Langit Senja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Langit Senja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:49 Rating: 4,5

Langit Senja

“SELAMAT SORE, IRMA …” dengan sopan Marianka memperkenalkan dirinya. “Tak usah basa-basi, kalau mau minta contekan, aku tidak bisa. Silakan tugasnya dibuat sendiri,” tukasnya dingin.

“Mungkin kamu mau membaca reviu What’s Eating Gilbert Grape ini dulu,” Marianka tak mau menyerah.

Irma melirik buku bergambar Jhonny Depp berwarna merah jambu itu, lalu menyunggingkan senyumnya dan mempersilakan duduk. Senyuman itu sedikit licik, tapi kecantikan yang sangat mendesir hati itu jelas terlihat di sana. Bahkan untuk seorang Marianka yang pemuja kecantikan Elizabeth Taylor di masa keemasannya itu pun dibuat terpukau olehnya.

“Oke, aku harap ini lebih bermutu dari sekadar menerjemahkan,” Irma mencibir. Marianka tersenyum geli.

“Tapi kamu sedikit di atas mereka, tahu juga kamu kalau aku penggemar karya-karya Peter Hedges,” lanjutnya.

“Lucky guess …, I guess?” kilah Marianka. Ia tidak ingin Irma mengetahui bahwa selama ini ia memang diam-diam berusaha keras mencari tahu segala kegemaran Irma.

Irma adalah penggemar karya sastra yang sedikit kontemporer, kurang lebih hampir sama dengan dirinya yang tidak pernah sekali pun mengenyam novel dan roman-roman picisan yang mengobral cinta dan menjual mimpi itu. Mereka lebih tertarik pada drama kehidupan dan realita. Baik Marianka maupun Irma, keduanya penganut setia teorema alam, things are never black and white.

Irma, si jenius dari jurusan sastra angkatan tahun 1992 itu memang sudah terkenal di kalangan mahasiswa sastra. Hampir sebagian dari mereka selalu meminta “bimbingan” dalam telaah prosa, salah satu mata kuliah yang membutuhkan proses analisis di atas rata-rata. Boleh dibilang Irma memiliki sense of art fiction yang tinggi untuk karya-karya sastra, terutama yang sangat sulit dipahami oleh orang biasa. Gayanya dalam menelaah suatu karya sastra sangat menakjubkan.


“WAH, JADI BUKU-BUKU ITU kebanyakan hadiah dari anak-anak yang datang ke rumah?” Marianka terkejut melihat semua koleksi buku-buku Irma.

“Nggak semuanya, hanya sebagian dari novel-novel murahan yang di pojok itu, dan nggak semuanya kubaca. Terlalu membosankan.” Irma merapikan kembali buku-bukunya seusai memberikan “kursus privat” untuk Marianka sebagai rutinitasnya yang telah berjalan hampir empat bulan itu.

“Lalu kenapa diterima?”

“Rata-rata mereka ngasih fulus juga. Kamu pikir dari mana aku dapatkan notebook-ku ini?” sahut Irma enteng.

“Memang orang tuamu nggak pernah kasih uang? Untuk pemiik rumah sebesar ini sih, beli sepuluh notebook pun nggak jadi masalah dong ….”

“Aku nggak sudi pakai duit haram,” jawabnya dingin.

“Haram?” Marianka tertegun.

“Aku bukan tipe anak papi yang dengan bangganya naik mobil yang dibayar negara, duduk santai sembari memboros-boroskan AC, sementara di luar sana, orang kepanasan, dan kelaparan,” nada suara Irma kali ini terdengar keras.

Marianka tertawa lepas. Baru kali ini ia mendengar kalimat yang sangat spektakuler dan membakar hati itu.

“Kok ngakak? Ini nggak lucu, ini kenyataan, tahu?!”

“Kamu memang one in a million, Ir, and that’s why I like you! Kamu tak suka basa-basi. Apa adanya. Dan kamu tidak munafik. Itu langka!” lanjutnya.

Irma tersenyum senang. Matanya yang berwarna kecokelatan itu seolah ikut tersenyum mendengar pengakuan tulus Marianka. 

