Ibu Mertua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ibu Mertua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:04 Rating: 4,5

Ibu Mertua

TERNYATA benar apa yang pernah diperbincangkan teman-temanku yang sudah menikah. Tak enak rasanya jika setelah menikah masih ndompleng, tinggal serumah dengan ibu mertua. Terlebih, perkawinanku dengan Mas Beni sedari awal kurang mendapat restu ibunya.

Usut punya usut, ternyata akar masalahnya karena dulu Mas Beni pernah menolak dijodohkan dengan gadis pilihan ibunya dan lebih memilih aku. Secara tak sengaja, aku pernah mendengar obrolan beliau ketika sedang berkumpul bersama tetangga. Dan yang membikin kupingku seperti dipanggang di atas bara ketika beliau berkoar, bahwa aku adalah istri yang tak becus mengurus rumah tangga.

Untung, beliau adalah ibu mertuaku. Jika bukan, pasti aku tak kuasa menahan emosi dan bakal melabrak beliau yang telah dengan begitu keji menebar fitnah. Sekuat tenaga kucoba redam gejolak emosi dalam dada ini dan berusaha tak memasukkan setiap perkataan menyakitkan beliau ke dalam relung kalbu. Aku berikrar akan mencuri hati ibu mertuaku. Itu semua kulakukan demi Mas Beni, lelaki yang benar-benar aku cintai.

***
Siang itu, sepulang belanja di mini market, aku melihat pintu depan terkuak lebar. Rupanya, ibu mertuaku sedang mengepel lantai ruang tamu. Kata suamiku, ibu memang anti pembantu. Dulu, semasa Mas Beni masih remaja, ibu pernah mempekerjakan seorang pembantu. Tapi belum ada seminggu, ibu langsung memecat dengan alasan pekerjaan si pembantu tak becus. Katanya, nyuci piring dan gelas masih bau sabun colek, masak keasinan, ngepel tak bersih, menata ruangan tak rapi, bla-bla-bla. Itulah sederet alasan yang membuat ibu tak lagi memercayai kehadiran pembantu. 

Kuletakkan tas kresek berisi belanjaan di bangku panjang di beranda rumah. Dengan membaca basmalah dan dada sedikit berdebar, kuhampiri beliau. Aku pikir, mungkin ini momen tepat untuk menunjukkan bahwa aku adalah menantu yang baik.

“Bu, biar Siti saja yang ngepel, ya,” dengan nada pelan, seraya tersenyum.

“Nggak usah,” balasnya ketus, melirik sinis sekilas.

“Bu, biar Siti saja yang lanjutin, ya,” masih berusaha tersenyum dan menjulur tangan hendak meraih kayu pengepel lantai di genggaman tangannya. Tapi beliau malah berkelit. Dan tanpa kuduga sama sekali, tiba-tiba beliau terpeleset. Sungguh, aku telah berusaha meraih tubuh sepuhnya. Tapi … terlambat! Beliau terhuyung dan tersungkur di lantai basah. Pada waktu nyaris beriringan, tiba-tiba suamiku muncul.

“Beni! Istrimu ini, lo! Nggak punya etika sama sekali. Kamu lihat sendiri, kan, orang tua lagi kerja, bukannya dibantuin!” ujar ibu mertuaku dengan nada ketus seraya berusaha bangkit dari lantai. Aku tersentak bukan main mendengar kalimat yang meluncur deras dari bibir beliau barusan. Duh Gusti, apa maksud beliau mengarang cerita palsu seperti itu?

“Aduuh!!” belum lagi berdiri sempurna, ibu mertuaku terhuyung. Aku melihat Mas Beni telah berusaha merengkuh tubuh ibunya, tapi terlambat. Beliau jatuh tersungkur untuk kedua kali di lantai basah. 

“Kami ini gimana sih, Ti. Ibu jatuh malah diam saja kayak patung,” tegur Mas Beni kepadaku.

Hei! Kenapa Mas Beni malah ikut-ikutan nyalahin aku? Selama ini, tak pernah sekali pun ia bicara kasar padaku. Lantas, dengan cekatan ia meraih dan memapah tubuh ibu ke kamar. Sementara aku masih bergeming dengan kepala yang mendadak ingin meledak.

