Aroma Kenanga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Aroma Kenanga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:38 Rating: 4,5

Aroma Kenanga

GISA paham kalau aku menikahinya lantaran tergila-gila dengan aroma kenanga yang ada di dadanya. Aroma segar itu menguar dari kelopak dua tangkai kenanga yang tumbuh di dadanya. Saat pertama kali dia mempertontonkannya kepadaku, kemudian mengizinkanku untuk sedikit menghirupnya, serta-merta kepalaku ditanami serbuk candu. Acapkali, saat menikmati lekuk-lekuk kenanga itu, aku tergoda untuk menjemba, merengkuh, dan kulumat tanpa sisa.

Setelah menikah, Gisa pandai betul merawat kenanga di dadanya. Aku kerap melihatnya menyemproti dengan air, mengusir gulma, dan menyiapkan fungisida bila batang-batang kenanga itu dihinggapi jamur.

“Kamu pandai sekali merawatnya, Gisa,” pujiku. Aku kemudian membenamkan wajah di antara dua rimbun kenanga, kuhirup habis wanginya.

“Agar kamu tidak tergoda ke bunga-bunga lain,” jawabnya.

Demi Gisa, aku bahkan menutup mataku bila keluar, meniru cara Gandhari menjaga kesetiaan terhadap pasangan. Aku tak mau ada bunga-bunga di dada perempuan lain yang menggodaku. Aku hanya untuk dua batang kenanga di dada Gisa. Dan sebaliknya, dua batang kenanga itu hanya untukku seorang.

Namun, mendadak ada yang mengubahnya. Gisa berubah malas merawat dua kenanga itu. Aku sudah tak lagi menyaksikannya, pagi-pagi di depan jendela, menyiram dan dengan tekun mengusir gangguan hama di batang kenanga.

Semula aku hanya berfirasat bahwa ini hanyalah efek samping dari tamu setiap bulan. Gisa menjadi murung dan abai pada apa-apa yang dimiliki dan sangat kusukai. Tetapi, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya. Buktinya, bila malam sudah menumbuhkan berahinya, aku yang hendak melumat habis dua kuncup kenanga itu, tak diizinkannya untuk sekadar melihat.

“Mas, aku sedang tidak enak badan,” jawab Gisa. Kemudian memberiku punggungnya.

“Tidak biasanya kamu seperti ini,” kataku datar sambil menelan semua yang tadi hendak kumuntahkan.

Beberapa jenak kemudian Gisa mendengkur halus. Aku tahu ini hanya kamuflase agar aku segera menyusulnya tidur. Apa ada yang salah denganku? Atau Gisa yang telah berbuat kesalahan hingga aku tak diizinkannya menghirup aroma kenanga yang tumbuh di dadanya?

***
Paginya, aku keluar rumah dengan tanpa penutup mata. Mataku terbuka. Kusaksikan aneka bunga tumbuh di setiap dada perempuan yang kutemui. Mataku terbelalak. Ada peperangan hebat di hatiku. Aku ingin sekali menghirup wangi-wangi mereka. Namun takut bila aku terkena candu hingga lupa aroma kenanga di dada Gisa. Ah, tak menjadi soal untuk sesekali berbuat curang. Toh Gisa sendiri menolakku untuk menjemput wangi kenanga itu.

Dua kuntum krisan menggoda imanku. Dia tumbuh di dada Mira, salah satu pegawai di kantorku. Seperti saat aku jatuh cinta pada kenanga di dada istriku, aku pun menyukai krisan di dada Mira. Bahkan saat aku diizinkan untuk mengamati lebih dekat, aku menemukan hal yang tak kutemukan di kelopak kenanga istriku.

Krisan di dada Mira berwarnan merah dengan sedikit gradasi putih. Meski tak sewangi kenanga, krisan itu memiliki bentuk indah. Sedap dipandang. Dan ajaibnya, Mira begitu pandai merawat hingga kelopak-kelopak krisan menyeruak subur memenuhi dadanya.

Saat aku diperbolehkan membenamkan wajahku di rimbun krisan, mendadak aroma kenanga muncul. Aku terkesiap. Aku membuka telepon, dan pesan Gisa masuk. Pulanglah, Mas, ada kabar besar.

Kesadaranku timbul. Gegas aku meninggalkan Mira dan kutelan kembali semua yang hendak kutumpahkan di kebun krisan Mira. Gisa menungguku di rumah.

***
Istriku terkulai lemas di ranjang kamar. Seorang perempuan berbaju putih memunggungiku. Saat aku mendekat, kusaksikan dua tangkai kenanga di dada istriku telah lenyap. Bahkan perempuan, yang bertindak seperti tukang kebun itu, mengeruk habis gundukan tempat kenanga itu tumbuh. Lenyap sudah kenanga dan kebun milik Gisa.

“Maaf, kenanga milik Gisa harus saya angkat. Sedompol benalu tumbuh dan merusak tangkai kenanga itu,” kata perempuan itu datar. Gisa sesenggukan sambil menutupi wajah dengan bantal.

Aku tak kuasa menyaksikan adegan itu. Tas kerja terjatuh tanpa sebab. Aku keluar kamar. Entah mengapa ada penyesalan yang mendadak tumbuh. Mengapa istriku tak rajin merawat bunga kenanga hingga ditumbuhi benalu? Di mana lagi akan kuhirup wangi kenanga? Setitik air mata jatuh. Tetapi aku gegas menyunggingkan senyum, karena aku tahu di mana aku menemukan pelampiasan candu akan aroma kenanga. Betul! Di dada perempuan yang sedang merawat Gisa tumbuh dua kenanga yang jauh lebih besar dan menggiurkan. *)
Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 15 Januari 2017

0 Response to "Aroma Kenanga"