“Itulah kenapa aku suka mbantuin kamu tanpa minta imbalan apa pun. Kamu berbeda dengan orang-orang yang selama ini datang ke rumah minta bantuan semacam bimbingan, atau lebih tepatnya lagi contekan! Dasar mutan!”

“Hahaha … mutan, katamu?”

“Iya, mutan yang seharusnya sudah dimusnahkan karena dapat merusak perkembangan zaman!”

“Jangan sok idealis, toh kamu menerima hadiah dari mutan itu, kan?” sindir Marianka tidak pandang bulu.

“Kan kamu bilang sendiri, aku nggak munafik,” sahut Irma tidak mau kalah.

Marianka tidak membuka mulutnya lagi. Ia tahu batas-batas yang tidak boleh dilanggarnya.

Persahabatannya dengan Irma tidak ingin dirusaknya oleh hal-hal remeh semacam itu, terlebih lagi Marianka masih sangat membutuhkan bantuan Irma dalam mengerjakan berbagai tugas-tugasnya.


KEESOKAN HARINYA, seperti biasa, Marianka menjemput Irma dengan motor balapnya. Irma lebih memilih dijemput dengan motor oleh Marianka, daripada mengendarai Mercedes mewah yang terparkir rapi di garasi dengan mobil mewah lainnya.

“Motormu lebih kencang daripada Mercedes di rumah, plus AC-nya lebih alami!” begitulah jawab Irma ketika ditanya mengapa ia lebih suka dijemput oleh Marianka daripada naik mobilnya sendiri. Marianka tidak membantah, ia tidak keberatan untuk pulang pergi menjemputnya, meski boleh dibilang cukup menguras isi tangki bensin motornya itu. Entah mengapa, ia malahan merasa senang, dan tidak pernah mengeluh sekali pun.

“Pagi, Ir … cantik banget kamu hari ini …” sapa Marianka ramah.

“Pagi! Ah, biasa saja, hari ini aku ada presentasi,” jawab Irma tersenyum manis.

Marianka mengangguk-angguk paham dan kembali menutup kaca helm dan melesat menuju kampus.
Unik dan sensasional. Di antara sejuta perbendaharaan kata yang ada, kiranya hanya dua kata itulah yang sanggup menggambarkan sosok Irma. Sifat Marianka yang sedikit tomboy, tetapi ulet dan penyabar seolah menetralisir karakter Irma yang cenderung dingin dan keras serta seenaknya sendiri. 


“INI YANG KESERATUS KALINYA kamu memutar lagu ini, Ir,” kata Marianka sembari merapikan rambut pendeknya itu.

Irma hanya tersenyum dan terus menyanyi mengikuti nada lagu Lady Rain milik Indecent Obsession yang sangat disukainya itu sementara dirinya tak henti-hentinya mematut diri di depan kaca besar.

“Yang ini, bagaimana?” tanyanya.

Marianka mengamati dengan saksama, lalu berjalan mendekat dan meraih kedua pundaknya.

“Aphrodite pun pasti ikut berdecak kagum, sekaligus iri!” jawabnya.

Memang tidak disangkal lagi, kecantikan Irma yang klasik itu membuat dirinya dipuja-puja, terutama oleh kaum lelaki yang tidak pernah berhenti menatap serta “menelanjangi” habis-habisan dengan mata liar mereka. Namun, Irma menganggap hal itu wajar-wajar saja. Manusia dari dahulu hingga sekarang tetaplah merupakan something with the wildness inside. Hanya keberadaban zaman saja yang maju, demikian filosofi yang dilontarkan Irma suatu hari.

Hari itu, Marianka dan Irma menghadiri pesta pernikahan seorang teman satu kampus. Pesta yang sangat mewah itu dihadiri oleh beberapa kalangan penting seperti pejabat dan pengusaha sukses, termasuk orang tua Irma.

“Ir, papa kamu tuh …” Marianka menunjuk ke arah seorang pria gagah dengan setelan jas yang harganya hampir sama dengan setengah harga motor balapnya. 

Irma tidak menjawab. Perhatiannya terpusat kepada sosok pria yang tiba-tiba datang menghampirinya.

