Catatan Untuk Anissa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Catatan Untuk Anissa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:09 Rating: 4,5

Catatan Untuk Anissa

TOM MELIPAT KORAN, melihat jarum jam di pergelangan tangannya sebelum mengamati keadaan di sekitar. Ruang tunggu semakin penuh. Yudith menoleh, mengangkat pundak ketika bersitatap. 

“Masih lama?” tanya Tom.

“Baru nomor 16, tiga orang lagi. Mau nunggu di luar?”

“Boleh!” Tom berdiri, punggungnya terasa penat.

Yudith pamit ke pegawai rumah sakit yang bertugas memanggil pasien, lalu bergegas mengikuti langkah Tom. Udara di luar lebih hangat, tapi angin malam yang berkesiur terasa lembap. Hujan baru saja reda beberapa jam yang lalu.

“Ya ampun, Tom!” bisik Yudith dengan suara tertahan.

Tom menoleh, Yudith memberi isyarat, menunjuk dengan dagunya. Seorang anak laki-laki duduk mencakung di anak tangga. Asyik mempermainkan dua ibu jari pada telepon genggam di rangkuman tangannya. Hanya anak kecil yang sedang main games.

“Memang kenapa?” tanya Tom tak mengerti.

“Waktu kita muncul di pintu, dia menoleh, kamu nggak lihat?” tanya Yudith dengan suara berbisik.
Tom menggeleng.

“Mukanya, mirip kamu, sungguh! Persis fotomu waktu kecil yang digantung di ruang baca!”

“Ah! sergah Tom tak percaya, tapi dia ikut mendekat. 

Yudith melipat kedua lengannya di dada, tersenyum lebar sambil menunduk. “Hai!” sapanya lembut.
Anak itu terkejut, mengangkat kepala dan menatap heran, tapi tak membalas sapaan Yudith.

“Sedang menunggu Mama, Sayang?” Yudith tak putus asa.

“Tonny nggak boleh berbicara dengan orang yang nggak Tonny kenal!” elaknya, matanya menoleh ke arah Satpam yang berdiri tak jauh darinya. Mencari rasa aman.

Yudith tertawa lebar. “Itu, kalau di jalan! Di ruang tunggu dokter, nggak ada orang jahat. Jadi namamu Tonny? Om ini, suami Tante, namanya hampir sama. Om Tommy!” Lalu dia meluruskan badan, bertanya dengan matanya ke arah Tom. “Merasa mirip?” tanyanya, tapi Tom tetap tak memberi tanggapan.

Tom masih terkesima, ada desiran aneh di dadanya tapi dicobanya melerai keheranannya dengan mengedikkan bahu. Mengapa bisa anak ini mirip denganku, tanya hatinya. “Orang tuanya mungkin masih ada kaitan dengan Opung!”

“Atau mungkin juga salah satu anakmu yang terlupakan!” 

“Suka juga sesekali kamu cemburu!” Tommy tertawa, menangkap tangan Yudith yang hampir mengenai pinggangnya. 

“Ibu Yudith?” seseorang muncul di pintu.

“Nomor dua puluh?”

“Habis ini giliran Ibu. Nomor sembilan belas tidak datang, nomor delapan belas langsung ke lab.”

Yudith pamit dan tergesa masuk karena Tom mengatakan akan menunggu di luar saja.


TOM MENAHAN TONNY yang meloncat berdiri, tapi panggilan dari arah pintu membuat darahnya seolah membeku. Tuhan, suara itu, suara dari masa lalu, jerit hati Tom sambil membalikkan tubuh. “Anissa!” desisnya. Rasanya telah berteriak, tapi hanya desisan yang keluar dari celah bibirnya. Di ambang pintu, wanita itu pun tegak mematung dengan muka pucat pasi.

“Mama! Sudah selesai?” suara Tonny memecah hening.

Anissa, ibunya, tersentak. “Ya, ya, sudah selesai!” sahutnya dengan suara gagap, lalu matanya kembali ke arah Tom yang mendekat.

“Ninis?”

