Epikuris - Montase Kenangan - Paradiso - Perihal Angin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Epikuris - Montase Kenangan - Paradiso - Perihal Angin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Epikuris - Montase Kenangan - Paradiso - Perihal Angin

Epikuris

LURUHKAN kerai pintu dan bergegaslah masuk 
ke dalam rohani pujaan hati sudah lama menanti,
jangan buang waktu lagi kiraikan renik debu jalan 
dan mari bercengkrama bersama mahasafi

Tak perlu terusik oleh kasak-kusuk, enyahkan semua syak-wasangka
apa yang tertutup telah terbuka tak ada lagi rahasia
ingatlah asyik masyuk ini bukan masokhis, tapi makam sukma

Setelah semua tenggelam, ketam kalbu timbul berseri dalam diri
tariklah misai ke angkasa agar mata etrjaga sampai pagi
lira memecah sunyi hingga roh terhanyut ke langit tinggi 

Yogyakarta, 19 September 2016

Montase Kenangan

BEGITU banyak renik bayang beterbangan di kepala tiap waktu
montase terus berkeliaran dalma satu layar ingatan tanpa jeda
sungguhpun desir mengalir manis, namun tak jarang menyatire getir

Perihalmu tetap sentosa di relung jiwa
meski kucoba endapkan anomali rasa membuatku gila-berhasrat,
tapi tak bisa apa-apa asyik masyuk mencintaimu, acap kali terkenang,
malu serta diam

Lagu cinta berbisik liris di antara letup dalam dada
jasad ini adalah ruang kedap suara
atas ledak kerinduan
meski matahari dan bulan timbul tenggelam, memoar tiada tanggal

Yogyakarta, 9 September 2016

Paradiso

KAU bertanya, "Mengapa kebahagiaan ini tercerabut dari dalam dada?"
sebelum lahir jawaban, gelak pecah di belakangmu seraya mengejek
mari berpisah sejenak agar taman ini ditumbuhi bunga abadi

Tidakkah kau tahu, tanah akan kuat bila dibakar api?
namun tidak untuk kayu, pastilah jadi lapuk serta berjelaga bila diibaratkan,
cinta adalah tanah, sedangkan syahwat adalah kayu

Bagaimanapun mata ini dipejamkan,
laksa wangi taman takkan berdusta
tanpa pengetahuan, bukankah segala apa pun hanya kekosongan belaka?
abaikan gelak tawa di belakangmu!
Bukankah kebahagiaan telah tiba?

Yogyakarta, 24 Juli 2016

Perihal Angin

EMBUS engin datang menerbangkan segala yang hidup dan mati
dan isyarat tersembunyi di dalam laju ke segala penjuru
celakalah bagi jiwa lalai!
Kapan saja petaka pasti tiba

Janganlah kau menaruh kepala jauh lebih tinggi dari hati
penglihatan yang tak awas akan mudah tersungkur oleh batu
bila akal telah mati dalam jiwa, adakah daya guna?

Embus angin datang menerbangkan segala yang hidup dan mati
sambutlah kabar gembira, kekasih telah datang bawa setangkup rindu masuklah ke makam para pecinta, di sana tempat sukacita

Yogyakarta, 28 Februari 2016


Anam Khoirul Anam. Novelis sekaligus penyair kelahiran Ngawi, 26 Juni ini sangat gemar membuat puisi-puisi bermadzabkan puitik-romantik. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media massa lokal ataupun nasional. Saat ini bergiat dan mengasuh komunitas literasi: Anam Khoirul Anam Reader (AKAR).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anam Khoirul Anam
[2] Pernah etrsiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 15 Januari 2017






0 Response to "Epikuris - Montase Kenangan - Paradiso - Perihal Angin"