Lebaran tanpa Bapak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Lebaran tanpa Bapak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:21 Rating: 4,5

Lebaran tanpa Bapak

KUHITUNG-HITUNG sudah belasan kali kami berlebaran tanpa kehadiran seorang bapak. Bapak kami masih hidup. Tapi bapak lebih memilih meninggalkan kami, demi istri-istri mudanya. Sejak itu kami tak pernah berlebaran bersamanya. Lebaran terindah menurutku, ketika aku masih berumur enam tahun, masih TK, saat keluarga kami masih utuh. Saat itu bapak membelikan baju baru, banyak mainan, dan sekardus makanan yang lezat-lezat.

Bapak kami tinggal bersama istri-istri mudanya. Tepatnya lima belas tahun lalu, ketika pertengkaran dengan ibu bermuara pada puncaknya. Ibu tak sanggup lagi menghadapi polah bapak. Bapak yang hadir di kehidupan kami, tapi belai sosoknya tak pernah kami rasakan.

Sebagai seorang tentara, Bapak lebih banyak menghabiskan waktu di luaran. Dinas rutin. Piket. Belum lagi kebiasaan bapak ke luar malam. Kalau untuk mencari tambahan pemasukan—menjadi petugas keamanan seperti yang dilakukan temannya—mungkin ibu bisa memahaminya. 

Bapak ke luar malam untuk mabuk dan main perempuan. Menghambur-hamburkan jatah uang bulanan. Kehidupan kami terabaikan.

Entah untuk yang keberapa kalinya ibu menjual sawahnya di desa, pada sebuah daerah penghasil bawang merah di Jawa Tengah, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, makan dan sandang. Demi bertahan hidup ibu dan kedelapan buah hatinya. Kakak yang tertua duduk di bangku STM, sementara adik bungsu masih TK. Betapa repotnya ibu membesarkan dan mengurus kebutuhan kami sehari-hari. Sendirian. Hidup di asrama tentara. Tanpa suami. Jauh dari keluarga.

***
TANPA sepengetahuan kami, bapak menjalin asmara terlarang dengan seorang janda. Ketika perempuan itu hamil, dan menuntut pertanggungjawabannya, bapak menikahinya.
Bapak mengaku seorang duda. Katanya istrinya mati karena sakit gila. Namun, bangkai busuk tersimpan di almari besi pun, bacinnya tercium juga. Orang-orang pun tahu affair bapak. Ibu pun tahu. Komandan tahu.

Bapak mendapat sanksi. Seandainya komandan tidak memandang dan mempertimbangkan nasib ibu dan anak-anaknya yang menderita, mungkin bapak sudah dipecat. Tapi komandan masih bermurah hati. Bapak dihukum, dikirim ke daerah perang bertahun-tahun.

Ketika tugas bapak selesai dan bapak pulang selamat dari tugas seharusnya ada rasa syukur. Tapi kepulangan bapak, pengalaman yang didapatnya di medan perang, tak membuat sikapnya berubah. Dusta dan kebohongan selalu diberikan pada kami. Ibu mendengar selentingan dari seorang teman di tempat tugasnya bapak menikah lagi. Ketika itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku bertanya pada kakakku, mereka memilih bungkam. Tapi ibu tak bisa diam, ketika tahu uang yang katanya ditabung selama tugas, ternyata tak ada. Semuanya hanya tipu daya. Muslihat bapak.

Kuingat hari-hari kemudian kehidupan kami semakin nelangsa. Kedua orang tua selalu adu mulut. Ribut. Tiada hari tanpa umpatan dan caci maki ibu. Tiada hari tanpa pukulan, jambakan, selomotan rokok bapak untuk ibu.

Karena tak tahan lagi hidup bersama bapak, ibu ingin berpisah. Komandan memberi jalan keluar. Komandan tak ingin ibu bercerai dengan bapak. Bapak dipensiun dini. Ibu kemudian merelakan bapak hidup bersama wanita-wanita lain.