Anissa menggeleng, matanya merebak.

Tom terpaku di hadapannya, mencoba menghela napas yang terasa sesak. “Nis, apa kabar?”
Tak ada jawaban. Tonny mengangkat kepala, menatap wajah mereka bergantian. “Dia teman Mama?”

“Kita pulang!” Anissa tak menanggapi pertanyaan anaknya, hanya menggamit tangan Tonny dan melewati Tom tanpa menoleh.

“Tunggu, Ninis! Tunggu! Katakan sesuatu tentang Tonny, tolong!” Tom berlari mengejar mereka yang menuju tempat parkir.

Anissa menghentikan langkah, membuka tas lalu mengambil kunci kontak. “Tidak ada yang perlu dikatakan! Tonny adalah anakku. Kami harus segera pulang. Suamiku terlalu lama menunggu di rumah!” Dia menghampiri salah satu mobil. Membuka pintu lalu menolong Tonny naik sebelum menghilang di pintu satunya. Tom tak berdaya saat mobil itu melesat melewatinya.

Untuk sekian menit dia terpaku di pelataran parkir sebelum kembali ke dalam ruang tunggu. “Anak Ibu Anissa meninggalkan telepon genggamnya di tangga,” katanya dengan suara berbisik sambil menunjukkan telepon genggam miliknya sendiri ke pegawai yang bertugas memanggil. Data pasien biasanya ada di sana. “Saya akan mengantarkan ke rumahnya kalau Nona mau memberikan alamat mereka.” Entah apalagi yang dkatakan Tom, toh akhirnya alamat itu didapatkannya. 

Yudith ke luar ruang praktik dokter hanya beberapa saat setelah Tom mengambil tempat duduk. “Bekas operasi sudah membaik, ada beberapa obat yang harus diambil. Besok saja ya, Tom? Obatnya sama kok, sisa yang dulu masih cukup untuk beberapa hari.”

Tom mengangguk, tapi pikirannya entah berada di mana. Begitu juga saat mengendarai mobilnya sampai ke rumah, saat makan, bahkan saat berbaring di samping Yudith. Kegelisahan mencengkeram. Wajah mungil anak laki-laki itu tak lepas dari pelupuk mata. Dan raut Anissa!

“Aku akan segera pulang lagi ke Jakarta, Ninis, kamu tak usah khawatir! Tidak ada yang dapat menghalangi cinta kita!” Itu janjinya kepada Ninis saat kakaknya memanggil pulang ke Medan. Tapi di Medan, Mama sedang meregang nyawa di rumah sakit, operasi ginjalnya gagal! Permintaan terakhir dari seorang ibu yang pernah mengandung, melahirkan dan membesarkan, bahkan membanting tulang untuk menyekolahkan sampai mencapai gelar hanya satu: “Hartom, kawinlah kau dengan Yudith, bukankah kau pernah berjanji akan mengawininya sebelum kau berangkat ke Jakarta? Mama akan pergi dengan tenang bila kau telah mengawininya!”

Bagaimana mungkin bisa menghindar? Lalu Mama betul-betul bisa pergi seminggu setelah pernikahan, dengan ucapan terima kasih dan senyum yang tenang. Tanpa tahu hati Tom menangis saat menjalani semua! 

Bagaimana Ninis? Bagaimana orang tuanya? Tom mendesah panjang, dadanya sesak setiap mengingat semua. Orang tua Ninis tak pernah setuju, jangankan untuk menikah, untuk menjadi kekasihnya saja ayahnya selalu mengibarkan bendera perang. Lalu mereka nekat, bagaimana mungkin orang tua Ninis akan tetap bertahan bila Ninis hamil? Itu jalan terakhir, mereka menjalani dan menunggu dengan penuh harap. Dan ketika berita itu datang dari Medan, Ninis baru saja terlambat dua minggu. Siapa sangka semua akan jadi begini? Ya, ya, aku pengecut, pecundang, atau apa saja, tapi aku tak sampai hati pamit ke Ninis. Mama pernah mengatakan pula akan bangkit dari kubur kalau kusakiti Yudith! Sempurna sudah! Setelah sebulan, Tom baru menulis surat, meminta maaf. Tuhan, Ninis pasti hancur!

