Dinding Kalbu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Dinding Kalbu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:45 Rating: 4,5

Dinding Kalbu

ENAM bulan berlalu ketika Tarno mengerjakan proyek pembangunan di tengah perumahan kumuh. Pria paruh baya itu tak menyangka tugas tersebut kini terasa sulit. Tak masuk akal. Sebenarnya Tarno hanya disuruh membuat tembok sederhana milik seorang pensiunan jenderal; yang sekiranya kini menduduki kursi menteri. Tarno memang mendapatkan upah besar. Lebih dari cukup bila dibandingkan dengan proyek-proyek sebelumnya. Tetapi setelah hampir setengah tahun berlalu: proyek pembangunan pagar belum juga selesai. 

Kepala berdenyut. Mungkin ingin memuntahkan kepundan beban pikiran. Sikap ramah Paryo—nama jenderal dan politisi itu—kini sudah berubah menjadi ancaman. Tarno sadar kekuasaan Paryo dapat melakukan apa saja; termasuk merenggut kebahagiaannya. Demikian dengan keluarganya. Tarno masih jelas menangkap kelebat ingatan ketika ia ditodong pistol oleh anak buah Jenderal Paryo. Tubuh kurus Tarno bergetar mendengar keselamatan diri dan keluarga dapat melayangan karena gagal membangun tembok. 

“Jika dalam waktu tiga bulan ke depan tembok yang kau bangun belum selesai!” Sambil moncong senapan menuding ke Tarno. “Jangan salahkan aku bila istri dan anak-anakmu kehilangan kebahagiannya!”

“Jangan...,” Tarno memohon. 

“Sudah miliyaran aku habiskan uang untuk membanguan tembok itu!” 

“Tapi, Pak...”

“Aku tak mau tahu. Semua tembok yang kau buat tak ada gunannya. Tembok itu tidak bisa menyembunyikanku. Tembok itu tampak transparan dan terlihat dari dalam atau luar.”

Tarno tak habis pikir tentang tembok yang dibuatnya. Apa yang dimaksud dengan tembok transparan, Tarno tak paham. Bukankah tembok yang dibuatnya kokoh dan tebal. Tidak segan-segan, Tarno menggunakan matrial terbaik. Bahkan seandainya tembok itu terkena bom, mungkin tidak akan runtuh. Tetapi apa yang kurang dengan tembok yang dibuatanya? Mengapa Jenderal Paryo menyebut tembok itu tak kokoh dan transparan? Berdenyut otak Tarno. 

***
Keselamatan dan karier Tarno sebagai arsitektur dipertaruhkan pada proyek pembanguan ini. Empat tahun menyelesaikan gelar sarjana arsitektur di universitas negeri terbaik Indonesia; dua tahun menyelesaikan gelar S2 di Jerman; dua tahun menyelesaikan gelar dokteral bidang arsitek di Amerika; ternyata ilmu yang Tarno dapat belum memadahi. Hanya sebatas membangun tembok melingkari; menutupi sebuah rumah mentereng di pinggir kota, ia tak sanggup. Kini keluarganya yang tenang harus ikut menanggung beban. 

Tarno tak bisa membiarkannya terjadi. Kebahagian yang telah ia bangun selama belasan tahun dengan keluarga, dan karier baik sebagai arsitek harus runtuh mejadi puing karena persepsi tak masuk akal seorang jenderal; yang acap mengatakan tembok dibuatnya masih transparan. Benda padat melingkar mengelilingi rumah tersebut dianggap tak ada gunanya. Orang luar rumah masih dapat melihat keadaan di dalam, atau sebaliknya. Fungsi pagar untuk menutupi seakan tak berguna. Namun sudah tiga puluh kali Tarno membongkar; membangun ulang pagar. Hasilnya sama. Hari ini dengan cemas Tarno berharap pagar yang dibuatnya sudah sesuai. Tembok itu ia lapisi baja setebal 5 cm. Syahdan, ia tinggikan sekitar 1 meter. Ketika tembok mengering, jenderal bertangan besi pulang dari dinasnya. 