***
KEHIDUPAN setelah pensiun ternyata tak lebih runyam daripada ketika bapak masih aktif sebagai tentara. Pensiunan pesangon bapak nyaris hilang. Hendak diberikan pada istri muda, untuk tambahan modal berdagang.

Untung komandan segera bertindak. Pesangon diberikan pada ibu. Dibelikan sebidang tanah. Di atasnya didirikan rumah sederhana. Karena kami memang harus segera keluar dari asrama.

Sementara tanah dan sawah warisan ibu sudah ludes terjual, untuk tombok makan selama bapak ngedan! Bahkan rumah warisan yang rencananya akan ditempati kami ketika bapak pensiun dan kami pulang kampung pun ikut terjual!

Tapi ibu tak pernah menyesali semua hartanya tiada. Menurut ibu yang penting buah hatinya hidup, dan mereka selalu bersamanya.

Untuk menopang hidup kami anak beranak bekerja apa ada saja. Tak mungkin mengharap pensiunan bapak. Uang pensiun sebenarnya lumayan. Cukup untuk kebutuhan sebulan. Tapi bapak memberi pensiunan pada ibu sesuka hati. Bahkan uang yang tak seberapa baru diberikan ketika salah satu anaknya mendatangi rumahnya bersama istri mudanya. Pada satu ketika uangnya diberikan dengan cara dilempar dan dibanting di depan kakak yang disuruh ibu menagih. Sering berbulan-bulan dia sengaja menggantung uang pensiunan. Uang entah digunakan untuk apa, dan dia sembunyi di mana?

***
BAPAK seperti tak mau tahu urusan kami. Bapak tak peduli. Juga ketika satu per satu kakak menikah, dan memberinya cucu. Bapak tak pernah hadir, apalagi membiayai pernikahan. Bapak sibuk dengan kehidupannya sendiri. Sibuk bertualang dari istri satu ke istri lain: janda, perempuan biasa, sampai wanita penghibur!

Kami sebenarnya sudah tak peduli, ketika mendengar bapak menikah lagi untuk yang kesekian kalinya. Tapi kami sangat malu ketika tahu istri bapak seorang pelacur!

Entah apa yang tersembunyi di benak bapak. Semakin usianya menua, perilakunya semakin sulit kami mengerti. Hidupnya hanya memikirkan kesenangan duniawi semata.

Ah, kadang kami berpikir untuk apa sih memikirkan lelaki yang memilih mengurusi wanita lain daripada kedelapan buah hatinya. Untuk apa, sih, kami mengingat lelaki yang sengaja dan tega membuat istri anak menderita.

Salahkah kalau kami membenci bapak? Salahkah kalau kami menganggap bapak tak lebih dari prasasti?

“Kalian tak boleh membenci bapak. Jangan kalian menyia-nyiakannya. Kalian ada karena bapak. Berdosa besar kalian mendurhakakan orang tua!”

“Walau bapak menyakiti kami, Bu?”

“Ya.”

“Walau bapak sering menyakiti ibu?”

“Ya.”

“Tapi ….”

“Kelak kalau dia sudah renta jompo, dan datang ke rumah kalian. Perlakukan dia dengan baik. Beri makan, pakaian. Tapi jangan beri uang. Uangnya nanti diberikan pada istri mudanya, untuk foya-foya!”

Inilah petuah ibuku. Betapa mulianya hati seorang ibu. Aku tak pernah tahu perasaan ibu yang sebenarnya pada bapak. Apakah diam-diam ibu masih menyimpan sepercik cinta untuknya? Semenjak berpisah dengan bapak, ibu tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain.

Ibu menghabiskan hari-harinya di rumah. Membesarkan dan mengasuh buah hatinya. Hingga kini ketika kakak-kakakku menikah dan tinggal bersama ibu. Ibulah yang merawat anak kakak. Ibu mengasihi cucu lebih daripada menyayangi kami.

Ibu kini mengisi hari tuanya dengan merajut, membaca dan belajar bahasa Inggris sembari merawat cucunya.

