Kematian Kelima | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kematian Kelima Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:41 Rating: 4,5

Kematian Kelima

ANGIN mendesir mengusir daun-daun kering. Kerisik itu menyadarkanku, ternyata tinggal kami berdua di depan makam sahabat yang baru saja dikebumikan. Jantungnya berhenti mendadak dan keluarganya gagal menyelamatkan, meskipun anak bungsunya kesetanan menyetir menembus lalu lintas padat Jakarta semalam, menuju rumah sakit.

“Kita tinggal berdua, Mam.” Suaraku ditangkap dengan kesedihan mendalam. Penyesalan juga menggenang di mata Hargumam. Namanya Harsoyo, namun kami berempat mengubah panggilan kepadanya sesuai dengan kebiasaannya bergumam.

“Hmm…” Ia menggeleng. Air matanya tak sembunyi. Dia pensiun dua bulan lalu, tapi bukan karena itu tangisnya pecah. “Detak. Akhirnya engkau berhenti berdetik. Hmm….”

Detak, nama teman kami yang meninggal, sebetulnya laki-laki trengginas. Namun sejak dipasang dua ring pada pembuluh darah di jantungnya, separuh kelincahannya sirna. Sisa kenakalan masa lalu tetap terjaga, tetapi dia menyadari perlunya keteladanan bagi dua cucu balitanya. Ia pasti kakek yang humoris. Aku mengusap papan nisan sementara yang ditanam di ujung gundukan tanah merah. Gundukan yang seluruhnya tertutup taburan bunga. Wangi yang menebar berpadu aroma tanah basah hujan pagi. Aku berdiri, mengibaskan ujung celana, membebaskan tanah yang menempel.

“Hmm… kamu mau ke mana?” tanya Hargumam.

Aku menunjukkan voucher kedai kopi. “Bisa berdua.”



TAK dapat kulupakan wajah perempuan muda penjaga “rumah hantu” di arena pasar malam keliling itu. Ia lebih cocok jadi penerima tamu di restoran Jepang dengan pakaian tradisi Negeri Matahari Terbit. Matanya sipit, tapi senyumnya lebar dan ramah.

“Mari, Bapak-bapak… permainan ini tak hanya untuk remaja.”

Aku tidak tersinggung diingatkan soal usia. Detak, Hargumam, A Tjiap, dan Sono, bahkan terbahak renyah. Bocah tua nakal tak mudah marah, kecuali untuk strategi atau berpura-pura.

“Boleh wefie dulu?” A Tjiap tangkas mengeluarkan telepon genggam berkamera canggih. “Kamu di tengah ya, Cantik.”

Tentu tidak tepat di tengah, karena kami berenam. Tapi foto itu, aku yakin, tersimpan awet di memori hape kami.

“Makasih.” Si Cantik itu menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil membungkuk. “Panggil saya Aurora si Cenayang.”

“Kamu pintar meramal?” tanya Sono penasaran.

“Bercanda saja…” Aurora tertawa dengan sederet gigi rapinya. “Tapi saya yakin kalian bersahabat sejak dulu sampai akhir hayat masing-masing. Bapak-bapak sudah merencanakan semuanya dengan baik.”

Aku terkesiap. Tanpa sadar tanganku masuk ke saku celana. Ada kertas terlipat di sana. Kupisahkan dari sapu tangan, agar tak terbawa saat mau mengusap keringat. Tapi… mendadak tengkukku berkeringat.

Keempat temanku tertawa-tawa. Bahkan Detak sempat berceloteh. “Kamu pintar. Kalau anakku lelaki, kujadikan menantu.”

Kami menghilang ke “rumah hantu”. Konsentrasiku buyar. Justru hal-hal menakutkan di sepanjang lorong berliku gelap penuh jebakan itu tidak berpengaruh padaku. Sementara keempat temanku seolah-olah menjadi muda kembali.

Sebelum berpisah, Hargumam mencurigaiku. “Hmm… kamu tidak ceria.”

“Aku cemas pada omongan Aurora…”

Tadi kami memang melakukan permainan tak lazim. Di antara cangkir-cangkir kopi yang nyaris tandas, Sono mengajukan ide sinting.

