebagai bagian dari kesedihan.

Hanya kaulah yang mau membaca puisiku
namun kubiarkan jiwamu bersama yang lain
terbang dengan sayap yang ditumbuhkan waktu.
Penyair itu tak bisa pergi dari bahasa
yang sangat dibatasi oleh ruang,
maka itu aku seperti katak dalam tempurung
yang dipenuhi oleh kegelapan.

Lupakan saja aku yang miskin
dan tak memiliki kegembiraan
seperti yang biasa dipajang orang-orang.
Oktober telah mati.
Puisi sebatas perayaan
yang dikenang untuk dilupakan.
Musim berganti, angin berlalu,
aku menyepi bersama debu.
2016 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Aku Sudah Bukan Penyair - Kereta Cepat - Tak Ada Lagi Orang yang Mengerti Puisiku"