Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan? - Senja yang Memecah Rindu - Di Atas Runcing Karang - Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada - Hanya Suara, Bergema di Kejauhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan? - Senja yang Memecah Rindu - Di Atas Runcing Karang - Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada - Hanya Suara, Bergema di Kejauhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:04 Rating: 4,5

Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan? - Senja yang Memecah Rindu - Di Atas Runcing Karang - Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada - Hanya Suara, Bergema di Kejauhan

Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan?

bila pagi hari setiap kelopak mawar, anggrek,
wijayakusuma
dan melati yang gugur membisikkan kata-kata perih
lalu dengung gumam, lalu desah panjang, duka
seperti apa
yang bisa kaubayangkan? kiranya belumlah sebera-
pa senyapmu
belum seberapa samar-gelap lengang malammu
dengar dan pahami suara kelopak bunga-bunga itu
: ‘’telah kuberikan wangi dan keindahan pada
semesta
padamu jua, dan mekar bunga hanya menunggu
gugur
dan aku tahu dadamu selalu berdesir...’’, ciah!

Cirebah, 01 Nopember 2016

Senja yang Memecah Rindu

bila kautanyakan senja serupa apa yang selalu
memecah rindu?
senja serupa dirimu yang penuh denyar pelangi
kadang jingga temaram kadang kuning keemasan
kadang berkilauan merah-ungu serupa rindumu,
ciah!

Cirebah, 31 Oktober 2016

Di Atas Runcing Karang

di atas runcing karang ini
terlalu sulit untuk melupakanmu
sedang ombak terus berdebur
dengan seribu kenangan
dan— nyaris setiap detak
kupeluk erat bayangmu; ciah!

Cirebah, 25 Oktober 2016

Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada

ada sebilah sembilu tumbuh di antara rongga dada
berkali-kali seperti mengiris daging dan tulang dan
jantung

‘’apa ini yang dinamakan petaka?’’

gemuruh laut riuh, perahu dilambung gelombang

seorang berbaju laut terhuyung dari palka ke buritan
seraya memegang dada, ìampun ya Gusti, perih
ini—
matahari pecah di runcing-runcing karang!

dan seorang berbaju laut itu tersungkur
puluhan camar terbang mengitari perahunya

ribuan kisah masa lalunya tumpah
tergenang dalam air mata.

Cirebah, 23 September 2016

Hanya Suara, Bergema di Kejauhan

hanya suaramu, hanya suaramu— bergema di
kejauhan

‘’jangan kaupeluk karang lautku
jangan kaumasuki ruang kecil hatiku’’

dan lihatlah angin turun dari lembah
bersamaan kupu-kupu yang terbang merendah.

Cirebah, 29 Agustus 2016


Eddy Pranata PNP di Cirebah, Banyumas, Jawa Tengah. Ia lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya Improvisasi Sunyi (1997), Sajak- sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015) dan lainnya. Puisinya juga pernah dimuat di sejumlah media lokal mau pun nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 15 Januari 2017

0 Response to "Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan? - Senja yang Memecah Rindu - Di Atas Runcing Karang - Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada - Hanya Suara, Bergema di Kejauhan"