“Tom! Tom!” Yudith terbangun. Samar dia mendengar isak. Dan ketika menyalakan lampu, menemukan mata suaminya kuyup. “Ada apa?” tanyanya cemas. Diusapnya tangan Tom hati-hati.
Tak ada jawaban, Tom hanya menggeleng lunglai.

Sesaat Yudith mengamati jari-jarinya masih ada di atas lengan Tom. Mukanya tersaput sedih. “Sudah pernah kukatakan sebelum kandunganku diangkat, bukan? Aku tak akan bisa memberimu anak, aku ikhlas kalau berniat meninggalkan aku. Umurmu masih tiga puluh tujuh, masih banyak harapan untuk mendapatkan keturunan.” Yudith tersenyum, matanya melebar. “Anak tadi memancing kesedihanmu, iya? Memang, kalau kita langsung punya anak, mungkin hampir seumur dia!” 

Suara itu penuh kepasrahan, sepenuh hati. Tom terenyuh. “Aku tidak akan meninggalkan kamu, Yud, ada atau tidak adanya anak,” katanya dengan suara terbata-bata. “Delapan tahun pernikahan, kamu selalu mengalah, bersabar, dan tak pernah berhenti mencintai,” sambung Tom.

“Lalu apa yang membuatmu sedih?”

Tom terhenyak. Haruskah menceritakan masa lalu itu? Kuatkah Yudith menerimanya? Atau tidak usah. Tapi aku bisa gila bila memendam semua, aku tak sanggup!

“Tom?!”

“Aku bukan laki-laki yang baik, seperti yang selama ini kamu kenal! Aku sebetulnya banci, pecundang, pengkhianat!” desis Tom dengan suara geram. Dia menggeleng, air matanya merebak. Entah kekuatan dari mana, dengan berurut dia menceritakan masa lalu yang kelam itu. Juga pertemuannya tadi, dengan Tommy, dengan Anissa, lalu dia terpaku dengan tatapan tegang, menunggu reaksi Yudith. 

Lama sekali Yudith menekuri jari-jemarinya yang sejak tadi dia lepaskan dari genggaman Tom. Lalu tiba-tiba saja dia mengangkat kepala, wajahnya mengeras. “Semua juga salahku,” katanya. “Aku jatuh cinta kepadamu sejak menginjak masa remaja, kudekati ibumu dan mengambil hatinya karena tahu cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tak kenal lelah berusaha, bahkan tanpa setahumu mengikuti semua yang terjadi selama kau di Jakarta dengan bantuan sepupuku. Aku tahu kau mencintai Anissa, tapi aku tak peduli, yang penting aku mendapatkanmu!”

“Yud?” Tom menggeleng, tak percaya.

“Ketika aku berusaha untuk mendapatkan anak tapi tak kunjung berhasil, bahkan dokter menemukan kanker dalam rahimku hingga akhirnya harus mengangkatnya untuk menghentikan penyebarannya, aku tahu itu teguran dari Tuhan. Kau selalu mengatakan aku tabah menghadapi semua. Ketabahan itu kudapatkan dari rasa bersalah. Lalu aku pasrah. Hukuman itu kuterima karena aku pernah merenggut milik orang lain. Yang membuatku bertahan adalah aku hanya bisa bersyukur aku masih punya suami yang baik, yang tak kusangka bisa menerimaku apa adanya!” kata Yudith sambil mengusap air mata.

“Sikapmu sebagai istri sanggup melupakan masa lalu itu,” kata Tom setelah sekian lama terdiam. 

“Tapi pertemuan malam ini, adalah kehendak Tuhan. Aku harus menyelesaikan masa lalu itu, Yud, seperti utang yang harus kubayar. Aku sedang berpikir karena takut menyakitimu!”