“Hai! Irma, kan?” sapa pria itu.

“Eh, masih hidup ternyata …” tukasnya datar.

Pria dandy dengan setelan jas biru tua dan sepasang kacamata bermerek itu tampak sedikit kikuk, tapi tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum. Namun tak lama kemudian, pria itu akhirnya pamit pergi, terselamatkan oleh beberapa teman yang memanggilnya dari ujung ruangan.

Irma melengos dan membalikkan badannya.

“Ka, kita pulang sekarang!” Irma menarik lengan Marianka yang tengah berbincang-bincang dengan teman sekampus lainnya.

“Eh, tunggu,” sahut Marianka agak terhuyung, sementara Irma sudah berjalan mendahuluinya.

Marianka pun mengerti dan mengikuti Irma dengan penasaran.

“Kenapa sih marah-marah?” tanya Marianka setibanya di rumah Irma.

Irma terduduk cemberut.

“Bajingan tengik itu muncul lagi ….”

“Siapa?”

“Cowok sok necis berkacamata tadi! Buaya tak tahu diri itu kutendang jauh-jauh setelah ketangkap basah selingkuh di depan mataku!” Irma mulai angkat bicara lagi.

Marianka terperangah. Pria menawan itu ternyata mantan kekasih Irma saat awal-awal kuliah.

“Dia mengkhianatiku …. Buaya itu berlagak dewa.”

Marianka memperhatikan dengan serius. Ia duduk mendekatinya sambil menunggu kata-kata selanjutnya.

“Pengkhianat busuk! Itulah kenapa aku tidak pernah percaya dengan yang namanya lelaki! Lelaki dengan hormon-hormon terkutuk mereka!” Irma mengeluarkan seluruh sumpah serapahnya dengan wajah nyaris tanpa rasa belas kasihan.

“Setelah puas mengambil keuntungan dariku, setan itu mulai mencari mangsa yang lain …” lanjutnya.

Irma mendongakkan kepalanya dan menatap Marianka dengan tatapan pedih. “Kamu pernah merasakan pahitnya dikhianati oleh satu-satunya orang yang paling kamu percaya, Anka?”

“Aku tahu seperti apa rasanya, aku tahu persis …” dibelainya rambut ikal Irma yang tertata dengan rapi itu dengan penuh kelembutan.

Irma tetap menampakkan wajah yang tegar, walaupun kedua matanya telah basah oleh kristal-kristal bening yang kemudian meleleh membasahi kedua pipinya yang ranum. Ia lalu menatap Marianka dengan pandangan penuh arti, dan memeluknya. Kebencian membabi buta yang dirasakannya berangsur luluh oleh hangatnya pelukan Marianka. Marianka pun tergerak hatinya, dan entah dorongan apa yang dirasakan, ia menjadi seperti ingin melindungi, menyayangi, dan ingin mengungkapkannya lebih dari sekadar sahabat.

Emosi dan hasrat yang merasuki jiwa kedua orang itu semakin membuat dekapan menjadi bertambah erat dan intim. Dan tatkala kedua bibir mereka bertaut, terasa sebuah gejolak yang menghunjam deras di balik pembuluh darah masing-masing. Keduanya larut dalam suatu fenomena kenikmatan yang menjalari setiap inci dari tubuh mereka, yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Sesuatu yang sangat indah yang belum pernah mereka alami.


MARIANKA TIDAK PERNAH SANGGUP melupakah gairah ciuman pertamanya. Ingin rasanya ia menyangkal kenyataan yang sedemikian indahnya. Tetapi semakin ia menyangkal dan berupaya membuang jauh angan-angan itu, semakin ia merindukannya pula. Kepolosan dan ketulusan hati Irma sangat menyejukkan hati. Baru kali ini ia merasakan cinta yang begitu dalam kepada seseorang.

Tetapi bukankah, hal ini tidak sepatutnya ia alami?

Cinta murni yang pertama kali dirasakannya, alangkah ironisnya kalau ternyata ia harus berbagi dengan kekasih wanitanya. Batinnya terus berkecamuk. Jawaban yang selama ini dicari, belum juga ditemukannya.


