Cara Bertahan Hidup di Dalam Penjara - Revolusi Sedang Terburu-buru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cara Bertahan Hidup di Dalam Penjara - Revolusi Sedang Terburu-buru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:45 Rating: 4,5

Cara Bertahan Hidup di Dalam Penjara - Revolusi Sedang Terburu-buru

Cara Bertahan Hidup di Dalam Penjara

1. 
SEORANG hakim, 
nanti mungkin akan datang 
mengetuk pintu rumahnya, tidak dengan palu, 
tapi dengan ragu yang tak bergagang itu.

Dan dia telah lama, sejak semula, memaafkannya.

Meski dia tak ada di sana. Dia 
masih di dalam penjara. Dalam hari panjang 
dengan jeruji 
yang tak cukup lagi menandai lembar kalender itu.

Di dalam penjara, ia mencatat pada buku hariannya, 
bebaskan pikiran dari marah dan alpa.

Ini tak akan terbaca dalam tajuk rencana Indonesia Raya. 
Di dalam penjara, ia mencatat, bertahan 
menjadi manusia, 
dan tak usah bayangkan akan ada seorang hakim 
yang datang mengetuk pintu sel tahananmu, 
tidak dengan palu, 
tapi dengan ragu yang tak bergagang itu.

2. 
ADA setumpuk koran lama. Mungkin Sinar Harapan. 
Ia mengambil selembar dan membaca 
seperti seorang penyunting yang memeriksa 
berita-berita untuk dicetak segera. 
Ia tertawa. Pedih. Pada sebuah advertensi: 
Nirwana Supper Club. Hotel Indonesia. 
Los Mariachis dari Mexico. 
Klab yang akan membawamu melupa dunia. 
Minuman dari surga. 
Hidangan menyala-nyala. 
Musik yang tak akan membiarkanmu diam. 
Penari yang bikin waktu berhenti dan kalian bergembira lagi 
bagi Revolusi esok pagi. 
Dan pesta seorang Nyonya. Untuk tamu-tamu negara.

3. 
JIKA ia bukan seorang wartawan, 
ia menjadi petugas pembukuan.

Ia mencatat dalam angka-angka 
dan melihat bagaimana sebuah sistem ekonomi merampok 
negerinya sendiri.

Jika ia bukan seorang wartawan, 
ia menjadi tukang kayu, 
membuat meja dan bangku. 
Bukan untuk rapat-rapat kabinet 
dan debat-debat di parlemen itu.

Di meja dan bangkunya, duduk meriung para tahanan, 
main catur, dan berbalas pantun yang pahit.

Bernyanyi Saputangan dan Bengawan Solo. 
Atau gumamkan Cradle Song, 
serenada Schubert, juga Toselli. 
Jika ia bukan seorang wartawan, 
ia ingin menjadi petani. Di lahan 
yang tak sesempit halaman penjara.

Menyilang warna-warna anggrek, 
dan mencari cara terbaik untuk memperbanyak 
panen buah anggur, apel, dan pir.

Jika ia bukan wartawan, 
ia melukis dan membakar tanah liat.

Ia menulis parabel tentang harimau. 
Cerita pendek.

Dan mengutip larik Hilda Doolittle untuk Hally.

Hally manis, 
yang untuknya dan karenanya ia menangis.

Jika ia bukan wartawan, 
ia hanya ingin menjadi wartawan.

Revolusi SedaangTterburu-buru

Revolusi sedang terburu-buru: 
sudah sangat terlambat untuk sebuah sarapan.

Di dalam penjara
                   ia seperti mendengar mesin ketik, dan
                   dentang piring seng, sisa makanan diperebutkan tikus dan kucing.

Ia teringat Joji
                   Anjing berani yang mati setelah menyalak pada patroli Belanda
                   Tapi ini bukan Banda. Dan ia sedang di dalam penjara.

Ia bermimpi tentang arumbai dikayuh anak-anak yang merdeka,
                   menjemput menyeberangi selat. "Om Rir, ayo, main bola lagi kita!"

Di dalam penjara
                   ia mencoba mengingat nama-nama kucing Hatta.
                   Franco? Myssolini? Hitler? Turky? Jika harus ada
                   seekor lagi, ia tahu akan mengusulkan nama apa.

Tapi ia tahu, ia sedang di dalam penjara, ia sedang disajikan
                   untuk Revolusi yang sedang buru-buru dan lapar itu.

(2016)



Hasan Aspahani lahir di Sei raden, Samboja, Kutai Kartanegara, 1971. Bukunya yang terbaru adalah kumpulan puisi Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering (2016) dan Chairil: Sebuah Biografi (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasan Aspahani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 14 Januari 2016
                  

0 Response to "Cara Bertahan Hidup di Dalam Penjara - Revolusi Sedang Terburu-buru"