Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada - Di sebuah Terminal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada - Di sebuah Terminal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:22 Rating: 4,5

Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada - Di sebuah Terminal

Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada

ketika seruling ditiup tanpa nada
adakah kau kembali teringat tahun
demi tahun bergegas ke utara, begitu saja.

apakah yang masih sempat didongengkan
selain tentang wajah sendiri, atau debu
yang selalu menempel pada ujung jari

tahun-tahun ini adalah mangkuk
yang separuh isinya telah terlanjur tumpah

adakah air yang masih tersisa untuk kembali kau teteskan?

ketika seruling ditiup tanpa nada
adakah kau kembali teringat tahun
demi tahun bergegas ke utara, begitu saja.
sedang mata kita telah terlampau lamur
merajut helai demi helai impian
tentang esok hari yang terlanjur tunduk
pada kehendak musim.

tak ada pilihan ; selain menatap potret usang
dengan senyum yang tak lagi bisa dicari
selain pada mata kanak-kanak
maka:
biarkan guratan-guratan itu meronai halaman demi halaman!-

ketika seruling ditiup tanpa nada,
kita masih akan sibuk berlarian mengejar
nyala kunang yang menyusup entah di belukar mana

Di sebuah Terminal

jalan-jalan terjulur seperti sulur
atau benang yang entah ke ujung mana
akan terurai

di terminal ini entah yang keberapa
aku diam, lupa apa yang harus dicatat
sebuah puisi retak atau cakrawala yang kabur
aku diam di terminal ini, mencoba menulis puisi
atau menggambar senyum gadis yang ceria

tiba-tiba ada yang berdesis
: kau harus kembali menghafal huruf dan membaca garis!


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mewakili Indonesia dalam Jakarta International Festival Literray, 2008. Mengikuti Borobudur International Writers and Culutur Festival, 2013 dan 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada - Di sebuah Terminal"