“Bagaimana kalau kita merencanakan kematian?” Matanya membulat penuh. Mungkin setengah cangkir kopi mengguyur saraf penglihatannya.

“Maksudmu?” Aku menduga-duga keculasannya. “Takdir sudah amat pintar, tak perlu dibantu.”

“Hobi kita kan bikin rencana, Bim.” A Tjiap menepuk pundakku. “Teruskan, Son!”

Sekelebat aku mengingat beberapa hal gawat dan kami penyebabnya. Misalnya ketika Harumi keluar dari ruang ganti olah raga hampir telanjang di SMA dulu. Gadis kembang IPA itu menjadi istri Detak sejak lepas kuliah. Atau saat soal ujian semester berisi kertas mewarnai anak TK, heboh satu sekolah. Paling keji, tak berperikehewanan, adalah ketika meledakkan ayam di peternakan milik kepala sekolah. Itu sebetulnya terinspirasi novel Cafetaria Nostalgi karya Jay Bimo, bacaan kami kala itu. Satu petasan dimasukkan ke dalam dubur ayam, disulut, lalu dilempar ke dalam kandang!

“Ambil kertas… minta ke tukang warung,” kata Sono.

“Hmm… hmm… nih aku punya.” Hargumam menyodorkan nota tipis dari hotel tempat ia menginap.

Aku memberinya pulpen. Peranti itu selalu terselip di saku. Aku suka mengumpulkan prompt, dari yang kulihat atau kudengar, sebagai cikal-bakal tulisan.

“Tuliskan cara mati yang menurut kalian keren atau menarik. Nanti masukkan ke asbak ini. Kita masing-masing mengambil, entah milik siapa. Jadikan itu sebagai jalan takdirmu,” kata Sono setelah membagi kertas. Dia menuliskan lebih dulu sambil senyum-senyum. Lalu menawarkan pena yang langsung direbut A Tjiap.

Aku mendengar guntur, tapi bintang-bintang berhamburan di langit cerah. Tak mungkin akan hujan. Sisa kilat masih tertangkap mataku. Pasar malam dengan ikon komidi putar berpengeras suara, menghidangkan lagu anak-anak yang sember, lekas menghapus gema guruh.

“Sudah semua? Ayolah, Bim! Kamu cerpenis. Tentu idemu lebih banyak,” kata Detak mengingatkan bakatku. Sono mengangguk dan menatap tajam. Kenapa ia menjelma penyihir? Aku pun menuliskan sesuatu!

Itu reuni paling mencekam, menurutku. Kami berlima tumbuh dengan kenakalan bersama sejak kelas I SMA. Meski dari kelas dan jurusan berbeda, ternyata kami lengket satu sama lain hingga usia setengah abad. Kami tak ingin melewati begitu saja usia emas. Sono yang mengusulkan pertemuan di Jakarta. Ia berjanji meluncur dari Bandung sejak pagi.

Gagasan itu disambut A Tjiap, pemilik kedai kwetiau tersohor di Jakarta Barat. “Kubawakan 5 porsi istimewa. Mau pakai babi atau ayam?”

“Hmm… aku cek agenda. Aku dari Surabaya tengah hari. Kuingat ada rapat pagi-pagi,” demikian jawab Hargumam melalui telepon.

Aku bertugas memilih lokasi pertemuan. Tempat ramai non-mainstream: pasar malam keliling. Mereka setuju. Kami merapat, berbincang hangat di meja bundar terlindung payung sponsor dengan sajian kopi kelas rakyat.

Berdasarkan alfabet, A Tjiap mengambil pertama. Berikutnya aku, disusul Detak, Hargumam, dan terakhir Sono. Kami baca tanpa tertawa. Entah mengapa, tak seorang pun mendapati gagasannya sendiri. Setidaknya itu kuketahui pasti saat menghadiri pemakaman Sono.



KETIKA sedang menyetir di kawasan padat merayap, dua bulan setelah perjumpaan kami, kuterima pesan WhatsApp. “Sono meninggal disambar petir saat main golf.”

Gugup, aku menghentikan mobil. Sepeda motor menubruk bumper belakang. Pengendara bermuka kusut itu minta ganti rugi. Susah-payah aku menepi, lalu kuberikan uang Rp 500 ribu. Aku tak sempat melihat kerusakan motornya dengan saksama.