***
SEPULANG salat Ied di alun-alun kota Jepara yang bersih, kami anak beranak berkumpul di ruang tamu keluarga. Seperti lebaran yang lalu, ibu duduk anggun di kursi berukir. Berdampingan dengan Mas Abdullah, kakak tertua kami. Lalu anak-anak ibu, menantu dan cucunya sungkem saling bermaaf-maafan di hari Idul Fitri ini.

Selalu ada keharuan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata bernuansa di hari Lebaran seperti ini. Di saat berkumpul seperti ini, kami selalu terkenang masa-masa lalu. Saat pahit, manis, getir, indah perjuangan kami dulu bersama ibu untuk tetap bertahan hidup. Tanpa seorang bapak!

Kami bekerja keras untuk menyambung nyawa. Selepas STM, Mas Abdullah bekerja di bengkel. Selulus SMA Mbak Anis kerja di pabrik. Mbak Ida kerja sebagai pelayan toko. Aku dan adik lelakiku bekerja jadi tukang parkir. Adik-adikku lainnya membantu ibu di rumah. Bikin kue, dan dititipkan di warung. Yang penting kami tak kelarapan, dan bisa meneruskan sekolah. Perjuangan hidup terus berjalan. Belasan tahun. Kini baru kami menuai hasil. Toko kelontong dan warung makan yang didirikan dengan modal kecil telah berkembang. Kami hidup lebih dari berkecukupan. Kami bahagia. Tapi kebahagiaan kami sesungguhnya adalah keberadaan ibu yang masih bersama kami. Ibu adalah dewa penyelamat. Ibu bagi kami adalah matahari dan rembulan. Ibu adalah kehidupan kami!

***
ACARA halal bihalal usai. Kami segera menyerbu ruang makan. Untuk menikmati opor ayam buatan ibu yang rasanya lezat tiada duanya.
Aku sedang mengirim SMS Selamat Idul Fitri untuk Mas Alfano, kekasihku yang sedang tugas di Turki, ketika Rezza, keponakanku memanggil dari luar kamarku.
“Tante Tika ada tamu!”
Siapa? Tetangga baru yang hendak halal bihalal?

“Assalamualaikum ….”

“Walaikumsalam ….”

Ternyata si Ruslan, anak salah satu istri muda bapak. Aku mengenal Ruslan ketika aku sedang meliput wisata Karimunjawa. Aku tak tahu kalau dia adik tiriku. Aku mampir ke rumahnya di daerah Benteng Portugis. Dan terkejut ketika bertemu bapak di sana. Semenjak itu Ruslan sering menghubungiku. Dia tertarik dunia jurnalistik seperti yang kutekuni. Ruslan ingin jadi wartawan juga penulis.

“Ada apa, Rus?”

“Anu … Mbak. Tadi subuh Bapak Danu Angkara meninggal.”

Kabar yang dibawa pemuda berusia belasan tahun itu segera menyebar. Aku memandang wajah ibu. Aku memandang wajah saudaraku. Kami saling pandang. Apakah kedukaan terlukis di wajah kami? Apakah ada perasaan kehilangan pada ruang hati? Atau … kelegaan? Atau perasaan lainnya? Entah.

“Siapa yang meninggal, Nek? Teman Nenek?” celotehan Rani, anak Irma, adikku memecahkan kesenyapan kami. Rani yang masih duduk di bangku TK. Rani yang sejak lahir sampai berusia lima tahun belum pernah bertemu kakeknya. Bahkan tak kan pernah lagi. Kulihat ibu masuk kamar membopong Rani. Kulihat kakak tertuaku mengambil komando. Kami bersiap-siap mengurus pemakaman bapak. Kami tak ingin mengecewakan ibu. Kami ingat nasihat ibu.

Innalillahi waina illaihi rojiun.

Lebaran tahun ini, kami benar-benar tanpa bapak! ***

(N) Kota Ukir, 20 Juni 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kartika Catur Pelita
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1379/XXVII 28 Juli – 3 Agustus 2014

0 Response to "Lebaran tanpa Bapak "