“IR, KAMU TAHU, kenapa langit senja kadang-kadang berwarna merah keunguan?” tanya Marianka suatu hari.

“Variasi aja …” jawab Irma asal.

“Huh, nggak intelek …!”

Irma tertawa kecil dan memeluk Marianka dengan lembut dari arah belakang.

“Merah keunguan menandakan cuaca yang akan datang pasti bagus … karena pada arah matahari terbenam, tidak ada awan hujan, maka cahaya matahari pun tampak cerah, dan warnanya merah keunguan,” jawab Irma.

“Warna yang sungguh dramatis …” sahut Marianka terpana dengan pemandangan senja dari atas balkon rumah mewah di ujung perumahan itu.

“Tiada yang sedramatis antara kau dan aku, Marianka ….” Irma menyibakkan rambut Marianka dan mengecup leher jenjangnya dengan mesra.


“TIADA YANG SEDRAMATIS antara kau dan aku, Irma …” desis Marianka mengulangi kata-kata Irma hari itu.

Jauh di lubuk jiwanya, Marianka memendam kerinduan akan cinta yang luar biasa dalamnya, namun sekali lagi bayangan masa lalu itu datang menghantuinya.

Marianka teringat saat ia mulai merasakan keraguan dalam dirinya. Pertemuannya dengan salah seorang teman lamanya itu sangat mengusik hatinya.

“Aduuh … tolong bujuk Irma sekali lagi dong … masa dia tega, sih?!” 

“Kalau nggak percaya, datang aja sendiri!” sahut Marianka enteng.

“Aku udah tiga kali ke rumahnya. Sampai aku beli cokelat Toblerone gede plus novel Harlequin edisi terbaru, dia tetap nggak mau ….”

“Minta tolongnya yang sopan, dong,” saran Marianka.

“Yah, dibukakan pintu saja tidak, bagaimana mau bersopan-sopan ria?” Rindra mulai putus asa.
Sejak dekat dengan Marianka, Irma tidak pernah mau berbagi waktu dengan yang lain selain dengannya. Berbagai hadiah yang terus datang mengalir tak pernah digubrisnya. Irma tidak lagi memberikan bimbingan yang sangat komersil itu. Alasannya hanya satu, Marianka.

“Ayolah, aku yakin cuma kamu yang bisa membujuk dia, kalian kan udah kayak pasangan kekasih sehati dan sejiwa,” Rindra memohon penuh harap.

“Barusan bilang apa?” Marianka terperanjat mendengar perkataan Rindra barusan. Matanya menatap tak percaya.

“Ah … kalian kan dekat …” kali ini terselip nada merendahkan.

“Pantas Irma tak sudi membantumu. Mulutmu kotor!” tukas Marianka pedas sambil melenggang pergi meninggalkan Rindra yang tampak kecewa.

Marianka tidak menyalahkan Rindra. Semua orang yang melihat keakraban yang terjalin di antara Marianka dan Irma pasti akan berkomentar yang sama. Pikiran-pikiran dangkal dan fantasi kotor yang bergentayangan dalam benak mereka itu pasti menebarkan suatu sensasi yang tidak senonoh. Irma tidak peduli.Ia bahagia karena telah menemukan pasangan jiwanya dalam diri Marianka.

Tapi sesaat Marianka mulai ragu. Perlahan Marianka mulai mempertanyakan akan keberadaan kebenaran dan menyangsikan realita yang tengah digelutinya.


“IR, KITA HARUS BICARA …” kata Marianka.

“Bicara? Bukannya itu yang sedang kita lakukan? Eh, menurutmu rambutku bagus tidak kalau disanggul? Sebenarnya aku benci memakai sanggul, biar untuk wisuda pun …” gerutu Irma sengaja mengalihkan pembicaraan, namun tidak ada jawaban.

Irma menolehkan kepalanya dan memandang pada Marianka dengan heran.

“Ada apa, Anka?” tanya Irma lembut.

“This is not right ….”

“What is right anymore, my love?”

“Kamu dan aku, entah sejak kapan aku merasakan kalau ini tidak seharusnya terjadi ….”

