Kata Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kata Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:31 Rating: 4,5

Kata Ibu

SETIAP malam, sebelum aku tidur, ibu selalu membacakan dongeng lima ekor anak ayam dan serigala jahat di hutan. Sebuah dongeng yang sudah turun temurun diceritakan sejak berabad lampau.
Tapi entah kenapa, dongeng pengantar tidur dari ibu tak pernah membuatku cepat terlelap. Malah aku tertarik membayangkan dongeng itu benar adanya. Karena kebetulan di seberang desa, ada sebuah hutan terlarang dimasuki. Aku malah ingin memasuki bersama empat temanku.

Ketika kuutarakan niatku itu, ibu langsung marah.

”Tidak boleh, Nak,“ kata ibu melarangku.

”Kenapa, Bu?“

”Itu hutan lebat, Nak. Di sana mungkin ada serigala jahat seperti dalam dongeng Ibu setiap malam.“
Aku pun lantas mengurungkan niat.

***
SEBULAN kemudian, aku sudah lupa keinginanku memasuki hutan di seberang desa. Karena ada teman baru, seorang anak pindahan dari kota, tiga minggu lalu. Arkhan namanya. Anaknya supel dan tak canggung.

Arkhan sudah sering aku ajak bermain bersama empat temanku. Hari ini, kami berenam asyik bermain bola sampai lupa waktu di lapangan desa. Sayup-sayup azan maghrib terdengar indah berkumandang.

”Sudah petang. Ayo, pulang!“ ajakku.

”Kalian mau main curang ya? Karena sudah menang duluan, jadi langsung pulang,“ ujar Arkhan.

”Bukan begitu, lihatlah hari sudah mulai gelap. Ibuku pasti mencemaskanku,“ kataku.

”Iya, Ibuku juga cemas,“ sahut Rahma, salah satu teman sepermainan. Dibarengi anggukan kepala Adhi, Akbar dan Dodi. 

Arkhan tampaknya tak suka. Ia masih ingin terus bermain. Tapi aku dan empat temanku tak peduli. Petang hari sudah menjadi batas waktu bermain yang harus dipatuhi anak-anak di desa. Karena itulah saatnya pulang kembali ke rumah untuk beribadah dan juga berkumpul bersama keluarga.

***
”NAK, kamu tahu Arkhan di mana?“ tanya ibu setelah membangunkan tidurku pada pagi-pagi buta. Aku menggeleng.

”Dari semalam Akrhan tak pulang ke rumah.“ Pemberitahuan ibu itu membuatku kaget. Aku pun berniat ingin ikut mencari Arkhan. Tapi ibu melarang.

Ibu bilang warga desa sudah mencari ke seluruh penjuru desa. Tapi ia heran melihat tak ada satupun warga desa yang memasuki hutan di seberang desa. 

”Bukankah ada kemungkinan Arkhan bisa ditemukan di sana,“ pikirku lugu.

”Kenapa mereka tak mau mencarinya di sana, Bu?“ tanyaku lugu.

Ibu terdiam sejenak. Lalu mengelus lembut rambutku. 

”Ibu tak tahu, nak. Mungkin semua warga desa percaya kalau di salam sana ada serigala jahatnya,” kata ibu. Aku hanya terdiam.

***
TAK terasa sudah dua hari Arkhan menghilang. Para orangtua di desa menjadi lebih protektif mengawasi anak-anaknya bermain. Termasuk ibu. Ruang gerakku menjadi semakin sedikit. Aku hanya diizinkan bermain di halaman rumah masing-masing. Apa enaknya? Halaman rumahku hanya seperlemparan batu, sama sekali tak luas. Begitu juga, halaman rumah lain.

Entah darimana datanganya, keinginan memasuki hutan di seberang desa bersama empat temanku kembali menguat. Aku lalu mengajak mereka. Tanpa sepengetahuan orangtua, kami berlima masuk ke sana.

Ternyata di dalamnya tak ada serigala jahat seperti yang ibu katakan. Kami berlima benar-benar menikmati pemandangan alam di dalam hutan. Rimbunnya pepohonan serta udara yang masih terasa segar. 

Sampai akhirnya tiba di aliran sungai kecil dalam hutan. Kami berlima sejenak melepas lelah.

”Hei, coba lihat! Ada kardus di pinggir sungai. Siapa tahu isinya makanan,“ seru Rahma yang doyan makan, sambil menunjuk ke pinggir sungai.

Bersama-sama kami mendekati. Kardus dibuka. Isinya uang banyak. Kami berlima kaget melihatnya.
”Sudahlah, kit abawa pulang saja ke desa. Biar nanti orang dewasa yang putuskan,“ usulku. Yang lain mengangguk setuju. Lalu perjalanan diteruskan. Kali ini tujuan kembali ke desa.

Tapi sudah setengah jam lebih, kami berlimat berjalan tak kunjung menemukan jalan keluar hutan. Malah melangkah semakin jauh ke tengah hutan. 

Di tengah hutan, kami berlima melihat pondok kayu yang tampak berdiri kokoh. Lalu memberanikan diri memasuki.

”Arkhan!“ sahutku kaget mendapati tubuh Arkhan terikat di kursi. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki tua.

”Anak-anak manis, serahkan kardusnya!“ gertaknya sambil memperlihatkan senjata tajam dari balik bajunya. Matanya menyeringai seperti seekor serigala yang hendak menerkam mangsanya. Aku sesaat teringat dongeng pengantar tidur ibu, ”Mungkin inilah serigala jahat yang dikatakan Ibu itu.“

”Ternyata kata Ibu memang benar.“ Badanku langsung gemetar ketakutan. Kulirik keempat temanku. Mereka juga tampak ketakutan. Aku lantas menyerahkan kardus berisi uang kepadanya. Uang banyak dalam kardus itu kini sudah berpindah tangan.

Laki-laki tua itu tampak tersenyum senang. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

”Uangnya sudah ketemu.“

”Kita ketemu di tempat biasa. Jangan lupa bawa barangnya.“ Si laki-laki tua itu mengakhiri pembicaraan.

Lalu melihat ke arah kami berlima.

”Kamu siapa?“ tanyaku dengan perasaan takut. Si laki-laki tua itu tak menjawab. Hanya menepukkan kedua telepak tangannya.

Tujuh orang laki-laki tinggi besar tiba-tiba masuk ke pondok kayu. Langsung mengikat kami berlima satu per satu.

”Bos, anak-anak ini mau diapakan?” tanya salah seorang anak buahnya.

”Bawa saja mereka ke kota jadikan pengemis di sana,“jawab si laki-laki tua lugas.

Kami berenam dibawa keluar lalu dimasukkan ke mobil. tanpa ada perlawanan sama sekali.

Mobil melaju kencang melewati desa, tempat kami tinggal. Tanpa ada satu pun warga desa melihat mobil baru saja keluar dari hutan tempat yang konon terlarang dimasuki. Karena mereka semua termasuk ibuku sedang asyik berdemi di halaman kantor kepala desa, menuntut aparat keamanan lebih serius lagi menangangi serta mengungkap kasus hilangnya kami berenam sejak empat hari lalu.

• Yogyakarta, 2016

Herumawan Prasetyo Adhie. Pringgokusuman GT II/537 A, RT 24 RW 06, Yogyakarta 55272.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 1 Januari 2016

0 Response to "Kata Ibu"