Cinta Kedua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cinta Kedua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:18 Rating: 4,5

Cinta Kedua

AKU TAK DAPAT melupakannya. Tak dapat mencegah perasaan rindu bila lama tak bertemu, seakan hatiku terpaut kepadanya terus-menerus. Tak terbendung perasaan-perasaan yang bergelora bila melihatnya tersenyum. Senyum yang menawan, indah, dan menerobos ruang pertahanan di sela-sela terkecil hatiku. 

Bila aku melihat kembali ke belakang, sebab mengapa aku begini, maka aku tak mampu menemukan kata-kata tepat yang bisa menjelaskannya. Aku merasa menyayanginya, merindukannya selalu dalam hatiku, dengan segenap jiwa ragaku. 

Rutinitasku sehari-hari adalah bertemu dengan anakku lagi setelah ia terbangun dari mimpi panjangnya semalam suntuk, yang kadang-kadang diselingi tangisan kecil yang menandakan ia basah atau mimpi buruk.

Kami hanya berdua. Mungkin karena itulah, aku merasa kesepian. Di saat segalanya telah usai, memberinya susu, nasi, buah kesukaannya, maka akan kutuliskan semua yang telah kulakukan hari itu di sebuah buku kecil. Semuanya terjadi begitu saja, saat aku merasa telah terlalu lama bersama-sama anakku. Menyenangkan bersamanya selalu. Kelucuannya tampak mencolok, kepandaiannya dalam banyak hal, kerut merut di wajahnya bila ia tertawa.

Tetapi tetap, aku merasa sendirian. Aku tak tahan terus-menerus berlama-lama dengannya. Duniaku agaknya terenggut sebagian ke dunianya. Mungkin aku belum siap menanggungnya, ya, mungkin karena itu. 

Suamiku terpaksa bekerja di kota lain. Aku baik-baik saja dengan hal itu, biasa-biasa saja menjalaninya, tak ada yang istimewa, hingga suatu hari begitu saja aku merasa bosan dan lelah, hingga aku bertemu lagi dengannya.

Ia memang tampan dan simpatik. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah tirus, gelap dengan bola mata kecokelatan, yang kurasakan sebagai daya tarik yang amat menonjol darinya. Ia dan suamiku berkawan karib. Maka menjadi karib jugalah ia. Kami sering bertemu. Aku bersama suami serta anakku, ia sendirian, atau bersama-sama istri dan anaknya. Namun itu jarang terjadi.

Beberapa lama ia tak ke rumah, tak menelepon atau semacamnya. Saat itu kurasakan denyut kehilangan yang amat sangat, menyesal tak tahu ia di mana. Aku berusaha menetralkan perasaanku, karena aku tahu aku akan menyesal, paling tidak merasa bersalah. Bukankah aku dan suami serta anakku dalam keadaan baik-baik saja, tak kukurangan suatu apa pun? Ruang dan uang yang diberikan untukku cukup besar dan mapan, selalu mampu membuatku bekerja dan belajar dengan tenang. 

“Soni tak ke rumah, ya,” kataku pelan, seusai hujan, saat aku dan suamiku baru saja bercinta dengan hangat. Selalu hangat dan menggebu, mungkin karena kuserahkan diriku kepadanya secara utuh setiap kali kami berhubungan. Menurutku, karena aku masih mencintainya, walau kami jarang membicarakannya. Namun percintaan suami-istri yang hanya dilakukan dua kali seminggu sering membuat kami rindu dan gelisah. Waktu terlalu sempit dan singkat, dan agaknya, itu pun sudah menjadi rutinitas. 

“Ya,” malas-malasan ia menyahutiku. Matanya terpejam, setelah kenikmatan yang baru saja direguknya bersamaku. Biasanya ia merasa puas dan mengantuk, lalu tertidur. 

“Kau tahu di mana ia tinggal?” tanyaku sambil lalu, beringsut ke kamar mandi untuk terus membersihkan diri. Aku bukan orang yang betah berlama-lama di tempat tidur usai bercintaan. 

“Ia tak pernah mengatakannya,” sahutnya pelan, namun aku masih sempat mengatakannya.

Aku mandi dan membayangkan pertemuan terakhir kami. Mata kami beradu dua-tiga detik lamanya. Sesingkat itu, namun mampu melemahkan ragaku. Dan hatiku dipenuhi dengan perasaan-perasaan nikmat yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta. Tentu aku gelisah. Aku bahkan sering merasa diriku murahan, gampangan. Namun, sepengetahuanku, segala sesuatu yang berhubungan dengan rasa itu jarang searah. Artinya, tak mungkin aku sendirian dalam hal ini, tak mungkin hanya aku yang merasakan ini.

Soni, sejak itulah aku kerap mengenangmu. Tubuhku akan menghangat tiba-tiba jika kau meneleponku, menanyakan keadaan kami. Namun, kau tak pernah datang lagi, dan aku semakin kehilanganmu.

Lalu suatu hari ia datang melewati kebun bunga kami yang panjang dan asri. Aku melihatnya terpaku, dalam diam yang mendebarkan. Ia mendekat dan semakin mendekat. Aku bereaksi sebagaimana biasa, namun sulit menghapus perasaan rindu yang sekian lama kupendam.