Irma mendekat dan meraih kedua tangan Marianka dan membelainya dengan penuh perasaan. Marianka dengan cepat menarik kembali tangannya. Irma menatap kedua mata Marianka dalam-dalam, dan ia menemukan sesuatu di dalamnya. Sebuah penyangkalan.

“You can’t deny me!” kata Irma dingin.

Suasana pun berubah 180 derajat. Atmosfer yang biasanya tenang dan menyenangkan itu berbalik menjadi sunyi mencengkeram. Seketika itu, muncul kembali sosok Irma yang dingin dan asing.

“Ini dosa, Ir! Dosa! Aku tak bisa seterusnya begini … apa yang terjadi di antara kita adalah sebuah dosa!” Marianka mencoba bertahan.

“Cinta bukanlah sebuah dosa!” sanggah Irma.

“Cinta adalah hubungan antara wanita dan pria yang saling ….”

“Persetan dengan teori Shakespeare bull shit-mu!” potong Irma cepat.

Marianka berdiri dan berjalan menjauh. Ditutupinya kedua daun telinga dengan tangannya rapat-rapat. Ia sudah tidak sanggup mendengarkan suaranya lagi.

“Maafkan aku, Ir … aku tak bisa …. Semua itu hanya kesalahpahaman … kita hanya terbawa suasana ….”

“Kamu tidak boleh meninggalkanku!” seru Irma mulai terisak.

“Kita harus melupakan semuanya dan mencoba hidup normal ….”

“Jangan katakan itu kepadaku, Anka!! Tidak ada yang normal dan tidak ada yang abnormal! Aku mencintaimu, dan aku tahu kamu juga mencintaiku!” Matanya merah membara terbakar oleh emosi yang tak terbendung. Napasnya memburu.

Marianka tercenung. Ia tak berani membalas tatapan matanya.


HARI DEMI HARI BERLARI tak kenal lelah mengejar sang waktu yang terus bergulir. Sudah hampir seminggu Marianka mengurung diri di dalam kamarnya, mencoba membersihkan dirinya dari debu-debu masa lalu yang ingin dicampakkannya, namun tidak juga bergeming meninggalkan dirinya. Rinai-rinai tawa dan segala memori indah itu masih enggan meninggalkan sudut-sudut benaknya.

“Mengapa aku merasa sangat tersiksa? Mengapa cinta begitu menyesakkan dada?” Marianka tak henti-hentinya meratap dan menyalahkan. Dijelajahinya alam bawah sadarnya berharap menemukan jawaban, namun tetap sia-sia. Tanda tanya itu masih bergantung di dalam hatinya dan sulit dienyahkan.

“Anka, ada surat untukmu!” suara anak laki-laki membuyarkan lamunannya.

Anak laki-laki yang berusia belasan tahun itu menyodorkan surat kilat berwarna merah keunguan.

Dibukanya amplop surat itu dan dibacanya dalam hati dengan saksama. 

Love could never count the stars in the sky
Love could never melt the ice on the north pole
Love could never stop the earth revolving
But love can always understand you and me
And love will always bring our souls together

Yours forever,

Irma


HARI WISUDA AKHIRNYA TIBA. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi calon sarjana dari salah satu universitas swasta di ibu kota pun tumpah ruah dengan wajah-wajah semringahnya, menghiasi aula tempat wisuda. Senyum serta tawa luapan berbagai perasan itu berbaur menjadi satu dengan keceriaan di hari wisuda itu.

Irma sedikit pun tidak tersenyum. Cahaya di matanya telah padam seiring dengan cintanya yang telah hanyut. 

Namun tiba-tiba secercah cahaya itu beranjak muncul kembali.

Marianka memandang dari kejauhan dan tersenyum, menyulut kembali kobaran api di dalam sukmanya.

“Congratulation, my love …” Marianka menyapa tanpa bersuara.

Irma balas memandang tatapan mata yang sangat dirindukannya itu. Senyumnya pun mengembang. Ia bahagia Marianka telah menemukan jawabannya. []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Angie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 12/XXXI 20 – 26 Maret 2003

0 Response to "Langit Senja"