Di Balik Punggung Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Balik Punggung Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:09 Rating: 4,5

Di Balik Punggung Malam

PENGUSIK. Begitu aku menyebutnya. Sebutan untuk sosok kecil yang selalu mengusik tidur malamku. Sosok bocah lelaki yang menjadikan malam adalah waktu untuk melakukan segala hal yang ia mau. Tak ada teman ataupun sahabat tempat berbagi segala keluh kesah, atau hanya sekadar bercerita tentang segelintir permasalahan hidup yang ia hadapi. Sekali lagi, isak tangis yang sering mengulik telingaku itu terdengar lagi dan suaranya memaksaku untuk bangun.

Tapi ketika kutahu itu adalah tangisannya, kututup kembali jendela kamarku dan melanjutka tidur pulasku yang diganggu olehnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Aku tidak pernah mengerti. Setiap malam, hanya di saat malam, ia selalu duduk di bawah pohon kelapa yang menjadi pagar antara rumahku dan rumahnya. Pendaran api unggun yang dibuatnya menemani sebelum ia bermain dengan ombak dan pasir pantai.

Jika kau bertanya apakah air laut terasa hangat di saat malam yang tiada matahari menyinarinya? Mungkin ia satu-satunya orang yang akan menjawab ’ya‘. Tapi jika kau tanyakan padaku, maka aku akan menjawan sebaliknya. Mungkin kau akan menganggap jawabanku itu benar. Karena siapa yang berani menyangkal dinginnya air laut saat malam hari? Hanya ia, satu-satunya orang yang pernah kulihat begitu bahagia berendam di air laut yang dingin, bermain, dan tertawa. Selayaknya bocah berusia 10 tahun yang sangat asyik bermain di sepenggal malam yang sepi. Begitu menderitakan ia sampai wanita gila itu membuatnya menjadi gila juga? wanita yang kerap ia panggil ibu, tapi wanita itu tak pernah menunjukkan kasih sayang layaknya seorang ibu padanya. Bahkan wanita itu selalu saja memukulinya di saat bocah kecil itu berusaha melindungi dan membelanya ketika orang-orang jahat ingn melukainya.

Wanita gila itu tak lain adalah ibunya. Ia terlahir dengan keadaan ibu yang sudah gila, ayah bocah itu meninggal di saat ia berumur tujuh tahun. Jika ayahnya akan pergi melaut, ia akan dititipkan pada ibuku. Satu hari itu menjadi awal perpisahan ia dengan ayahnya. Hari yang tragis. Ayahnya tenggelam karena badai dan ombak besar. Mayatnya ditemukan terdampar di pulau seberang. Ia berpisah dengan ayahnya untuk selamanya. Sepeninggal ayahnya, ibuku membujuknya untuk tinggal di rumah kami. Tapi ia tidak pernah mau, ia lebih memilih tinggal bersam aibunya. Padahal ibunya itu gila.

Ibunya gila, ayahnya sudah tiada, siap ayang akan memberinya makan? Atau menyekolahkannya? Itu mungkin adalah pertanyaan kebanyakan orang. Dan pertanyaan itu ia jawab dengan pembuktian kalau ia bisa hidup sampai sekarang? Ia juga bisa membaca dan menulis seperti anak-anak sebaya dengannya yang bisa merasakan dunia sekolah. Ia hidup dengan hasil laut, hasil yang memang sudah sepantasnya dirasakan oleh penghuni pesisir pantai lainnya. Berkat hasil mencari rumput laut dan sesekali mengumpulkan batu-batu apung yang ia kumpulkan dari pantai sudah cukup untuk biaya makan ia dan ibunya.

Lalu bagaimana ia bisa membaca dan menulis? Ia mengikuti sekolah PBH, sebuah sekolah yang dibuka untuk orang-orang tua yang belum bisa membaca dan menulis. Tapi ia tidak malu ikut belajar di sekolah itu, meskipun ia bukan orang tua.

Begitulah sedikit perjalanan hidup si pengusik malam. Tapi satu pertanyaanku yang belum kutemui jawabannya. Satu pertanyaan kenapa ia berteman dan bermain dengan malam, dan hanya malam yang menjadi sahabat terbaiknya. Sampai jawabannya kutemukan di suatu malam yang tak seperti malam-malam biasanya.

Malam itu aku terbangun, lagi-lagi karena dia. Tapi kali ini isak tangisnya yang bersahutan dengan celotehan burung-burung yang menghuni pohon kelapa terdengar sangat menyedihkan. Apakah burung-burung itu sedang mencibirnya karena ia selalu saja menjadi pengusik malam  yang tenang? entahlah. Tapi malam itu aku sangat ingin menemuinya. Baru kali ini kulihat pengusik itu terlihat begitu menyedihkan.

Dan di sanalah kutemukan jawabannya. Kucoba menghampiri kawan yang lebih muda tiga tahun dariku itu. Ia menyebutku ’lelaki cengeng‘, sindiran nakal yang sering ia lontarkan untuk mengejekku. Karena aku satu-satunya lelaki yang paling sering ia lihat menangis hanya karena hal-hal sepele. Tak jarang sindirannya itu membuatku jengkel. Tapi malam ini, di bawah pohon kelapa tempatnya duduk, aku mulai berbincang dengannya, mencoba memahaminya.

Kutanyakan semua pertanyaan tentang keanehannya yang selama ini mengganggu pikiranku. Dimulai dari berendam di air laut malam yang dingin, dan kebiasaannya yang selalu menangis di bawah pohon kelapa pagar kami. Dan kau tahu jawabannya apa?

”Semuanya demi ibuku.“

Sebaris kalimat sensitif itu mengundang air mata cengengku. Suasana haru-biru pun menemaniku mendengar kelanjutan jawaban darinya. Berendam di air laut malam membuat kantuknya hilang dan mengobat luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. Menghilangkan rasa kantuk dan meredam sedikit rasa sakit, membantunya lebih khusuk berdoa kepada Tuhan dalam salatnya di antara malam dan subuh. Demi kebaikan ibunya, hanya demi ibunya. Tangisannya di bawah pohon kelapa itu karena menahan perih luka dari ibunya yang acap kali mengamuk tanpa alasan yang jelas. begitu jelasnya padaku. 

Mulai malam itu aku menjadi teman berbagi keluh kesahnya di setiap malam, di bawah rindangnya pohon kelapa.

Dan seiring berjalannya waktu bocah itu beranjak remaja. Saat usianya lima belas tahun ibunya meninggal. Dan sepeninggal ibunya, tak pernah lagi kulihat aktivitas malam yang sering ia lakukan. Sampai suatu saat kutanyakan padanya, ”Kenapa kau berhenti bermain? Apa kau sudah tidak mengantuk lagi?“

Ia tersenyum, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa sedih karena kehilangan ibunya. Dengan suara lemah tertahan, ia memberikan jawabannya. ”Permainan itu membuang banyak waktuku. Air wudu saja sudah cukup membuatku terjaga, dan akan lebih banyak waktu untukku berdoa pada Tuhan, agar Dia menyayangi Ibuku.“

Setiap malam kubuka jendela hanya untuk melihat laut. Laut yang membuatku mengingat semua kata tentang pahit getir hidupnya yang selalu ia bagikan padaku, tentunya setelah ia usai bermain dengan sahabat malamnya. Dan kisah hidupnya membuatku selalu bersyukur. Kisah hidup luar biasa dari pengusik malamku. •

Devi Eka Doplang RT 005/RW 002 No 19 Purworejo

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Devi Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 8 Januari 2017

0 Response to "Di Balik Punggung Malam"