Keringat menetes deras di sekujur tubuh. Aku sempoyongan dan masuk ke warung jamu. Mengiyakan saja tawaran satu gelas penghilang pusing. Saat dia mengocok kuning telur, aku menelepon A Tjiap.

Ide “mati disambar petir” itu yang kutulis! Lantaran kudengar bunyi guntur di pasar malam. Benarkah Sono yang mengambil? Ya ampun… aku menangis!

“Apa yang kalian dapatkan dalam undian?” tanyaku gemetar ketika kami tahlilan di rumah keluarga Sono, di Bandung.

“Mati stroke atau kena serangan jantung. Ini tidak aneh sih,” jawab Detak.

“Air menghidupkanmu dan air pula mematikanmu… Aku akan tenggelam, atau minum racun, begitu?” kata A Tjiap memandang kami. Senyum-senyum. “Aku tak akan berlayar atau berenang. Sejak sekarang!”

“Hmm… mati dibunuh orang. Ngeri juga. Tapi ini kan permainan. Tidak harus jadi kenyataan.” Dari suaranya, sebetulnya Hargumam cemas.

“Kamu, Bim?” tanya Detak tak sabar.

“Kecelakaan pesawat. Kalian tahu aku sering bepergian ke luar kota dan luar negeri. Apa sebaiknya aku tak terbang lagi? Tapi masih banyak urusan.”



BERAGAM topik kami bincangkan dalam berbagai kesempatan. Umumnya perihal keluarga, anak-anak kami. Menu masakan di resto-resto baru. Bursa saham, situasi politik, dan film-film bagus yang masuk ke Indonesia. Tingkah cucu kami yang masih balita biasa mendominasi. Tiga tahun berlalu aman-aman saja, membuat kami melupakan undian kematian. Juga kulupakan ucapan Aurora. Gadis itu mungkin sudah menikah atau pindah bekerja.

Namun, ketika A Tjiap tidak tertolong dalam terjangan banjir yang tak cuma menenggelamkan kedainya, tetapi juga kampung di kawasan tempat tinggalnya, kami bertiga dicekam ketakutan. Akhirnya aku bercerita kepada istri dan anak-anakku.

“Kok seperti film Final Destination, Pa.” Kafka, anakku, berkomentar.

Tapi Frida, kakaknya yang lebih religius menganggap semua sebagai takdir. Permainan itu kebetulan saja. “Jangan syirik,” ujarnya mengingatkan.

“Aku sudah menjaga pola makan. Menghentikan rokok dan rajin berolah raga.” Itu upaya Detak yang disampaikan saat kami melayat A Tjiap dan beberapa warga lain yang juga tewas dalam musibah banjir itu. “Kubeli macam-macam alat. Ah, kalian tahu, aku paling berani makan jerohan dan lemak.”

“Kamu sadar setelah jantungmu dipasang ring,” kataku getir. Sejak dua bulan yang lalu, ada dua benda asing di balik dada Detak.

“Kamu sendiri mulai menghentikan kebiasaan naik pesawat. Takut, kan?”

Hargumam bersenandung tanpa kata. Bisa jadi ia sedang berdoa. Berzikir atau selawatan.

“Hmm… aku pulang ke Surabaya tentu naik pesawat,” katanya. Lalu dia minta tolong Kafka. “Antar Om ke bandara, ya.”



“AYO, Papa…” Kafka di ambang pintu, menungguku. “Beli tiket  go-show aja di bandara.”

“Kita naik mobil, Ka,” kataku. Kaget sendiri mendengar suaraku gemetar.

“Kapan akan tiba di Surabaya? Om Har dimakamkan pukul dua.”

Aku tidak menjawab. Seluruh sendi tubuhku lemas. Tulang-belulangku tak mampu menegakkan badan. Tidak semata jeri naik pesawat, tetapi juga takut sejak kemarin siang, ketika aku melihat berita di televisi. Kasus pembunuhan yang belum jelas motifnya menimpa keluarga Harsoyo Danutirto. Rumah mewahnya di Surabaya sangat kukenal, karena pernah singgah dan menginap. Ada 4 orang meninggal, yang lain luka-luka.

