Dua Sejoli - Sebotol Bir Milik Hujan - Lelaki Ungu - Gua untuk Sembunyi - Lepas - Sisa Vakansi - Perjalanan dan Nona | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Sejoli - Sebotol Bir Milik Hujan - Lelaki Ungu - Gua untuk Sembunyi - Lepas - Sisa Vakansi - Perjalanan dan Nona Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:47 Rating: 4,5

Dua Sejoli - Sebotol Bir Milik Hujan - Lelaki Ungu - Gua untuk Sembunyi - Lepas - Sisa Vakansi - Perjalanan dan Nona

Dua Sejoli

lelaki gila ini mengambil pisau
dari selipan telinganya,
untuk disulut seperti bara rokok
yang memabukkan kenangan.
perempuan waras itu menusuk
puntung menyala untuk ditancap
pada sukma. sampai sembuh luka-luka,
dan moksa.

Sebotol Bir Milik Hujan

Ada rahasia mama yang lupa diceritakan
padaku. mama punya boneka kanguru
lucu. Dalam kantong kanguru ada sebotol bau.
Di hari raya, kuhirup dengan bahagia, tiba-tiba
Mama datang dengan muka berdosa.
Direbutnya botol bau. Ditenggak di depanku,
matanya pucat dan beku tanpa cal.
Diguyur rintik tanpa basah.
Pipi mamam berbadai dan resah.
”jangan, sekali-kali membukanya, sebelum kau de-
wasa
Ini bir milik hujan.“


Lelaki Ungu

di senja hari, muncul lelaki
membawa buket bunga ungu.
diletakkannya di depan pintu
rumah kekasihnya yang baru.
pintu terbuka, matahari menyepi
degup dan sunyi, harum air suci.

Gua untuk Sembunyi

Lubangi kanvasmu. Aku ingin tidur bersemayam
Dalam seratnya yang keras dan kuat.
Katamu, aku tak bisa tidur di situ
Nanti mataku jadi berminyak, dan tak lagi jujur pa-
Damu.

Lepas

: mbak brita

Kuncir ekor kuda akan dilepas
Saat seorang gadis beranjak dewasa.
Tak ada lagi metafora yang dipercaya.
Rantau yang jauh sekalipun akan mengenali kita
Sebagai penghuni palung ibunda.
Jarak akan jadi niscaya, bahkan dalam pertemuan
Yang paling baka.
Tapi rumah akan tetap ada. Menyertai
Peta buta para pengembara.

Sisa Vakansi

Aku tidak ingin mengaku
Bahwa kabutku masih menyelimut pada lawu
Merapi dan semeru,
Dan dengan ransel ini aku hanya mau menutup
Sebagian punggungku yang masih digambari san-
Daranmu

Perjalanan dan Nona

: atik

Kayuh saja detik dan kunyah,
di atasmu bunga angsana berguguran
memberkati doa dan tangis panjang,
injak tanah dan hirupi air
sebelum tanda denyut berakhir,
nona berangkat ke atas romansa
dibekali suci dan elegi,
aku tidak menininginkan kau jadi apa
cuma berjalan senantiasa.

Air

: AZN

Dan dalam udara
Aku menemui suara
Engkau dan ramaiku
Tak bisa sunyi

elia

: at Kendari

mengapa kau menyeberang
sampai ke tanah kuning
nasi kuning, sinonggi hening.
Wajahmu ada di pelupuk dosa.
Aku tinggal di depan
Rona. Halo, Jakarta, aku beralis manja,
teralis paling sengsara...
kami tersungging di pinggir kata.
Kau bukan raja.



Bunga Hening Maulidina, lahir 7 Agustus 1995. Belajar di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Aktif di Komunitas Diskusi Kecil.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bunga Hening Maulidina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi 1 Januari 2017

0 Response to "Dua Sejoli - Sebotol Bir Milik Hujan - Lelaki Ungu - Gua untuk Sembunyi - Lepas - Sisa Vakansi - Perjalanan dan Nona"