***
“Diminum dulu tehnya, Bu,” ucapku lirih, menyodorkan cangkir berisi teh hangat pada ibu mertuaku yang tengah berbaring di ranjang kamarnya. Tapi beliau bergeming, melirikku sekilas dengan sorot mata tak suka. Duh Gusti, apa iya, kehadiranku di rumah ini benar-benar tak diinginkan oleh beliau?

Saat kutatap wajah Mas Beni, dia pun sedang menatapku dengan sorot aneh. Aku jadi merasa serbasalah. Kikuk. Sungguh, aku bingung harus berkata apa lagi untuk meyakinkan suamiku bahwa aku tak bersalah. Merasa tak kuat berada pada situasi yang sangat tak mengenakkan, buru-buru kukeluar kamar. Dalam hitungan detik, tetes-tetes bening langsung berlarian merenangi pipiku.

***
Malam ini, sikap suamiku terlihat agak dingin. Mungkin dia masih marah dengan kejadian tadi siang. Kulihat dia sangat khusyuk membaca tabloid wanita langgananku sembari tiduran di atas ranjang dengan posisi kepala diganjal dua buah bantal bermotif bunga matahari.

“Mas, aku minta maaf atas kejadian tadi siang,” berat kuucapkan kalimat ini, karena aku merasa tak berbuat salah. Tapi, kukuatkan segenap hati demi menyirnakan kesalahpahaman yang menggayuti benaknya. 

“Udah kumaafin, kok,” ujarnya pelan. Lantas tersenyum dan menatapku dengan lembut. Terima kasih, ya Rabb. Akhirnya suamiku sudi memercayaiku. Bisik hatiku seraya menghela napas lega.

***
Suara nyaring alarm ponsel yang sengaja kutaruh di dekat telinga, sontak mengagetkan lelapku. Buru-buru kumatikan, takut sampai membangunkan Mas Beni yang sedang pulas. Ya, aku memang sengaja men-sett alarm jam 2 lebih 30 menit. Pagi ini, seperti rencana semalam, aku akan melanjutkan misiku: sedikit demi sedikit mencuri hati ibu mertuaku. Aku ingin ketika beliau terbangun nanti, di meja makan telah tersaji sarapan pagi. 

Setelah beberapa detik memastikan bahwa suamiku masih terlelap, bersijingkat kaki kuayun langkah menuju dapur. Dengan penuh kehati-hatian, kulakukan pekerjaan yang sejak jam 4 pagi biasa dilakukan oleh ibu kandung suamiku.

Aku memulainya dengan menggodog air. Sembari menunggu air didih, kucuci beras untuk ditanak di magic com. Setelah itu, aku menggoreng tempe dan telor mata sapi. Kalau sekadar masak begituan, tak terlalu sulit buatku. Aku biasa melakukannya dengan Maya, sahabat karibku, ketika masih indekos pas kuliah dulu. Untuk sayurnya, biarlah ibu mertuaku nanti yang menyiapkan. Aku ingin pelan-pelan saja menjalankan misi ini agar terkesan alami.

Kulirik jam dinding di tembok dapur. Pukul 4 kurang 10 menit. Puji syukur, semua beres sesuai rencana. Selanjutnya, aku bergegas melangkah ke kamar mandi. Aku ingin berwudhu, bertahajud, sekalian memanjat doa semoga hubunganku dengan suami serta ibu kandungnya bisa rukun. Harmonis. Tak mudah goyah dihantam badai masalah.

***
“Ya ampuun, Sitii! Nggoreng telor kok asin kayak begini!” teriak ibu mertuaku ketika aku belum selesai salam pertama tahajudku. Setelah menyempurnakan salam kedua, tanpa sempat mencopot mukena, tergopoh aku menuju ruang dapur.

“Ma … maafin Siti, Bu, kalau masakan Siti belum enak seperti masakan Ibu,” gugup aku menata kata begitu berhadap dengan beliau.

“Lain kali nggak usah sok cari perhatian kalau belum bisa masak!” kata-kata sinis yang meluncur dari bibir beliau sungguh membuat hatiku terpilin. Perih bukan main. Ya, Allah, hamba mohon, tolong beri hamba sejuta kesabaran menghadapi ibu mertuaku, bisik batinku.

