Imlek | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Imlek Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:23 Rating: 4,5

Imlek

SEPERTI biasa, setiap Imlek tiba, ayah selalu berkata, ”Indonesia negara yang istimewa, di dalamnya penuh keberagaman warna budaya dan kesenian. Semua orang bisa diterima di sini. Tapi jangan lupa jadilah warga negara yang baik.” Lalu diakhiri dengan pertanyaan yang tak terkait perkataan sebelumnya, ”Kamu tahu di negara-negara barat, punya empat musim, cuma Indonesia yang punya empat tahun baru. Apa saja?” 

Pertanyaan yang sudah sering aku dengar semenjak umur enam tahun dan kutahu pula jawabannya. Tapi aku memilih menggelengkan kepala. Ayah tersenyum senang. 

”Tahun Baru Islam, Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Saka dan Tahun Baru China.” Aku mengangguk pelan. 

”Nanti setelah pulang sembahyang, mau kemana?” tanya ayah tak seperti biasanya. Aku dibuatnya heran. 

”Langsung pulang ke rumah. Tidur atau main game.” Ayah tampak tak senang mendengarnya. 

”Coba pergilah berbaur. Jangan hanya keluar rumah saat Imlek atau ke kantor saja,” kata ayah membuatku tak mau duduk berlama-lama di depan meja makan. Tak kujawab pertanyaan ayah. Lalu pergi ke Klenteng sendirian. Mendahului ayah dan ibu. 

***
Pulang sembahyang, aku sudah tak memikirkan omongan ayah tadi pagi soal berbaur itu. Tergantikan keasyikan membayangkan enaknya menyantap masakan daging buatan ibu. Air liur ini tak sengaja menetes. Tapi niat itu harus tertunda sementara. 

”Dagingnya belum beli.” Ibu memberitahuku. Bayang bayang enaknya menyantap masakan daging langsung lenyap di ingatanku. Berganti kekesalan di hati. 

”Kok belum beli sih? Kenapa juga tak beli dari tadi?” Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui kepalaku. Membuatku pusing. Lalu kuputuskan tidur saja di kamar. 

”Wan, bangun. Mau belikan daging?” panggil ayah membangunkanku. Kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul empat sore, 

”Apa masih buka pasarnya, Yah?” tanyaku malasmalasan pada ayah yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. 

”Dicoba saja. Kalau masih buka, ya berarti masih rezeki kita.” 

”Oke.” Aku langsung menuju ke kamar mandi. Hendak membasuh muka. 

Ketika melewati dapur, kulihat ibu dan bibi pembantu sedang mempersiapkan bahan-bahan masakan. Sambil berjalan, aku kembali membayangkan enaknya masakan daging buatan ibu. 

”Aduuuh!!” Dahiku terantuk pintu kamar mandi yang masih tertutup. Aku meringis kesakitan. 

”Makanya kalau jalan jangan sambil melamun.” Ibu menasihatiku sambil mengiris bahan masakannya. Aku tersenyum lalu membuka pintu kamar mandi. 

Membasuh muka sudah kulakukan. Tapi ketika hendak pergi, ayah tiba-tiba mencegatku di depan pintu. 

”O ya hampir lupa, ini buat keluarga Pak Kirman ya.” Ayah memberikan satu kue keranjang dan sebuah kalender baru kepadaku. Sedikit yang kutahu tentang keluarga Pak Kirman, yaitu mereka tinggal di belakang rumahku. Tak lebih. Ayahlah yang lebih mengenal mereka. 

Kuketuk pintu pagar besi rumah Pak Kirman. Seorang pria lanjut usia dan istrinya keluar menemui. ”Ini dari Pak Chandra.” kataku sambil memberikan bingkisan dari ayah. Teriring ucapan terima kasih darinya, aku pamit pergi. Tapi baru beberapa langkah berjalan, sayup-sayup kudengar percakapan singkat keduanya.  

”Itu tadi siapa, Pak?” 

”Mungkin karyawannya Pak Chandra.” Aku tersenyum simpul. Lalu kupercepat langkahku menuju pasar daging. 

Perjalanan ke sana tak begitu jauh. Kutempuh dengan berjalan kaki. Sebenarnya, aku bisa memilih lewat jalan dalam kampung. Tapi aku lebih memilih lewat pinggir jalan besar. Lebih nyaman menurutku walaupun memang belum tentu aman karena jalanan cukup ramai kendaraan terutama ketika masuk jam pulang kantor seperti ini. 

Langkahku mendadak terhenti. Kuperhatikan sandal yang kupakai penuh lumpur. 

”Ah iya, semalam kan hujan jadi becek jadinya.” Kugosokkan sandalku ke sebuah batu di tepi jalan. Lumpur yang ada di sandalku lumayan banyak berkurang. Segera kulanjutkan perjalanan. 

Sampai di pasar daging, kuhampiri seorang penjual yang sudah menjadi langganan ayah. 

”Beli dagingnya, Mas?” Si penjual langsung memotong-motong daging. Memasukkannya ke dalam tas kresek putih. Lalu memberikannya padaku. Terima kasih kuucapkan. Ia tersenyum menanggapinya. 

Sekilas kulihat seorang penjual daging lainnya memandangku heran. Mungkin di pikirannya, ”Ini orang China, kok tumben belanja sendiri. Biasanya kan suruh pembantunya.” Tapi tak aku pedulikan. 

”Bukankah orang China juga punya kaki, yang bebas dipakainya berjalan kemanapun ia mau,” pikirku. Sambil berjalan kembali ke rumah, kucoba memahami mengapa ayah malah menyuruhku pergi bukannya bibi pembantu. 

Setelah beberapa menit berlalu, barulah kusadari ternyata ayah ingin agar aku bersosialisasi. Ingin aku menampakkan diri. Tak seperti selama ini, asyik main gadget atau game di rumah tanpa pernah bertegur sapa dengan warga setempat. 

Tiba di rumah, aku langsung disambut pertanyaan oleh ayah. 

”Bagaimana rasanya ketemu orang dan pergi belanja?”  

”Asyik. Terima kasih, Yah.” 

”Terima kasih untuk apa?”

”Sudah jadikan imlekku jadi berkesan.” Ayah tersenyum kecil mendengarnya. 

”Ternyata asyik juga sesekali keluar rumah, berbaur. Ya, siapa tahu bisa diajak piknik bareng warga nanti.” 

”Bisa saja kamu ini, Wan.” Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan ayah. 

”Eh, sudah-sudah ngobrolnya, ayo sekarang makan daging buatan ibu.” Tanpa banyak bicara, aku segera mengambil nasi lalu potongan daging besar yang ada di dalam mangkuk beserta kuahnya. 

”Terima kasih, Tuhan untuk kembali berkesannya imlekku tahun ini,” batinku sebelum makan. - g 

Yogyakarta, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 29 Januari 2017

0 Response to "Imlek"