Jendral menyentak. “Sebenarnya kau bisa bekerja tidak! Aku masih dapat melihat keadaan di luar!”

“Tapi, Pak?”

“Percuma kau sekolah tinggi-tinggi. Hanya merancang pagar tidak bisa! Aku masih melihat keadan luar. Betul demikian, bukan?”

Jenderal itu mengerling ke arah kawan sesama pejabat. Pria lanjut itu seolah memastikan apa yang dilihatnya sama seperti yang dilihat orang lain. Kawannya mengangguk. Tegas. Serta memandang Tarno bengis. Sang jendral memberi isyarat kepada para ajudan dengan menggerak jari ke leher: mengiris. Tergeregap Tarno mengigil. Para ajudan mengongkang senjata. Tetapi maut yang sudah di depan mata gagal menjemput karena kemuruhan pacar simpanan sang jenderal. Wanita itu tahu Tarno ketakutan. Sebelum moncong-moncong pistol mencium kening Tarno, wanita simpanan itu membujuk sang jenderal. 

“Beruntung kau, bodoh! Kekasihku masih mengampunimu!” Tegur jenderal. “Namun, bila pada pembangunan berikutnya kau masih belum selesai menutupi rumah ini, dan menghilangkan pemadangan buruk bangunan-bangunan miskin di luar: matilah kau!”

Memang selain menutupi rumah dari pandang luar, sang jenderal sudah lama muak dengan pemandangan kumuh di luar. Dua biji matanya tak sudi mengerling ke belantara orang miskin. Mual jenderal melihat anak-anak dengan perut membusung kelaparan; mata-mata kuning kurang gizi; pakaian compang si miskin di luar tembok rumahnya. Sang Jendral tidak ingin suasan rumah yang indah terganggung.  Bahkan belum lama ini Tarno sempat mendengar kalau sang jendral akan menggusur perumahan kumuh itu. Pria tua itu ingin membanguan pusat perbelanjaan dan hotel. 

Hati Tarno teriris mendengar itu. Kekuasan—pikir Tarno—selalu mengalahkan kehendak. Tapi Tarno tidak ingin ikut campur. Tarno hanya ingin menjaga karier dan keselamatan keluarganya. Tidak lebih. Karena acap terselip sepotong pertanyaan pada hati Tarno: Apakah pagar ini sengaja diciptakan untuk menyembunyikan kebusukan sang jenderal? Tarno sadar dengan hal itu. Karena enam bulan lebih bekerja dengan sang jenderal, ia tahu segalanya. Hampir semua keburukan yang disimpan oleh sang jenderal. Korupsi, wanita-wanita simpanan, minuman alkohol, dan pesta-pesta meriah yang menggunakan uang rakyat. Sekali lagi Tarno tidak berani membongkar kebusukan itu. 

***
Tiga bulan berikutnya, Tarno semakin giat bekerja; gigih tak menyerah membangun pagar yang sesuai kehendak jenderal. Pagar semakin tebal. Dan sang jenderal masih saja menganggap orang-orang luar dapat melihat segala yang dilakukannya. Semakin bingung Tarno. Ia menghubungi seluruh kawannya di luar negeri. Begitu melas Tarno memohon agar kawan-kawannya membantu. Begitulah. Ketika jenderal dinas keluar kota, salah satu kawannya datang. Kawannya itu melihat tembok megah rancangan Tarno. Gelisah kawan itu mengamati. Sekali waktu ia lempar bola matanya ke arah Tarno dan pagar tersebut. 

“Kau pasti sakit, kawan,” desis sahabatnya.

“Maksudmu?” Tarno malah bingung. “Bagaimana?”

“Begitu megah. Kokoh. Elegan,” lanjut kawannya. 

“Bukan itu maksudku,” Tarno termenung. “Apakah pagar ini terlihat transparan?”

