Kertas - Kupu-Kupu Merah - Tentang Pada | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kertas - Kupu-Kupu Merah - Tentang Pada Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:46 Rating: 4,5

Kertas - Kupu-Kupu Merah - Tentang Pada

Kertas

: bagaimana mungkin kita tak berumah

Di kertas kau menggambar rumah. Rumah yang mengambang. Tanpa tanah, rumput, dan po-
hon. Lalu, di rumah itu, kau tambahkan pintu terbuka, keset hitam, dan jendela persegi. Sedang,
di bawah jendela, kau selipkan seekor tawon. Tawon yang pernah terbang ke jantung. Jantung
yang seperti pepaya masak yang manis. Yang layak dijadikan pencuci mulut pada sebuah perja-
muan. Sambil mendengar kisah tentang jal yang asli dan dipalsukan. Yang membuat para 
penafsir sibuk membicarakannya.

Dan karena gambar rumahmu yang mengambang terlihat sendiri, kau pun kembali menggam-
bar tiga sosok di pojok kiri kertas. Yang juga mengambang. Sosok pertama si anak. Sosok kedua 
si entah. Sedang sosok ketiga, yaitu si jangkung. Si jangkung yang mudah memulur-mungkretkan 
tubuhnya di mana dan ke mana saja. Si jangkung yang setiap kau pandang, selalu ingin disan-
darkan ke sebatang palem. Agar hilang kemurungan di wajah. Kemurungan karena sebuah lorog
yang tak berujung.

Lorong yang menjadikan tanda lurus jadi bergelombang. Dan arah dikenal jadi tak tertebak. 
Sehingga, ketika ada yang berkata: ”Siapa yang ingin memasuki lorong, masukilah,“ tak ada yang
Masuk. Semua menunggu. Seperti menunggunya si penyerimpung berhati batu. Yang menyerim-
pung lewat kaki orang lain. Terus merapat ke keremangan. Sambil mengimpikan maut yang dikira
terlambat. Maut yang juga ingin kau hadirkan ke gambar rumahmu yang tetap saja terlihat sendiri.
Dan mengambang.

(Gresik, 2016)


Kupu-Kupu Merah

Si pesulap mengunyah kembang. Ketika dimuntahkan menjelma jadi kupu-kupu. Kupu-kupu me-
rah. Semerah mata si nekat sebelum memasuki bentangan mural di tembok-tembok. Bentangan
mural yang dilukis oleh tangan yang melayang. Tangan yang jika dipandang, akan mengingatkan 
pada tangan si ibu yang mengelus kening si anak. Sebelum para penjemput datang. Membawa 
si anak ke dalam kegelapan. Kegelapan yang penuh dengan teriakan dan erangan. Juga sumpah
dan keputus-asaan. Lalu si pesulap memlester mulut sendiri. Lima sosok yang kukuh bermuncul-
saling berkebat. Lihat, tubuh si pesulap ditendang. Juga dilempar. Juga diinjak. Juga, astaga,
dipotong dengan gergaji. Tapi, sebelum sampai batas, asap menebah. Tubuh si pesulap lenyap.
Tapi bagi siapa saja yang sempat melirik, akan merasa ada si anjing yang menguntitnya. Bersiap
di tengah. Tanpa plester di mulut. Sampai si anjing terjengkang. Dan si gadis menghambur ke
pelukan si pesulap. Seperti menghamburnya musim hangat ketika menggusur musim dingin.
Waktu itu, tepuk tangan menggema. Tapi kupu-kupu merah yang telah dimuntahkan si pesulap 
tak pernah lagi melintas.

(Gresik, 2016)


Tentang Pada


Pada G katakan: jika pelabuhan ini masih seperti yang dulu. Yang datang ingin pergi. Dan yang
pergi juga ingin datang. Meski di setiap subuh, siapa saja selalu ingat, pada kisah seseorang
yang bersepeda. Yang tergesa. Hanya karena selembar gambar lusuh berwarna merah muda.
Gambar yang disimpan di kantong rahasia di dada. Seperti menyimpan potret si idaman
hati. Si idaman hati (yang pada hari direncanakan), berkata: “Aku memercayai dirinya, dan 
dirinya memercayai aku. Meski banyak yang tetap menyangka, bahwa kami saling berlengosan.”
Pada N katakana: jika ikan besar yang terdampar itu telah dikubur. Anyirnya telah hilang. Tapi,
jejak-jejaknya tetap tergores di tanah. Jejak-jejak yang mirip lengkung pedang. Atau juga leng-
kung hati. Hati yang berdebar. Ketika dari arah timur, terdengar kabar: “Si anak yang tubuhnya
amis. Yang kulitnya hijau. Dan yang kepalanya dikitari sepasang merpati. Telah sampai di pintu 
kampung. Seperti sampainya sebuah kabar dari pulau yang jauh. Pulau yang lebih mengagumi 
keindahan tembang daripada selembar peta kuno yang diperebutkan tanpa bosan.
Pada H katakan: jika lelampu di pinggir pantai itu telah diganti. Yang dulunya bersinar biru. 
Kini bersinar putih. Dan yang dulu remang. Kini benderang. Sampai setiap siapa saja yang jatuh, pasti akan berdiri. Dan setiap siapa saja yang bersembunyi, pasti akan tampak. Terus ditarik.
Agar berani untuk memperlihatkan batang hidungnya. Seperti keberanian si perajin perahu yang
berwajah teduh. Yang setiap ditatap selalu balik menatap. Lalu mundur selangkah. Terus berlalu
seperti berlalunya siapa saja yang tak sudi untuk dihitung.
Pada A katakan: jika warung yang menjajakan dorang bakar sudah bubar. Entah kini pindah ke mana. Tapi ada warung yang lebih besar sebagai penggantinya. Warung yang juga menye-
diakan meja panjang. Tempat bagi yang ingin tidur. Terus bermimpi, jika pelabuhan ini ternyata
adalah monster nyata. Yang mampu menggeliat dan bergerak. Dan yang ketika air pasang, pun 
berenang ke tengah. Timbu-tenggelam tanpa henti. Seperti kapal demit yang limbung. Kapal
demit dengan nahkoda yang berkepala gurita. Yang matanya menyorot tajam.

(Gresik, 2016)


Mardi Luhung: lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulusan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpen pertamanya adalah Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011). Teras Mardi (2015) adalah buku puisi terakhirnya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "KOran Tempo" edisi 7-8 Januari 2017 

0 Response to "Kertas - Kupu-Kupu Merah - Tentang Pada"