“Ada apa lagi sih, Bu!” tiba-tiba Mas Beni telah berada di dekatku.

“Tuh, tanya aja sendiri sama istrimu!” ibu mertuaku melempar tatapan sinis ke arahku.

Saat aku menoleh ke arah Mas Beni, gurat kecewa meliputi wajah putihnya yang masih nampak kusut. Ah, kalau bukan karena rasa cintaku yang begitu besar padanya, mungkin aku sudah pulang ke rumah orangtuaku. Sungguh, semakin lama, aku semakin tak tahan hidup bersama ibu mertua yang tak pernah menginginkan kehadiranku di rumahnya.

***
Hingga pada suatu malam, aku mendengar suara rintihan. Kebetulan malam itu Mas Beni sedang lembur di rumah sakit, tempat ia bekerja sebagai dokter ahli kandungan.

Hei, bukankah itu suara rintihan ibu mertuaku? Bukankah yang bermukim di rumah ini hanya aku, Mas Beni, dan ibunya? Pak Karim, suami beliau telah meninggal dunia pada lima tahun silam setelah sebelumnya terserang stroke. Gegas aku menghambur menuju kamarnya. Dari sebalik pintu, erangan ibu mertuaku terdengar semakin jelas.

“Bu, Ibu …” dengan ragu aku memanggil beliau dari sebalik pintu.

Beliau tak menyahut. Kuraih gagang pintu. Mencoba memberanikan diri membukanya pelan. Untunglah, pintu tak dikunci.

“Bu … Ii … ibu sakit?” tergopoh aku menghampiri beliau yang terlihat gigil kedinginan.
“Ti, telepon Beni,” pintanya lirih.

“I … iya, Bu,” gugup, aku langsung berlari menuju kamarku dan menyambar ponsel yang tergeletak di atas ranjang.

“Mas, Ii … ibu demam, panasnya tinggi,” terangku panik ketika telepon telah tersambung.

“Tenang, Ti, aku segera pulang. Tolong kasih Ibu obat penurun panas dulu, ya, ada di laci obat!” suara Mas Beni juga sama paniknya denganku.

***
Untung, demam ibu mertuaku berangsur turun setelah beberapa jam beliau minum obat yang dianjurkan suamiku. Tak hentinya aku memanjatkan puji syukur dalam hati.

“Teh manisnya diminum lagi ya, Bu,” tawarku untuk memecah kebisuan. Beliau bergeming tanpa ekspresi. Tapi, alhamdulillah, beliau tak menolak ketika pelan-pelan kusuapi teh manis dengan sendok. Meski tak banyak bicara saat menunggu, tapi aku berharap semoga ini menjadi awal baik untuk lebih dekat dengannya.

“Makasih, Ti,” ucap ibu lirih. Ya, Tuhan, nyaris aku tak yakin dengan ucapan beliau barusan. Ada kesejukan yang mengaliri rongga dada.

Ting Tong! Ting Tong! 

Itu pasti Mas Beni, tebak yakin batinku. Aku beranjak dan memohon izin pada ibu untuk membuka pintu.

“Gimana kondisi Ibu, Ti,” raut khawatir meremang jelas di wajah Mas Beni saat pintu telah terkuak.
“Alhamdulillah sudah mendingan, Mas,” sambil mengekor langkah gesanya menuju kamar ibu.

***
Pagi hari, ketika aku ke kamar mandi, betapa kagetnya aku melihat ibu mertuaku telah berada di dapur sedang mencuci piring.

“Bu, sebaiknya Ibu istirahat saja, ya? Sini, biar Siti yang lanjutin,” tawarku hati-hati, tersenyum, seraya menghampiri beliau dengan perasaan khawatir. Ya, jujur saja, aku sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan beliau semalam.

“Nggak usah, Ti!” ketus. Benar-benar ketus. Sungguh berbeda sekali dengan kata-kata beliau semalam yang kukira sudah mulai mencair. O ternyata dugaku keliru.

Duh Gusti, sampai kapan aku mampu bertahan tinggal serumah dengan ibu mertua yang masih belum legawa menerima kehadiran menantunya ini? (N)***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 379/XXVII 28 Juli – 3 Agustus 2014 

0 Response to "Ibu Mertua"