Kawan itu malah kebingungan. Kemudian ia menjelaskan tak ada yang dapat melihat segala sesuatu dari balik tembok pagar itu. Apabila ada yang ingin meruntuhkannya dengan bom pun harus beberapa kali. Gempa tidak cukup kuat untuk menghancurkannya. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan itu, Tarno bingung. Karena belum lama ini jenderal memberi sinyal, kalau ia masih dapat melihat keadaan di luar. Begitu juga sebaliknya. Maka setelah frustasi melakukan segalanya secara normal, Tarno mendatangkan dukun. Ia menyuruh dukun itu meruat pagar agar para hantu yang menjaga tempat itu pergi. Dan selama enam hari sang dukun meruat. Tetapi sang jenderal masih mengatakan: Pagar itu transparan dan orang-orang masih dapat melihat segala kegiatannya dari luar. Ancaman tak luput ditinggalkan kepada Tarno. Pun sebelum jenderal pergi, para ajudan mengahajar Tarno babak-belur. 

***
Remuk redam tubuh Tarno. Demam datang berkunjung. Ia pasrah menyerahkan segala pekerjaannya kepada para tukang. Tarno hanya bisa menggeliat furustasi di atas ranjang. Semua yang ia miliki hancur. Karier yang ia tata remuk karena sebuah pagar. Dan yang paling penting, keselamatan keluarganya. Karena tak mau melihat anak serta istrinya sengsara, ia menyuruh mereka mengungsi. Tarno tahu ancaman sang jenderal tidak main-main. Pun tepat tengah malam ketika ia menahan pedih, sebuah mobil terparkir. Tarno lekas mengenal mobil itu. Politikus itu datang tanpa ajudan yang biasa menemani; melenggang masuk tanpa mengetuk pintu. Tarno lekas bersujud, memohon, dan mengembik meminta belas kasih kepadanya. Tetapi perangai kasar jenderal tak tampak. Lembut ia mengusap rambut Tarno. 

“Ampuni saya! Saya tidak dapat memabangun pagar sesuai kehendak.”

“Sudahlah lupakan,” suara sang Jenderal bersahabat.

Tarno tercenung. “Maksudnya?”

“Sudah lupakan. Sampaikan kapan pun kau tak bisa membuat pagar itu. Pagar itu berbeda dari pagar pada umumnya,” ramah sang jendral berujar. Tarno bingung. “Sebenarnya pagar yang ingin aku buat adalah pagar nurani. Pagar yang dapat menutupi segala keburukanku dari dunia. Pagar spiritual yang dapat menyamarkan kekuranganku. Tetapi aku manusia. Demikian juga kau. Dan kita memang tidak bisa melakukannya.”

Pikiran Tarno bingung teraduk rata dengan dingin malam. Mereka saling tatap. Dan sang jendral pergi begitu saja.

***
Perangai jenderal yang ramah kembali berubah. Marah-marah sepanjang hari. Ia masih merasa kalau pagar buatan Tarno trasparan. Tarno kembali dihadapkan pada kebingungan. Tetapi entah hantu apa yang membisikinya hingga akhirnya Tarno ulangi kalimat yang diucapkan sang jenderal beberapa hari lalu. 

“Bukankah bapak kemarin bilang: Tak ada gunanya pagar itu dibuat,” mengigil Tarno. “Hati dan kenyataan tak bisa dipanggari. Jadi tak ada guannya melakukan semua ini!”

“Kemarin?” Bingung sang jendral.

“Ya, kenyataan busuk tak bisa ditutup-tutupi. Sebuah nurani tak bisa dipagari.”

Geram sang jenderal mendengar itu. Ia masuk ke dalam mengambil senapan. Dan para ajudan menangkapnya. Tarno pun tak sadar selama sebulan sang jendral pergi ke luar negeri menumui pacar-pacaranya. Pistol dikokang menghadap ke arah kening. Tarno memucat. (*)

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga  besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 8 Januari 2017

0 Response to "Dinding Kalbu"