“Hai, Monik, apa kabar?” suaranya begitu dalam dan hangat. Berapa lamakah sejak terakhir ia memanggilku dengan nada dan gaya yang sama? Kurasa saat itu juga ia tahu aku sangat bahagia melihatnya. Mataku berpendaran, aku memang sangat bahagia. Ia memangku anakku seraya mengobrol ke sana kemari. Matanya menatapku cerah, mata yang selalu kurindu dan kuharap masih bisa melihatku. Rasanya saat itu kami saling menahan diri, dan gejolak rasa yang sebenarnya ada dalam hati kami, dari gelombang dahsyat yang setiap saat bisa menghanyutkan kami berdua.

“Kau tak pernah menelepon kami,” kataku.

“Ya benar, aku meminta maaf untuk itu. Baru saja kukabari suamimu melalui e-mail. Ia pasti menanyakanku juga, kan?” sahutnya seraya tersenyum.

Mata kami beradu. Lama kali ini, terasa ada sesuatu menikam jantungku. Kalau saja anakku tak berteriak minta dilepaskan dari tubuhnya, maka kami akan tetap seperti itu. Aneh, sungguh mencengangkan, betapa pandangan bisa sangat memikat. Tanganku bergetar menahan keinginan dari membelainya, menyentuhnya. Aku bisa merasakan hangatnya tubuhku dan denyut jantungku yang teramat cepat dalam diriku. Namun aku masih punya kekuatan menahan godaan yang begitu ingin kupuaskan. Maka kataku,” Kau ingin makan? Minum? Kubuatkan teh manis, ya?”

Aku bergerak pelan ke dapur. Mataku memang berpendaran, aku bisa melihatnya dari besi ringan penutup kompor gas yang ada di hadapanku. Aku ingin berteriak, namun aku tahu itu hanya akan merusak suasana indah ini. Ya, indah namanya bila kita merasa masih bisa mencintai dengan begitu dalam dan sungguh-sungguh.

Suamiku … aku ingat ia. Namun tak menolongku melupakan ia yang lain, yang sedang menari-nari dengan pongahnya di sudut-sudut hatiku, ataukah mereka bertukar tempat? Apakah ini perkara prioritas belaka? Bahwa sebenarnya aku masih mencintai suamiku, namun aku merasakan cinta yang lain dan ingin mewujudkan perasaan itu dengan wajar? Bahagiakah aku bersama suamiku? Ya, tentu saja. Mungkinkah aku gila? Karena, saat itu terbetik di hatiku seandainya seorang perempuan bisa mencintai dua orang lelaki yang sama-sama dicintainya dalam waktu bersamaan. Seandainya saja, tak hanya lelaki yang bisa memiliki cinta seperti itu, seandainya saja perempuan diberi kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Nah, bukankah gila namanya? Aku yang selalu berpikiran sehat dan setia, ke manakah pikiran warasku saat ini? Wajarkah ini? Duhai, kalau waktu bisa kembali, apa yang mungkin kulakukan? Berusaha menemukan Soni, lalu bersatu dengannya setelah kami menjadi karib? Ataukah bertemu dengan orang lain lagi yang tidak disangka-sangka akan menjadi suamiku, atau bertemu lagi dengan suamiku dan hidup sama seperti ini?

“Kau hanya memegang panci dan termenung-menung sendirian.” Suara Soni terdengar dekat denganku. Aku menoleh cepat, dan kupaksakan sebuah senyum seadanya. Aku tertangkap basah, batinku.

“Ya, aku memikirkan hal-hal aneh belakangan ini,” sahutku.

“Apakah aku yang kau pikirkan? Kita?” tanyanya lembut, menekankan setiap kata yang diucapkannya padaku.

Aku terdiam, tercenung memandangnya, tak kuasa menahan keinginan hati yang ingin lebur di pelukannya. Kupegang erat-erat tepian kompor di sampingku. Ia mendekat, dekat, hingga aku bisa memandangi bola mata kecokelatan itu, berpendaran seperti sinar yang menyilaukan mata hatiku.

Tiba-tiba kudengar suara anakku di halaman, berteriak kupu-kupu, lalu laba-laba, lalu semut, menggumamkan beberapa patah kata tentang hewan lain yang dilihatnya di halaman rumah. Maka kami pun berjauhan.

Aku lemas. Penyangga tubuhku saat itu hanyalah batin yang kukuat-kuatkan menahan segala kemungkinan, segala sesuatu yang terlarang meskipun nikmat, indah.

Kurasakan ia menjauh dariku sejak saat itu. Kami berpisah. Ia pergi meninggalkan istri dan anaknya ke sebuah provinsi terpencil, untuk bekerja. Ia meninggalkanku, yang sering terbangun malam-malam karena memimpikannya. Dalam mimpiku kami berpelukan erat sekali. Dengan matanya yang kecokelatan dipandanginya aku dengan sejuta kerinduan. (Untuk suami dan anakku)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Septiana Ferniati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 14/XXXI 3 – 9 April 2003

0 Response to "Cinta Kedua"