Pintu Hijau 21 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 21 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:16 Rating: 4,5

Pintu Hijau 21

SULIMAN mendekatiku di pojok ruangan. Aku terisak-isak dan takut Suliman akan menyakitiku ketika itu. 

Memang dia menyakitiku akhirnya, Bang. Aku takut sekali. Dan aku menahan tangisku saat itu. suliman mencengkeramlenganku dan menyeretku. Lalu dia melemparkanku dan aku terjatuh, kepalaku terbentur ke kursi dan berdarah, Bang. Kepalaku tiba-tiba pening dan pandanganku kabur beberapa saat.

Suliman membentakku dengan kasar.

”Kamu hamil dengan siapa, sundal?!“ tanyanya.

Aku ketakutan saat itu, Bang, dan aku tak menjawab-jawab apa selain hanya terisak. Suliman mengulang pertanyaan itu sampai tiga kali disertai menjambak rambutku.

Aku menjawab, ”Aku tidak tahu aku hamil dengan siapa,” kataku gemetar. 

Suliman masih membentakku, mengencangkan jambakan tangannya pada rambutku.

”Kamu jangan bohong! Siapa itu laki-laki yang sering kamu datangi!?” ujar Suliman dengan keras.

Aku meringis kesakitan, Bang. Dan aku menjawab gemetar, ”Dia bikan laki-laki, aku tak pernah bercinta dengannya,“ kataku.

Itu lembar keempat. Ibu nampak tegang. Beliau diam beberapa saat. Ibu melanjutkan lembar kelima.

Suliman mengendorkan cengkeramannya dan dia terdiam sebentar. Lalu melepaskan jambakan tangannya di rambutku dan beralih dia mencengkeram lenganku. Dia menarik lenganku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku takut sekali ketika itu, Bang. Mata Suliman menatap mataku. Matanya seperti mata iblis! Sambil menatapku Suliman berkata, ”Kamu jangan menipuku, sundal! Kamu kira aku percaya kamu mendatangi laki-laki itu hanya untuk ongkang-ongkang?!“

Saat Suliman berkata begitu, Bang, matanya mendelik. Aku menjawab, ”Dia laki-laki yang tidak laki-laki. Seperti kamu, Suliman! Dasar impoten!“

Maafkan aku mengatakan kamu tidak laki-laki, Bang. Aku tahu kamu laki-laki paling jantan yang pernah kutemui.

Entah kenapa aku berkata begitu, Bang. Aku tak tahu kenapa aku jadi berani sama Suliman. Karena perkataanku itu tiba-tiba wajah Suliman yang masih dekat dengan wajahku kulihat memerah dan marahnya meningkat. Aku tahu Suliman memang impoten.

Itu lembar kelima. Ibu masih dalam ketegangan. Sambil memegangi hidungnya dan menarik napas, beliau membuka lembar keenam. Dibacanya.

Kata Suliman padaku: ”Kamu mengataiku, ha!“

Suliman menarik lenganku lagi dan melemparkanku. Aku terlempar ke pojokan. Suliman mendekatiku dan mencengkeram lenganku lagi. Wajahnya didekatkan lagi ke wajahku. Aku takut sekali saat itu, Bang. Tapi aku berani sama Suliman.

”Tapi dia tidak jahat!“ kataku.

”Kamu bilang mau bilang aku jahat?!“ kata Suliman.

”Kamu memang jahat!“

”Katakan padaku dengan siapa kamu hamil, sundal! Jangan banyak bacot!“ bentak Suliman. Suaranya seperti mengaung, Bang!

Saat itu Suliman mencengkeram lenganku lagi sekuat-kuatnya dan aku kesakitan. Tangisku yang kutahan terisak-isak, akhirnya lepas, Bang. Aku menangis keras.

Saat aku menangis itulah Imah masuk lagi ke ruangan. mudinar memegangi Imah dan menyeretnya lagi keluar. Imah melawan Mudinar. Dua orang lainnya membantu Mudinar menyeret Imah.

Lalu aku menjawab : ”Aku hamil dengan Mudinar!”

Aku berbohong soal itu, Bang. Kamu tahu aku mengandung anakmu.

Mudinar yang masih menyeret Imah itu dipanggil Suliman.

”Mud, Malina bilang dia hamil denganmu. Benar itu?“ tanya Suliman. Ia melepaskan pegangan lenganku. Mudinar terdiam sesaat. Lalu tertawa sambil lalu dia menjawab.

”Aku sudah lama tidak tidur dengan Malina. Lagipula andai dia ke Mbok dia tidak akan hamil, Bang Suliman.”

Itu lembar keenam. Beberapa saat ibu memejamkan matanya. Lalu melanjutkan kelembar ketujuh. Lembar terakhir.

Selanjutnya, aku berkata pada Suliman, Bang.

”Mudinar melarangku untuk ke Mbok. Mudinar itu sinting! Dia memaksaku agar aku hamil dan dia mau bercinta denganku saat aku hamil. Bahkan Mudinar terang-terangan bilang padaku, katanya bercinta dengan perempuan hamil itu lebih nikmat dan memuaskan. Bahkan dua malam lalu Mudinar memaksaku untuk melayaninya!“ selaku.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 1 Januari 2017

0 Response to "Pintu Hijau 21"