Tidak kubutuhkan penjelasan apa pun dari reporter tivi, karena aku ingin mengutuk omong kosong ini. Tidak mungkin semua kematian temanku persis dengan yang kami tuliskan. Mengapa Tuhan memenuhi janji gila ini? Atau… ini semacam balasan atas kelakuan kami di masa sekolah?

“Naik pesawat saja,” kata Frida membujukku. “Besok Lentera ulang tahun, naik kelas II pula. Ingin kakeknya hadir. Papa bisa kembali ke Jakarta pagi atau siang.”

Baiklah, Tuhan. Jika sengaja Kau sisakan diriku, itu demi kutulis biografi teman-temanku.



TIADA lagi teman berbincang seusai penguburan Hargumam. Habis! Kini, dalam mataku yang terbayang hanya kegembiraan cucuku menerima kado mobil-mobilan dengan pengendali jarak jauh. Pasar Atom Surabaya menawarkan banyak mainan. Kupilih ini karena Lentera sudah punya robot dan baju Spiderman.

Tak kusangka, saat check-in di Juanda, aku bertemu dengan Aurora. Jantungku berdesir. Secantik apa pun dia, terasa sebagai malaikat yang hendak menagih janji. Secepat yang sanggup dikerjakan pikiran, aku menduga setiap temanku bertemu dengannya menjelang ajal.

“Bapak…” Aurora mengenaliku. Tentu saja. Daya ingat malaikat lebih tajam daripada manusia.

“Apa kabar? Masih bekerja di…”

“Tidak lagi,” jawabnya cepat. Tentu daya duganya lebih canggih.

Ia tersenyum semanis pertemuan pertama. “Saya pindah ke restoran sushi Jophie Sponge. Masih baru. Milik teman kuliah saya di Surabaya. Ia membuka cabang di Kelapa Gading. Besok hari pertama saya bekerja.” Sepanjang dia bicara, aku tidak melihat gelagat menakutkan. “Tampaknya kita naik pesawat yang sama ke Jakarta.”

Oh! Kecemasanku meningkat. Apalagi ketika dia minta nomor kursi di sebelahku. Begitukah proses pendampingan kematian?

Hampir seluruh pembicaraan dalam perjalanan tidak membuatku nyaman. Aku berjaga-jaga dengan doa, bersiaga dengan perlawanan bila wujud serangannya terlihat. Kapan? Lebih setengah jam pesawat melayang dengan tenang. Aurora bahkan sempat memejamkan mata dan kepalanya tersandar ke bahuku.

Setelah pesawat mendarat dan berhenti, aku tersenyum tulus kepada teman perjalananku. Sore di Jakarta demikian cerah. Ini hari kerja, aku tak mau merepotkan Kafka. Aku memilih naik taksi saja. Kuminta sopir membawaku langsung ke rumah Frida di Depok. Istriku menyusul dari rumah.

Aku turun di depan pagar rumah Frida. Kudengar dengung mesin seperti bunyi pemotong rumput. Di depan rumah Frida terdapat lapangan basket milik warga. Kulihat Lentera sedang asyik memegang remote control. Kami bertatapan sejenak dengan kerinduan memuncak.

“Kakek datang!” serunya riang.

Tampaknya jagoan kecil itu lupa dengan benda di tangannya. Ia hendak memburuku, namun lebih dulu sebuah pesawat logam mainan kendali jarak jauh menempuh sisa jarak dan menabrak keras kepalaku dari sisi kanan.

Jakarta, 1 Januari 2017

Ide cerita: Endah Sulwesi


Kurnia Effendi dilahirkan di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis puisi dan prosa pertama kali untuk publik pada 1978. Telah menerbitkan 16 buku, 3 di antaranya antologi puisi. Bukunya yang terbaru Senarai Persinggahan (kumpulan puisi, 2016). Buku kumcer Kincir Api (GPU, 2005) menempati 5 besar Khatulistiwa Literary Award; buku kumcer Anak Arloji (Serambi, 2011) menerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa 2013. Tinggal di Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kurnia Effendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi Minggu 8 Januari 2017

0 Response to "Kematian Kelima"