Tak ada suara, Yudith menatap langit-langit kamar. Lama, sampai kemudian dia membalikkan tubuh, menatap Tom penuh harap. “Anissa tak akan menerima kehadiranmu. Tentu saja dia terluka. Seandainya kau izinkan, aku ingin ikut menyelesaikannya. Berikan alamat itu, Tom, percayalah, aku akan mencari penyelesaian yang terbaik. Dia tidak boleh mendendam kepadamu karena kamu saat itu terjerat keadaan,” pintanya sungguh-sungguh.

Tom merasa buntu. Esoknya alamat itu diserahkan ke Yudith. Sengaja mengantarkanYudith ke alamat yang dituju, lalu meninggalkan istrinya di sana dengan perasaan pasrah. Sepanjang hari dilalui di kantor dengan perasaan gelisah. Akhirnya dia pamit pulang dengan alasan sakit karena tak bisa menghubungi Yudith. Pembantu di rumah masih juga mengatakan Ibu sedang pergi, Ibu belum pulang, sedang ponsel Yudith dimatikan. 

Yudith ternyata ada di rumah. Sedang sibuk membongkar kamar tamu. Tom yang sejak pagi disekap cemas, hanya memandangnya sekilas sebelum berlalu ke kamar lalu melemparkan tubuh ke tempat tidur. 

Yudith tercekat, dia tergesa menyusul. “Jangan marah begitu,” bujuknya. “Jadi ayah harus punya kesabaran berlapis!”

Tom menautkan alis. Merasa heran melihat Yudith begitu ceria.

“Kuterangkan semua ke Anissa bahwa kamu tidak kembali kepadanya karena aku,” sambung Yudith, kali ini dengan suara perlahan. “Dengan rinci kuceritakan semua, seperti tadi malam, lalu aku menceritakan operasi yang kujalani, pertemuanku dengan Tonny, dan semua penyesalanku. Syukurlah, dia mau menerima, mau memaafkan!”

Tom menghela napas, dadanya terasa sesak. “Apa kabar Anissa? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya hati-hati.

Yudith mengangguk. “Baik. Waktu Tonny berumur tiga tahun dia menikah. Suaminya orang Swedia. Dari pernikahannya punya satu anak, dan kemarin dia ke dokter kandungan karena sudah hamil lagi dua bulan. Dia sudah bahagia, kok, Tom, kau tak perlu mencemaskannya lagi. Sebetulnya Anissa tinggal di sana, setahun sekali dia pulang menengok Tonny karena Tonny tinggal bersama adiknya yang belum menikah.”

“Dengan adiknya?”

“Dulu, tinggal bersama orang tua Anissa, tapi keduanya meninggal saat kecelakaan kereta api di Jawa Tengah tahun yang lalu. Tonny dibujuk untuk ikut ibunya, tapi tidak mau.”

“Kau tidak menanyakan tentang Tonny? Maksudku, ayahnya!”

“Anissa menceritakan kepada Tonny bahwa ayahnya orang Medan. Tapi sudah bercerai. Tonny protes bahwa orang tua temannya juga bercerai, tapi ayahnya sering menjemputnya untuk menginap kalau liburan. Dan tadi, kukatakan kepada Tonny bahwa kita baru saja pindah ke Jakarta, tentu saja akan menjemputnya kalau dia libur. Dia bisa menginap, seperti temannya menginap di rumah ayahnya. Syukurlah Anissa mengizinkan. Kelihatannya dia mempercayaiku. Dan, kuharap suatu hari nanti Anissa mengizinkan Tonny tinggal bersama kita,” kata Yudith dengan mata kuyup.

“Itu sebabnya kau rapikan kamar depan?” 

Yudith mengangguk.

“Seharusnya kau pamit kepadaku agar aku bisa pulang lebih awal untuk membantumu!” rungut Tom. Diraihnya Yudtih ke dalam pelukan. “Maafkan aku, dan terima kasih untuk semuanya!” bisiknya dengan suara gemetar.[]


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tika Wisnu 

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 13/XXXI 27 Maret – 2 April 2003

0 Response to "Catatan Untuk Anissa "