Kolam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kolam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:05 Rating: 4,5

Kolam

KOLAM di depan rumah sudah selesai dibersihkan. Si tukang kolam berdiri di depan pintu menanti nyonya rumah keluar untuk memberinya upah. Dia sedikit gelisah, khawatir kalau nyonya rumah ternyata tidur dan baru akan keluar beberapa jam kemudian. Di ranting-ranting pohon terdengar burung bercericit, hari menjelang siang, angin berembus kencang, sesekali menggoyangkan daunan. 

Si tukang kolam menimbangnimbang apakah ia akan memanggil nyonya rumah atau berdiri saja menunggu. Atau sebaiknya ia duduk di dekat kolam, menikmati hasil kerjanya. Ia teringat pada janjinya hari ini, untuk menemui seorang kawan yang mengajaknya main bola adil. Upah membersihkan kolam tentu tak seberapa, ia perkirakan uang itu takkan cukup untuk membelikan hadiah untuk anaknya. 

Beberapa hari ini anaknya, merengek-rengek minta dibelikan telepon genggam. Suatu permintaan yang wajar, mengingat anaknya itu sudah beranjak remaja. Ia paham benar, bahwa anak-anak remaja harus memiliki sesuatu yang sama dengan kawan-kawan sepergaulannya. Bukan hanya supaya diterima, tetapi juga agar tidak diam saja ketika kawankawannya menunjukkan miliknya masing-masing. Aku juga dulu seperti itu, pikir si tukang kolam. Perasaan sedih muncul kalau kita tak bisa menjadi bagian dari pergaulan anak-anak seusia kita

Sebenarnya menjadi tukang bersih-bersih kolam bukan pekerjaan satu-satunya. Kadang ia bertindak sebagai makelar untuk berbagai barang, semisal arloji, sepeda, dan sekarang-sekarang ini telepon genggam. Tapi ia tahu anaknya tidak akan mau dibelikan telepon genggam bekas. Tempo hari anaknya itu sudah menunjukkan minatnya pada telepon genggam keluaran terbaru. Harganya tentu mahal. Dan ia bisa memastikan jika anaknya menginginkan barang itu, maka tak ada barang lain yang bisa menggantikannya. 

Nyonya rumah belum juga keluar. Si tukang kolam semakin gelisah, ia berjalan mengelilingi kolam berkali-kali. Ia menyukai kolam karena satu hal: ia tidak bisa berenang. Ketika dulu kawan-kawannya sering ramai-ramai ke kolam pemandian, ia selalu ikut serta tapi tak pernah turut turun ke kolam. Pernah seorang kawan mendorongnya, hingga ia tercebur di kolam dan nyaris tenggelam. Semenjak itu ia tidak pernah lagi ikut. 

Karena merasa pegal, si tukang kolam duduk kembali di tepi kolam. Tiba-tiba dari arah gerbang, terdengar suara sepeda motor. Beberapa anak lakilaki masuk sembari tertawatawa. Rambut mereka hampir semuanya dicat pirang. Tanpa mempedulikan kehadiran si tukang kolam, anak-anak itu segera membuka baju dan langsung melompat ke kolam. 

Si tukang kolam menduga, anak yang pertama melompat pastilah anak dari nyonya rumah. Air terciprat sampai ke pinggir, mengenai kakinya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada seorang anak yang datang paling belakang. Anak itu menatap padanya, pandangan mereka bertemu. Ia bisa merasakan sesuatu bergerak dalam diri anak itu. Cara anak itu menatapnya, membuat ia ingin segera lenyap dari sini. Membiarkan anak itu, anaknya, menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya. ❑-k *) 

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 19- 78. Menulis puisi dan cerpen. Koleksi puisinya antara lain, Penangkar Bekisar, masuk dalam long list Kusala Sastra Khatulistiwa 2015. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah surat kabar.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan rakyat" Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Kolam"